Dari Kembang Bunga – Sajak Li-Young Lee

Sajak Li-Young Lee

Dari kembang bunga kembang datanglah
persik dalam kantong kertas warna coklat
kita beli tadi dengan tawa suka
di batasan jalan di mana kita memutar arah
di dekat rambu bertanda: Persik

Dari cabang yang rimbun, dari tangan-tangan
dari persahabatan yang manis di dalam keranjang,
datang nektar dari tepian jalan, persik berdaging sukulen
yang kita gugut, kulit yang berdebu dan semua datang
dari debu musim panas yang kita kenal, debu yang kita telan itu.

O, memetik cinta ke dalam diri,
membentang kebun ke dalam diri, menyantap
tak hanya selapis kulit, tapi juga bayangan itu,
bukan hanya gula, tapi juga hari, menggenggam
buah itu di tangan kita, memujanya, lalu menggigit
pada titik lingkaran, persik kemenangan.

Ada hari-hari dalam hidup kita
ketika maut itu ada tak di mana-mana
tapi dekat di halaman belakang, dari kegembiraan
ke kegembiraan ke kegembiraan, dari sayap ke sayap
dari kembang bunga ke kembang bunga
ke bunga yang tak mungkin, hingga ke bunga
yang manis dan yang mustahil bunga.

 

 

 

 

Sudahkah Kau Berdoa? – Li-Young Lee

 

Sudahkah Kau Berdoa?
Sajak Li-Young Lee

Ketika angin
menikung dan bertanya, dalam suara ayahku,
sudahkah kau berdoa?

Aku ingat tiga ihwal. Pertama:
Aku tak pernah selesai menjawab sang mendiang.

Kedua: Seorang lelaki punya empat angin dan tiga api.
Dan empat angin adalah suara ayahnya,
suara ibunya…

Atau mungkin tujuh angin dan sepuluh api.
Dan api itu penglihatan, pendengaran, sentuhan,
mimpi, pikiran…
Atau dia adalah nafas Tuhan?

Ketik angin itu berbalik dan pergi lagi
dan bertanya, dalam suara ayahku, Sudahkah kau berdoa?
Aku ingat tiga ihwal.
Pertama: Cinta seorang ayah

adalah lemak susu dan manis gula,
dua pertiga cemas, dua pertiga duka, dan apa yang tersisa

adalah apa terhimpun dan meragi menjadi roti
bagi berbagi yang hidup dan yang telah mati

Dan kesabaran? Itulah yang bikin bertahan
dari cekaman peragian dan tekanan.

Dan kebijakan? Adalah wajah ayahku saat ia lelap.

Ketika angin
bertanya, Sudahkah kau berdoa?
Aku tahu itu cuma aku sendiri

yang mengingatkan diriku sendiri
setangkai bunga hanya satu stasiun antara dari
keinginan dan kegirangan bumi, dan darah

adalah api, garam, dan nafas panjang sebelum
diperlekas tongkat atau ranting, atau cabang
yang bangkit bicara. Adalah aku

dalam balutan gaun angin,
atau ayahku yang melalui aku, bertanya,
Sudah kau temukan pengungsianmu?
bertanya, apakah kau bahagia?

Serasa aneh. Ayah didera bahaya. Anak yang berbahagia.
Angin dengan suara. Dan aku tak bicara pada siapa-siapa.