klinikpuisi

Tolok Ukur Puisi Dangkal [] Jalan Kelahiran Puisi Hebat [] Yang Berbalik: Epistrop atau Epifora [] Ambiguitas: Makna Ganda [] Apa yang Kita Dapatkan dari Puisi? [] Peristiwa Prosa, Imaji Puisi [] Puisi yang Prosais, Prosa yang Puitis [] Alami, Lupakan, … Lalu Puisikan [] Tentang Filsafat dan Nilai-nilai [] Yang Liris dan Yang Imajis [] Yang Terlibat dan Yang Menggugat [] Yang Lengkap dan Selesai Mengucap [] Menyelidik Diksi Puisi [] Yang Mengatakan Hai pada Dunia [] Metafora dan Metafora yang Diperluas [] Vitalisme: dari Chaotisch ke Kosmisch [] Menumbuhkan Ekor Cicak yang Putus menjadi Cicak yang Lain: Patafora [] Menulis Puisi dengan Kesadaran Sejarah Puisi [] Celah Imajinatif pada Puisi [] Alusi: Karena Sajak Tak Perlu Catatan Kaki.Anafora dan Anafora Kosong [] Efek Bunyi: Eufoni dan Kakofoni [] Berkenning-kenning Dahulu, Berpuisi-puisi Kemudian [] Mengolah Bahan Sejarah Menjadi Puisi) [] Logika, Filsafat, dan Puisi [] Puisi, Pengalaman, dan Kesadaran [] Kata Sekelompok alias Kolokasi


DbmEw0vVAAA_aOi

Duka Manis (Divapress, Yogyakarta, 2018)

Seratus puisi cinta di buku ini, merangkum banyak hal, yang naratif dan yang liris, yang tragis dan yang jenaka. Cinta dan duka yang seringkali mengakibat darinya diterima dan diryakan dengan semanis-manisnya.

Seusai Menonton Film Itu

AKU mencermati namamu di antara teks-teks yang melintas
dalam huruf berukuran kecil yang nyaris tak terbaca mataku
yang semakin menua, semakin susah membaca perih perasaan

Aku menyimpan sisa sobekan tiket, di antara kitab cerita
yang tak selesai kubaca. Cerita dari kitabmu itulah yang jadi
film yang kutonton dan tak ada aku, tapi kucari juga namamu.

Iklan

Menyelidik Karya Sastra seperti H.B. Jassin

Esai Hasan Aspahani

KETIKA Universitas Indonesia menganugerahi gelar doctor honoris causa, pada 14 Juni 1975,  H.B. Jassin menerima dengan kuatir. Gelar kehormatan dari perguruan tinggi – lembaga dengan otoritas ilmiah itu – jelas bernilai dan bermuatan akademis. Justru itulah yang dikuatirkan olah  Jassin, kekuatiran yang bercabang ke dua arah.

Pertama, Jassin merasa apa yang telah dia lakukan di lapangan kritik sastra di Indonesia, yang menjadi pengarena gelar yang ia terima, dia anggap masih sedikit sekali dan masih jauh dari apa yang disebut ilmiah.  Jassin tentu saja merendah dalam hal ini. Sementara itu, seakan-akan berlawanan dengan kekuatiran pertama,  alasan untuk kuatir yang lain bagi Jassin adalah ia justru cemas jika yang ia lakukan menjadi ilmiah. Dalam arti, kata Jassin, hanya bekerja dengan otak.

Selengkapnya baca Hari Puisi -> Menyelidik Karya Sastra seperti H.B. Jassin

Muslihat Pagi Buta

Buka dan baca. Kau akan tahu ini sajak tentang apa. Fatih Muftih menuliskannya dengan sangat bagus.

Mahafatih

Seperti yang sudah dikatakan. Pagi masih buta dan bapak akan mengajakku ke wahana hiburan. Aku membayangkan kuda-kudaan yang berputar penuh lampu. Ada juga penjual gulali besar yang boleh kujilati sampai habis. Bapak tidak membawa arlojinya. Katanya, di sana waktu tidak lagi bekerja. Duh, keriangan lincah bermain di angan-angan. Aku, kataku pada Bapak, ingin bermain lama-lama di sana. Selamanya.

Ibu tentu paling sibuk berkemas. Perhiasan terbaik ia tanggalkan. Seperti Bapak. Katanya, segala di sana suka-suka. Cokelat besar-besar boleh kuhabiskan tanpa takut gigi berlubang. Aku mau pakai baju kembang penuh warna. Tapi Ibu melarang. Disiapkannya baju hitam-hitam. Taman bermain di sana, kata Ibu, dipenuhi bunga macam warna. Aku gegas mandi. Hari ini girang sekali, tidak perlu bedak di pipi. 

Jauhkan perjalanan kita hari ini? Bapak menggeleng. Ibu pilih mendekap adik yang merasa sarapan pagi ini begitu terburu-buru. Kuberikan bunga kertas padanya. Ia menerima tapi tidak ada senyum darinya. Mata Ibu pun…

Lihat pos aslinya 57 kata lagi

Apakah Engkau Kebijaksanaan?

PUISI yang sedang ia tulis
yang hampir ia selesaikan
bertanya kepadanya,
“apakah engkau kebijaksanaan?”

Ia menjawab,
“Aku bukan kebijaksanaan
aku hanya pencinta kebijaksanaan.”

Puisi yang sedang ia tulis
bertanya kepadanya,
“bagaimana caramu mencintai
kebijaksanaan?”

Ia menjawab,
“dengan memertanyakan
cinta dan kebijaksanaan itu.”

Sebelum puisi yang hampir
ia selesaikan itu bertanya lagi,
ia menuliskan bait terakhir,
bait yang berupa pertanyaan:

Apakah puisi ini membuktikan
bahwa aku memang seorang yang
mencintai kebijaksanaan?

Impromptu, 2

KESUNYIAN, seperti avalans. Menimbun dia yang sedang mendaki, sedikit lagi, ke puncak sendiri. Ia menarik diri. Serasa masih berpegang pada tali tadi.

Kesunyian, seperti serbuk salju. Melekat di wajahnya, gambar yang sementara, yang minta lekas diringkap. Sebelum mencair, menjadi sunyi yang lebih sunyi.

(Kepada Margot Heinemann) – Rupert John Cornford

Rupert John Cornford (1915-1936)
(Kepada Margot Heinemann)

Hati pada dunia yang mati hati,
Sisihan hati, kukenang engkau
dengan siksa sakit pada diri,
Bayangan membeku pandang mataku.

Angin bangkit di pangkal petang,
Mengabarkan musim gugur sebentar datang.
Aku takut kehilangan engkau,
Aku takut pada ketakutanku.

Pada pal terakhir sebelum Huesca,
Pagar terakhir kebanggaan kita,
Kenangkan aku, sayang, kenangkan: bahwa aku
Mengenang engkau ada di sisiku.

Dan bila nasib buruk menggeletakkan aku
pada kubur yang dangkal,
Kenang segala jasa yang bisa kau kenang;
Dan cintaku jangan kau lupakan.

Sepucuk Surat dari Aragon – Rupert John Cornford

john-cornford-5b234db9-af60-4864-8d7d-a4db0d925b4-resize-750

Rupert John Cornford (1915-1936)
Sepucuk Surat dari Aragon

Ini sektor tenang pada medan tempur yang lengang.
Kami kubur Ruiz dalam peti berwangi pinus,
Tetapi kafan tak cukup, tersingkap kakinya yang putih.
Bau jenasah menembus papan pinus yang bersih itu
Kami mengusung, membebatkan saputangan di muka kami.
Mati tak beri harga pada diri.
Kami gali kasar kubur di bumi yang tak ramah
dan dentum salvo di atas timbunan makam.

Kau bisa baca kelelahan kami, tak lagi bisa merindu dia.

Di sektor tenang pada medan tempur yang lengang.
Tak ada gas beracun, juga bom berdaya ledak tinggi.

Tapi ketika mereka menembaki ujung desa yang lain
Maka berdebulah jalanan
Perempuan menjerit lari dari rumah-rumah yang runtuh,
Dengan sebelah lengan, menggendong bayi telanjang.
Aku katakan: betapa buruk rasa takut ini.

Ini sektor tenang pada medan tempur yang lengang.
Saraf kami diam; kami bisa tidur tenang.

Di katil rumah sakit yang bersih, mataku berbeban
Tidur memang bisa mengusir selembar gambar suram,
Milisi yang terluka yang mengerang di atas tandu,
Ia telah lepas dari bahaya, tapi merintih meminta air,
Kuat melawan maut, tetapi tidak untuk siksa sepedih ini.

Ini medan tempur yang lengang.

Dan pada jabat tangan perpisahan, seorang buruh Anarkis
Berkata: ‘Sampaikan kepada para pekerja Inggris
Ini perang bukan buatan kami
Kami tidak pernah cari perkara.
Tetapi jika kaum Fasis menguasai Barcelona
runtuhlah puing-puing dan tubuh kami tertimbun di dalamnya.’