Juru Baca ada di Youtube

SAYA bikin vlog baca puisi. Nama akunnya: JURU BACA. Saya memilih puisi yang saya suka dan bisa saya baca dengan enak. Semoga memang tersaji enak dan bisa dinikmati. Silakan berkunjung, like dan subscribe ya… (sudah terdengar kayak Youtuber, belum?)

 

Kalau Engkau Meninggalkan Aku

KALAU engkau meninggalkan aku, maka aku akan berpura-pura
gila, berjalan di lorong-lorong kota, memanggili namamu,
(aku tahu kau masih ada di kota ini) dan engkau mendengar
jeritanku, agar engkau merasa benar telah meninggalkan aku.

Kalau engkau meninggalkan aku, maka aku akan menyanyikan
seluruh lagu-lagu Didi Kempot, mengunggah di Youtube*, agar
engkau merasa nyaman dan tak terlalu berdosa, karena aku
telah dilindungi oleh Sang Godfather of Broken Heart itu.

Kalau engkau meninggalkan aku, maka aku akan berunjuk rasa dan
lapar lagi, berteriak demi tenggorokan radang, melempar batu dan api
ke arah istana negara dan gedung perwakilan, membela KPK yang
disekaratkan, sebab hanya dengan cara itu aku bisa melupakan kamu.

* Akun Youtube Juru Baca

Ruang Renung 2 – Marah dan Jatuh Cinta

SEORANG kawan berkata: saya bisa menulis puisi kalau sedang marah. Kawan yang lain bilang: saya hanya bisa menulis puisi kalau sedang jatuh cinta. Lalu seorang teman yang lain menyimpulkan seorang penyair adalah orang yang selalu marah dan terus menerus jatuh cinta. Benarkah begitu?

Penyair adalah manusia biasa yang bisa marah dan tentu juga boleh jatuh cinta. Ada persamaan antara keduanya, yaitu membuat manusia pada saat itu peka perasaannya. Puisi memerlukan itu. Kepekaan yang berlebih untuk menangkap tanda yang dikirim yang datang yang mengusik yang mengganggu yang diburu yang sekecil apapun bahkan yang remeh tak berguna.

Kerja menyair yang bersungguh-sungguh, sesungguhnya bukan pada saat membuat syair, tapi membuat perasaan kita terus menerus peka. Kepekaan itu berguna untuk menjemput tanda yang datang tadi, tanpa harus menunggu saat marah atau jatuh cinta. Yang entah kapan dan entah dimana akan berguna untuk hidup dan manusia lainnya.

Ruang Renung 1 – Perlukah Konsep Puisi?

SEORANG kawan yang bertungkus-lumus bekerja keras dan sepenuh hati mencintai puisi bertanya, perlukah falsafah puisi bagi seorang penyair? Bagi saya jawabnya ya.

Konsep, falsafah, atau kredo puisi bisa jadi semacam pintu masuk bagi penjelajahan ke puisi-puisi yang kita tuliskan.

Tapi tidaklah kemudian seluruh puisi kita dipertaruhkan pada konsep itu. Penyair boleh saja mencampakkan rumusan yang sebelumnya pernah ia agung-agungkan, lalu mencari pegangan lain yang tak apa-apa apabila itu sama sekali berbeda dengan yang ia yakini sebelumnya.

Kredo mungkin juga tidak harus terumuskan. Biar saja dia menjadi tangan gaib yang membimbing proses persetubuhan ide-ide, kehamilan dan lalu kelahiran puisi.

 

Catatan: Rubrik “Ruang Renung” adalah catatan saya di blog lama saya. Saya mulai menuliskannya 2003. Saya membacanya lagi. Menampilkannya di sini. Dengan tambahan ala kadarnya, dan mungkin nanti juga dengan perubahan besar.

Our Pain, Peter Pan!

/1/

SEPANJANG jalan
ke Neverland
kita saling kehilangan.

Kau tak tahu lagi, janji apa yang harus kau penuhi.
Aku tak bisa lagi meneduhkan diri. Siulan yang mati.

“Adakah yang ingin kau bisikkan tadi?” kata sepi.

/2/

Teruskan saja, Peter, nyanyikan seluruh lagu pedih,
sampai rintih, tinggal lirih. Luka itu tak kan pernah pulih.
Petualang makin letih,
pengembaraan kian kehilangan dalih.

Ada seorang pemburu, pulang mengambil peluru.
Di tangannya senapan dan peta tinggal sebuncu.

Ada seorang nelayan mengelak: perahu bertolak.
Laut tak lagi jinak, ikan tak pernah lagi banyak.

/3/

Meneruskan jalan
ke Neverland,
kita saling kehilangan.

Kau semakin meyakini, ini perjalanan yang sia-sia.
Itulah sebabnya, maka aku tak pernah berhenti bertanya.

2005

Apa yang Kuingat tentang Kau dan Benda-benda Pos

KARTU POS. Kau selalu mengirimkan
kartu pos kosong saja. Begitulah
kita sepakati, dan aku hanya tahu
bahwa itu kau yang mengirim dari
posisi prangko Presiden Suharto
yang terjungkir miring. Kadang kau
menambahi air mata di gambar presiden
itu, dan itu membuat aku tertawa.
Mau bilang sedih, ah betapa susahnya.
Di kartu pos itu aku lalu menulis apa saja,
yang bisa kukenang tentang kau.
Dan kian lama aku kian percaya bahwa
begitulah pula cara engkau mengenang aku.

AMPLOP. Aku benci amplop. Itu sebabnya
aku minta kau mengirim kartu pos selalu.
Aku benci amplop karena di asrama
mahasiswa dulu, kami mengoleksi
ribuan amplop penolakan lamaran,
yang ditujukan pada para alumni
yang terpaksa masih tinggal di asrama
mahasiswa, karena belum dapat kerja.
Aku benci amplop, karena dulu, ada
perempuan yang rajin menyuratiku
lalu akhirnya di surat terakhirnya
ia putuskan begitu saja semua kisah
yang aku sudah rancang lama. Aku
trauma melihat surat, aku selalu
curiga pada amplop, curiga pada ancaman
kepedihan apa yang ia simpan di dalamnya.

KOTAK POS. Empat angka, dan alamat
kantor pos pusat, kuberi tahu segera
kepadamu lewat telegram di hari pertama
aku kembali ke kota asalku. Aku tahu
bertahun-tahun aku belum akan punya
alamat. Sisa ongkos pesawat cukup
untuk menyewa kotak surat. Kau tak
pernah menuliskan namaku di semua
kartu posmu. Juga tak kau tuliskan
namamu. Aku tak pernah bisa membalas
kartu pos yang setia kau kirim
setiap minggu itu. Kalau aku rindu,
aku suka menghitung semua kartu posmu,
menebarkannya di atas kasur tipis
di kamar sewa, atau memajangnya
di dinding menjadi mosaik wajahmu.

PRANGKO. Kenapa banyak sekali prangko
bergambar Presiden Suharto waktu itu?
Dan kenapa kau memilih prangko yang
sama, yang paling murah yang bisa kau
pastikan kartu posmu sampai padaku?
Yang pertama kali aku lakukan setelah
menerima kartu posmu adalah mengoyak
prangko membosankan itu. Maafkan aku.
Aku suka berharap prangko di kartu posmu
itu sesekali berbeda, bergambar bunga,
atau burung, atau gambar petani panen
padi, atau kampanye Program KB, atau
gambar penari Bali, atau pesawat
buatan Habibie. Apa sajalah, asal
bukan prangko yang membosankan itu.
Maafkan aku, aku tidak membencimu
karena itu, aku hanya bosan pada
gambar monoton presiden kita itu.

BLANGKO WESEL. Aku selalu menyimpannya
selembar. Kutulis namaku di kolom
pengirim. Dan namamu di kolom penerima.
Kelak, begitu aku tahu alamatmu – dari
kartu pos kosongmu yang nanti tak kosong
lagi itu – yang pertama kulakukan adalah
mengirimkan sebagian uang gajiku yang
kutitipkan di bagian keuangan koran
tempat aku bekerja sebagai wartawan.
Di kolom pesan kutuliskan kalimat
yang bukan puisi: simpan di tabungan,
tiap bulan aku akan tambahkan, semampu
yang bisa aku sisihkan, kelak kalau
cukup untuk sebuah pesta pernikahan
yang paling sederhana saja, beri
tahukan padaku, atau bila selama kau
menunggu ada yang melamarmu, dan kau
menerima dia, pakailah tabungan itu.
Aku memang meniatkan untuk biaya
pernikahan kita berdua – atau salah
satu dari kita.