Serial puisi dari pentas Perempuan-Perempuan Chairil (2)

Processed with VSCO with m5 preset
Chelsea Islan, Reza Rahadian dalam sesi latihan pentas “Perempuan-Perempuan Chairil”. Foto oleh Mawan Kelana untuk Titimangsa Foundation, 2017.

 

Segera Kupadamkan Lampu Beranda

 

KAU mungkin telah menemukan cinta itu dalam diriku
tetapi aku mencari sandaran pada daratan yang lain

Kau meneriakkan kesunyianmu dalam bahasa yang kumengerti
tetapi aku bicara bukan dalam bahasamu dan tak kepadamu

Kau datang, dan kubuka pagar, dan aku tertawa bersamamu
tetapi petang matang, dan segera kupadamkan lampu beranda

Kau melihatku bicara, berjalan, berdansa, bernyanyi di atas
panggung itu, tapi itu orang yang lain, tapi itu bukan aku.

 

 

Iklan

Serial puisi dari pentas Perempuan-Perempuan Chairil (1)

Processed with VSCO with b5 preset
Tara Basro dan Reza Rahadian dalam sesi latihan”Perempuan-Perempuan Chairil”. Foto: (c) Mawan Kelana  (Titimangsa Foundation), 2017

 

Seluruh yang Hanya akan Meluruh

 

KITA sudah coba bertahan
dalam gema dari suasana yang kacau
mempertahankan nafas
dan hati tunggang-langgang,
mimpi besar,
cinta mengunggun api,
kehendak lekas berlari,
keluar dari hempit-sempit ini

: keraguanmu dan kepicikanku

Jika masih kita bisa berpelukan jua,
ini yang terakhir kali
sebelum, tak ada lagi kita

: kau pulang
kemudian kehilangan dirimu,
dan aku pergi membawa
dari rebut sia-sia
seluruh
yang hanya
akan
meluruh (baca: hilang)

 


Catatan: Kepada Titimangsa Foundation, saya meminjam foto-foto  dari latihan sebelum pementasan “Perempuan-Perempuan Chairil”.  Saya tahu, latihan-latihan itu  keras sekali. Melelahkan. Tapi banyak hal puitis terjadi selama sesi itu.  Saya ingin mencatat momen puitis itu ke dalam puisi.

Apakah Puisi?

UPAYA mendefinisikan puisi sama menggelisahkannya dengan menuliskan puisi itu sendiri. Menulis puisi masih dipercaya adalah juga upaya menantang definisi puisi yang sudah pernah ada sebelumnya.

Tapi apakah memang puisi adalah bentuk seni bahasa yang tak terdefinisikan?  Saya bukan hendak menantang ketakmungkinan itu. Saya hanya ingin berijtihad membuat definisi yang juga memberi ruang dan menampung  penulisan puisi yang hendak menantang dan membongkar definisi itu.

Inilah ijtihad saya:

1. Definisi Internal (Dasar)

Sebuah entitas kebahasaan lisan atau tulisan yang dibangun dalam satu struktur yang unik dengan mempertimbangkan pendayagunaan potensi bahasa atau juga tanda-tanda lain untuk mencapai taraf estetika dan pemuatan kandungan pesan dan makna tertinggi.

2. Definisi Eksternal (Meluas)

Situasi atau suasana yang terindera yang hadir atau bangkit dari sebuah benda, gejala, peristiwa, dan atau tanda, yang melampaui kecukupan atau bahkan ketiadaan atau kekosongan makna asalnya.

Uraiannya menyusul.

 

Allium, 3

       MUNGKIN aku gurih kuah pada mangkok santapanmu, mengingatkan kepada doa-doa yang terlupa.

       Mungkin aku rasa yang menyentuh pucuk syaraf lidahmu, sebagai kecup yang tak menunggu bekas.

       Mungkin aku hangat yang ditafsir oleh tubuhmu, sebagai peluk tangan dan tubuhku yang tak hadir.

       Mungkin aku cinta yang mampu bertahan, dengan rindu dan kehilangan yang makin tak tertahan.


:: Ide puisi dari sketsa Putu Fajar Arcana.

 

Allium, 2

       BAGAIMANA caraku menyimpan aku dalam cintaku itu? Seperti kulit bawang yang tipis, terus tumbuh tekun, selapis, lalu selapis. Aku mungkin seakan dalam perangkap yang kuat di sana, tapi aku memang tak ingin ke mana-mana.

       Bagaimana caraku menyembunyikan tangisan dalam diam itu? Kau tak tahu sampai seseorang – mungkin juru masak yang hendak menyajikan makan malam untukmu – mengiriskan pisaunya, dan air mataku sampai ke matanya.

 


:: Ditulis sebagai tafsir atas sketsa Putu Fajar Arcana di akun IG-nya.

Berjalan dari Gerbang ke Galeri Cipta III, Taman Ismail Marzuki, Cikini

TENDA besar ditegakkan dan terpal lebar ditikarkan, di lapangan parkir.  Emha dan orang-orang datang dengan wajah-Nya, yang tersingkir, datang dengan suara-Nya, yang tak didengar. Hujan turun. Mengumpulkan orang-orang malang dan orang-orang beruntung dengan dingin yang adil dan merata.

Trotoar platenarium semakin lebar. Mahasiswa IKJ pulang dengan gulungan kertas gambar. Segerombol remaja berfoto bergantian di tiang-tiang  dengan juntaian kabel. Lampu tak menyala. Gedung-gedung apartemen meninggi. Senja turun.  Mengiringi orang-orang dengan redup yang rutin dan terjadwal.

Jassin pulang. Memeluk tas kulit. Koyak di beberapa bagian. Tak lagi berfungsi reslitingnya. Membawa beberapa puisi yang belum sempat ia gunting. Ia menyapa Bng Maing. Duka turun. Jassin menghapus air di matanya, dengan sapu tangannya. Hujan menyamarkan tangis di mata Bang Maing.

Di sudut Graha Bhakti Budaya, Bang Jose, mencari cara pada Samsungnya, bagaimana mendapat sambungan wifi. Ia ingin membaca email dari Putu Wijaya. Kiriman naskah yang akan dimainkan Teater Tanah Air, pada festival di Jerman. Tawa turun. Menyebar dari suara ke suara anak-anak yang sedang berlatih berlakon.

Di depan XXI, Afrizal memandangi ponselnya. Ia mungkin mengetik puisi yang musykil pada alamat penjemputan aplikasi ojek online. Atau mengecek jadwal film, yang bisa dengan mudah dia lihat poster di dalam sinema. Malam turun. Bayang-bayang Afrizal dipermainkan, lalu lalang kendaraan.