Tentang Sajak dan Kata dalam Sebelas Gurindam

PENGANTAR:  Ini mungkin semacam rumusan sikap saya terhadap kata dan sajak. Mungkin? Ya, karena saya memang tak pernah yakin. Setidaknya apa yang saya rumuskan ini membuat saya nyaman. Saya seperti menemukan tongkat untuk berjalan di kebutaan jalan saya menyajak.  Kekhasan sikap terhadap kata dan sajak pada beberapa penyair kita saya lihat yang menjadi pangkal pembeda sajak sajak mereka dengan sajak penyair lainnya.  Saya menyusunnya dalam bentuk gurindam dan jumlahnya sebelas. Kenapa sebelas? Karena saya ingin secara berseloroh gurindam ini berada setingkat di bawah magnum opus-nya Raja Ali Haji itu. Paling tidak dalam hal jumlah. Sembilan dari gurindam ini pernah dimuat di Kompas, Mei 2008. Tahun itu sajak ini juga terpilih dalam 100 Puisi Indonesia Terbaik versi Anugerah Sastra Pena Kencana.

Selamat membaca.

1. Gurindam Pasal yang Pertama: Yang Sajak, Yang Kata
2. Gurindam Pasal yang Kedua: Pada Kamus, Pada Kata
3. Gurindam Pasal yang Ketiga: Hakikat Jejak, Hakikat Sajak
4. Gurindam Pasal yang Keempat: Mana Kata, Mana Makna
5. Gurindam Pasal yang Kelima: Kenapa Sepi, Kenapa Sajak
6. Gurindam Pasal yang Keenam: Ketika Cinta, Ketika Sajak
7. Gurindam Pasal yang Ketujuh: Bagi Sajak, Bagi Siapa
8. Gurindam Pasal yang Kedelapan: Cari Sajak, Hilang Sajak
9. Gurindam Pasal yang Kesembilan: Anakmu Sajak, Lepaskan Sajak
10. Gurindam Pasal yang Kesepuluh: Menuju Sajak, Jalan Sajak
11. Gurindam Pasal yang Kesebalas: Ladang Sajak, Ladang Mawar

1. Gurindam Pasal yang Pertama:
Yang Sajak, Yang Kata

Ketika kau tuliskan sajak-sajak suram,
ketika itu pula mata kata memejam.

Apabila tak kau tulis sebait pun sajak,
ada kata yang diam-diam hendak berteriak.

Saat kau lahirkan sajak sebait,
sejak itu kata mengenal jerit sakit.

Walau tak datang sajak yang kau undang,
jangan kau usir kata asing yang datang.

Kau sembunyikan di mana jejak sajakmu?
selalu ada kata rindu memaksa bertemu.

Ada sajak yang kau tuangkan ke gelas,
siapakah yang mereguk kata hingga tandas?

Jika kau paksa juga menulis sajak,
kata memang tiba, tapi makna jauh bertolak.

Jangan ajari sajakmu mengucap dusta,
sebab mulutmu akan dibungkam kata-kata.

Biarkan sajakmu dicela, dicaci, dinista,
karena maki cuma kata yang cemburu buta.

Di mana kau simpan sajak terbaik?
di hati, lalu biarkan kata mengucap tabik.

Pernahkan sajak meminta lebih darinya?
kata berkata: ah apalah aku cuma kata…

 

2. Gurindam Pasal yang Kedua:
Pada Kamus, Pada Kata

Siapa kata yang tahan diam dalam kamus bahasa,
cuma kata hilang, yang ditemukan oleh lain kata.

Adakah kata yang bertahan di luar kamus kata,
Ya, dia kata yang menyebut fasih siapa dirinya.

Buat apa mencari kata dalam kamus yang rimba,
ke dalam sajak paling bijak, jejak kata baka tertera.

Kamus bukan samudera, juga bukan luas angkasa,
kamus cuma peta, menuntun pemburu melacak kata.

Jadilah pemburu yang membebaskan kata-kata,
Jadilah penakluk kamus, pengejar batas bahasa.

Di manakah rumah paling nyaman bagi kata?
Pada sajak, bukan kamus, bukan pada bicara.

 

3. Gurindam Pasal yang Ketiga:
Hakikat Jejak, Hakikat Sajak

Ketika kau bertanya-tanya apakah yang sajak,
ketika itu pula kau telah banyak hilang jejak.

Dalam sajak-sajak, kau mesti terus jauh melacak,
hanya itu jalan, agar kau dan sajakmu bertemu jejak.

Mulailah sajakmu dari apa yang terbaca pada jejak,
jika tak kau akan kehilangan keduanya: sajak dan jejak.

Telusuri saja jejak kata, ikuti saja jejak sajak,
keduanya membawamu ke bahasa yang puncak.

Kau yang tak tahu kata, tapi ingin mencapai sajak,
kelak hanya membekaskan jejak-jejak yang bengak.

Kau yang tahu kata, tapi jauh meningalkan sajak,
kelak hanya akan ditinggal kata, tak juga berjejak.

 

4. Gurindam Pasal yang Keempat:
Mana Kata, Mana Makna

Kenapa kau takut hilang jejak di dalam sajak,
bukankah hakikat sajak adalah jauh melacak?

Kenapa kau takut sajakmu kehabisan kata-kata,
bukankah hakikat sajak adalah kata yang mencipta?

Kenapa sajak kau jejali kata, kau bebani makna?
sajak itu meleluasakan kata, meluaskan makna

Sejak mulai bicara, kau ucapkan jutaan kata,
kenapa tak sebait pun sajak ingin kau cipta?

 

5. Gurindam Pasal yang Kelima:
Kenapa Sepi, Kenapa Sajak

Jejak sunyi dalam sajak, kenapa selalu terbaca?
sebab sajak: penggema sepi yang tak ingin bicara.

Hanya di jalan sepikah sajak mau melintas lalu,
tak, ia hanya ingin kau mendengar bisik dirimu.

Sajak mencipta sunyi atau sunyi merahimkan sajak?
Apa saja, tapi dalam sunyi sajak ada nyaring teriak.

Lalu kenapa tak berdiam saja dan sebut itu sajak?
Diamlah saja. Sajak tak pernah minta disebut sajak.

 

6. Gurindam Pasal yang Keenam:
Ketika Cinta, Ketika Sajak

Penghasut besar bagi lahir sajak ialah cinta,
kau mesti pecahkan dia, dapatkan inti sepinya.

Jangan menulis sajak cinta, ketika kau rasa cinta,
yang kau dapatkan hanya sajak penuh pura-pura.

Hingga cinta cukup berjarak, sajakmu tahan saja,
Meski dalam cinta, sajak datang amat ramahnya.

Cinta membenci ada jarak, cinta memusuhi sepi,
jarak menciptakan cukup sepi, sajak menemu diri.

Tapi kenapakah telah begitu banyak ditulis sajak cinta,
tak lihatkah, mereka lahir dari cemas yang teramat ada.

Tapi kenapakah masih saja ditulis sajak-sajak cinta,
tak apa, asal sajak cintamu tak lahir dari cinta itu saja.

7. Gurindam Pasal yang Ketujuh:
Bagi Sajak, Bagi Siapa

Untuk siapakah sebenarnya sajak kau cipta?
sia-sia jika kau tak menulisnya untuk sajak saja.

Kepada siapa bisa kau berikan sajak-sajakmu?
sajak perlu diberi hidup, beri ia pada yang tahu.

Ada penyelinap dalam sajak yang seolah sajak,
Ah, malanglah, ia tak akan mampu jauh bertolak.

Adakah sajak yang kau sebut sesungguh sajak?
sajak hidup dalam kau, kau hidup dalam sajak.

Siapakah kau yang terus rindu mencari sajak,
kau yang menemu diri tapi masih merasa tak berjejak.

8. Gurindam Pasal yang Kedelapan:
Cari Sajak, Hilang Sajak

Orang-orang pergi tinggalkan rumah Sajak,
hendak kemana? “Kami mau berburu sajak!”

Orang bongkar tubuh kamus ke sumsum kata,
mencari apa? “Sajak, kami sedang menjebaknya!”

Orang-orang melompat renggut kalimat-kalimat,
mau apa? “Kami mau sajak, meringkus bila dapat!”

Wah! Orang-orang menelanjangi tubuh sendiri!
ketemu apa? “Sial, malah hilang semua sajak kami!”

Kata penyair itu, “Tolong jangan aku disebut-sebut.”
Nah! Lihat, di sajak ini pun dia tak mau terikut-ikut.

 

9. Gurindam Pasal yang Kesembilan:
Anakmu Sajak, Lepaskan Sajak

Sajakmu anak kandungmu, beri ia lebih dari cinta
lahir dari rahim resahmu, beri rindu yang keras kepala.

Seringlah bertatapan: matamu dan mata sajakmu,
di matanya dia akan kekalkan cahaya matamu.

Beri nama terbaik pada kata-kata sajakmu,
sajakmu nanti fasih menyebut namanya dan namamu.

Sajakmu anak batinmu: ia menyuarakan diammu,
jangan paksakan ia jadi corong kecerewetanmu

Lepaskan saja sajakmu berlari jauh dari pangkuan
biar tangan hatimu dan tangan hatinya berpegangan.

Biarkan sajakmu bertemu hati yang mencintainya
tetap ada darahmu mengalir dalam bait tubuhnya.

 

10. Gurindam Pasal yang Kesepuluh:
Menuju Sajak, Jalan Sajak

Bila kau berkata, “aku sedang menuju sajak!”
Yakinkah kau? Kau sedang menempuh jalan Sajak?

Bila kau berkata, “aku telah sampai pada sajak!”
Tahukah kau? Selalu ada yang lebih Sajak dari sajak?

Bila kau berkata, “aku telah menemu yang paling sajak!”
Sadarkah kau? Saat itu kau ditinggalkan banyak sajak?

Bila kau berkata, “aku bersajak, ah, percuma saja!”
Padahal sajak adalah pemakna pada yang sia-sia.

Bila kau berkata, “aku tak menemu diri dalam sajakku”
Sajak membawa kau mengenali dirimu dalam dirimu.

 

11. Gurindam Pasal yang Kesebelas:
Ladang Sajak, Ladang Mawar

Tanah hitam di ladang sajak yang mawar,
menyimpan cinta, mendekap tubuh akar.

Embun mandi di ladang sajak yang mawar,
memanggil, lalu datang pelangi selingkar.

Sinar matahari di ladang sajak yang mawar,
mengecup pipi pagi, rindu semalam terbayar.

Semak gulma di ladang sajak yang mawar,
tanggal gugur duri, tinggal sesulur yang sabar.

Angin datang lalu, di ladang sajak yang mawar,
memetik wangi-wangi, menebar benih kabar.

Diam batu di ladang sajak yang mawar,
menahan-nahan takjub meredam debar.

Siul-siul serunai di ladang sajak yang mawar,
ketika sepi pun ia, alangkah merdu kau dengar.

Burung hinggap di ranting sajak ladang mawar,
bermimpi rajut sarang di mekar kelopak mekar.

Akulah Petani Puisi, di ladang yang mawar,
memetik sajak-sajak di tangkai cahaya fajar.

Iklan