Matahari Itu, Bung

: untuk Ane Matahari (1971-2016)
                                                 
KARENA bumi dan kami sudah kau tinggalkan, maka matahari selalu seperti pagi di stasiun besar itu. Kau tak akan bosan di ruang tunggu yang tenang dan lengang itu, karena langit rendah, terang,dan jernih. Seperti cermin dengan bingkai lampu-lampu. Kau tak lagi perlu berkaca tapi matahari yang selalu pagi itu seperti wajahmu: hangat dan cahayanya gondrong, tebal, dan lebat.    

Karena waktu dan kami sudah kau dahului, maka jam fana yang selalu terburu-buru menyejajari langkah hari itu, kini bisa duduk tenang di sampingmu, menebak dengan riang isi kantong jaket kulit dan tas selempangmu. Ia bayangkan doa-doa dan pahala dari tiap alfatihah yang kami kirimkan menjelma jadi gitar dan kau memainkan itu: melengkapi kesunyian lirik puisimu.

Iklan

Cinema Paradiso

PERGILAH, Salvatore, pergilah!

Sebelum sesuatu yang lain terbakar,
dan kau jadi buta.

Aku ingin, dengan matamu, kau melihat
kota-kota lain, untukku, tidak lewat proyektor tua
dan ruang pemutar yang semakin sempit ini.

Pergilah, karena perang sudah reda.

Kami tak lagi harus berdusta
tentang ayahmu, misalnya, kau tak harus mencari
di medan tempur mana ia ditembus peluru
dan tak ada dokumentasi yang pantas untuk pemakamannya.

Kota ini, Salvatore, aku tahu
menciptakan banyak kenangan untukmu, seperti
adegan yang putus oleh keleneng lonceng pastor,
aku tak membuangnya, Salvatore, aku menyimpannya, untukmu.

Tapi kenangan itu, Salvatore, mengandung suatu bahan
yang juga mudah terbakar dan membakar, karena itu
pergilah. Pergilah, Salvatore.

Sebab aku tidak bisa lepas dari kenangan itu,
dan kau pergilah.

Pergilah, Salvatore, karena akan terlalu lama kau tersiksa,
oleh siksa yang mungkin bisa kau hindari.

Pergilah, Salvatore, dan jangan pulang
kecuali oleh sebuah telepon tentang kematianku,
dan kenangan akan surga sinema yang runtuh
di alun-alun kota kita yang kalah.

Saat itu, kau mungkin sudah bisa tahan menahan, dan
mampu memandang masa lalumu – dan masa lalu kota ini-
dengan senyum yang pedih: penuh dan sedih.

 

Sajak Sapardian: Bagaimana Menyatukan Perasaan dan Citraan Alam

 

img_1256
Menggambar Seperti Chagall | Hah | 2016

PROSA, kata Kuntowijoyo, adalah restrukturisasi dari pengalaman, imajinasi dan nilai-nilai. Beliau sebenarnya bicara soal fiksi. Dan puisi toh juga fiksi, karena itu apa yang dirumuskan beliau itu juga berlaku bagi puisi.

Ini akan saya gunakan untuk menjelaskan bagaimana puisi Sapardian bisa kita bangun. Coba baca bait pertama saka “Aku Ingin”. Dari situ kita akan melihat bagaimana perasaan yang ingin kita ucapkan itu kita satukan dengan citraan alam yang kita amati.

Aku ingin mencintaimu dengan sederhana
dengan kata yang tak sempat diucapkan
kayu kepada api yang menjadikannya abu.

Perasaan apa yang ingin dikomunikasikan dalam sajak ini: Cinta. Si aku dalam sajak ini ingin menjelaskan seperti apakah cintanya pada si engkau. Itu saja. Sesederhana itu. Si aku tahu betul bagaimana perasaan cintanya itu. Ini ada di wilayah pengalaman menurut teori restrukturisasinya Kuntowijoyo.

Lanjutkan membaca “Sajak Sapardian: Bagaimana Menyatukan Perasaan dan Citraan Alam”

Pada Saat Ini dan Apa yang Mati

img_1261
Menggambar Seperti Chagall -2 | HAH | 2016

Sajak Li-Young Lee

Malam ini saudaraku, dengan sepatu yang berat, berjalan
melewati ruang-ruang kosong di dalam kepalaku,
membuka dan mengatup pintu.
Apa yang bisa ia cari di rumah yang kosong ini?
Apa yang mungkin ia butuhkan di sana? di surga sana?
Apakah ia kenang buminya, berjajar obor di tempat lahirnya?
Cintanya padaku terasa seperti percik air
mengalir kembali pada bejana.

Pada saat ini, apa yang mati adalah rasa gelisah
dan apa yang hidup tengah terbakar api.

Seseorang bilang dia harus tidur sekarang.

Ayahku menjaga nyala lampu di tempat tidur kami
dan bersiap-siap untuk perjalanan jauh kami.
Ia menambal sepuluh koyak di lutut
lima pasang celana bocah, anak-anaknya.
Cintanya padaku seperti jahitan-jahitan itu:
beraneka warna dan banyak benar benangnya,
tisikan yang tak rapi. Dan patahan-patahan jarum itu
segera hilang dalam satu sapuan tangannya.

Pada saat ini, apa yang mati adalah rasa gelisah
dan apa yang hidup adalah pelarian buruan.

Seseorang bilang dia harus tidur sekarang.

Tuhan, perapian tua itu, terus saja mengoceh
gigi-gigi-Nya menyeringai pada nganga mulut-Nya,
misai-Nya ternodai pada pesta-pesta, dan nafas-Nya
adalah gasolin, pesawat terbang, dan abu kremasi.
Cintanya padaku terasa seperti api,
terasa seperti merpati, terasa seperti arus-kali.

Pada saat ini, apa yang mati tak tertolong lagi, pasrah
dan tak tertolong lagi. Sementara Tuhan masih ada.

Seseorang bilang pada Tuhan tinggalkan aku sendiri.
Aku sudah cukup dengan cinta-Nya
yang terasa bagai terbakar, terhambur, dan jauh berlari.

 

:: Sajak asli diambil dari This Hour and What is Dead http://www.poetryfoundation.

 

Waktu Menunggu – Erik Axel Karlfeldt

2273
Erik Axel Karfeldt

 

Erik Axel Karlfeldt (20 Juli 1864 – 8 April 1931) adalah penyair Swedia yang menerima Hadiah Nobel Sastra pada tahun 1931. Nobel tidak diberikan kepada sosok yang sudah meninggal, kecuali padanya. Namanya diusulkan pada tahun itu dan dia meninggal menjelang pengumuman. Ia konon seharusnya menerima itu pada tahun 1919 tapi ia menolak.

Kenapa ia menerima Nobel Sastra? Akademi Swedia seperti kehabisan kata-kata. Pernyataan resminya cuma menjelaskan hadiah itu diberikan untuk “Puisi-puisi Erik Axel Karlfeldt”.

Kita nikmati satu sajaknya:

Waktu Menunggu
Erik Axel Karlfeldt

Yang termanis adalah waktu menunggu,
Ketika air berlimpah, dan tunas-tunas tumbuh.
Mei bulan yang tak berdandan tapi bikin hati
tertawan, semenawan April di kata petang.
Jangan jalan berlumpur ini menipu engkau,
Lalu hutan lembab itu menggigilkan engkau,
Dan kau terbujuk dedaunan berlagu-merayu.
Bukan di musim panas ini aku berkubang,
yang tak beri apa kecuali pisau yang mengintai
salju yang melebur dalam bayangan pinus kelam,
Dan nyanyian murai di pagi yang dini.

Kekasih terbaik adalah waktu menunggu,
pertunangan sebelum persandingan.
Musim semi yang tak berdandan tapi bikin hati
tertawan, seperti satu rahasia kekasih hati.
Yang jarang berjumpa, yang lekas terpisah
Termimpi-mimpi tentang keajaiban tak kauduga,
Kenapa terasa hidupnya begitu tergesa-gesa.
Buah emas, toh orang lain juga yang memetiknya,
tangan tak sampai bahkan hanya untuk menyentuhnya,
Tamanku pun aku harus segera meninggalkannya,
ketika pohon-pohon mulai bertunas di sana.