Sesabar Tanah, Setenang Pohon

aku jalani hidup sesabar tanah subur
menghidupkan hidup dari apa yang mati dan
menerima lagi yang kembali dari hidup

aku hayati hidup setenang pohon rindang
mengambil semua yang disediakan tanah dan
mengembalikan lagi seluruh aku jadi dia

Yang Mengapung dan Yang Tenggelam

YANG mengapung dari diriku pada banjir ini
adalah kebodohan – aku tak bisa jelaskan
kenapa aku jadi manusia sebegitu dungu

Yang tenggelam dalam banjir ini adalah kewarasan,
air ini kotor sekali, aku mengungsi jauh, dari akal sehat
sendiri, membiarkan kalian bersimbur pertengkaran

Rafael Januar Ketagihan Sajak Sapardian

PENGANTAR: Rafael Januar ketagihan  menulis sajak Sapardian.  Secara bentuk fisik semua sajaknya asyik. Beberapa sangat utuh dan berhasil membangun kepelikan yang menarik.  Favorit saya adalah Rumah, 3.  Relasi antara bait pertama dan kedua membuat saya harus bolak-balik membaca dan itu yang membuat sajak ini bagi saya sangat berhasil sebagai sebuah sajak. Lanjutkan!

Rumah, 1 
Sajak Rafael Januar

bukan dengan tumpukan bata aku mengukur
besar kecilnya rumah, melainkan dengan
selapang apa hatimu menerima segala lemah.

bukan dengan mistar aku menghitung
lebar sempitnya rumah, melainkan dengan
napas lelap putraku, di lingkar lenganku ia tertidur.

Rumah, 2
Sajak Rafael Januar

dalam pelukmu, aku membayangkan sebuah rumah
dengan jendela menghadap laut. setiap malam,
kita dengar suara ombak membuai tidur.

di dadaku, aku membayangkan kau terlelap,
dengan napas selembut rembulan
berbaring di permukaan samudra.

Rumah, 3
Sajak Rafael Januar

jika langit adalah waktu, aku ingin
jadi hujan yang turun di kotamu, lalu
diam-diam, mengembun di jendela kamarmu

bila hujan turun malam nanti,
adakah kaubayangkan aku,
ketika dengan jemari, kaulukis embun di kaca?

Rumah, 4
Sajak Rafael Januar

istriku, bolehkah aku mengecup keningmu sekali lagi?
sehabis mendung, arunika jadi selembut
namamu dalam hatiku.

bolehkah aku memandang senyummu sekali lagi?
sebab, hanya bila kau bahagia
aku bisa tidur, dengan perasaan lega.

Di Bawah Pendar Ribuan Bintang 
Sajak Rafael Januar

sayangku, di bawah pendar ribuan bintang,
puisi-puisiku berebut minta ditulis.
namun, aku hanya mampu mencatat namamu.

sebab, biarpun malam memiliki ribuan cahaya
langit tetaplah gelap. cinta seperti matahari,
hanya satu, namun menerangi segala.