Gagal Paham, 2

BISAKAH kita ukur dingin tubuh hujan
dengan skala kenangan, yaitu berapa lama
ia bisa tahan menggigilkan ingatan?

Aku kini berjalan, masih berjalan, mencari
taman, yang mungkin engkau ada, agar bisa
kujelaskan apa yang engkau gagal paham

Iklan

Gagal Paham

AKULAH juru bicara
bagi kesunyianku
yang gagal paham
pada tugasku sendiri.

Padamu aku bicara,
selalu bicara

tentang sesuatu
yang tak kumengerti
dan tak ingin kau
dengarkan lagi.

Segera Terbit Lagi “Menapak ke Puncak Sajak’ (Edisi Baru)

Catatan: inilah bagian pertama dari buku “Menapak ke Puncak Sajak”. Penerbit JBS akan menerbitkan lagi pada September/Oktober nanti. Buku terdiri dari 27 bagian. Berbentuk percakapan antara seorang yang ingin belajar puisi dan seorang yang menjawab dengan jawaban yang tak hanya menjelaskan segala hal tentang puisi dan menulis puisi tapi juga memotivasi.


I. Bukan Sekadar Pengantar

  1. Wow, judul buku ini puitis juga ya?

Bagus, saya suka pertanyaan pertama ini. Kalau kamu bisa merasakan ada  yang puitis pada sesuatu yang bukan puisi, itu pertanda kamu peka. Dan kepekaan rasa itu penting ketika bersuka-suka dengan puisi. Kepekaan itu penting untuk menikmati puisi. Menikmati dalam arti membacanya dan terlebih lagi menuliskannya.

  1. Ya. Saya memang hendak menikmati puisi. Saya hendak menjadi pembaca puisi yang baik dan menulis puisi yang hebat. Saya harus mulai dari mana?

Sekali lagi saya harus mengucapkan: bagus! Niatmu hendak membaca dan menulis puisi itu sekaligus juga petunjuk bagimu. Ya, mulailah dengan membaca dan menulis puisi. Jangan tanya saya di mana kamu bisa dapat  puisi. Karena saya akan menjawabnya tanpa kamu tanya.  Kamu bisa beli surat kabar edisi akhir pekan yang banyak memberi tempat khusus untuk puisi.  Kamu bisa pinjam di perpustakaan terdekat. Kamu juga bisa berseluncur di internet. Atau kalau punya anggaran, belilah buku puisi.

Lanjutkan membaca “Segera Terbit Lagi “Menapak ke Puncak Sajak’ (Edisi Baru)”

Puisi Ini, Misalnya…

MANA Juni itu? Bulan kita itu?

Begitulah kita saling meninggalkan,
menerima segala yang tak mungkin

Mencoba menjadi bijak, karena ada
yang tak akan beres dan selesai
dengan cinta muda yang gegabah.

Tak pernah ada janji karena kita
sudah memulai dengan pengingkaran

Puisi ini, misalnya, adalah penegasan
pada hal-hal yang tak pernah kita akui,
terutama hasrat yang tak masuk akal itu.

*

Mana Juni itu? Bulan kata itu?

Aku ingin bisa melupakan, beberapa kata
yang berima, dan upaya menuliskannya
menjadi puisi yang menyamarkan segalanya

Beri saja aku kata lain, yang dipungut
acak, dari kamus besar bahasa kerinduan

Maka, akan semakin tegas bisa kutegaskan
hal-hal yang tak bisa kulupakan, apa-apa
yang kusamarkan dalam puisi ini, misalnya.

Berjalan di Jakarta Sambil Menafsirkan Bob Dylan

 

1.
CINTA tak terdengar di kotak suara,
tak berjejak di balairung istana
tak dibicarakan di kantor ketua partai

Mereka memakai jas dan baju dinas
menyembunyikan rencana-rencana besar
pemindahan kekuasaan, pembagian wilayah kejahatan

Dan rencana menemui wartawan
di luar pintu ruang pertemuan
menjawab pers dengan seringan manis
(dengan kalimat lain untuk pernyataan:
kami tahu bahwa bahwa kalian
pura-pura tak tahu)

2.
Tetesan hujan lebat itu menjadi tali
(maaf, ini memang bukan sajak imajis)
dengan dingin dan runcing duri
terjeratlah musim-musim yang mati
tak sempat datang ke undangan pernikahan
sepasang anak muda dari bonus demografi.

Malaikat-malaikat membisu
lupa semua lagu yang hendak mereka nyanyikan

Dan kabut lepas, dan tertutuplah permukaan tanah

3.
Ada seorang yang sedang menua
digiring ke penjara, “namaku kearifan,”
katanya. Dia, seperti orang pergerakan,
membusuk dengan luka, di Glodok, di sel-sel penjara,
di rumah tahanan Bukitduri,
di kamp interniran Garut dan Sukabumi
tapi jejak-jejak itu pun tak berjejak lagi
tertimpa cahaya pusat perbelanjaan,
kafe, gerai La Sensa, toko jam,
dan pengulak Apple.

4.

Seseorang bertanya, “adakah cermin di rumahmu?”

Seseorang menjawab, “aku berkaca di kamera ponselku”
Di situ sekarang hidup mereka bekerja.
Dari aplikasi ke aplikasi: kitab digital
(yang tak pernah dibaca), Twitter, Gojek,
Soundcloud, Spotify, dan IG.

Aku menyeberang jalan ke kantor cabang bank,
mengelak dari kematian, yang dilaporkan Waze,
pada wajah penjaga lapak koran.

Mungkin dia yang terakhir dan satu-satunya
yang bertahan, meskipun telah lama
ditinggalkan pelanggan.

5.

Berapa saldo keberanian Anda tersisa?

Petugas bank itu menanyakan nama ibu
dan kapan terakhir bertransaksi
(aku bertanya lagi, karena tadi kudengar
kata transformasi, atau transisi)

“Apakah di rumah Anda memelihara hantu?”

“Kapan terakhir Anda berbicara
dengan anak-anak atau melihat dia tertidur
dengan mimpi yang tak kau kenali lagi?”

Aku tak sempat menjawab,
ketika sebuah notifikasi muncul di layar
telepon pintar: manfaatkan tawaran terakhir
diskon untuk kavling terbaik San Diego Hill.

Matilah dengan mudah,
bayangkan upacara pemakaman
dengan duka cita yang mewah.

6.

Angin busuk, dari bangkai yang disembunyikan,
seseorang hendak diselamatkan dengan pidato
yang ditulis oleh penulis teks iklan.

Angin lebih busuk, berhembus dari bait Thukul
memperbusuk udara yang semakin busuk, yang melekat
di tiang-tiang penyangga MRT, yang tak tercium
oleh penumpang, yang naik di Lebakbulus, dan
turun di Senayan, melewati taman-taman yang
hendak ditanami Sansevieria, lidah mertua.

Aku tiba-tiba lapar, dan ingin makan sate.

7.

Kota ini, tumbuh dan tersiksa
takut dan kesepian, tak lagi menjadi
diri sendiri, dan ditinggalkan, atau
menerima tamu-tamu yang tak saling mengenal,
“Aku ini siapa? Penjaga stand pameran kerajinan
atau bursa otomotif? Festival hijrah, konser
reuni Slank, atau pesta stand up comedy?”

Kota ini tak mengerti apa yang dia tanyakan itu,
seperti aku tak tahu kenapa harus ada di sini.

Berdiri bego, di depan spanduk dan umbul-umbul.

8.

Dengan menunggangi kemacetan, massa
yang berarak-arakan, dengan bendera dan
menyerukan nama Tuhan, semacam pelesir
membawa fatwa, mengelilingi segala kemungkinan

Kita bisa tiba-tiba berada di mana saja

Juga di tali gantungan yang tadi menjelma
dari jatuhan hujan, atau menjadi seiris bahan
pada lembar preparat, atau di pintu penjara
yang lain, di sebelah kepala daerah yang baru saja
dibawa ke Jakarta, setelah operasi tangkap tangan.

Seorang penyair berlatih, cara terbaik
membacakan, “Hanya ada satu lawan: kata!”

Lalu ia pergi, katanya ia hendak mencari
orang-orang yang dulu hilang dan dihilangkan.

9.

Sungai dan dam, waduk dan genangan,
hujan lebat tadi juga menjadi jaring di atasnya
(memang, ini semakin jauh dari sajak imajis)
gagasan-gagasan yang mati dilemparkan
ke sana, meracuni air yang mengalir
ke pipa-pipa ke rumah kita, melalui
truk-truk tangki, atau galon air bermerek
dengan huruf, A, Q, U dan A.

Itulah jalan keluar paling mudah,
untuk masuk lagi ke persoalan yang sama
yang tak pernah bisa kita selesaikan.

Kita tak segera mati,
tapi tubuh kita telah menjadi kuburan,
mayat-mayat tak selesai ditimbun,
kika bertengkar, tentang apa yang harus
dituliskan di batu nisan, sebelum
doa pengantar selesai dibacakan.
10.

Kota ini perlu lebih banyak museum
dan waktu luang, taman yang tak jauh dari
stasiun, dan cukup sepersepuluh kursi
lembaga perwakilan, ruang-ruang mesum Senayan.

“Kami tak pernah minta mereka menjadi
perwakilan kami,” kata pedagang buku bekas,
yang sedang membungkus rapi
buku “Risalah Sidang BPUPKI,
“Ini buku langka,” katanya, “sangat langka.”

Aku berlalu dari lapak itu

“Saya ada di Tokopedia!” teriak si pedagang
sambil mengunggah gambar
dan mencantumkan harga.

11.

Cinta mungkin ada di jalan ini,
jalan kecil antara Sabang dan Kebon Sirih
pada jam makan siang, dan pegawai negeri
punya alasan untuk menunda pekerjaan,
dan karyawah swasta sembunyi sebentar
dari target dan laporan.

Cinta mungkin ada pada sepasang cicak
di balik lambang Garuda Pancasila, yang
bergelut hingga putus ekor si jantan

Cinta mungkin ada pada nama Tuhan
yang kita teriakkan dengan yakin,
untuk menutupi keraguan kita.
Jakarta, 2019.

 

Lorem Ipsum

YA, jelaskanlah lagi kepadaku
tentang apa-apa yang keliru:
aku ingin sebentar saja bersenang
tapi kau katakan itu adalah salah,
dan kenapa untuk bisa berbahagia
aku harus lebih dahulu menimpa dan
menyiksa diriku dengan derita?

Sampaikanlah kepadaku tentang
apa yang engkau temukan sebagai
kebenaran itu. Apa yang benar-benar
membuat manusia, aku dan kamu bisa
berbahagia? Dan apakah bahagia itu?

Beritahu aku tentang bagaimana
aku harus tertawa agar kau tak lagi
perlu mencela dan tawaku itu juga
tak kau anggap sebagai suara hina.

Aku ingin bisa sejenak bersenang,
sekadar bersenang, agar tetap menjadi
manusia, aku ingin tertawa, sekadar
tertawa, agar tetap menjadi manusia.
Beri tahu aku apakah senang dan tawa
itu adalah dosa? Dan apakah dosa itu?

Atau tawaku itu harus kuanggap sebagai
suara sakit dari dalam jiwaku? Sakit
dari kerja dan lelah? Beri tahu aku,
jelaskan padaku. Aku ingin tertawa dan
kini aku merasa rasa sakit itu
mengepung tawaku. Menawarkan rasa senang
yang tak kukenal itu. Apakah rasa sakit
itu? Apakah rasa salah itu?

Aku kini berlari jauh dari diriku,
pada lintasan yang menguji tubuhku,
garis batas yang beranjak jauh
meninggalkan aku. Tak ada tepuk
tangan, tak medali, tak ada
ucapan selamat menanti aku.

Atau aku harus duduk di kedai minum itu?
Dengan atau tanpa dirimu. Sepanjang waktu?
Menikmati tawa yang sama, menertawakan
rasa sakit yang pernah kucintai itu.