Cerpen: Tentang Seekor Kucing Bernama Ploti


Cerpen Hasan Aspahani


 

PLOTI mati.

Dia masih kecil ketika kami membawanya ke rumah kami dari apartemen kami sebelumnya. Belum setahun kami di rumah ini, dan Ploti mati. Bangkainya masih hangat ketika kami angkat dari jalanan di depan rumah tetangga depan. Kepalanya berdarah dan pecah. Lonceng kecil berbenang merah yang melilit lehernya pun gepeng terlindas. Bola matanya keluar dari rongga mata. Kami kira ia terlindas ban belakang mobil tetangga. Ploti memang suka sembunyi di bawah mobil. Kami lantas menguburkannya di sudut halaman rumah kami.

Lubang kuburannya jangan terlalu dalam, kata anak saya. Ia pencinta kucing, seperti aku, istriku, dan kakaknya. Anak saya yakin Ploti akan kembali hidup dan keluar dari kuburnya. Tentu saja tidak. Ploti sudah mati. Di atas makamnya istri saya menanam bunga mandevilla, sejenis tanaman merambat berbunga merah. Seekor kucing jantan tetangga, kami memanggilnya Bandot, sering datang ke situ. Seperti berziarah. Apakah kucing mempunyai konsep tentang hidup dan mati?

Lanjutkan membaca “Cerpen: Tentang Seekor Kucing Bernama Ploti”

Iklan

Cerpen: Ada Suara Ketukan di Pintu-pintu Rumah di Kampung Karangbecak

Cerita Pendek Hasan Aspahani

SETIAP malam ada yang mengetuk-ngetuk pintu rumah di kampung Karangbecak.  Mula-mula hanya pintu rumah Gonggiber, juragan ojek. Mula-mula ketukannya pelan saja. Gonggiber mengira itu ketukan cabang pohon kembang kertas yang tertiup angin.  Makin lama ketukannya makin keras. Gonggiber tak bercerita kepada siapa-siapa. Ia memotong cabang pohon itu, tapi suara ketukan itu tetap saja ada. Lama-lama ketukan yang sama juga didengar oleh  Suparlas. Nah, Suparlas ini mulutnya agak bocor. Dialah yang membuka cerita di rapat warga. Ia mengira jangan-jangan ini gangguan keamanan atau teror kecil-kecilan menjelang pemilihan umum.

“Biasanya kan memang begitu. Setiap kali pemilu di kampung kita ini ada saja gangguan keamanan.  Dulu pernah ayam peliharaan kita hilang satu per satu. Itu pas pemilu tahun berapa ya? Tahun itu deh pokoknya. Pemilu zaman Orde Baru,” kata Suparlas, juragan bengkel las legendaris.

Lanjutkan membaca “Cerpen: Ada Suara Ketukan di Pintu-pintu Rumah di Kampung Karangbecak”

Cerpen: Penjual Kain Keliling dan Insinyur Zaidan

Cerpen Hasan Aspahani

UNTUK sampai ke kampung kami mereka menempuh perjalanan jauh dengan bis antarprovinsi, menyeberangi teluk Balikpapan dengan feri, lalu melanjutkan dengan minibus, angkutan antarkota yang melewati kampung kami. Perlu waktu duapuluh jam lebih. Mamaku bilang berat juga mengurus bungkusan-bungkusan kain sebesar yang mereka bawa dan menempuh perjalanan sejauh itu.  Tapi sebagai pedagang tentu mereka sudah menghitung biaya perjalanan itu.  Aku tak bisa membayangkan sejauh apa perjalanan itu. Kami tak pernah ke Banjarmasin. Kami tak cukup kaya untuk berkunjung ke kota, tanah kelahiran kakek kami itu.

Lanjutkan membaca “Cerpen: Penjual Kain Keliling dan Insinyur Zaidan”

Profesor Sondelur dan Kasus Hidung Petrukio

Cerpen Hasan Aspahani

            BAGI Dokter Trompi, Menteri Petrukio adalah pasien istimewa.  Jadwal perawatannya tak boleh digeser.  Tim yang menangani pun terdiri dari tenaga medis terbaik yang dimiliki kliniknya. Menteri Petrukio secara berkala menjalani operasi perbaikan pada hidungnya.  Tepatnya, pemendekan.  Hidung Menteri Petrukio sebenarnya sempurna dan menyempurnakan  ketampanannya.  Mancung memang, tapi ada kelainan yang membuatnya harus menjalani operasi setiap tiga bulan. Hidung Menteri Petrukio selalu tumbuh, bertambah panjang.

Seperti Pinokio dalam dongeng Carlo Collodi? Betul, seperti itu.

Dari catatan medis Dokter Trompi, tiga bulan adalah waktu yang pas untuk operasi, karena pertumbuhannya baru mencapai satu setengah sentimeter. Pernah, Menteri Petrukio melewatkan jadwal operasi sampai enam bulan. Apa yang terjadi? Hidungnya memanjang hingga sembilan senti. Dokter Trompi mengambil kesimpulan, lewat dari tiga bulan, akan ada eskalasi pertumbuhan yang dipicu oleh hormon baru itu, hormon yang belum dikenal dalam dunia medis.

Lanjutkan membaca “Profesor Sondelur dan Kasus Hidung Petrukio”