Mengikuti “Montase” Jengki: Masuk Keluar Bali, Masuk Keluar Diri

sampul-montase
Sampul buku ‘Montase’ (Pustaka Ekspresi, Denpasar, 2016)

 

DI Musyawarah Sastra Nasional 2016, Hotel Bidakara, Jakarta, Oktober lalu, sahabat saya penyair Wayan Jengki Sunarta memberi saya buku kumpulan puisi terbarunya “Montase” (Pustaka Ekspresi, Denpasar, 2016). Tepatnya kami bertukar buku puisi. Saya juga memberinya buku puisi terbaru saya. Dia senang. Saya senang. Tapi, dengan buku puisinya di meja tulis saja, saya kemudian gelisah dan tidak tenang. Saya menulis ini untuk menenangkan ketidaktenangan saya itu.

jengki-sunarta
Wayan Jengki Sunarta

Jengki, penyair kelahiran Denpasar, 1975 ini, selalu menarik perhatian saya untuk diikuti perkembangan perpuisiannya. Sajak-sajak Jengki di buku ini dengan lekas saya bagi menjadi dua kelompok. Pertama, sajak-sajak yang ia tulis di Bali atau tentang Bali, tanah kelahirannya. Ke dalam kelompok sajak ini saya masukkan sajak-sajaknya yang tidak secara khusus menyebut tempat, yaitu sajak-sajak yang membawa saya masuk ke dalam dirinya, jiwanya, permenungan batinnya.

Kelompok kedua, sajak-sajak yang ia tulis ketika atau setelah bepergian keluar Bali. Saya harus ulangi, bahwa ini adalah pengelompokan yang lekas, mungkin buru-buru. Soalnya, ketika Jengki menulis sajak yang dengan jelas menyebutkan nama tempat, atau kota, yang bukan Bali pun, dia sebenarnya juga membawa keluar apa yang ada di dalam dirinya, atau nama tempat itu adalah titik masuk baginya untuk masuk juga ke dalam dirinya sendiri.
Lanjutkan membaca “Mengikuti “Montase” Jengki: Masuk Keluar Bali, Masuk Keluar Diri”