Beranda

klinikpuisi

Tolok Ukur Puisi Dangkal [] Jalan Kelahiran Puisi Hebat [] Yang Berbalik: Epistrop atau Epifora [] Ambiguitas: Makna Ganda [] Apa yang Kita Dapatkan dari Puisi? [] Peristiwa Prosa, Imaji Puisi [] Puisi yang Prosais, Prosa yang Puitis [] Alami, Lupakan, … Lalu Puisikan [] Tentang Filsafat dan Nilai-nilai [] Yang Liris dan Yang Imajis [] Yang Terlibat dan Yang Menggugat [] Yang Lengkap dan Selesai Mengucap [] Menyelidik Diksi Puisi [] Yang Mengatakan Hai pada Dunia [] Metafora dan Metafora yang Diperluas [] Vitalisme: dari Chaotisch ke Kosmisch [] Menumbuhkan Ekor Cicak yang Putus menjadi Cicak yang Lain: Patafora [] Menulis Puisi dengan Kesadaran Sejarah Puisi [] Celah Imajinatif pada Puisi [] Alusi: Karena Sajak Tak Perlu Catatan Kaki.Anafora dan Anafora Kosong [] Efek Bunyi: Eufoni dan Kakofoni [] Berkenning-kenning Dahulu, Berpuisi-puisi Kemudian [] Mengolah Bahan Sejarah Menjadi Puisi) [] Logika, Filsafat, dan Puisi [] Puisi, Pengalaman, dan Kesadaran [] Kata Sekelompok alias Kolokasi [] Antara Sukma Berlagu dan Suara Bersaksi


DbmEw0vVAAA_aOi

Duka Manis (Divapress, Yogyakarta, 2018)

Seratus puisi cinta di buku ini, merangkum banyak hal, yang naratif dan yang liris, yang tragis dan yang jenaka. Cinta dan duka yang seringkali mengakibat darinya diterima dan diryakan dengan semanis-manisnya.

IMG_8542(1)Menyentuh Jantung Bahasa, Meraih Hati Puisi (JBS, Yogyakarta, 2018)

13 Esai ini mencoba pendekatan lain pada puisi, yaitu lewat linguistik. Esai-esai pendek, hanya sebelas paragraf.  Ringan dan riang. Manjur dan berkhasiat. Disertai contoh-contoh dari para penyair Indonesia.

Neoplasia

APAKAH ini adalah jawaban yang benar dari pertanyaanku?
Tak ada pertanyaan. Tak ada jawaban. Kita sudah berbicara
bergantian. Saling berkisah dan mendengarkan.

Waktu adalah sejenis jaringan lain pada tubuh kita
tumbuh liar dari sel tak dikenal, dan menular. Kita saling
menjangkiti. Menguji: siapa yang kebal, siapa yang rentan.

Iklan

Metaplasia

BATU berdiam menandai tubuh tanah –
tanah menyimpan hilangnya batu

Tanah menangkap langkah binatang –
pemburu menciumi jejak-jejak darah

Pemburu mengelus-elus tubuh senapan –
senapan merasakan rahimnya panas

Senapan mematangkan mesiu dan peluru –
peluru mati sebelum tanah, atau darah

Darah tak pernah meresap ke dalam peluru –
darah meresap ke dalam batu dan tanah

Pemburu menggantungkan lelah dan senapan –
di dinding petang, pada tanduk hewan buruan

Pemburu ditimbun dalam liang dalam tanah –
di atasnya sebongkah batu tanpa darah

 

 

 

Aplasia, 1

KARTU ATM yang tert-
buku-buku gerakan ki-
dan partai-partai Isl-
paspor dan botol antisept-
selebaran pertunjukan tea-
sebuah kelompok dari Je-
biografi politik Ir. Sukar-
gumpalan tisu mencarik-
kacamata baca +175 yang pe-
Tanda bukti transak-
buku AD/ART Partai Demokr-
yang mengampas dan yang mengen-
file PDF yang gagal diund-
mentega, mentega, mentega,
pisau memotong mangg-
…. (dst, dst, dst).

 

 

 

Profesor Sondelur dan Kasus Hidung Petrukio

Cerpen Hasan Aspahani

            BAGI Dokter Trompi, Menteri Petrukio adalah pasien istimewa.  Jadwal perawatannya tak boleh digeser.  Tim yang menangani pun terdiri dari tenaga medis terbaik yang dimiliki kliniknya. Menteri Petrukio secara berkala menjalani operasi perbaikan pada hidungnya.  Tepatnya, pemendekan.  Hidung Menteri Petrukio sebenarnya sempurna dan menyempurnakan  ketampanannya.  Mancung memang, tapi ada kelainan yang membuatnya harus menjalani operasi setiap tiga bulan. Hidung Menteri Petrukio selalu tumbuh, bertambah panjang.

Seperti Pinokio dalam dongeng Carlo Collodi? Betul, seperti itu.

Dari catatan medis Dokter Trompi, tiga bulan adalah waktu yang pas untuk operasi, karena pertumbuhannya baru mencapai satu setengah sentimeter. Pernah, Menteri Petrukio melewatkan jadwal operasi sampai enam bulan. Apa yang terjadi? Hidungnya memanjang hingga sembilan senti. Dokter Trompi mengambil kesimpulan, lewat dari tiga bulan, akan ada eskalasi pertumbuhan yang dipicu oleh hormon baru itu, hormon yang belum dikenal dalam dunia medis.

Lanjutkan membaca “Profesor Sondelur dan Kasus Hidung Petrukio”

Sementara Mereka Beradu Tagar

APAKAH aku tak boleh menulis puisi tentang kunang-kunang
yang terperangkap di matamu, ketika nilai kurs dolar
akan terus meninggi, dan mengacaukan anggaran negara?

Apakah aku tak boleh menulis puisi tentang kenanganku
pada aroma tubuhmu, ketika jaminan kesehatan nasional
defisit dan tanggungan beban subsidi bahan bakar kian berat?

Apakah aku tak boleh menulis puisi tentang betapa sia-sia
upayaku melupakan kamu, sementara mereka beradu tagar:
2019gantipresiden dilawan dengan 2019satuperiodelagi?

Monolog Singkat Hang Tuah

YANG berasal dari laut, akan kembali ke laut

tapi perjalanan itu melewati sungai yang berbeda
mengalir di sungai yang tak ada

Apa yang mempertemukan kita sebenarnya, Hang Jebat?
Geram marah itukah?
Pada bandit merampas sisa penjualan pati sagu?
Pada lanun yang membakar kapal kayu?

Kenapa kita berbaiat pada Sultan, Hang Kasturi?
Karena marwah melekat pada cap plakat?
Karena tali yang mengikat kita pada kaki kursi singgasana?

Kenapa kita setia pada kerajaan, Hang Lekiu?
Karena hanya dengan ini, tak akan hilang Melayu di bumi?
Dengan keris yang kita rebut dari tangan Taming Sari?

Kita ternyata tak banyak tahu
tentang siapa yang duduk di tahta itu
kita hanya berbaiat dan setia,
dan karena itu Melayu menjadi adat dan menjadi ada
dalam darah yang membuka luka-luka, mengalir,
menjadi sungai yang berbeda,
sungai yang tak ada

Dan kembalilah kita ke laut, mengingat asal kita.

 

Sebelum Bendahara Memanggil Dia Kembali

: Laksamana Hang Tuah

SEBERAPA tuakah usia sebuah fitnah?

Dia telusuri pesisir yang tenang,
pantai yang hilang, yang disembunyikan
dan menyembunyikan dia dari mata dan tangan Istana.

Seorang nelayan berdiri di lunas perahu
dan menyerukan namanya yang lain, sebelum
sampai ke dermaga kampung,
seekor hiu menggelepar di ujung tempuling.

Sekelompok anak memahirkan diri
dengan silat yang dia ajarkan,
menguji pukulan pada gelombang,
menangkaskan tangkisan.

Angin yang hangat dan basah,
membawa juga sedikit bau barah

Seorang pandai besi, menyelesaikan keris
yang tak ia mengerti, kenapa begitu elok luk dan lekuk itu,
ia takut, lalu dibuangnya ke laut.

Seorang perempuan, memanggilnya, mengingatkan
waktu yang senja, memastikan air sembahyang tersedia.

Nasi gubal dan gulai sudah dihangatkan.

Seberapa lamakah seseorang bisa mengelak dari sebuah fitnah?

Ia menunggu di sebuah teluk yang dikawal oleh orang laut
sampai utusan Bendahara datang menjemput.