Remy Sylado – Mengusahakan Sastra Indonesia ke Amerika

Remy Sylado

086373500_1449062750-remy_sylado
Remy Sylado (Foto dari Bintang.com)

Dibacakan pada Musyawarah Nasional Sastrawan Indonesia, diselenggarakan oleh Pusat Pembinaan, badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa, PK&K, di Hotel Bidakara, Jakarta Selatan, 18-20 Oktober 2016.


How many roads must a man walk down
Before they can call him a man
How many seas must a white dove sail
Before she sleeps in he sands
How many times must a cannon ball fly
Before they forever banned
The answer my friend is blowing in the wind…

Itu bangunan kata-kata paling terkenal, dikenal orang muda anteru dunia pada 1960-an karya Bob Dylan.

Bob Dylan pekan ini diumumkan di kerajaan Swedia memenangkan Hadiah Nobel Kekusastraan.

Ini bukan pertama kali tokoh masyhur di luar sastra – artinya memang bukan dikenal sebagai sastrawan yang katakanlah tidak bermatepencarian menulis kreatif di bawah ketentuan imaginasi literer – yang memperoleh Hadiah Nobel Kesusasteraan. Pada 1953 Perdana Menteri Inggris, Winston Churchill, sudah juga memperoleh penghargaan ini. Dan, baik Churchill maupun Dylan, sama-sama tidak menolak Hadiah Nobel Kesusasteraan itu seperti yang dilakukan Jean-Paul Sartre pada 1964 dan Boris Pasternak pada 1958.

Tapi, bukan itu masalahnya, ketika saya diminta menjawab tantangan Badan Bahasa menyangkut pertanyaan: bagaimana sastra Indonesia bis mendunia, dibaca oleh khalayak lua di negeri-negeri maju Barat yang tradisi literasi sangat kuat sejak bahasanya dibakukan…

2.
… pada lebih 400 tahun lalu. Misalnya bahasa Inggris melalui pegangan Old and New Testaments oleh kebijakan King James pada 1611. Atau misalnya juga bahasa Belanda baku yang disebut ABN (Algemeen Beschaafd Nederlands) dengan merujuk pada De Gansche Heilige Schrift yang ditata oleh sebuah sinode paa 1619.

Kalau memang hendak melihat masalah kita, antara bahasa di satu pihak dan khususnya sastra di lain pihak, dalam tantangannya sebagai karya budaya yang berdiri di dunia nyata bangsa-bangsa internasional, maka mau-tak-mau atau suka-tak-suka, mestilah kita membawa dan menyajikan karya sastra Indonesia itu ke apa-boleh-buat Amerika. Maksud saya, terlebih dahulu harus menerjemahkan sastra Indonesia ke Bahasa Inggris di Amerika, dan, sekaligus dipasarkan pula melalui Amerika, di mana kita tahu, bahwa penerbit-penerbit yang paling kuat saat ini adalah di Amerika, di samping juga sastra berbobot yang diukur melalui ciri-ciri pandangan filsafat keindahan yang singular telah dimulai di Amerika sejak 1936 atas nama Eugene O’Neill. Lantas berturut-turur pada 1938 tampil Pearls S. Buck, 1948 T.S. Eliot, 1950 William Faulkner, 1956 Ernest Hemingway, 1962 John Steinbeck, 1976 Saul Bellow, 1978 Isaac Bashevis Singer, 1987 Joseph Brodsky, 1993 Toni Morison.

Jadi, kalau kita ingin menawarkan sastra kita dibaca di luar, setelah diterjemahkan dan diterbitkan di Amerika – dalam rangka menerima tantangan Badan Bahasa tersebut – dalam rangka maka terlebih dulu kita memerlukan penerjemah yang benar-benar mengerti ekspresi bahasa Indonesia yang tengah berkembang, di samping mengerti pula secara mendalam akan keindahan bahsa rasa khas Indonesia – atau kalau boleh saya pakai istilah karawitan Jawa roso seleh – yang maujud dalam sastra Indonesia sekarang.

3.
Saya ingin mengajak kita semua untuk memindai apa yang saya sebut sebagai bahasa rasa dalam bahasa Indonesia. Dalam praksisnya, bahasa rasa merupakan ciri dari bahasa Indonesia, yang seyogyanya dibuat mukabalahnya dengan bahasa-bahasa barat – Belanda, Inggris, Prancis – yang dalam hubungan ini akan saya sebuah bahasa pikir. Saya menempatkan bahasa rasa di konteks potensi hati, dan bahasa pikir di konteks potensi otak.

Nanti, di bawah, akan saya kemukakan pandangan apologia saya tentang kedua ciri bahasa tersebut. Tapi sebelum saya ke situ, terlebih dulu saya merasa perlu, dan mesti mengulang lagi pernyataan yang sudah sering saya ulang-ulangi, yaitu, bahwa saya tidak mau jadi tawanan frustrasi Anton M. Moeliono dan J.S. Badudu menyangkut cekokan gagasannya peri “bahasa yang baik dan benar”. Di dalam sastra, sebagai bahasa estetis yang berubah di bawah perkembangan kebudayaan yang berprogres, maka yang menjadi tantangan kulturalnya adalah “bahasa yang wajar dan indah”. Untuk itu, saya menganggap gagasan “bahasa yang baik dan benar”, selain lebai, juga tidak realistis melihat tatanan sosial yang berubah karena perkembangan sains-teknologi yang akhirnya sampai pada lambang-lambang globalisasi di mana bahkan nasionalisme diuji dengan tren gaya-hidup.

Untuk memberi gambaran plastis mengenai progress yang dimaksud ini, sejenak mari kita peiksa perkembangan bahasa Belanda – yang adalah dulu bangsanya menatap ketatabahasaan Melayu dengan memperkenalkan baca-tulis huruf Latin dalam kerangkan inkulturasi atas pegangan ayat “Gaat dan henen, onderwijst alle de volkeren…” – yaitu bahasa baku yang disebut ABN (Algemen  Beschaafd Nederlands), sekarang, sejak 1960-an melalui karya sastra Jan Cremer, telah berubah hebat, dan bahkan tidak diduga oleh Douwes Dekker, J.J Slauerhoff,…

4.
Charles Edgar du Peron, Rob Nieuwenhuys, dll., yang semuanya berhubungan dengan Indonesia.

Begitu juga, kalau kita mau memeriksa bahasa baku Inggris dengan idealnya terjemahan Holy Bible versi King James yang terbit pada 1611 itu, dan merupakan sumber rujukan dalam studi teologi – dalam kasad ejaan dan lafal – malah boleh dibilang sengaja dirancukan di Amerika, menjadi apa yang galib disebut sebagai ‘American slang’. Setidaknya, dalam sastra kita mulai melihat keberanian itu melalui karya sastra drama, lazimnya disebut dramaturgi, dimulai oleh Eugene O’Neil, misalnya dalam karyanya Desire under The Elms – pernah difilmkan dan dibintangi oleh Sophia Loren – di mana kita melihat bahasa Inggris yang dilaraskan melalui realitas bangsa Amerika yang interrasial berupa dialog-dialog yang dieja menurut lafal Negro, atau sekarang lebih lazim disebut Afro-Amerika.

Menyangkut apa yang saya katakana dati tentang bahasa rasa yang berhubungan dengan hari, dan bahasa pikir yang berhubungan dengan otak, dengan gampang, tapi mudah-mudahan tidak diartikan gampangan, saya menunjuk tentang ekspresi yang lazim mengangkut pronominal “aku” dengan nomina “pikir”. Menurut saya ekspresi “aku pikir” atau “saya pikir” bukanlah khas bahasa rasa Indonesia. Ini adalah terjemahan harafiah dari bahasa-bahasa Barat, misalnya Belanda “Ik denk”, Inggris “I think”, Prancis “Je Pense”.

Harusnya, yang wajar dan indah secara Indonesiawi adalah “saya rasa” atau “aku rasa”. Malahan lebih tipikal mewakili hati, ekspresi yang populer, dan sekarang mulai dipakai kembali “menurut hemat saya”, sungguhpun kita tahu bahwa sekarang banyak koruptor yang ditangkap KPK, sekali berbelanja di luar negeri, borosnya auzubillah…

5.
….minzalik. Malahan tersiar kabr melalui media sosial, bahwa banyak istri pejabat, eksekutif dan legislative, yang gila-gilaan berboros ria di luar negeri.

Lebih jauh, untuk menguji sampai di mana dekat bukti bahwa bahasa Indonesia adalah bahasa rasa yang karib dengan hati, dan bukan seperti bahasa Barat yang tipikal bahasa pikir yang karib dengan otak, mari kita periksa catatan di bawah ini. Catatan ini saya bua dalam novel saya Namaku Mata Hari – yang terimakasih kepada Badan Bahasa dengan juri-juri yang bijak-bestari antar Seno Gumira Ajidarma, Abdul Hadi WM, Melani Budianta, yang telah memberi penghargaan sebagai sastra terbaik 2015, dan menang pula sebagai sastra terbaik SEA Write Award di Bangkok, Thailand – yang menunjukkan dengan jelas antara potensi rohani hati dengan rasa dalam bahasa Indonesia, dan potensi rohani otak dengan pikir dalam bahas Inggris. Begini:

INDONESIA                INGGRIS
setengah hati               unwillingly
besar hati                      glad
sakit hati                       annoyed
tinggi hati                     haughty
rendah hati                    humble
makan hati                    grieve

kasih hati                      encourage
jantung hati                   darling
pemer-hati                    observer
per-hati-an                    attention
senang hati                   contented
suara hati                      conscience

6.
bulat hati                      determined
suka hati                       eager
puas hati                       satisfied
satu hati                        unanimoue
hati-hati                        be careful
hati                               liver
hati                               heart

Dengan contoh dalam catatan di atas kita tergoda untuk bergurau, dan maaf, jangan marah, bahwa orang Indonesia tidak pakai otak untuk berpikir, melainkan dengan hati. Coba saja bayangkan kalau kata bahas Inggris unwillingly menjadi ‘setengah otak’, lalu glad menjadi ‘besat otak’, annoyed menjadi ‘sakit otak’, haugty menjadi ‘tinggi otak’, humble menjadi ‘rendah otak’, dan seterusnya, ditambah careful menjadi ‘otak-otak’. Bukanlah otak-otak adalah jajanan khas Cina Betawi?

Kesimpulan implisit, yaitu sastra Indonesia yang akan dan mesti diterjemahkan ke bahasa Inggris di Amerika dan diterbitkan di sana untuk pembaca Internasional, adalah harus dikerjakan oleh seorang penerjemah yang paham betul antara bahasa rasa dan bahasa pikir.

Dalam hubungan ini ‘terjemahan’ sebagai suatu pengetahuan tentang kepandaian disertai kecendekiaan atas bahasa-bahasa – atau dalam bahasa Inggris translation: the action or expressing the sense of a word, passage, etc., in a different language, The New Shorter Oxford English Dictionary on Historical Principles – dengan mengkaji dalam rasa hormat dibalut apresiasi terhadap sastra Indonesia sebagai zirah bahasa kebangsaan yang bercitra antarsuku, antarras,…

7.
…antaragama, dan dengan sendirinya memiliki ciri-ciri terbuka atas latarbelakang budaya nasionalnya.

Banyak kasus terjemahan – tanpa harus menunjuk secara eksplisit contoh-contohnya, kecuali satu contoh yang berhubungan dengan saya di bawah nanti – memperhatikan asnad yang berubah dari translation ke transcreation, disebabkan oleh pengetahuan praksis bahasa rasa yang miskin.

Istilah transcreation ini berasal dari Geoff Fox ketika yang disebut ini menerjemahkan puisi saya dari kumpulan Kerygma, dan dibuat diskusi khusus dengan para sarjana ahli bahasa Indonesia dari seluruh universitas di Australia, bertempat di salah satu ruang teater di Universitas Melbourne. Di situ Geoff Fox menyatakan dengan masygul, bahwa kesulitan kerja penerjemahan karya sastra, terutama puisi saya yang merdeka dari pola cekokan “bahasa yang baik dan benar”, adalah mengadaptasi translation di kasad transform dan transmute menjadi transcreation.

Saya senditi harus menyatakan tidak puas, atau naga-naganya lebih pas dibilang jengkel, atas translation yang beimplikasi transcreation buruj atas novel saya Namaku Mata Hari yang diterjemahkan dan diterbitkan di Amerika sebagai My Name is Mata Hari, pada dua tahun silam termasuk yang disohorkan di pameran buku di Frankfurt, Jerman. Selain rasa jengkel yang menyangkut penerjemahannya, saya juga merasa gusar terhadap penerbit Gramedia Pustaka Utama yang bekerjasama dengan penerbit di Amerika itu, yang sampai hari ini tidak mengirimkan laporan apa-apa. Malahan, suatu ketika yang terakhir pada tiga tahun lalu, ketika saya mempertanyakan honorarium, redaksinya bernama R, membanting telefon.

Sejak itu juga, pada keesokan harinya saya datang ke kantor…

8.
…GPU lantas mengembalikan uang yang saya terima, dan mencabut buku-buku saya di situ untuk diterbitkan di penerbit lain. Bersamaan dengan itu, saya makin percaya pada gunjingan orang, bahwa memang orang-orang Gramedia itu homo prefabricated, memandang manusia bukan dari sisi martabat melainan manfaat. Entah terbut dari adonan apa hati orang-orang Gramedia itu.

Di akhir catatan saya ini, saya ingin memberi saran kepada Badan Bahasa – dipedulikan syukur, tak dihirau itu biasa bagi pegawai pemerintah yang selalu merasa diri paling betul – adalah memulai dengan penerbitan majalah sastra yang mengikuti zaman, bukan seperti Horison yang seperti kerakap tumbuh di batu, kuno, ndeso, masih seperti zaman dijajah Jepang pada 1940-an. Coba saja ingat, beberapa tahun lalu Pusat Bahasa membuat majalah bernama Pusat – dan pada peluncuran pertama saja langsung dicacati oleh Mohamad Sobary dan Seno Gumira Ajidarma, karena jelak banget – bukannya membikin pembaca jadi pandai dan berbudaya tapi sebaliknya membikin pembaca jadi tolol.

Maksud saya, saran yang ingin saya sampaikan di sini, adalah apa salahnya meletakkan sastra sebagai bagian dari dari gaya hidup. Menangnya Bob Dylan tahun ini di aras sastra paling berwibawa Nobel – yang selama ini dikenal sebagai pop pewujud budaya tanding – tak pelak menjadi ilham bagi kita untuk mengubah cara pikir sastra yang keliru. Badan Bahasa sebagai organ pemerintah harus segera belajar dari perkembangan ini. Jangan ngantuk, jangan tidur, dengan lagu Bob Dylan ini:

Hey ! Mr Tambourine Man, play a song for me
I’m not sleepy and there is no place I’m going to
Hey ! Mr Tambourine Man, play a song for me
In the jingle jangle morning I’ll come followin’ you.

Iklan