PO
Langsung ke narahubung penerbit!

5-20 April 2018, PO Dibuka, 25% Diskon!


klinikpuisi

  1. Tolok Ukur Puisi Dangkal
  2. Jalan Kelahiran Puisi Hebat
  3. Yang Berbalik: Epistrop atau Epifora
  4. Ambiguitas: Makna Ganda
  5. Apa yang Kita Dapatkan dari Puisi?
  6. Peristiwa Prosa, Imaji Puisi
  7. Puisi yang Prosais, Prosa yang Puitis
  8. Alami, Lupakan, … Lalu Puisikan
  9. Tentang Filsafat dan Nilai-nilai
  10. Yang Liris dan Yang Imajis
  11. Yang Terlibat dan Yang Menggugat
  12. Yang Lengkap dan Selesai Mengucap
  13. Menyelidik Diksi Puisi
  14. Yang Mengatakan Hai pada Dunia 
  15. Metafora dan Metafora yang Diperluas
  16. Vitalisme: dari Chaotisch ke Kosmisch    
  17. Menumbuhkan Ekor Cicak yang Putus menjadi Cicak yang Lain: Patafora
  18. Menulis Puisi dengan Kesadaran Sejarah Puisi
  19. Celah Imajinatif pada Puisi
  20. Alusi: Karena Sajak Tak Perlu Catatan Kaki.Anafora dan Anafora Kosong
  21. Efek Bunyi: Eufoni dan Kakofoni
  22. Berkenning-kenning Dahulu, Berpuisi-puisi Kemudian
  23. Mengolah Bahan Sejarah Menjadi Puisi

Pagi di Melonguane

APA yang dirayakan burung dengan kicauannya?
Semak di antara kenari dan merah fuli menyala

Siapa yang diperingatkan katak dari lebak paya-paya?
Petani yang belum membayar utang pada tanahnya

Lanjutkan membaca “Pagi di Melonguane”

Iklan

Kau Tahu Siapa yang Berlari Itu?

SEEKOR ketam menggali lubang di pasir. Itu terjadi di sebuah pantai yang teduh. Seekor kadal mengawasi laut. Kulitnya mengilatkan pantulan cahaya matahari.   Seorang anak berlari ke arah benang layang-layang, cakrawala yang ditarik oleh sebuah kapal besar. Kapal besar itu mengangkut pipa-pipa minyak. Kapal itu berlayar dari pelabuhan besar di sebuah kota besar. Di pelabuhannya ada sebuah patung besar yang mengucapkan selamat datang kepada semua orang.

Aku Tertawa Lagi

AKU tertawa lagi, lihatlah, aku tertawa
dengan bunga yang menarikan warna tawanya
aku menari lagi, lihatlah, aku menari
dan bunga-bunga menarikan warna tawanya

Bunga bertanya apakah aku yang menanam dia?
Bunga bertanya apakah kudengar warna tawanya?

Aku menarik bunga menari, dan kami tertawa
Dengarlah tawaku mekar bersama warna bunga

 

Screenshot-2018-4-18 skalamata • Instagram photos and videos
Happy Soul oleh Sani Tumbelaka, arkilik pada kanvas, 50×70, 2018.

Berpuisi dengan Kesadaran Sejarah Puisi

klinikpuisiADALAH penting bagi seorang penyair untuk menulis dengan kesadaran tentang sejarah puisi.  Ia mau tak mau berada dalam linimasa, rangkaian pencapaian puisi seiring berjalannya zaman di negerinya, di mana puisi ditulis dalam satu pilihan sistem dn potensi bahasa (langue) yang sama, dalam pemikiran tentang estetika dan fungsi puisi yang berterusan.

Karena sejarah – memakai penjelasan Kuntowijoyo (1995; 2013) membicarakan masyarakat dari segi waktu, maka sejarah puisi, dengan begitu, juga adalah pembicaraan tentang puisi dalam kaitan perjalanan waktu yang telah ia tempuh.

Maka dengan kesadaran terhadap perjalanan sejarah puisi di negerinya, penyair bisa melakukan empat hal berikut ini: (1)  atau sekadar membuat pengulangan,  (2) atau menjaga kesinambungan, (3) dia membawa sebuah perkembangan baru, (4) atau dia melakukan perubahan.

Pengulangan. Gaya ucap, pilihan kata, perumpamaan, pembentukan metafora, dan pemakaian perangkat puitika lainnnya, pada seorang penyair, bisa jadi sangat khas dan sedemikian memikatnya, sehingga penyair lain ingin mengulang memakai atau meminjam kekhasan itu. Pengulangan juga terjadi pada tema. Tema cinta kasih, misalnya, wilayahnya sedemikian luasnya sehingga kita tak bisa menghindar dari pengulangan.    Lanjutkan membaca “Berpuisi dengan Kesadaran Sejarah Puisi”

Celah Imajinatif pada Puisi

klinikpuisiADA semacam celah masuk bagi pembaca ke dalam sebuah puisi. Tentu saja itu celah imajinatif, sebagaimana Dwight L. Burton (1964) menamakannya sebagai imaginative entry. Sebuah celah yang memungkinkan pembaca menghubungkan pengalaman hidupnya sendiri dengan pengalaman yang dituangkan penyair dalam puisinya.

Tapi buat apa pembaca memasuki dunia puisi itu?   Karena dengan membaca puisi – dan membaca apa saja – ada peluang baginya untuk memperkaya pengalaman hidupnya dan pada gilirannya pengalaman itu bisa membentuk dan memperkuat karakter pribadinya.

Lanjutkan membaca “Celah Imajinatif pada Puisi”

Tema-tema Lokal yang Tak Terjebak Lokalitas Sempit

Catatan pengantar saya untuk buku puisi Arco Transept “Didera Deru Kedai Kuala”. Petikannya: … saya ingin menutup dengan sebuah permakluman, ada satu sajak di buku ini yang ditujukan kepada saya, tapi bukan karena “disogok” dengan sajak itu maka saya “berbaik hati” memuji hasil kerja serius Arco sebagai penyair. Ia memang layak mendapat perhatian kita, dan pantas kita tunggu perkembangan berikutnya.

Kuala Sajak

Oleh Hasan Aspahani

KITA tidak tahu berapa banyak puisi Chairil Anwar yang ia musnahkan sebelum ia meyakini sajak “Nisan” (1942) sebagai sajak yang pantas ia terbitkan sebagai sebuah sajak yang “menjadi” dan membangun “sebuah dunia” sendiri.
Kita juga tak tahu sajak-sajak seperti apa yang dirobek-robek oleh Sutardji Calzoum Bachri sebelum ia menerbitkan sajak-sajak dalam “O“, lalu “Amuk“, kemudian “Kapak“, dan merasa telah bisa membebaskan kata-kata dan tradisi lapuk yang membelenggu, dari penjajahan-penjajahan seperti moral kata, dan dari penjajahan gramatika.
Tapi kita bisa tahu sajak-sajak apa yang diabaikan oleh Sapardi Djoko Damono sebelum ia dengan penuh percaya diri menerbitkan kumpulan puisi “Duka-Mu Abadi“, dan menjadi penanda penting bagi kebesarannya sebagai penyair.
Saya ingin memulai pembicaraan atas sajak-sajak Arco Transept di buku ini dengan pelajaran dari tiga penyair besar tadi. Kapan seorang penyair harus menerbitkan sebuah buku puisi? Buat apa menerbitkan sebuah…

Lihat pos aslinya 1.676 kata lagi