Dunia Penyair dalam Berita ✔

 

Ada buku baru terbit. Judulnya Chairil. Penulisnya Hasan Aspahani. Bukan sedang meresensi, tapi kabar gembira perlu juga disampaikan: Membaca buku setebal 315 halaman tersebut umpama nonton film. Inilah satu di antara sekian banyak adegan bersejarah yang dicuplik-sarikan (dari beberapa bab berbeda) berdasarkan buku yang digadang-gadang paling lengkap mengisahkan lakon hidup penyair Chairil Anwar. | Kendari Post – Sepandai-pandai Chairil Anwar Mencuri, Akhirnya…

 


ASRUL Sani dan Chairil Anwar bertandang ke toko buku. Begitu mendapati buku Also Sprach Zarathustra karya Nietzsche, mereka bereaksi, “wah, ini mutlak dibaca dan dimiliki.” Sejurus kemudian, “Chairil pun dengan lekas mengatur siasat,” tulis Hasan Aspahani dalam Chairil.
Asrul,” seru Chairil. “Kau perhatikan orang itu,” seraya mengedarkan pandangan kepada gadis penjaga toko.
Menurut Hasan, jurnalis-cum-sastrawan peneliti lelakon Chairil Anwar, aksi itu dimungkinkan karena Chairil selalu memakai celana model komprang dengan saku besar yang cukup untuk menyembunyikan buku. | JPNN – Sebelum Asrul Sani dan Chairil Anwar Menjadi Bintang 


kalau-enggak-ada-ngangenin-kalau-ada-ngeselin
Hasan Aspahani dan Fatih Muftih yang memandu diskusi.

Chairil Anwar adalah raksasa dalam dunia kepenyairan Indonesia. Puisi-puisi Chairil tak lekang oleh zaman. Kokoh dan tinggi menjulang. Hasan Aspahani, menulis biografi Si Binatang Jalang –julukan Chairil– itu dengan gaya yang berbeda untuk menyasar pembaca belia. | Kaltim Post – Mengenal Chairil Anwar lewat Biografi Karya Penyair Asal Kaltim – “Kalau Enggak Ada Ngangenin, Kalau Ada Ngeselin”

 


 

Siapa yang tak kenal Chairil Anwar. Puisi-puisinya menjadi selalu menarik untuk diungkapkan. Nah, Hasan Aspahani, penyair yang telah menelurkan buku puisi Pena Sudah Diangkat, Kertas Sudah Mengering, menuliskan kisah hidup Chairil Anwar. Dalam novel ini, pembaca kita akan lebih komprehensif mengetahui sejarah hidup Chairil Anwar sedari dia kecil. Bahkan semenjak halaman pembuka, Hasan Aspahani telah membuat pembaca tercengang karena kita disuguhi adegan Chairil Anwar yang dipanggil pihak Belanda akibat mendeklamasikan keras-keras bagian novel Sutan Takdir Alisyahbana. “Di bagian lain, kita akan melihat bagaimana kata-kata bisa lahir dengan begitu digdaya,” kata Teguh. – DREAM.CO –  10 Buku untuk Menemani Liburan Para Jomblo di Akhir Tahun

 


Hasan Aspahani memang lebih dikenal sebagai penyair. Buku puisinya Pena Sudah Diangkat, Kertas Sudah Mengering memenangi sebagai buku puisi terbaik di hari Puisi 2016. Dan memang puisi-puisinya sangatlah mendalam. Tetapi apa jadinya kalau penyair menulis novel? Perlu diacungi jempol. Ini memang novel biografis seorang Chairil Anwar, sosok penyair yang mengawali angkatan 45 dalam periodisasi sastra Indonesia. Sosok binatang jalang yang harus mati muda. Dalam novel ini, pembaca kita akan lebih komprehensif mengetahui sejarah hidup Chairil Anwar sedari dia kecil. Bahkan semenjak halaman pembuka, Hasan Aspahani telah membuat pembaca tercengang karena kita disuguhi adegan Chairil Anwar yang dipanggil pihak Belanda akibat mendeklamasikan keras-keras bagian novel STA. Heboh bukan? Dan di bagian lain, kita akan melihat bagaimana kata-kata bisa lahir dengan begitu digdaya. – Kedaulatan Rakyat Yogyakarta – 10 Buku Pilihan Klub Baca yang Paling Telolet di 2016.


cikini
Foto oleh Diaz Setia.

…… yang membuat buku itu komplit adalah cerita-cerita yang diunggah langsung oleh Hasan dari saksi sejarah Chairil – yang masih hidup. Terkhusus untuk Evawani, anak tunggal Chairil, Hasan mendatangi Eva justru ketika naskah bukunya sudah selesai.  | Indonesiana, Ruang Baca, TEMPO.CO, 28 Oktober 2016 | Chairil dan Warisan yang Puitik di Sudut Cikini


“I needed someone who is able to compile all the information into something that I can visualize and I know Hasan is the right person for it. He is a poet and he is also a journalist, so he is capable of sorting out that kind of data,” he said. | Jakarta Globe, 7 November 2016 – Biopic on Poet Chairil Anwar in the Pipeline


It was Hasan Aspahani (b. 1971) in the beginning of this millennium that brought Lorca back to the Indonesian poetry scene. He translated his poems not to be published, but for personal studies although he uploaded them on his blog, which (accidentally?) became very popular.  As Aspahani is not fluent in Spanish, he investigated several translations existing in English (made easier by the internet). He himself has declared he is a “traitor”: he did not translate them truthfully, but made his own rhymes. “If you want a translated poem to have beauty, you should be a traitor to the original poem”.  | Jakarta Post, 4 November 2016. – The power of love, metaphor & death


Melalui buku Chairil, Hasan ingin menampilkan sosok sang penyair secara utuh. Baginya penting menampilkan Chairil yang hidup sama halnya dengan orang lain. Kesukaan Chairil pada ketan srikaya buatan istrinya, Hapsah. Begitu pula, keinginannya menyiapkan buku-buku puisinya, dimana honor dari buku itu diniatkan untuk mengawini kembali istrinya. | Bisnis Indonesia, 2 November 2016 –  BEDAH BUKU: Hasan Aspahani Tampilkan Etos Penyair Chairil Anwar


“Saya telah memberikan hak untuk memfilmkan buku ini kepada agen naskah saya,” tutur Hasan.  |  Bisnis Indonesia, Sabtu, 29 Oktober 2016 – Ini Alasan Salman Aristo Mengangkat Chairil Anwar Dalam Film


Penulis skenario Salman Aristo mengatakan saat ini rencana memfilmkan riwayat hidup sang penyair Chairil Anwar masih dalam tahap mencari investor. | Bisnis Indonesia, Sabtu, Sabtu 29 Oktober 2016 – Chairil Anwar Diangkat Dalam Film


bp-25okt-16

Tiba-tiba. Hasan berdiri dari sudut kanan tribun atas Graha Bhakti Budaya, Taman Ismail Marzuki, Jakarta. Tangan kanannya melambai kepada ratusan orang dalam ruangan yang sibuk memberikan tepuk tangan. Bukan karena malam itu Hasan terlihat necis dengan setelan kaus putih yang dibalut jas hitam. Bukan pula lantaran topi serupa Pablo Neruda, penyair idolanya, yang ada di atas kepala. Melainkan atas satu pencapaian dari sebuah kerja keras yang dilakukannya penuh setia.  | Batam Pos, 24 Oktober 2016 – Hasan Aspahani Penulis Buku Puisi Terbaik Sempena Hari Puisi Indonesia 2016.


“Chairil membangkang. Ia memodernkan puisi Indonesia,” ujar Hasan dalam peluncuran bukunya di Jakarta, Minggu (23/10) malam. Harian Nasional, 25 Oktober 2016 | Puisi Chairil Anwar di Mata Hasan Aspahani


Al Muhtadi, 29, read a poem by Hasan Aspahani entitled A man without ears and a woman whose tears don’€™t stop. ‘€œDad went away to chase his dreams to become a painter / Apprentice to a legendary maestro, who defended his poverty till his demise / Dad finally came / But mom did not want to accept him. ‘€˜My husband is a true wanderer / What are you doing home?’€™’€ he read, theatrically. | Jakarta Post, 2 Mei 2015 : Bringing Out Poet Every Jakartan. 


“Syahrir jadi Perdana Menteri, ibu kota pindah ke Yogjakarta. Saat Sukarno pindah ke Yogja, rumah ini ditempati Syahrir. Chairil menumpang di sini, di tempat pamannya,” ujar Hasan Aspahani, penulis buku Chairil Anwar: Sebuah Biografi. | Republika, 28 Agustus 2016 : Pegangsaan Timur – Karet Menapaki Jejak Chairil Anwar.


“Karya sastra dari hasil program residensi ini harus mengangkat persoalan daerah. Sehingga ketika mencuat ke permukaan, masalah itu bisa lekas dicarikan solusi,” pungkas Hasan. |  Batam Pos, Kamis 20 Oktober 2016 : Dua Penyair Kepri Gelorakan Semangat Sastra Perbatasan di Jakarta


Literary critic and poet Hasan Aspahani described the poetry in “Kolam” as communal, inviting the readers into the poems. He said Sapardi’s use of the subject “we” contrasted with his earlier poems, which were deeply introverted. | Jakarta Globe, 26 Mei 2009 – Sapardi Changes His Tune 40 Years On


 

Iklan