Beranda



Buku-buku yang saya rilis di Storial.co. Gratis.

Klik judul di bawah buku untuk membaca.

25

25 Sikap Daya Hidup

Blue Notebook Guide Wattpad Book Cover

Sampai Anggun Jadi Duta Sampo Lain

dan cerita lainnya

Profesor Sondelur dan Kasus Hidung Petrukio

Mind Blown_ Unleashing Creativity

Puisikan Hidupmu, Hidupkan Puisimu


klinikpuisi

Tolok Ukur Puisi Dangkal [] Jalan Kelahiran Puisi Hebat [] Yang Berbalik: Epistrop atau Epifora [] Ambiguitas: Makna Ganda [] Apa yang Kita Dapatkan dari Puisi? [] Peristiwa Prosa, Imaji Puisi [] Puisi yang Prosais, Prosa yang Puitis [] Alami, Lupakan, … Lalu Puisikan [] Tentang Filsafat dan Nilai-nilai [] Yang Liris dan Yang Imajis [] Yang Terlibat dan Yang Menggugat [] Yang Lengkap dan Selesai Mengucap [] Menyelidik Diksi Puisi [] Yang Mengatakan Hai pada Dunia [] Metafora dan Metafora yang Diperluas [] Vitalisme: dari Chaotisch ke Kosmisch [] Menumbuhkan Ekor Cicak yang Putus menjadi Cicak yang Lain: Patafora [] Menulis Puisi dengan Kesadaran Sejarah Puisi [] Celah Imajinatif pada Puisi [] Alusi: Karena Sajak Tak Perlu Catatan Kaki.Anafora dan Anafora Kosong [] Efek Bunyi: Eufoni dan Kakofoni [] Berkenning-kenning Dahulu, Berpuisi-puisi Kemudian [] Mengolah Bahan Sejarah Menjadi Puisi) [] Logika, Filsafat, dan Puisi [] Puisi, Pengalaman, dan Kesadaran [] Kata Sekelompok alias Kolokasi [] Antara Sukma Berlagu dan Suara Bersaksi


DbmEw0vVAAA_aOi

Duka Manis (Divapress, Yogyakarta, 2018)

Seratus puisi cinta di buku ini, merangkum banyak hal, yang naratif dan yang liris, yang tragis dan yang jenaka. Cinta dan duka yang seringkali mengakibat darinya diterima dan diryakan dengan semanis-manisnya.

IMG_8542(1)Menyentuh Jantung Bahasa, Meraih Hati Puisi (JBS, Yogyakarta, 2018)

13 Esai ini mencoba pendekatan lain pada puisi, yaitu lewat linguistik. Esai-esai pendek, hanya sebelas paragraf.  Ringan dan riang. Manjur dan berkhasiat. Disertai contoh-contoh dari para penyair Indonesia.

G

ADA bayangan melintas
gitar baru saja diletakkan
setengah air di gelas
tutup piano diturunkan

ada lirik manis yang muram
tak selesai dituliskan
tiang mikropon diam
dan syal belum dilepaskan

udara akan selalu begini
seperti ada yang selesai bernyanyi
udara akan selalu begini
ingin kau terus bernyanyi lagi

Dua Sajak untuk Erie Prasetyo

Gambar untuk Sebuah Petang

              : Erie Prasetyo

KITA memang tak pernah benar-benar siap.
Waktu, dengan tangannya, kita tertangkap.

Kita murid di kelas jauh, dengan pelajaran
terlambat, atau belum saatnya diberikan.

Ada selembar fotografi, gugus geometri, yang
kau curi, dari perempuan lain yang menggelincir,
pada mimpi berwarna tua, yang miring-licin.

Tubuhmu, harus kumengerti sebagai rumus
sudut-sudut siku. Rumit, dengan angka-angka
berbaris lama, panjang di belakang nol & koma

2011

 

Yang Liar dan Yang Berdarah

                                                             : Erie Prasetyo

KITA sedang sakit. Hidup hanya dari sakit ke sakit.
Menyesali banyak kesalahan yang semakin benar.

Itu misalnya, pernah kau tuliskan dalam daftar seratus
hal yang kau inginkan, dan seratus hal lain yang tidak
kau kehendaki. Kau tak tahu di mana kau sepatutnya
menuliskan ‘Bali’ di daftar itu, sebab sesuatu yang amat
buruk dan juga amat berarti berawal dan berakhir di situ.

*

Kita pelihara lapar dan marah. Yang liar. Dan berdarah.

Keduanya kini bisa bernama Puisi. Kau menuliskannya
kini di antara waktu luang, dalam perjalanan kota ke kota,
di sela-sela tur sangat panjang,  sebuah kelompok musik,
yang jatuh dan bangkit bersamamu. Puisi yang, katamu,
kini sabar menyabarkan, menjinakkan, membebat luka-luka,
yang dulu menutup-membuka di tempat-tempat yang sama.

*

Kita telah terbiasa sakit, dengan rasa sakit kita ini.

Hingga kau tak lagi mau tertipu, surga yang menipu,
kau beritahukan parut luka kecil di lipatan lenganmu.

Kau bilang, “Empat tahun lamanya, aku berjalan di
muka bumi, tapi saat itu aku tak sedang ada di dunia.”

Dan dunia hanya gelap, menjauh darimu, menyempit.

*

Kita sedang menyembuhkan sakit kita sendiri. Sendiri.

Dengan harapan yang sederhana: nanti cinta yang
menata bata, sebongkah-sebongkah, hingga tegak
sebentang dinding ingatan, bayangan meneduhkan.

Aku melihat tiga bidadari di punggungmu. Dengan
tiga bentang sayap. Yang sabar menjaga mimpimu.

Saat kau memeluk mereka, satu per satu, mereka
dengan bangga membaca, nama-nama mereka
berbaris indah, di sepanjang lengan kananmu.

2012

Beberapa Kisah Kecil untuk Ananda Sukarlan

1. Pianis Kecil dan Piano Kecil

SEORANG pianis kecil bertemu dengan piano kecil. “Maukah kau bermain denganku?” tanya piano kecil itu.

Mereka pun asyik bermain. Pianis kecil menggelitikkan jari-jari kecilnya di bilah-bilah kecil piano kecil itu. Berderailah tawa kecil si piano kecil.

Kadang-kadang mereka bernyanyi-nyanyi kecil, sesekali terdengar senandung kecil, tangis kecil, aduh kecil, jerit kecil.

“SENANG sekali bisa bermain denganmu. Tapi, kamu sudah letih, ya?” tanya piano kecil. Si pianis kecil mengiyakan. Mereka pun berpisah. Di jarak yang merentang di antara keduanya mengembang sunyi.

Sunyi yang kecil.

 

2. Berapa Banyak Bunyi?

“BERAPA banyak bunyi yang kau simpan di bilah-bilah tubuhmu?” tanya pianis itu kepada piano.

“Tak ada. Aku tak punya bunyi. Aku hanya punya sunyi,” jawab si piano.

Si pianis pun sejak itu tahu, selama masih ada sunyi, maka dia dan piano itu bisa menciptakan bunyi setakterhingga banyaknya.

 

3. Sunyi dan Bunyi

SUNYI ingin sekali tahu siapakah sebenarnya Bunyi itu.

Bunyi juga ingin sekali kenal apakah sesungguhnya sunyi itu.

Mereka pun bertemu di sebuah piano dan bertanya pada seorang pianis yang tampaknya sangat mencintai piano itu.

“Ketika sunyi berkata maka jadilah bunyi. Ketika bunyi berdiam diri, ia menjelma jadi sunyi,” kata si pianis itu.

Piano pun dengan mahir menerjemahkan penjelasan itu.

“Oh, kami mengerti,” kata Sunyi dan Bunyi, serempak, “bunyi adalah sunyi. Dan sunyi adalah bunyi.”

 

4. Jemari Kecil dan Piano Tua

SETELAH menemui bunyi di mana-mana, menemui piano di banyak negara, Pianis itu pulang.

Ia menemui piano tua, piano yang dulu mengajari dan memperkenalkan berbagai bunyi pertama kali kepadanya.

“Aku membawakan bunyi untukmu,” katanya pada piano tua itu, “maukah kau, aku perdengarkan bunyi-bunyi itu padamu?”

Piano itu mengangguk, lalu dengan gairah seperti saat dulu ia pertama kali membunyikan sunyi di piano itu, dia mainkan sejumlah komposisi bunyi dari hatinya.

Piano tua itu menangis. “Kenapa kau menangis?” tanya pianis itu.

“Aku rindu pada jemari kecil yan dulu memainkan aku,” kata piano tua itu.

Air mata piano tua itu tiba-tiba seperti mengalir ke mata pianis itu. Air mata yang sunyi. Sangat sunyi.

 

5. Pianis Kecil Ingin Tidur

PIANIS kecil itu ingin tidur. Ia minta temannya mengantarkannya.

“Tidurkanlah aku,” katanya kepada temannya, Si Bunyi namanya.

Si Bunyi menyenandungkan diri, melirihkan diri, memerdukan diri.

Pianis kecil itu perlahan terlelap.

“Dia sudah tidur. Sekarang giliran engkau menjaga tidurnya,” kata Si Bunyi kepada temannya, Si Sunyi.

 

6. Piano yang Terbang

“AKU ingin terbang bersamamu,” kata Pianis kecil itu kepada piano. “Bunyikanlah aku. Nyanyikanlah lagumu pada sunyiku,” kata piano itu.

Pianis kecil itu lalu menarikan jemarinya, menarikan hatinya, menarikan pikirannya, menarikan gairahnya, menarikan kehidupannya pada piano itu.

Dia tidak tahu, pada saat itu ada sayap tumbuh, mengepak pada piano itu dan mereka – pianis dan piano itu – terbang ke langit, sunyi dan tinggi.

(2010)

 

 

Budi Darma: Sublimitas dan Kontemplativitas Puisi

Oleh Hasan Aspahani

ADA puisi-suasana, ada puisi-cerita. Saya kira keduanya adalah istilah yang khas dan paling cocok untuk melihat perkembangan puisi-puisi yang ditulis oleh penyair Indonesia. Istilah itu muncul atas kebutuhan mengapresiasi puisi Indonesia.

Keduanya, masing-masing adalah padanan dari puisi-liris-imajis, dan puisi-balada-epik. Puisi-suasana, oleh Budi Darma dijelaskan sebagi puisi yang mengungkapkan suasana. Puisi-cerita mengungkapkan cerita.

“Karena itulah puisi suasana lebih banyak menuntut intensitas kata-kata, karena setiap kata dalam konteks keseluruhan puisi harus menimbulkan suasana,” ujar Budi Darma dalam diskusi digelar di Surabaya, pada 11 Juli 1972. Ia membentang makalah dalam diskusi Apresiasi Sastra Dewan Kesenian Surabaya itu.

Sebaliknya dalam puisi-cerita, pemakaian kata-kata lebih longgar krena peranan kata-kata yang utama adalah menyampaikn cerita. Dalam puisi-cerita kata-kata umumnya denotatif.

Kehadiran puisi bagi penikmat, apapun jenisnya, akhirnya sama saja, yaitu menantang pembacanya untuk melakukan petualangan jiwa (istilah yang dipinjam Budi Darma dari Anatole France), masuk ke dalam dunia puisi itu. Petualangan itu mengasyikkan apabila bisa membentuk suasana hati (puisi-suasana) dan menggugah perasaan dengan keharuan yang ditimbulkan oleh cerita (puisi-cerita).

Saya sarikan pemikiran Budi Darma dari tulisannya itu dalam beberapa butir berikut ini:

1. Yang kita harapkan dari puisi yang baik adalah sublimitas dan kontemplativitas. Keduanya pada dasarnya adalah hal yang diharapkan dan bisa didapatkan manusia dari bidang lain kehidupan sebagau usaha manusia untuk mengerti dirinya sendiri sebagai manusia.

2. Puisi sebagai bentuk sastra dapat menjadi sublim dan kontemplatif apabila puisi itu dapat menyentuh bawah sadar manusia dan apabila persentuhan itu terjadi maka kita dapat mengatakan bahwa puisi itu baik.

3. Puisi yang baik akan secara totalitas menyentuh totalitas bawah sadar manusia, dengan tidak memberi kesempatan adanya intervensi-intervensi statik, atau situasi yang menyeret ke arah diam atau buntu.

4. Usaha membaca puisi bisa terganggu oleh statik yang mengganggu keheningan dan kebeningan. Gangguan itu berupa tanggapan yang sudah tercadang (stock responses) dan pola-pola tanggapan yang tak relevan (mnemonic irrelevances), merujuk ke I.A. Richards, dalam “Practical Critism”.

5. Stock responses terjadi apabila sebelum membaca sebuah puisi seseorang sudah bersiaga dengan perasaannya sendiri, sehingga yang bicara padanya sebagian adalah dia sendiri dan bukan puisi yang dibaca.

6. Mnemonic irrelevance terjadi pada waktu membaca puisi seseorang terlibat pada pengalaman-pengalaman masa lampau sehingga puisi yang tidak ada hubungannya dengan pengalaman pribadi ditangkap secara keliru.
Membaca puisi, melakukan petualangan jiwa itu, memasuki bentangan suasana dan mendpatkan keterharuan itu, akhirnya sama-sama membawa pada permenungan, pada soluliqui.

Budi Darma menyebut itu sebagai fragmen. Selamanya hanya fragmen yang tak pernah lengkap, tapi ajaibnya, puisi yang baik, tak membiarkan kenikmatan itu tuntas. Sebagai fragmen ia terus menawarkan proses pemaknaan yang tak pernah selesai.

Jakarta, 2 April 2020.

Sayangku Sayang

                              (Menyimak Andrew’s Pillow – Ananda Sukarlan)

KAU sudah lelah, sayang, istirahatlah
sayangku sayang, biarkan kata serumu
tadi menyusun kalimat-kalimat teduh

Kau sudah jemu, sayang, pejamkan mata
sayangku sayang, beri kesempatan cahaya
menyentuh dan mengetuk kelopak matamu

Kau sudah mengantuk, sayang, tidurlah,
sayangku sayang, teruskan bermain
dengan mimpi yang tak melelahkanmu.