Beranda

ya

Ya, Aku Lari! – Sebuah Novel oleh Hasan Aspahani (Divapress, Yogykarta)

Rp55.000 | 176 halaman | Pemesanan WA/SMS 0818 0437 4879


klinikpuisi

Tolok Ukur Puisi Dangkal [] Jalan Kelahiran Puisi Hebat [] Yang Berbalik: Epistrop atau Epifora [] Ambiguitas: Makna Ganda [] Apa yang Kita Dapatkan dari Puisi? [] Peristiwa Prosa, Imaji Puisi [] Puisi yang Prosais, Prosa yang Puitis [] Alami, Lupakan, … Lalu Puisikan [] Tentang Filsafat dan Nilai-nilai [] Yang Liris dan Yang Imajis [] Yang Terlibat dan Yang Menggugat [] Yang Lengkap dan Selesai Mengucap [] Menyelidik Diksi Puisi [] Yang Mengatakan Hai pada Dunia [] Metafora dan Metafora yang Diperluas [] Vitalisme: dari Chaotisch ke Kosmisch [] Menumbuhkan Ekor Cicak yang Putus menjadi Cicak yang Lain: Patafora [] Menulis Puisi dengan Kesadaran Sejarah Puisi [] Celah Imajinatif pada Puisi [] Alusi: Karena Sajak Tak Perlu Catatan Kaki.Anafora dan Anafora Kosong [] Efek Bunyi: Eufoni dan Kakofoni [] Berkenning-kenning Dahulu, Berpuisi-puisi Kemudian [] Mengolah Bahan Sejarah Menjadi Puisi) [] Logika, Filsafat, dan Puisi [] Puisi, Pengalaman, dan Kesadaran [] Kata Sekelompok alias Kolokasi [] Antara Sukma Berlagu dan Suara Bersaksi


DbmEw0vVAAA_aOi

Duka Manis (Divapress, Yogyakarta, 2018)

Seratus puisi cinta di buku ini, merangkum banyak hal, yang naratif dan yang liris, yang tragis dan yang jenaka. Cinta dan duka yang seringkali mengakibat darinya diterima dan diryakan dengan semanis-manisnya.

IMG_8542(1)Menyentuh Jantung Bahasa, Meraih Hati Puisi (JBS, Yogyakarta, 2018)

13 Esai ini mencoba pendekatan lain pada puisi, yaitu lewat linguistik. Esai-esai pendek, hanya sebelas paragraf.  Ringan dan riang. Manjur dan berkhasiat. Disertai contoh-contoh dari para penyair Indonesia.

Bangun Pagi dan Ingin Tidur Lagi

BANGUN lagi
dengan putih pagi seperti
lembar besar silang teka-teki
untuk pertanyaan-pertanyaan yang mati

Telah jauh percakapan
sejak semalam ketika kita
berangkat dan berjanji
bertemu pada satu titik dalam satu mimpi

Mungkin akan ada jawaban
mungkin akan ada diam yang panjang
kotak-kotak kosong teka-teki
untuk kita: kata,
berbagi huruf yang sama.

Iklan

Suatu Pagi di Kedai Kopi di Sebuah Pasar

DANGDUT dengan lirik yang beberapa kali mengulang kata geli. Mancis bertahan dari lupa pada tali rafia. Sepasang botol yang setia, kecap dan saus tomat yang benci warnanya sendiri. Matahari mencari siapa yang hendak ia tanya apakah dia hanya sia-sia.

“Sakitnya tuh di sini,” kata jam dinding yang menunjuk pada dirinya sendiri.

Seorang pemarut kelapa membeli dua batang rokok. Penjual daging mengasah satu per satu pisaunya. Bulan mengucak mata. Penjaga kedai menuangkan air panas pada segelas kopi Kapal Api. Amanat kepala sekolah pada upacara dalam pengeras suara.

“Aku mah apa atuh…” kata jam dinding sambil memandangi wajahnya sendiri.

Apabila Pemungutan Suara Dilakukan pada Hari Ini

MAKA aku akan tidur dan bermimpi indah
tentang kota yang bersih, tanpa baliho

dan suara bising, spanduk dan senyum
palsu. Juga poster dan janji kosong.

Aku bertanya pada pemilu, kenapa kota
ini suka menumpuk sampah? Menebarkan
kotoran ke dalam pikiran warga kota?

Aku bertanya pada pohon-pohon di tepi
jalanan, kenapa kita kuat disakiti?

Berulang kali! Oleh harapan yang tak
pernah bisa diwujudkan, dan kenapa kita

masih bisa memimpikan perubahan dari
orang yang wajahnya dipoles Photoshop,

lalu dicetak digital massal, dan
dipakukan ke tubuh kita dan kita benci

karena harus menemuinya di mana-mana.
(juga di dalam mimpi di kepala kita).

Perihal @instafiksi dan Panjang Cerita

Oleh Hasan Aspahani

SAYA sedang asyik dengan akun IG @instafiksi, apa yang saya sebut sebagai majalah cerita fiksi di Instagram. Ada yang bertnya Instafiksi itu cerita ringkas (flash fiction) atau cerita pendek?

SAYA sebenarnya tak terlalu peduli pada nama dan ketegorisasi. Tapi ada baiknya juga kalau bisa disepakati nama-nama cerita itu berdasarkan jumlah kata yang dibutuhkan alias panjang pendeknya cerita. Kalaupun bukan untuk kepentingan estetis, setidaknya terpakai untuk urusan teknis penulisan.

Merujuk pada banyak situs penulisan kreatif cerita fiksi di Amerika dan Inggris, pengelompokan itu begini (nama cercil dan cerkas adalah usulan saya saja):

1. Cerita kecil (cercil) / micro fiction: hingga 100 kata. Fiksimini yang berkembang di Twitter masuk kategori ini.

2. Cerita ringkas (cerkas) / flash fiction: 100-1000 kata. Instafiksi yang saya tulis banyak berada pada jumlah kata yang cocok untuk kelompok ini.

3. Cerita Pendek (cerpen) 1.000 hingga 7.500 kata.

4. Novelet 7.500 hingga 20.000 kata.

5. Novela 20.000 hingga 50.000 kata.

6. Novel 50.000 hingga 110.000 kata.

Kalau berususan dengan penerbit sering penulis bertanya, berapa halaman itu? Standanyanya ini: Satu halaman ketik itu antara 220-250 kata (margin 4-3-3-3, spasi 2, TNR 12).

Sudah? Sekarang, jangan salfok pada jumlah kata. Fokus pada cerita. Nah, mari kita lanjut menulis…

Cerpen: Tentang Seekor Kucing Bernama Ploti


Cerpen Hasan Aspahani


 

PLOTI mati.

Dia masih kecil ketika kami membawanya ke rumah kami dari apartemen kami sebelumnya. Belum setahun kami di rumah ini, dan Ploti mati. Bangkainya masih hangat ketika kami angkat dari jalanan di depan rumah tetangga depan. Kepalanya berdarah dan pecah. Lonceng kecil berbenang merah yang melilit lehernya pun gepeng terlindas. Bola matanya keluar dari rongga mata. Kami kira ia terlindas ban belakang mobil tetangga. Ploti memang suka sembunyi di bawah mobil. Kami lantas menguburkannya di sudut halaman rumah kami.

Lubang kuburannya jangan terlalu dalam, kata anak saya. Ia pencinta kucing, seperti aku, istriku, dan kakaknya. Anak saya yakin Ploti akan kembali hidup dan keluar dari kuburnya. Tentu saja tidak. Ploti sudah mati. Di atas makamnya istri saya menanam bunga mandevilla, sejenis tanaman merambat berbunga merah. Seekor kucing jantan tetangga, kami memanggilnya Bandot, sering datang ke situ. Seperti berziarah. Apakah kucing mempunyai konsep tentang hidup dan mati?

Lanjutkan membaca “Cerpen: Tentang Seekor Kucing Bernama Ploti”