Beranda

Persimpangan_Cover
Persimpangan (Gagasmedia, 2019)

 

ya

Ya, Aku Lari! – Sebuah Novel oleh Hasan Aspahani (Divapress, Yogykarta)

Rp55.000 | 176 halaman | Pemesanan WA/SMS 0818 0437 4879


klinikpuisi

Tolok Ukur Puisi Dangkal [] Jalan Kelahiran Puisi Hebat [] Yang Berbalik: Epistrop atau Epifora [] Ambiguitas: Makna Ganda [] Apa yang Kita Dapatkan dari Puisi? [] Peristiwa Prosa, Imaji Puisi [] Puisi yang Prosais, Prosa yang Puitis [] Alami, Lupakan, … Lalu Puisikan [] Tentang Filsafat dan Nilai-nilai [] Yang Liris dan Yang Imajis [] Yang Terlibat dan Yang Menggugat [] Yang Lengkap dan Selesai Mengucap [] Menyelidik Diksi Puisi [] Yang Mengatakan Hai pada Dunia [] Metafora dan Metafora yang Diperluas [] Vitalisme: dari Chaotisch ke Kosmisch [] Menumbuhkan Ekor Cicak yang Putus menjadi Cicak yang Lain: Patafora [] Menulis Puisi dengan Kesadaran Sejarah Puisi [] Celah Imajinatif pada Puisi [] Alusi: Karena Sajak Tak Perlu Catatan Kaki.Anafora dan Anafora Kosong [] Efek Bunyi: Eufoni dan Kakofoni [] Berkenning-kenning Dahulu, Berpuisi-puisi Kemudian [] Mengolah Bahan Sejarah Menjadi Puisi) [] Logika, Filsafat, dan Puisi [] Puisi, Pengalaman, dan Kesadaran [] Kata Sekelompok alias Kolokasi [] Antara Sukma Berlagu dan Suara Bersaksi


DbmEw0vVAAA_aOi

Duka Manis (Divapress, Yogyakarta, 2018)

Seratus puisi cinta di buku ini, merangkum banyak hal, yang naratif dan yang liris, yang tragis dan yang jenaka. Cinta dan duka yang seringkali mengakibat darinya diterima dan diryakan dengan semanis-manisnya.

IMG_8542(1)Menyentuh Jantung Bahasa, Meraih Hati Puisi (JBS, Yogyakarta, 2018)

13 Esai ini mencoba pendekatan lain pada puisi, yaitu lewat linguistik. Esai-esai pendek, hanya sebelas paragraf.  Ringan dan riang. Manjur dan berkhasiat. Disertai contoh-contoh dari para penyair Indonesia.

Lorem Ipsum

YA, jelaskanlah lagi kepadaku
tentang apa-apa yang keliru:
aku ingin sebentar saja bersenang
tapi kau katakan itu adalah salah,
dan kenapa untuk bisa berbahagia
aku harus lebih dahulu menimpa dan
menyiksa diriku dengan derita?

Sampaikanlah kepadaku tentang
apa yang engkau temukan sebagai
kebenaran itu. Apa yang benar-benar
membuat manusia, aku dan kamu bisa
berbahagia? Dan apakah bahagia itu?

Beritahu aku tentang bagaimana
aku harus tertawa agar kau tak lagi
perlu mencela dan tawaku itu juga
tak kau anggap sebagai suara hina.

Aku ingin bisa sejenak bersenang,
sekadar bersenang, agar tetap menjadi
manusia, aku ingin tertawa, sekadar
tertawa, agar tetap menjadi manusia.
Beri tahu aku apakah senang dan tawa
itu adalah dosa? Dan apakah dosa itu?

Atau tawaku itu harus kuanggap sebagai
suara sakit dari dalam jiwaku? Sakit
dari kerja dan lelah? Beri tahu aku,
jelaskan padaku. Aku ingin tertawa dan
kini aku merasa rasa sakit itu
mengepung tawaku. Menawarkan rasa senang
yang tak kukenal itu. Apakah rasa sakit
itu? Apakah rasa salah itu?

Aku kini berlari jauh dari diriku,
pada lintasan yang menguji tubuhku,
garis batas yang beranjak jauh
meninggalkan aku. Tak ada tepuk
tangan, tak medali, tak ada
ucapan selamat menanti aku.

Atau aku harus duduk di kedai minum itu?
Dengan atau tanpa dirimu. Sepanjang waktu?
Menikmati tawa yang sama, menertawakan
rasa sakit yang pernah kucintai itu.

Iklan

Ketika Kamu Tertidur

TAHUKAH kamu bagaimana suara napasmu terdengar
olehku ketika kamu lelah dan lelap tertidur?

Kuberi tahu: itu seperti desiran angin
dari kibasan sayap malaikat, menggerakkan
ranting-ranting larangan di dalam diriku.

*

Tahukah kamu bagaimana kembang senyummu
merebak dan menyemerbak di sepanjang tidurmu?

Seperti musang bulan melintasi semak malam atau
harum kembang Wiku (Epiphylum oxypetalum) itu

Membuat aku berpikir bahwa mungkin sebenarnya
kamu bukan manusia biasa, tapi biar kurahasiakan
saja, aku tak mau kamu tahu tentang hal itu.

Sepi yang Tak Mengenalmu dan Tak Kau Kenal Itu

DI sebuah kafe
yang tak usah kusebut namanya
ketika aku mencari sepi yang terkenal itu
kudengar ada orang yang asing
asyik menyanyi dengan getar gitar
seolah di sana
tak ada siapa-siapa

Tapi, tentu saja ada aku

Aku yang gagal
menemukan sepi yang terkenal itu
sebab dia menyanyi lagu yang bagus
dengan gaya yang membuat aku seakan dimaki-maki,
“….mampus kau dikoyak-koyak imajinasi!”

Ia menatap pada ruang kosong
kata-katanya menari dan mengambang
antara terang lampu dan remang masa lalu
dan aku terbawa ke gelanggang
sama sekali sudah lupa pada sepi yang terkenal itu

Aku tak tahu itu lagu siapa
Mungkin sebuah puisi yang ia tulis sendiri
sekilas mirip Sapardi tapi tentu saja bukan,
bukan Sapardi

Sebab liriknya
seakan diambil dari dalam diriku
seakan dicuri dari dokumen di laptopku
seakan dipungut dari puisi di blogku
seakan dia membuka rahasiaku dan membunuhku perlahan
seakan dia sudah tahu bahwa aku malam itu
akan datang ke situ, ke kafe itu

“…selamat malam, Pencari Sepi.
Sepi yang terkenal itu, sepi yang
tak mengenalmu dan tak kau kenali itu,”
katanya setelah jeda sejenak dari berhenti menyanyi,
dan aku tak berani mengatakan bahwa
ia mengatakan itu untukku.

Di mana Nanti Kau Terbangun

AKU bermimpi menjadi bantal kecil
pada sofa di ruang tamumu
bantal yang menemanimu tidur siang
dan kau bermimpi tentang aku

Aku bermimpi kau tertidur hingga petang
dan aku datang dan hari hujan
lalu kebentangkan selimut pada mimpimu
aku beranjak masuk ke mimpimu itu

tubuhmu mimpi, tubuhku mimpi, tubuh mimpi
hari makin hujan, hari lalu jadi malam
lampu di rumahmu kubiarkan saja tak menyala
sebab nanti kau terbangun dalam mimpiku

Janji Jiwa dan Kenangan Mantan

HAMPIR malam di kafe,
ketika pesananku tiba,
secangkir kopi lagi, bukan, bukan latte
ini spesialti arabika.

Tadi, kudengar, dia barista
memanggil nama yang ia tuliskan pada cangkir
nama yang kudustakan padanya
sebagai orang lain, aku mengarah ke bar

Kopi, sekali lagi, kopi
dan waktu yang kusesap perlahan
nyaris tak lagi berarti
sesia-sia janji jiwa, dan kenangan mantan

Ruang Sidang Ratna

DI kursi itu
kau duduk lagi, Ratna,
melayani pertanyaan
para pendakwa dalam
babak-babak panjang sidang
dan ini bukan drama.

Kau mungkin
bertanya kenapa
pertanyaan itu kini
berbeda?

Dulu, kau seakan
punya semua jawaban,
bahkan kau adalah jawaban
untuk pertanyaan
pada zaman ketika
untuk bertanya pun
menuntut keberanian.

Tapi, kini kau hanya terdakwa
dan semua harus kaujawab
dan kau menyerah ketika
mencari celah untuk
berdusta.

Dan kau pun
sendiri di sana.

Kau mungkin benar, Ratna,
bahwa bedah wajah itu
sejenis penganiayaan juga,
dan untuk itu
diperlukan
seperangkat dusta,
dan sebuah pernyataan
yang gagal menzalimkan
sebuah rezim.

Kau memang lekas
menyesalinya
tapi drama itu
ternyata
tak lagi bisa kauhentikan
dengan sebuah pengakuan
dan cuci tangan kawan
yang ramai-ramai
meninggalkan.

Dan kau pun
sendiri di sana.

Hatimu, Ratna,
dengan segala bukti
yang meringankan dan
yang memberatkan,
sudahkah menjatuhkan
hukuman untuk
kesalahanmu itu?

Di kursi itu,
kau duduk lagi di situ,
mencoba mengerti
pertanyaanmu sendiri,
pertanyaan yang
harus kau jawab sendiri,
yang tak lagi kau tahu
hendak mengajukannya
kepada siapa.