Di Sebuah Kedai Kopi di Daik Lingga

PADA kopi kedua
dan nasi dagang kelima,
(mungkin enam)
ingin benar aku
menyiulkan Sinatra
diam-diam
untuk serombongan orang Singapura
yang tadi menghabiskan laksa
dan membiarkan sisa busa teh tarik
pada bibirnya

Kulihat Hasbi memainkan kamera
mencari kombinasi yang tepat
antara rana dan diafragma
sebelum memotret
anak-anak pagi jalanan
berlari menuju sekolah
(dan mungkin masa depan)

“Atuk kami, dulu,
juga sekolah di situ,”
kata seorang orang Singapura itu
bercakap dengan masa lalu

Di dinding kedai
ada repro gambar sultan riau terakhir
dengan ekspresi yang cemas
dalam ingatan dan kurungan bingkai
dimakan anai-anai

Iklan

Aku Pemenang yang Kalah

SEJAK semula aku telah tahu, akulah yang akan
jadi pemenang dalam pertandingan yang memilih
siapa yang paling kalah di antara kau dan aku.

Sejak semula aku telah tahu, namaku tak akan
disebutkan, pada menit terakhir itu, seseorang
akan naik podium, menerima medali berupa kamu.

Baju dari Ibu

: fatih

IBU menyatukan sisa-sisa kain lama
dari lemari di dekat mesin jahitnya
lalu ia memanggilku, dan mengukur
lebar pundak dan lingkar leherku.

“Aku akan membuat baju untukmu,”
kata ibu. Mungkin, itu hadiah karena
aku baru saja menamatkan juz ‘amma.

Ibu pandai memadupadankan, kain-kain
perca itu, menjadi semacam kolase,
berbagai warna: sepotong batik cetak
dari seragam kakak, merah sisa bendera,
gambar spanduk partai, dan tentu saja
kain bekas karung tepung terigu.

Aku memakai baju itu, ke rumah guru,
mengaji dengan tajwid dan lagu, seperti
seorang qari, dari kaset masjid kami

“Apakah itu baju buatan ibumu?” tanya
guru mengajiku, ketika aku pamit malam
itu. Aku mengangguk. “Ibumu pandai
menyembunyikan, apa yang tak bisa ia
lupakan,” katanya, seperti memperhatikan
bagian kain hitam, di bagian dada bajuku.

Ijtimak Ayah dan Anak

ANAKKU menggambar segelas cappuccino dengan gambar seperti wajahku pada permukaannya. Dan barista terkapar di samping mesin espresso yang masih menyala. Dari hidung barista itu menyembur uap panas. Dia belum mati. Tapi tak ingin hidup lagi. Buih susu meleleh pada ranting meja. Waktu yang selengket gulali, dari kanvas Dali.

Anakku mewarnai sisa ruang kosong pada gambarnya, dengan Faber Castell. Merah yang tak terduga. Siapa tadi yang memesan cappuccino itu dengan gambar wajah yang buruk pada permukaannya? Ia menuliskan kalimat tanya, pada sudut kertas. Apakah itu judulnya? Aku bertanya. Bukan, itu pertanyaan yang tak sempat dijawab oleh si barista, sebelum kuputuskan ia terkapar dalam gambarku ini.

Melawan Luka

KAU pergi
setelah vonis pengadilan itu
aku kini tahu hukum adalah soal kekuasaan
bukan perkara kebenaran

Maka kau pergi
Dan aku akan melanjutkan
tangisanmu yang
belum selesai
merawat luka kita dengan melawan
luka yang kau tinggalkan
yang tak akan tersembuhkan

Dermaga itu seperti
halaman akhir roman
seorang pengarang
yang dibuang jauh, diasingkan
tanpa pengadilan
karena itu dia tahu hukum adalah soal kekuasaan
bukan perkara kebenaran

Aku catat itu, dan yang lain
apa yang tadi sempat kau bisikkan
: Kita sudah melawan, Sayang
secermat-cermatnya
seperih-perihnya.