Beranda

 

Dapatkan Mata Puisi No. 2 Thn. I,  Juni 2020
Donasi berlangganan Rp.25.000 per edisi,
transfer ke no. rek. BCA 8210278045 a.n Dhiana,
kirim bukti transfer ke matapuisikita@gmail.com.

 

Kealpaan Presiden dan Hari Puisi

Oleh Hasan Aspahani

KETIKA Presiden Joko Widodo mengucapkan selamat Hari Puisi Nasional lewat akun Twitternya, dengan mencomot utuh puisi Sapardi Djoko Damono, sebenarnya yang terjadi adalah sama saja dengan beliau mengucapkan Selamat Hari Peci Nasional atau selamat Hari Berkumur-kumur Nasional. Kenapa? Karena hari-hari berlabel nasional itu belum ada.

Negara ini belum pernah menetapkan satu tanggal yang pada hari itu orang mengingat apa pentingnya puisi. Beberapa negara punya. PBB lewat Unesco menetapkan satu hari, yaitu 21 Maret sebagai World Poetry Day.

Tapi perlukah hari puisi Indonesia? Atau Hari Puisi Nasional? Tentu saja perlu.

Lalu untuk apa? Unesco menyebutkan alasannya, yaitu karena puisi punya kemampuan unik untuk menangkap jiwa kreatif pikiran manusia. Dan itu penting. Kita bisa merujuk ke situ tapi tak perlu juga menconteknya mentah-mentah.

Bangsa ini berutang pada puisi. Sumpah Pemuda, ujar Sutardji Calzoum Bachri adalah puisi besar yang mendasari kehendak berbangsa, bertanah air, dan berbahasa satu. Intinya puisi memberi

wujud pada tekad, cita-cita untuk bersatu sebagai sebuah bangsa di atas keberbagaian yang semua tampak sulit dipersatukan. Dan sebagai puisi Sumpah Pemuda terbuka untuk terus diberi tafsir baru, tafsir yang kreatif.

Itulah antara lain yang menjadi dasar sejumlah penyair mendeklarasikan Hari Puisi Indonesia. Dipilih tanggal 26 Juli sebagai penghormatan atas penyair besar kita Chairil Anwar yang lahir pada hari itu.

Karena negara tak kunjung peduli, meskipun diam-diam presiden merasa perlu juga memanfaatkan momen itu, maka ada versi lain yaitu 28 April, yang merujuk ke hari wafat Chairil.

Jauh hari, pada 1956, Hartojo Andangdjaja bersama beberapa satrawan di Solo mengumumkan tanggal 14-16 Januari sebagai Hari Puisi. Tujuannya untuk memasyarakatkan puisi.

Nyatanya puisilah, genre sastra yang paling banyak menyentuh manusia. Puisi seperti prekursor sastra. Seperti senyawa yang mendahului senyawa lain dalam rangkaian pross metabolisme. Jadi tak perlu ada pertanyaan: kalau begitu perlu ada hari cerpen, novel, dan esai, dong?

Negara kita perlu sebuah hari yang kita tetapkan sebagai Hari Puisi. Presiden perlu diignatkan untuk menetapkannya, agar kelak bila dia mengucapkan Selamat Hari Puisi, dia tidak tampak seperti orang yang lupa bahwa hari itu tak ada.

 


Tatacara mengirim naskah selengkapnya di —> tautan ini.

Donasi berlangganan selengkapnya di —> tautan ini.

KAMI menerbitkan Majalah Mata Puisi sebagai usaha untuk ikut dalam perayaan dan perjalanan panjang puisi Indonesia. Hari ini puisi ditulis banyak orang, disebarkan di media sosial yang riuh berebut perhatian dengan teks-teks lain. Kami ingin menampung apa yang berharga dari yang terserak itu, menyimpannya di sini, menjadikan majalah ini semacam lumbung. Ada puisi yang dipilih dengan hati-hati, dan kami berharap itu menjadi semacam benih yang baik – bahkan unggul – yang tersimpan di sini yang kelak menjadi bahan sumber bagi siapa saja yang ingin membuat hibrida baru yang memperkaya cara ucap dan penggarapan tema dalam puisi Indonesia.