Horoskop (1) – Capricorn

Capricorn
(21 Des – 19 Jan)

HIDUP adalah kalimat
panjang. Aku harus bicara
keras dan lekas, mengucapkan
namaku dalam kalimat itu,
dengan berbagai kata kerja
besar yang menyertainya,
berkali-kali, agar kau
mendengar jelas apa yang
kauucapkan. Berapa kali
harus kuulangi lagi mengucapkan
kalimat panjang itu untukmu?

Asmara: Cinta adalah tali
yang mengikat aku dan kamu,
tak peduli siapa yang
terseret siapa yang menghela,
karena belenggu ini mengekang
dalam rengkuh-rangkum bahagia.

Obituari

        : pakde totot

YANG menyedihkan
dari obituari ini
adalah aku menuliskannya untukmu
tapi engkau tak akan
pernah membacanya

Begitulah selalu
sebuah kebaikan dan kenangan baik bekerja
terlalu nyata adanya,
dan tak pernah benar-benar siap
kita untuk mengakui
ketika semua sudah tak lagi ada.

Kita tiba-tiba
jatuh terjerembap
terlempar dari jarum jam
yang rapuh benar dan
sangat besar itu

Kita dilerai pandangan waktu
yang dulu mempertemukan kita
dalam hidup yang sedikit sempat
menghidupkan pertemuan kita

Kita membicarakan apa yang
mungkin bisa kita hidupkan:
buku, cerita, galeri, juga iklan,
atau bioskop misbar di sejumlah kota.

Atau seperi misalnya apa yang
terakhir kali kita lakukan
memperdebatkan segelas kopi susu
(pilihan yang berarti
semacam negosiasi dengan usia, lambung,
dan kadar kafein yang sanggup kita tahan)
sepiring kentang goreng,
pada suatu sore yang sok asyik menata diri
di sebuah kedai di Tjikini.

“Aku sekarang
ingin sebanyak-banyaknya
membantu orang,”
katamu, seperti sebuah sesal,
padahal itulah yang selalu engkau
lakukan selama ini.

Brengsek,
kenapa aku selalu kikuk
di hadapan kematian…

Apakah karena hidup yang baik membawakan
kematianmu pada hari Minggu?
Saat yang seakan mau mengatakan:
matimu adalah pergi liburan
ke taman kehidupan lain
ke tempat yang tak ada lagi waktu
ke tempat di mana engkau bisa benar-benar merayakan kehidupan
ke tempat di mana engkau bisa
         ketemu dan ngobrol sama Tuhan:
         Tuhanmu, Tuhanku,
         Tuhan kita itu.

Untuk-Nya, aku titip salam,
berkas doa kami untukmu pasti sudah ada di meja kerja-Nya.

(dan pasti akan Dia kabulkan)

 

Tuhan, Manusia, dan Air Guraka

untuk Ibrahim Gibra

TUHAN tanam pala, lalu manusia mencetak peta
Tuhan buat pulau, lalu manusia bangun benteng
Tuhan putar waktu, lalu manusia menari Soya-soya
Tuhan gali laut, lalu manusia tebang bambu
Tuhan lepas ikan, lalu manusia nyalakan api
Tuhan pasang gunung api, lalu manusia jadi petani
Tuhan beri kemungkinan, lalu manusia angkat sultan
Tuhan turunkan kitab, lalu manusia bikin kapal

Lalu, apa Tuhan ingat kenapa ia kirim kenari ke mari?

Yang dengannya orang Ternate bikin kue-kue, rebus
jahe, sama pala, tambah gula aren, pakai pandan,
mengepul di pangkal malam, ditebari serpihan bulan

dan aku meminumnya, bikin badanku mempertinggi suhu,
sehangat mata seorang lelaki, yang bersamamu menyelam
ke dasar karang, ke teras yang menghimpun bayi kerapu.

Tuhan bikin manusia, lalu dia kirim aku datang ke mari
ke pulau-pulau dengan angin menarik kenari menari.

Ternyata Ternate, 1

PADA pekik sirine kedua
dari kapal besar
ketika di tampuk menara
azan subuh bersandar

hujan menemukan musimnya
melapisi dingin yang germinal
seseorang tidur di kios pulsa
mimpi dengan empat garis sinyal

lewatlah angkutan kota
dengan dentam Pance Pondaag
membawa-bawa masa lama yang lama
yang tak hendak enyah

dalam sisa & selisih zona waktu
tersekap dinding bastion Kalamata
Ternate, ternyata, menyimpan lapisan peta
untuk sejarah yang terlalu Jawa

Gambang Semarang

untuk Triyanto Triwikromo

SEMARANG adalah warung soto dalam mangkuk kecil, sendok pendek, dan pilihan tambahan sate kerang atau perkedel ubi, udara panas, dan pengumuman kecil di dinding: pengamen dan pengemis khusus hari Jumat.

Semarang adalah warung tenda pagi hari, dengan opor ayam, mangut mayung, dan tempe garit, tukang becak, pedagang pasar Johar, teh tawar, dan jalan lebar yang membuat aku bertanya: berapa ratus meter lagi aku akan bertemu apa: Indomaret? Atau Alfamart?

Semarang adalah kompleks kota tua, kafe yang disulap dari kantor penguasa kolonial dan aku menyimak seorang penyair bercerita tentang bagaimana menuliskan riwayat pengusaha teh, dengan kata-kata Mao, petikan Kafka, dan Kawabata.

Semarang adalah penjual koran tua, menyerah di trotoar dengan lembar-lembar eksemplar harian yang mengempis dan aku melihat berita risau dari matanya yang seakan mengatakan: aku tahu kau tak akan membeli apa yang kujajakan ini.