RUU Perpuisian dan Kepenyairan 2006

PENGANTAR: Bisakah atau perlukah puisi diatur dengan sebuah peraturan, semacam undang-undang begitu? Buat saya bisa dan perlu. Maka dengan sepenuh keisengan, pada 2006 lalu, saya pun merangkum berbagai pendapat, telaah atas puisi-puisi, dan menyusun semacam peraturan yang secara main-main saya sebut RUU Perpuisisan dan Kepenyairan ini. Kenapa RUU? Karena ini selamanya hanya sebuah rencana, tak akan pernah diundang-undangkan. Saya sebagai penyusun akan terus-menerus meragukan, meninjau, memperbaikinya, dengan kata lain membiarkannya abadi sebagai sebuah rencana. Apa yang saya susun ini paling tidak membantu saya menulis dan terutama menilai, mengapresiasi, dan menganalisa puisi yang saya baca.  Siapa saja boleh tidak setuju, membantah, menertawakan, mencibir ini sebagai sebuah upaya yang sia-sia, dan tentu juga boleh menyusun sendiri RUU-nya sendiri. RUU ini saya  sarikan, saya petik, dan saya rangkum dari naskah-naskah telaah puisi oleh A Teeuw, Sutardji Calzoum Bachri, Sapardi Djoko Damono, Subagio Sastrowardoyo, Rainer Maria Rilke, Goenawan Mohamad, dll.  Sebelum saya revisi lagi sekarang, RUU ini saya cantumkan di buku puisi saya “Luka Mata” (Koekoean, Depok, 2010).

 

Rancangan Undang-undang
Perpuisian dan Kepenyairan

Menimbang:

a. BAHWA di seluruh dunia tidak ada bangsa atau suku bangsa yang tidak mempunyai tradisi puisi, apapun bentuk dan kekhasannya. Puisi adalah lumbung kekayaan rohani umat manusia;

b. BAHWA di seluruh dunia dari zaman purba, manusia menciptakan puisi dengan fungsi dan tujuan yang bermacam-macam: keagaman, sosial, dan atau individual;

c. BAHWA puisi tentang apa saja, sampai kapan saja akan terus dituliskan, dinyanyikan, dibaca, untuk memukau, menghibur, memperkaya rasa dan hati, mengajak bercanda, merenung atau menyadari siapa sesungguhnya diri manusia.

Mengingat:

a. SAJAK yang menjadi adalah suatu dunia. Dunia yang dijadikan, diciptakan kembali oleh si penyair.

b. PUISI yang baik bisa mendekatkan manusia kepada Tuhan Sang Pencipta Alam dan mengaribkan sesama manusia;

c. PUISI yang baik bisa membantu manusia menjalani hidupnya dengan lebih baik;
d. PUISI yang baik adalah pembuka jalan ke masa depan bahasa-bahasa.

Memutuskan:
Menetapkan: Rancangan Undang-undang Perpuisian dan Kepenyairan

Bab 1. Ketentuan Umum

Pasal 1

1. PUISI atau sajak adalah apa yang digubah dan diniatkan oleh penyairnya sebagai sajak. Kemudian niat sajak penyair itu bersesuaian dengan niat sajak bahasa dan niat sajak pembaca.

2. PUISI terutama hadir dengan kehadiran kata, tapi keadaan absen kata pun bisa menghadirkan puisi. Apa-yang-puisi bisa hadir atau dirasakan pada bahasa cahaya, bahasa bunyi, bahasa benda, bahasa rasa, dan bahasa aroma.

3. PENYAIR adalah orang-orang yang menggunakan sebagian waktu, tenaga, dan pikirannya untuk menghadirkan puisi, menyiarkannya di berbagai jenis media dan atau kadang-kadang melisankannya di hadapan khalayak ramai.

4. PUISI terbaik adalah puisi yang bahasa yang membangunnya dan makna yang dikandungnya tidak pernah menjadi bagian dari masa lampau, ia selalu bisa dikaitkan dengan masa kini dan ia bahkan menjadi masa depan, puisi yang demikian hanya bisa dicapai dengan bakat, semangat dan kederdasan yang tinggi.

5. PUISI adalah dunia rekaan, dunia fiksi, peristiwa yang dialami penyair dihadirkan dalam kata-kata dan bahasa yang bukan kata, dan tidak lagi berada di dalam kehidupan sehari-hari. Karena itu puisi tidak bisa ditakar dengan ukuran yang biasa dikenakan untuk kehidupan sehari-hari.

6. PUISI adalah hasil dari kerja penyair mengamati dan menghayati alam dan meneliti peristiwa yang dialami manusia, lalu dengan menaati, mempermainkan, memberdayakan bahasa bahan itu oleh penyair diolah, maka rujukan pertama dan terutama bagi puisi dan penyair adalah kehidupan dan tata bahasa.

7. PROSES penulisan sajak berakhir apabila dalam kata-kata dan bahasa lainnya yang dipermainkan tersusun peristiwa yang dirasa-rasakan pernah dialami oleh penyair atau pesan yang hendak disampaikan olehnya dan ia merasa kini peristiwa dan pesan itu telah mengandung makna.

8. PUISI menjadikan hal yang sederhana menjadi aneh, yang mudah dipahami dirumuskan secara berliku-liku, sehingga mengejutkan, malahan bahkan bisa mengelirukan. Tetapi justru keanehan itu menjadikan puisi mengesankan, sukar dilupakan, terpatri dalam ingatan.

Pasal 2
Bentuk, Ruh, dan Falsafah Puisi

1. SEBUAH sajak, sebuah hasil kesenian menjadi penting dan berarti bukan karena panjangnya atau pendeknya, tetapi karena tingkatnya, kadarnya. Yang menentukan ini adalah dalamnya – karena ketinggiannya, keluasannya, jauhnya – penglihatan, kupasan, pandangan si penyair dalam menyatukan, memadukan suasana, kehidupan, dan tokoh.

2. PENYAIR bebas memilih bentuk puisi. Penyair bebas memilih apakah ia ingin terikat pada sajak berbentuk tetap atau bebas dengan bentuk sajak bebas. Penyair bebas merusak bentuk-bentuk tetap, juga bebas membuat sebuah bentuk sajak yang baru.

3. ADA ruh dalam setiap puisi yang baik. Penampakan ruh itu timbul tenggelam antara kepelikan dan keutuhan puisi. Ruh puisi samar bahkan hancur pada sajak yang menawarkan kepelikan tetapi tidak bisa meraih keutuhan. Ruh puisi pucat, pudar bahkan hilang pada sajak yang utuh tapi sama sekali tidak asyik karena tidak menawarkan tantangan pemaknaan dengan kepelikan yang memadai.

4. TIAP penyair akan dan harus menemukan dan atau memiliki kredo atau falsafah perpuisian dan kepenyairannya sendiri. Falsafah itu bukan cetakan yang tetap, tetapi ia menjadi tangan gaib yang membimbing penyair bertemu puisi-puisi. Falsafah itu kemudian menjadi pintu masuk bagi pembaca untuk melancong ke dalam puisi-puisi itu. Tentu saja pembaca boleh menemukan atau menciptakan pintu lain untuk menemukan kenikmatan lain.

5. PENYAIR boleh kapan saja meninggalkan kredo atau falsafah puisi yang pernah ia temukan, karena penyairlah yang menciptakan kredo itu, bukan kredo yang menciptakan penyair.

Bab 3. Hak Puisi dan Tanggung Jawab Pembaca

Pasal 4

PUISI memerlukan dan berhak untuk dicurahi daya upaya yang total dari pihak pembaca yang bertanggung jawab sebagai pemetik atau pemberi makna pada sajak itu, karena puisi merupakan bangunan bahasa yang menyeluruh dan otonom, hasil ciptaan seorang manusia penyair dengan segala pengalaman dan suka-dukanya.

Bab 4. Kebulatan dan Keutuhan Puisi

Pasal 5

SEBUAH puisi yang baik merupakan sebuah kebulatan dan kepaduan makna di mana segala unsur berkaitan satu dengan yang lain, di mana setiap bagian atau aspek menyumbang pada keseluruhan makna. Aspek sajak tersebut terdiri atas aspek makna, aspek tata bahasa, aspek struktur sajak, aspek bunyi sajak.

Bab 5. Peran dan Tantangan Penyair

Pasal 6

1. PENYAIR menjalani peran kepenyairannya antara permainan kata ala anak-anak dan penyampaian makna bak seorang nabi. Penyair bermain kata-kata sampai di dalamnya tersusun atau tersampaikan makna. Anak-anak hanya asyik pada permainan kata-kata tak peduli apakah bermakna atau hanya sia-sia. Nabi tidak bermain kata tetapi ia menyampaikan kata-kata yang bermakna yang ia terima sebagai wahyu dari Tuhan untuk dikabarkan kepada manusia, umatnya.

2. PENYAIR harus tetap mempertahankan kesadaran kritis agar ia tetap bisa mempertahankan kepenyairannya dan memberi kesaksian lewat sajak-sajaknya.

3. TANTANGAN penyair adalah terus-menerus mencari dan mengembangkan tema sajak-sajaknya dan menciptakan cara pengungkapan baru, bahasa yang baru, yang berbeda dari yang dipergunakan oleh para penyair sebelum dia, juga yang ia sendiri pernah gunakan dalam sajaknya sendiri sebelumnya.

4. PENYAIR berhadapan dengan sejumlah kode tetap dan konvensi. Tetapi, kode dan konvensi itu bukan merupakan sistem yang tetap dan ketat: dalam kegiatan penciptaannya si penyair berhak dan bertugas untuk menerapkan sistem itu secara individual, menyesuaikan menurut keperluannya sebagai seniman, malahan memperkosa dan melanggarnya seperlunya saja atau bila perlu separah-parahnya.

5. PELANGGARAN konvensi adalah sifat puisi yang khas, malahan pada masa-masa tertentu hasil dan nilai sebuah karya puisi sebagian besar ditentukan oleh berjaya-tidaknya puisi itu mendobrak dan merombak konvensi tersebut.

6. TETAPI dalam pelanggaran itu si penyair mau tidak mau terikat pada konvensi itu, agar tercipta ruang apresiasi yang layak untuk pembaca. Tidak pernah ada kebebasan mutlak atau kemungkinan untuk penyimpangan total; sebab perombakan total akan berarti bahwa bagi pembaca tidak ada kemungkinan lagi untuk memahami karya itu.

Bab 6. Penyair dan Kehidupan

Pasal 7

1. PENYAIR yang menyekatkan perhatian pada diri sendiri hanya menghasilkan sedu-sedan dan keluh kesah, bukan sajak yang cukup berarti. Nilai sajak baru diperoleh setelah ia sanggup mengatasi perhatian pada diri sendiri dan mempertalikan dengan lingkaran dunia yang lebih besar.

2. PERHATIAN pada dunia luar itu mengandung pengertian menaruh atau memberi hati, perbuatan yang dekat persinggungannya dengan mencintai. Karena itu tema cinta dalam sajak berulang, karena lekat pada sikap batin penyair yang paling mendasar dalam mengungkapkan pengalamannya.

3. TEMA cinta abadi dalam sajak karena timbul dari dorongan pertama penyair hendak menulis sajak. Cinta itu dapat berhenti pada “perhatian dan menaruh hati” itu saja, tetapi dapat pula meluap sebagai nafsu dan rindu yang ingin meluluhkan diri dengan subyek cintanya: bunga, langit, anak, kekasih, keindahan atau kebenaran yang didamba.

4. PUISI harus berada di pihak manusia korban, manusia yang lemah, yang tertekan, yang terasing atau diasingkan dari kenyataan kekuasan, dari komunikasi kemanusiaan. Manusia korban itu bisa siapa saja, dirinya sendiri, sekelompok manusia malang, atau rakyat sebuah bangsa tertindas yang menentang penguasa lalim.

5. DALAM puisi yang memerlukan kesaksian bukanlah kenyataan, bukan fakta dan kekuasaan, melainkan yang mungkin, yang rapuh, yang kelak retak, yang sia-sia.

Bab. 7 Sumber Ilham

Pasal 8

1. PENYAIR harus mengalami banyak hal: tersesat dalam hujan di hutan, menyaksikan manusia sedang sakaratul maut, ibu yang melahirkan, kesepian yang parah dan lain-lain, lalu melupakannya. Ketika semua peristiwa itu datang sebagai kenangan, maka itulah saatnya ia menuliskannya menjadi puisi.

2. MASA kecil, istimewa atau biasa-biasa saja, bisa menjadi ilham puisi. Masa kecil harus dicurigai menyimpan sesuatu di bawah hal-hal yang berlangsung begitu-begitu saja.

3. PENYAIR harus sabar menjelajahi dan meneliti sudut-sudut yang luput dari teriak dan siul masa kecil agar hidup kembali atau tertangkap dalam kata-kata puisi.

4. SEGALA hal dalam masa kecil penyair diam-diam kemungkinan telah menjelma menjadi lambang-lambang; atau mungkin juga di masa kecil, lambang-lambang telah menjelma dalam hidup sehari-hari sebagai yang nyata. Karena itu masa kecil benar-benar mengasyikan: kita tinggal dalam dunia yang tersusun dari lambang-lambang dan karenanya sangat kaya makna.

5. PENGALAMAN-pengalaman yang sulit diingat karena amat sepelenya dan cenderung mudah dilupakan saja, harus diundang, dikenang, dirawat, ditumbuhkan lagi karena ia berharga untuk dicipta kembali dalam sajak-sajak. Ketika ia berhasil dihadirkan dalam kata-kata, maka ia bisa menjadi lambang dan mendukung makna.

Bab 8. Pembaca, dan Memaknai Sajak

Pasal 9.

Penyair dan Pembaca Sajak

1. TUGAS penyair adalah mengejutkan pembaca, dengan melakukan penyimpangan dari pemaknaan bahasa yang sudah terbiasa, sudah familiar, usang dan luntur. Tetapi kemungkinan, kelonggaran penyimpangan, selalu ada batasnya, yakni batas kemungkinan komunikasi.

2. PENYAIR harus mengupayakan agar sajaknya sampai kepada pembaca dan susunan kata-katanya tidak menghalangi pembaca untuk menyusun sendiri citra-citra atau imaji yang menggambarkan peristiwa tertentu. Tetapi juga tidak terlalu mudah sehingga tidak menawarkan imaji apa-apa bagi pembacanya.

3. PENYAIR tidak boleh menghalangi, juga sebaliknya tidak bisa memaksa pembacanya untuk ikut, atau akrab atau bahkan memiliki peristiwa dalam sajak yang ia ciptakan.
4. Pembaca-pembaca sebuah sajak bebas menangkap imaji yang mendukung sebuah sajak, tetapi bermakna tidaknya peristiwa itu baginya tergantung pada pengalaman, kecederdasan, dan kemauannya untuk membuka diri.

5. Modal pembaca untuk mendekati karya puisi terutama terdiri atas sistem konvensi yang ada, yang dikuasainya; kalau sistem itu sama sekali tidak dapat dipakai lagi untuk memahami karya seni maka dia bingung, apresiasi tidak mungkin lagi baginya.

Pasal 10.
Membaca dan Memaknai Sajak

1. PENAFSIRAN sajak tidak pernah dapat menggantikan sajak itu sendiri. Sebab sajak yang baik adalah ekspresi ideal dari kebenaran yang direbut oleh penyair dari kehidupan. Penjelasan dan penafsiran hanya dapat berfungsi sebagai pengantar kembali pada sajak itu sendiri.

2. MEMBACA puisi berarti bergulat terus-menerus untuk merebut makna sajak yang disajikan oleh sanga penyair.

3. Tidak pernah ada makna sajak yang final, tidak pernah ada pengetahuan yang definitif dalam sajak. Puisi tetap pasemon yang terus-menerus memerlukan interpretasi, atau lebih tepat penghayatan dalam arti rangkap: pembaca tidak saja memberi hayat pada sajak yang dihadapinya, dia juga menerima hayat daripadanya, dihidupi olehnya.

4. Dalam membaca sajak pembaca selalu menghadapi keadaan paradoksal. Pada satu pihak sebuah sajak merupakan keseluruhan yang bulat, yang berdiri sendiri, yang otonom dan yang boleh dan harus kita pahami dan tafsirkan pada sendirinya; sebuah dunia rekaan yang tugasnya hanya satu saja: patuh-setia pada dirinya sendiri. Tetapi pada pihak lain tidak ada puisi yang berfungsi dalam situasi kosong; setiap sajak merupakan aktualisasi atau realisasi tertentu dari sebuah sistem konvensi atau kode sastra dan budaya, merupakan pola harapan pada pembaca yang ditimbulkan dan ditentukan oleh sistem kode dan konvensi itu.

5. Membaca puisi adalah semacam permainan kejar-mengejar antara sajak dan pembaca; sajak mengelak, mengejut, menyesatkan, meragu-ragukan si pembaca, tetapi si pembaca tak henti-hentinya berusaha menangkap sajak, mengembalikannya pada suatu yang dikenalnya, dipahaminya, menjadikannya wajar, koheren dan bermakna.

6. Paradoks dan ironi adalah ciri khas, bahkan bisa jadi syarat mutlak sajak modern. Salah satu bentuk ironi yang bisa dilacak ketika membaca sebuah sajak adalah pertentangan antara bentuk dan makna, antara ungkapan dan fungsinya, dalam keseluruhan sajak.

7. Sajak seringkali membeberkan semacam klimaks, sehingga informasi yang hakiki yang menentukan makna keseluruhannya, seringkali didapatkan oleh pembaca dalam bagian akhir sajak yang padanya bisa kita temukan beberapa kata atau ungkapan kunci.

8. Pembaca puisi harus siap terkejut dengan usaha defamiliarisasi yang dibuat oleh penyair. Defamilirasisai atau usaha untuk menjadikan sesuatu yang tidak biasa, sesuatu yang tidak ramah, yang tidak akrab, atau dengan kata lain deotomisasi adalah ciri khas puisi.

9. Sajak bisa dibaca, dipahami dan ditafsirkan sendiri, atau dengan memanfaatkan bahan atau data luar. Kadang ada hubungan batin antara beberapa sajak dalam karya lengkap atau sebuah kumpulan sajak seorang penyair. Ada kalanya penyair itu sendiri memberi petunjuk tentang hubungan antara dua atau lebih banyak sajak.

Bab 9. Bahasa Sajak

Pasal 11

1. BAHASA, dengan segala tata dan tertibnya, tidak hanya bisa dipakai untuk menata dan menertibkan sajak. Penyair berkarya dengan memanfaatkan konvensi dan aturan tata bahasa, menggali potensi kreatif dan sensitif yang ada pada bahasa sepenuh-penuhnya menjadi kekuatan sajak.

2. SIKAP penyair terhadap kata menentukan sajak-sajak yang ia hasilkan dari kerja menyairnya. Kata boleh diyakini atau diragukan, disakralkan atau dipermainkan, dikayukan atau diplastikkan, dibatukan atau ditanahliatkan, dimatikan atau dihidupkan, ditatarapikan atau dijurngkirbalikkan, bahkan diperbaharui dengan cara yang hanya penyair yang bisa merancangnya.

3. PENYAIR yang lemah akan hanyut oleh arus deras kata-kata orang banyak. Penyair yang sok kuat akan berlaku seakan mempunyai tenaga kata yang kuat padahal ia hanya menjauhkan sajaknya dari orang banyak, dari bahasa, dan dari sajak itu sendiri.

Bab 10. Sajak Gagal

Pasal 12

1. PADA prinsipnya bahasa puisi memang harus dapat dikembalikan pada yang bermakna. Kalau itu tidak mungkin untuk pembaca yang cukup peka, maka puisi itu gagal.

2. DENGAN kata lain sebelum menghukum sebuah puisi telah gagal atau berhasil, maka pertama yang harus dipertanyakan oleh pembaca adalah sudah sampai pada tingkat apakah kepekaan rasa dan minda puitiknya.

Bab 11. Penutup

Pasal 13

1. RUU Perpuisian dan Kepenyairan ini tidak mengikat siapapun. Khalayak pembaca atau penyair yang sama-sama terus mencari jalan untuk menikmati dan menghidupi puisi hanya ingin diketuka dan diberi rangsang pemahaman untuk kemudian dibebaskan mencari jalan sendiri.

2. RUU Perpuisian dan Kepenyairan ini boleh ditaati dengan ikhlas, dijadikan panduan, dibantah, dilupakan, atau dibuat tandingannya. Silakan saja.

Indonesia, Oktober 2006

Disusun oleh
Hasan Aspahani – Penyair

 

Iklan