Sajak ke-7: Aku Peta Tak Jadi

Processed with VSCO with p5 preset
Reza Rahadian (foto oleh Mawan Kelana untuk Titimangsa Foundation, 2017)

Aku Peta Tak Jadi

 

AKU peta tak jadi
terobek
pertarungan
monster dan hantu-hantu
yang aku
dan yang bukan diriku

Tak ada waktu melipat lembar waktu

Perjalanan dekat ini
musti lekas kuselesaikan
sampai batas yang
tak bisa kutuntaskan

Aku peta tak jadi
menggali sendiri lubang dalam dan besar
untuk makam bersama kami: aku
dan apa yang telah lama mati dalam diriku

Aku peta tak jadi
tercerai-berai oleh kuku-kuku
makhluk liar yang tak bisa menunggangiku

Dengan sesobek peta itu
mereka nanti sampai ke kuburku
tumpukan buku yang menulis sendiri
yang tak pernah selesai mereka baca
seribu halaman sudah
seribu halaman lagi
buku yang melahirkan waktu
dari peta yang tak jadi
yang tak henti
memetakan
aku.

Iklan

Allium, 6

MATAKU ladang tangisan, tempat aku menanam kesedihan
Hidupku sebuah musim yang panjang: musim mengolah lahan
Dari panen terakhir, benih terbaik, telah kupersiapkan

Tubuhku catatan tentang cahaya, tentang tanah dan hujan
Kulitku adalah apa yang dipinjamkan langit, lingkaran bulan
Tubuhku bulatan yang meniru bumi dengan diam, diam-diam

Nanti, jika aku masuki hidupmu, atau kau masuki hidupku,
sama saja, itulah cara kita, kembali ke ladang yang sama,
dan seseorang yang lain menanamku lagi: tangis berikutnya.

 

 


:: Ide sajak ini dari serial sketsa bawang di akun Instagram Putu Fajar Arcana.

Allium, 5

AKU datang
kepada para juru masak yang bimbang
bersama kapal dari Mumbai
yang singgah berdagang

“Ini dari petani di sana,
di ladang-ladang Palestina!”
kata para lelaki itu

Mereka membuka kebatan keranjang
lalu menyeruaklah
sejarah yang semu, semudah kupikat
selera ketika kusulap hambar kuah itu
menjadi pesona dari lidah ke lidah

Ini perjalanan citarasa
dan aku pemandu tamasya
yang panjang
seakan-akan menelusuri kembali
perburuan dan pencarian
rempah-rempah yang lain
di mana kami bertemu
di meja besar perjamuan
bagi tamu-tamu
agungmu

*

Ya, aku telah datang
kepada para penyantap yang tak peduli
betapa sabar
dan berapa lingkar mengering
helai-helai kami
agar tersimpan, berbulan-bulan
dalam perjalanan
dari pelabuhan ke pelabuhan
serumus bumbu dasar yang tertulis
sebagai wahyu abadi pada diri kami
agar lewat lidahmu
kau tak hanya sibuk mengingat
sendiri dirimu.

“Ini dari petani yang kehilangan
ladangnya di sana, di Palestina!”

 

 

Catatan: Bawang bombay, diperkirakan berasal dari Asia Tengah, kemungkinan besar Palestina. Di negeri itu hingga kini terdapat belasan spesies liar Allium cepa (nama latin bawang bombay).

 


:: Ide sajak ini dari serial sketsa bawang di akun Instagram Putu Fajar Arcana.

 

 

 

 

Serial puisi dari pentas Perempuan-Perempuan Chairil (6)

Processed with VSCO with m5 preset
Reza Rahadian dan Sri Qadariatin (Foto oleh Mawan Kelana untuk Titimangsa Foundation, 2017)

 

Lalu Melupa Lagi Membawa Mimpi

 

PEREMPUAN… (kayu dalam unggun api dan aku pejalan
membangun kemah di pantai yang jauh dari pelabuhan

Payung dalam hujan malam dan aku tak lagi peduli
sebasah apa, karena tahu nanti akan kering sendiri

Tebaran cahaya di cakrawala, tapi aku tak tahu waktu
ini fajar atau senja? Lalu melupa lagi membawa mimpi

Perempuan, dengannya dan tentangnya kutuliskan sajak
dan aku tahu akan terlambat kumengerti diriku sendiri)

 

 

 

Serial puisi dari pentas Perempuan-Perempuan Chairil (5)

Processed with VSCO with b1 preset
Sita Nursanti dan Reza Rahadian (Foto Mawan Kelana untuk Titimangsa Foundation, 2017)

Jika Kau Kutinggalkan

 

KUTERIMA cinta ini
dengan bangga dan sesal (sebagai bonusnya)
apa yang kubayangkan
bisa terselenggara
dengan sederhana
ternyata sedemikian rumitnya

Aku mencintai engkau, itu tentu
dan engkau mencintai aku

Pada kalender di dinding kamar kita
tak ada tanggal merah atau juga hari Minggu
bagi pertengkaran yang buntu
yang mempersoalkan hanya
soal itu
ke perkara itu

Di jalan depan pintu faviliun
yang tak pernah sampai jadi milik kita
becak menunggu
kau yang tenggelam
dalam buku
dan tinggi tumpukan kayu
sajak yang belum
kau beri api itu

Kuterima cinta ini
dulu sebagai pintu yang mulai terbuka
untuk memahami dugaan-dugaanmu
pertanyaan-pertanyaanmu
keyakinan-keyakinanmu
juga ketakutan-ketakutanmu
tapi hanya sekilas cahaya
yang bisa kukais
dari kelam malammu
dan aku tak sekuat itu
aku tersiksa
melihat kau terluka
oleh ketaklaziman kau yang memilih  jalan
dan aku tak bisa bertahan lebih lama

Jika kau kutinggalkan
itu karena aku ingin
dalam diriku ada yang tersisa dari kita
yang tak akan pernah bisa bertahan
jika kita terus bersama

 

 

 

 

Serial puisi dari pentas Perempuan-Perempuan Chairil (4)

Processed with VSCO with m5 preset
Marsya Timothy dan Reza Rahadian. (Foto oleh Mawan Kelana untuk Titimangsa Foundation, 2017)

Transaksi yang Tak Pernah Terjadi

 

KITA bertukar-curiga
(tapi tidak cinta)
membenturkan filsafat dan pendapat
apa yang bisa diperas
dan menetes
dari rimbunan rumpun
timur dan barat,
tapi tak menemukan cinta.

Kita adalah kalimat panjang
yang ditulis terburu-buru

Lembar naskah kosong kita pandang
apa yang bisa mengabadi di situ

Dan… (puisi adalah kemewahan  asing
yang ditulis dalam tanda kurung)

Kita adalah penonton bioskop
datang dengan pakaian necis dan pikiran perlente
mencari konsep tentang bangsa menjadi
dari cerita dan propaganda
mempersoalkan agama dan dogma
(tapi tidak cinta)

Kita mengadu-harga,
dua pedagang yang ingin saling membeli
dengan harga yang paling tinggi
tak pernah menyadari
betapa terlambatnya

transaksi yang tak pernah terjadi.

Serial puisi dari pentas Perempuan-Perempuan Chairil (3)

Processed with VSCO with b5 preset
Reza Rahadian, Happy Salma, dan Agus Noor. (Foto: Awan Kelana untuk Titimangsa Foundation, 2017)

Kecemasan-Kecemasan yang Berguguran

 

KAMI melihat adegan-adegan berlompatan mengepung tubuhnya
mengantarkan cerita-cerita dari nama dan zaman yang gelisah

tentang aroma mesiu di udara kota, jam malam, serangan udara,
lubang-lubang perlindungan, anjing lapar dan kuda liar, yang

mungkin lari dari sebuah pertempuran, setelah sebuah pasukan
dihancurkan, bom dijatuhkan, peluk-tangis perempuan dilepaskan

*

Kami mendengar pernyataan-pernyataan dipernyatakan dari mulutnya
menebalkan kata-kata keras, bualan-bualan besar, caci maki bagi

kepengecutannya sendiri, juga keberanian menghantam kebutaan
dinding waktu, membayangkan lubang menganga di situ, dan dia masuk
berlari dikejar  segerombolan tahun yang membawakannya mati

Kami menunggu kecemasan-kecemasan berguguran dari jam matanya.