Untuk Sejumlah Hal dari Masa Lalu

                                      : ns

UNTUK beberapa hal
dari masa lalu
yang aku tahu
akan membuat kita
saling menertawakan,
aku menemuimu
di beranda kafe itu.

Kalibata memiliki malam
yang sama saja
dengan bagian-bagian lain
di daerah khusus ibukota Jakarta ini,
tubuh kota kapital
dengan orang-orang yang
tiap saat menghitung modal
untuk bertahan
dan melawan: menanggung
deru dan dera,
mengunyah dan
dikunyah
masa.

Kalibata adalah tanda merah
pada Waze,
persimpangan ruwet
yang tak teratasi oleh aplikasi,
palang perlintasan kereta
yang terburu-buru menutup lagi.

Belum dan sebelum sempat
kita lewatkan sebuah mimpi yang lain.

“Kapan terakhir kali MCU?”
tanyaku, padamu, lalu aku bercerita
tentang kadar gula pada darah
yang tak pernah rendah
dan kenapa aku tak suka
beras merah.

Bahan ini, tak akan
kita bincangkan jika kita bertemu
di awal-awal tahun 2000-an.
Tahun ketika kita masih
mengandalkan koneksi internet di warnet
untuk mengecek puisi-puisi
(dan perasaan-perasaan lain)
yang kau tapis atau kau tepis
untuk sebuah jalan yang lain
dari situs Cybersastra.

Aku memesan jus kiwi,
sebagai percobaan atas hijau yang merencam
dan ampas yang rampus.

Kau memesan kopi
melengkapi sekepal Dji Sam Soe
untuk tubuhmu yang batuk
mengabaikan tiga jenis obat
dalam plastik biru itu
sejak memulai rapat
mengevaluasi soal-soal kenaikan jabatan
yang kau buat sendiri.

Setelah kita tertawa
sejumlah pertanyaan
di Kalibata tetap tinggal
sebagai pertanyaan
seperti pada masa lalu kita itu.

Untuk beberapa hal
dari masa lalu
yang aku tahu
akan membuat kita
saling bertanya,
aku menemuimu
di beranda kafe itu.

Matahari Itu, Bung

: untuk Ane Matahari (1971-2016)
                                                 
KARENA bumi dan kami sudah kau tinggalkan, maka matahari selalu seperti pagi di stasiun besar itu. Kau tak akan bosan di ruang tunggu yang tenang dan lengang itu, karena langit rendah, terang,dan jernih. Seperti cermin dengan bingkai lampu-lampu. Kau tak lagi perlu berkaca tapi matahari yang selalu pagi itu seperti wajahmu: hangat dan cahayanya gondrong, tebal, dan lebat.    

Karena waktu dan kami sudah kau dahului, maka jam fana yang selalu terburu-buru menyejajari langkah hari itu, kini bisa duduk tenang di sampingmu, menebak dengan riang isi kantong jaket kulit dan tas selempangmu. Ia bayangkan doa-doa dan pahala dari tiap alfatihah yang kami kirimkan menjelma jadi gitar dan kau memainkan itu: melengkapi kesunyian lirik puisimu.

Cinema Paradiso

PERGILAH, Salvatore, pergilah!

Sebelum sesuatu yang lain terbakar,
dan kau jadi buta.

Aku ingin, dengan matamu, kau melihat
kota-kota lain, untukku, tidak lewat proyektor tua
dan ruang pemutar yang semakin sempit ini.

Pergilah, karena perang sudah reda.

Kami tak lagi harus berdusta
tentang ayahmu, misalnya, kau tak harus mencari
di medan tempur mana ia ditembus peluru
dan tak ada dokumentasi yang pantas untuk pemakamannya.

Kota ini, Salvatore, aku tahu
menciptakan banyak kenangan untukmu, seperti
adegan yang putus oleh keleneng lonceng pastor,
aku tak membuangnya, Salvatore, aku menyimpannya, untukmu.

Tapi kenangan itu, Salvatore, mengandung suatu bahan
yang juga mudah terbakar dan membakar, karena itu
pergilah. Pergilah, Salvatore.

Sebab aku tidak bisa lepas dari kenangan itu,
dan kau pergilah.

Pergilah, Salvatore, karena akan terlalu lama kau tersiksa,
oleh siksa yang mungkin bisa kau hindari.

Pergilah, Salvatore, dan jangan pulang
kecuali oleh sebuah telepon tentang kematianku,
dan kenangan akan surga sinema yang runtuh
di alun-alun kota kita yang kalah.

Saat itu, kau mungkin sudah bisa tahan menahan, dan
mampu memandang masa lalumu – dan masa lalu kota ini-
dengan senyum yang pedih: penuh dan sedih.

 

Sajak Sapardian: Bagaimana Menyatukan Perasaan dan Citraan Alam

 

img_1256
Menggambar Seperti Chagall | Hah | 2016

PROSA, kata Kuntowijoyo, adalah restrukturisasi dari pengalaman, imajinasi dan nilai-nilai. Beliau sebenarnya bicara soal fiksi. Dan puisi toh juga fiksi, karena itu apa yang dirumuskan beliau itu juga berlaku bagi puisi.

Ini akan saya gunakan untuk menjelaskan bagaimana puisi Sapardian bisa kita bangun. Coba baca bait pertama saka “Aku Ingin”. Dari situ kita akan melihat bagaimana perasaan yang ingin kita ucapkan itu kita satukan dengan citraan alam yang kita amati.

Aku ingin mencintaimu dengan sederhana
dengan kata yang tak sempat diucapkan
kayu kepada api yang menjadikannya abu.

Perasaan apa yang ingin dikomunikasikan dalam sajak ini: Cinta. Si aku dalam sajak ini ingin menjelaskan seperti apakah cintanya pada si engkau. Itu saja. Sesederhana itu. Si aku tahu betul bagaimana perasaan cintanya itu. Ini ada di wilayah pengalaman menurut teori restrukturisasinya Kuntowijoyo.

Lanjutkan membaca “Sajak Sapardian: Bagaimana Menyatukan Perasaan dan Citraan Alam”

Sajak Sapardian #3: Sampai Anggun Jadi Duta Sampo Lain

Sampai Anggun Jadi Duta Sampo Lain
Hasan Aspahani

Kalau dia pergi kau akan bertanya padanya
sampai kapan harus menunggunya, kau jawab
sendiri: sampai Anggun jadi duta sampo lain.

Kalau dia kembali dia akan bertanya padamu
apakah kau mencintainya seperti dahulu, kau jawab
: dulu sempat hilang, tapi sebentar balik lagi.

Sajak Sapardian #1: Lilin-Lilin Kecil – Arian Pangestu

Lilin-Lilin Kecil
Arian Pangestu – @arian_pangestu

Seperti lilin-lilin kecil caraku mencintaimu:
yang membakar habis dirinya hingga tak tersisa
melepas ketakutanmu yang ragu-ragu itu

Seperti lilin-lilin kecil takdirku mencintaimu:
yang memberikan cahayanya sampai tak berpijar
menyerahkan dirinya kepada yang dicintainya itu

Jakarta, 2016

Pada Saat Ini dan Apa yang Mati

img_1261
Menggambar Seperti Chagall -2 | HAH | 2016

Sajak Li-Young Lee

Malam ini saudaraku, dengan sepatu yang berat, berjalan
melewati ruang-ruang kosong di dalam kepalaku,
membuka dan mengatup pintu.
Apa yang bisa ia cari di rumah yang kosong ini?
Apa yang mungkin ia butuhkan di sana? di surga sana?
Apakah ia kenang buminya, berjajar obor di tempat lahirnya?
Cintanya padaku terasa seperti percik air
mengalir kembali pada bejana.

Pada saat ini, apa yang mati adalah rasa gelisah
dan apa yang hidup tengah terbakar api.

Seseorang bilang dia harus tidur sekarang.

Ayahku menjaga nyala lampu di tempat tidur kami
dan bersiap-siap untuk perjalanan jauh kami.
Ia menambal sepuluh koyak di lutut
lima pasang celana bocah, anak-anaknya.
Cintanya padaku seperti jahitan-jahitan itu:
beraneka warna dan banyak benar benangnya,
tisikan yang tak rapi. Dan patahan-patahan jarum itu
segera hilang dalam satu sapuan tangannya.

Pada saat ini, apa yang mati adalah rasa gelisah
dan apa yang hidup adalah pelarian buruan.

Seseorang bilang dia harus tidur sekarang.

Tuhan, perapian tua itu, terus saja mengoceh
gigi-gigi-Nya menyeringai pada nganga mulut-Nya,
misai-Nya ternodai pada pesta-pesta, dan nafas-Nya
adalah gasolin, pesawat terbang, dan abu kremasi.
Cintanya padaku terasa seperti api,
terasa seperti merpati, terasa seperti arus-kali.

Pada saat ini, apa yang mati tak tertolong lagi, pasrah
dan tak tertolong lagi. Sementara Tuhan masih ada.

Seseorang bilang pada Tuhan tinggalkan aku sendiri.
Aku sudah cukup dengan cinta-Nya
yang terasa bagai terbakar, terhambur, dan jauh berlari.

 

:: Sajak asli diambil dari This Hour and What is Dead http://www.poetryfoundation.

 

Waktu Menunggu – Erik Axel Karlfeldt

2273
Erik Axel Karfeldt

 

Erik Axel Karlfeldt (20 Juli 1864 – 8 April 1931) adalah penyair Swedia yang menerima Hadiah Nobel Sastra pada tahun 1931. Nobel tidak diberikan kepada sosok yang sudah meninggal, kecuali padanya. Namanya diusulkan pada tahun itu dan dia meninggal menjelang pengumuman. Ia konon seharusnya menerima itu pada tahun 1919 tapi ia menolak.

Kenapa ia menerima Nobel Sastra? Akademi Swedia seperti kehabisan kata-kata. Pernyataan resminya cuma menjelaskan hadiah itu diberikan untuk “Puisi-puisi Erik Axel Karlfeldt”.

Kita nikmati satu sajaknya:

Waktu Menunggu
Erik Axel Karlfeldt

Yang termanis adalah waktu menunggu,
Ketika air berlimpah, dan tunas-tunas tumbuh.
Mei bulan yang tak berdandan tapi bikin hati
tertawan, semenawan April di kata petang.
Jangan jalan berlumpur ini menipu engkau,
Lalu hutan lembab itu menggigilkan engkau,
Dan kau terbujuk dedaunan berlagu-merayu.
Bukan di musim panas ini aku berkubang,
yang tak beri apa kecuali pisau yang mengintai
salju yang melebur dalam bayangan pinus kelam,
Dan nyanyian murai di pagi yang dini.

Kekasih terbaik adalah waktu menunggu,
pertunangan sebelum persandingan.
Musim semi yang tak berdandan tapi bikin hati
tertawan, seperti satu rahasia kekasih hati.
Yang jarang berjumpa, yang lekas terpisah
Termimpi-mimpi tentang keajaiban tak kauduga,
Kenapa terasa hidupnya begitu tergesa-gesa.
Buah emas, toh orang lain juga yang memetiknya,
tangan tak sampai bahkan hanya untuk menyentuhnya,
Tamanku pun aku harus segera meninggalkannya,
ketika pohon-pohon mulai bertunas di sana.

Soneta Coto untuk Al-Fian Dippahatang

KAU menggambar sayap pada seekor sapi di Bulukumba
Sapi itu nanti membawamu terbang jauh, ke Makassar
Seorang pedagang curang mencuri sapi itu dan menyembelihnya
Di buku yang kini kosong kau tak mau lagi menggambar
Kata-kata yang sering kau ucapkan tapi selalu kau abaikan
berlompatan dari pembatas buku di sebuah perpustakaan.
Daging pada coto yang kita hadapi malam itu, bukan
berasal sapimu yang hilang. “Ini berasal dari kanvas Dali,”
katamu, kuku kayu manismu menunjuk sebuah katalog.
Rempah keruh pada kuah yang kita sesali malam itu,
dengan tabah menyimpan misteri dan tragedi negeri ini.
: pedas pedang, wangi darah; dan amis mimpi-mimpi.
Kau memang telah kehilangan sapi, tapi tak menangis lagi,
Kau telah pandai memasak, telah menemukan rerempah puisi.

 

Malam Hutan – Paul Heyse

heyse_fig2
Paul Heyse.

SEBAGAI penghargaan untuk seni sempurna, meresap dengan idealisme, yang telah ia pertunjukkan selama karir produktif yang panjang sebagai penyair liris, dramawan, novelis, dan penulis cerita pendek ternama di dunia. 

Itulah alasan yang disebutkan oleh Akademi Swedia ketika memberi hadiah Nobel Kesusasteraan tahun 1910 kepada Paul Johann Ludwig von Heyse (15 Maret 1830 – 2 April 1914), penulis berkebangsaan dan berbahasa Jerman ini. Dia sangat produktif, dia menulis novel, puisi, 177 cerita pendek dan sekitar 60 naskah drama. Dia juga seorang penerjemah rajin.

Mari kita nikmati satu sajak lirisnya ini:

 

Malam Hutan

Dingin malam hutan, malam ketakjuban
Kusambut engkau dengan ucap seribu salam
Sehabis suara bising, dunia yang sumbang
O manisnya kudengar risikmu sekarang!
Kaki-kaki lelahku pun pulih semimpi mimpi
Meringkuk aku di katil lumutmu
Bagiku ini lagi seperti sekali lagi
Segala siksa nestapaku menjauh pergi.

Ada pandu-nada tak terduga, kacau oleh
sentuhan lagu yang jauh, seperti suara suling
Membawa pikiranku ke tanah yang jauh:
tanah yang indah – Ah! tanah yang gundah.
Hutan malam, gilas-guncang aku perlahan
Halau segala derita yang menyiksaku! Aku
cukup menyusu pada yang suci, yang terberkahi.

Di ruang yang tenang tapi meretak jua,
Hatiku yang cemas, semua akan selesai,
Kedamaian yang tenang,  yang mendekat,
Mengambang sebagai debar-kibas sayap
Sentuh-belai bunyi, merdu siul burung,
Bagai jatuh aku ke dalam tidur yang tenang.
Sekali lagi, segala siksa nestapa: Menjauhlah!
Dan, hatiku yang cemas, selamat malam.

Sepohon Pohon -Bjørnstjerne Bjørnson

1809911_orig
Bjørnstjerne Bjørnson

 

Bjørnstjerne Bjørnson adalah penyair Norwegia yang menulis dalam bahasa Norwegia. Dia pemenang hadiah Nobel Sastra yang ketiga, tahun 1903.  Ia menulis terutama puisi, tapi ia juga menulis novel, dan drama.

Akademi Swedia menyebutkan  penghargaan yang ia terima adalah “penghormatan bagi puisinya yang anggun, megah, dengan keluasan tema, yang selalu dapat dikenali dari dua hal: kesegaran inspirasi dan kemurnian spiritnya yang langka”.

Mari kita nikmati satu sajaknya: Sepohon Pohon. Saya menerjemahkan dari Bahasa Inggris: The Tree.  Sajak yang sesungguhnya sangat sederhana. Dengan personifikasi yang hidup dan kaya. Repitisi pola baitnya mengutuhkan. Tapi emosi yang naik membuat kita yang membaca sajak ini jauh dari rasa bosan.

Baginya seni itu berharga ketika ia bermakna.  “Sebuah kehidupan yang bermakna – inilah hal-ihwal yang kita cari dalam seni, seperti  tetesan embun terkecil yang  membebaskan dari badai prahara. Kita merasa damai ketika kita telah menemukan itu dan gelisah ketika itu tak ada pada kita,” ujarnya.
Mari kita nikmati sajaknya:

Sepohon Pohon

Tegak lurus pohon, tunas dan daun.
“Haruskah kurenggut engkau?” embun yang salju mengekap swara tawa.
“Oh, jangan, biarkan dulu kami ada,
Biarkan hingga bunga terpandang mata!”
Gigil pohon memohon dari pucuk hingga ujung akarnya.

Ketika kembang bunga, berlagulah burung baginya.
“Haruskah kuambil engkau?” kata angin, riang mengguyang.
“Oh, jangan, biarkan dulu kami ada,
Tunggu hingga buah terpetik tangan!”
Pohon menahan, menahankan bunga bergetar bergantungan.

Lalu datanglah buah bagai sinar mata matahari.
“Haruskah kupetik engkau?” berseru manis gadis, semekar mawar.
“Oh, ya, tentu saja, ambillah segera,
Telah kujaga mereka untuk engkau saja!”
Pohon merundukkan cabangnya, mendekat  sejangkau sampai.

Pada Air – Sully Prudhomme

sully-prudhomme
Sully Prudhomme

 

René François Armand (Sully) Prudhomme (16 March 1839 – 6 September 1907) adalah penerima anugerah Nobel Sastra yang pertama, pada 1901. Sully berkebangsaan Prancis. Ia menulis esai dan puisi dalam bahasa Prancis.

Ia menerima penghargaan itu “untuk pengakuan khusus bagi komposisi puitiknya, yang terbukti telah menyumbangkan idealisme yang megah, kesempurnaan artistik, dan perpaduan kualitas yang langka antara hati dan akal.”

Saya menerjemahkan sebuah sajaknya Sur L’aeu. Ada juga teks terjemahan Ricahrd Stokes dalam Bahasa Inggris di situs The LeiderNet Archive ini.

Setiap kali menerjemahkan sebuah sajak, pedoman saya cuma satu: hasilnya harus berupa sajak juga. Itulah mudahnya – dan sekaligus itu juga tantangannya – penerjemahan sajak. Saya toh tidak sedang menerjemahkan panduan menyelematkan nyawa manusia, yang jika salah tentu sangat berbahaya.  Untuk itu, saya merasa punya lisensi untuk ngawur.

 

Pada Air

Aku dengar pesisir sungai dan air, aku dengar
Pamit duka musim semi, dan ia menangis
Atau batu yang tak tahan menahan air mata
Dan getar samar, daun-daun birch yang gemetar

Aku tak melihat ada perahu di sungai itu
Pantai berbunga itu bawa masa lalu, dan aku diam;
Dan pada muka kedalaman rawa, menyentuh mataku
tumpah langit biru, berkelebatan, bagai tirai kelambu

Yang berkelokan dalam tidur, mungkin kau kira itu arus
Aku gamang, tak tahu lagi di mana sungai itu ada:
bunga dicampakkan, kita dalam keraguan pilihan.

Dan seperti bunga itu, segala apa yang mereka harapkan
Datang padaku, membanjir di sungai kehidupanku,
Dalam tak ada yang ada ia tuntun kemana hasratku ada berada.

Pada wujud aslinya sajak ini adalah sebuah soneta yang tertib. Saya mengabaikan rima akhir yang indah pada sajak aslinya. Rasanya toh itu tergantikan dengan dengan bunyi dalam bait yang pada beberapa bagian menampilkan sederetan bunyi yang sama, yang bagi saya cukup bikin saya bahagia.

Yang terasa pada sajaknya adalah keselarasan, kesabaran, dan pada akhirnya adalah keikhlasan.  Sikapnya dalam sajaknya mungkin bisa kita cocokkan dengan satu kutipan kata-katanya yang terkenal: Yang besar itu terasa besar hanya karena kita berlutut. Bangkitlah, berdirilah!

Itu mungkin yang membuatnya menggunakan uang dari Hadiah Nobel Sastra yang ia dapatkan ia gunakan untuk membantu menerbitkan buku-buku puisi para penyair muda, dan membuat semacam penghargaan untuk puisi juga. Ia tak ingin penyair-penyair muda Prancis berlutut di kebesaran namanya.

 

 

Begini Cara Saya Melawan Sajak-Sajak Chairil

PENGANTAR:  Sajak-sajak berikut ini adalah sajak yang saya tulis dengan modus membalikkan atau melawan apa yang ingin diucapkan dalam sajak-sajak Chairil Anwar. Silakan baca dan temukan sajak  Chairil mana yang saya jadikan landasan sajak-sajak saya ini.  Buat saya inilah cara saya memaksa diri saya sendiri untuk membaca (lagi) sajak Chairil dengan lebih intens.  Dan saya bahagia dan gembira karenanya.

Selamat membaca!

Lanjutkan membaca “Begini Cara Saya Melawan Sajak-Sajak Chairil”

Puisi Esai M Aan Mansyur – Tentang Sajak “Kota: Anak Desa yang Kurang Ajar”

tokojamdiatas
“Toko Jam di atas”, Hasan Aspahani, Jakarta, 2016.

ASRUL Sani menerbitan sebuah esai di Siasat, 1 April 1951, “Surat Singkat tentang Esai”. Sebuah esai tentang Esai. Esai, tulis Asrul, adalah pintu tersembunyi dari kehendak yang hendak mengatakan “beginilah sebenarnya”. Asrul menegaskan bahwa esai adalah sebuah percobaan.

Asrul adalah sedikit antara penulis esai kita yang unggul. Ia menulis pada masa-masa itu dengan masygul. Ia membela esai. ‘Jadi, esai adalah permintaan kerelaan,” ujarnya.

Lanjutkan membaca “Puisi Esai M Aan Mansyur – Tentang Sajak “Kota: Anak Desa yang Kurang Ajar””

Ada yang Harus Dibuat Panjang dalam Sajak Pendek

detail_r5v0ylotu4_rusli__tanah_lot__bigjpg
Tanah Lot, Rusli, 1977.

 

PENGANTAR:  Ada yang harus dibuat  panjang dalam sebuah sajak pendek, yaitu gemanya. Gema maknanya, gema bunyinya.  Gema adalah apa yang berasal dari sesuatu dan tak terserap tetapi justru dipantulkan oleh apa yang disentuhnya. Pada sajak pendek, kita sebagai penulisnya, punya peluang lebih besar untuk melakukan itu.  Panjang atau pendek sajak tidak menjadi ukuran kualitas sebuh sajak.  Dan kalau dikirim ke media dan dimuat honornya sama.

Apakah sajak pendek lebih mudah? Dan sajak panjang lebih sulit? Keduanya punya tantangan yang berbeda. Pada sajak pendek kita dicabar untuk membangun kepelikan (complexity) dalam ruang yang sesempit itu. Pada sajak panjang kita dituntut untuk menjaga keutuhan (unity).  Sajak pendek itu seperti lukisan-lukisan Rusli. Minimalis. Ia tak tergoda untuk menampilkan detail yang rumit. Kata-kata yang sedikit dalam sajak pendek seperti sapuan-sapuan besar kuas pada kanvas.

Selamat menikmati.

Lanjutkan membaca “Ada yang Harus Dibuat Panjang dalam Sajak Pendek”