Metaplasia

BATU berdiam menandai tubuh tanah –
tanah menyimpan hilangnya batu

Tanah menangkap langkah binatang –
pemburu menciumi jejak-jejak darah

Pemburu mengelus-elus tubuh senapan –
senapan merasakan rahimnya panas

Senapan mematangkan mesiu dan peluru –
peluru mati sebelum tanah, atau darah

Darah tak pernah meresap ke dalam peluru –
darah meresap ke dalam batu dan tanah

Pemburu menggantungkan lelah dan senapan –
di dinding petang, pada tanduk hewan buruan

Pemburu ditimbun dalam liang dalam tanah –
di atasnya sebongkah batu tanpa darah

 

 

 

Iklan

Aplasia, 1

KARTU ATM yang tert-
buku-buku gerakan ki-
dan partai-partai Isl-
paspor dan botol antisept-
selebaran pertunjukan tea-
sebuah kelompok dari Je-
biografi politik Ir. Sukar-
gumpalan tisu mencarik-
kacamata baca +175 yang pe-
Tanda bukti transak-
buku AD/ART Partai Demokr-
yang mengampas dan yang mengen-
file PDF yang gagal diund-
mentega, mentega, mentega,
pisau memotong mangg-
…. (dst, dst, dst).

 

 

 

Profesor Sondelur dan Kasus Hidung Petrukio

Cerpen Hasan Aspahani

            BAGI Dokter Trompi, Menteri Petrukio adalah pasien istimewa.  Jadwal perawatannya tak boleh digeser.  Tim yang menangani pun terdiri dari tenaga medis terbaik yang dimiliki kliniknya. Menteri Petrukio secara berkala menjalani operasi perbaikan pada hidungnya.  Tepatnya, pemendekan.  Hidung Menteri Petrukio sebenarnya sempurna dan menyempurnakan  ketampanannya.  Mancung memang, tapi ada kelainan yang membuatnya harus menjalani operasi setiap tiga bulan. Hidung Menteri Petrukio selalu tumbuh, bertambah panjang.

Seperti Pinokio dalam dongeng Carlo Collodi? Betul, seperti itu.

Dari catatan medis Dokter Trompi, tiga bulan adalah waktu yang pas untuk operasi, karena pertumbuhannya baru mencapai satu setengah sentimeter. Pernah, Menteri Petrukio melewatkan jadwal operasi sampai enam bulan. Apa yang terjadi? Hidungnya memanjang hingga sembilan senti. Dokter Trompi mengambil kesimpulan, lewat dari tiga bulan, akan ada eskalasi pertumbuhan yang dipicu oleh hormon baru itu, hormon yang belum dikenal dalam dunia medis.

Lanjutkan membaca “Profesor Sondelur dan Kasus Hidung Petrukio”

Sementara Mereka Beradu Tagar

APAKAH aku tak boleh menulis puisi tentang kunang-kunang
yang terperangkap di matamu, ketika nilai kurs dolar
akan terus meninggi, dan mengacaukan anggaran negara?

Apakah aku tak boleh menulis puisi tentang kenanganku
pada aroma tubuhmu, ketika jaminan kesehatan nasional
defisit dan tanggungan beban subsidi bahan bakar kian berat?

Apakah aku tak boleh menulis puisi tentang betapa sia-sia
upayaku melupakan kamu, sementara mereka beradu tagar:
2019gantipresiden dilawan dengan 2019satuperiodelagi?

Monolog Singkat Hang Tuah

YANG berasal dari laut, akan kembali ke laut

tapi perjalanan itu melewati sungai yang berbeda
mengalir di sungai yang tak ada

Apa yang mempertemukan kita sebenarnya, Hang Jebat?
Geram marah itukah?
Pada bandit merampas sisa penjualan pati sagu?
Pada lanun yang membakar kapal kayu?

Kenapa kita berbaiat pada Sultan, Hang Kasturi?
Karena marwah melekat pada cap plakat?
Karena tali yang mengikat kita pada kaki kursi singgasana?

Kenapa kita setia pada kerajaan, Hang Lekiu?
Karena hanya dengan ini, tak akan hilang Melayu di bumi?
Dengan keris yang kita rebut dari tangan Taming Sari?

Kita ternyata tak banyak tahu
tentang siapa yang duduk di tahta itu
kita hanya berbaiat dan setia,
dan karena itu Melayu menjadi adat dan menjadi ada
dalam darah yang membuka luka-luka, mengalir,
menjadi sungai yang berbeda,
sungai yang tak ada

Dan kembalilah kita ke laut, mengingat asal kita.

 

Sebelum Bendahara Memanggil Dia Kembali

: Laksamana Hang Tuah

SEBERAPA tuakah usia sebuah fitnah?

Dia telusuri pesisir yang tenang,
pantai yang hilang, yang disembunyikan
dan menyembunyikan dia dari mata dan tangan Istana.

Seorang nelayan berdiri di lunas perahu
dan menyerukan namanya yang lain, sebelum
sampai ke dermaga kampung,
seekor hiu menggelepar di ujung tempuling.

Sekelompok anak memahirkan diri
dengan silat yang dia ajarkan,
menguji pukulan pada gelombang,
menangkaskan tangkisan.

Angin yang hangat dan basah,
membawa juga sedikit bau barah

Seorang pandai besi, menyelesaikan keris
yang tak ia mengerti, kenapa begitu elok luk dan lekuk itu,
ia takut, lalu dibuangnya ke laut.

Seorang perempuan, memanggilnya, mengingatkan
waktu yang senja, memastikan air sembahyang tersedia.

Nasi gubal dan gulai sudah dihangatkan.

Seberapa lamakah seseorang bisa mengelak dari sebuah fitnah?

Ia menunggu di sebuah teluk yang dikawal oleh orang laut
sampai utusan Bendahara datang menjemput.

Sejumlah Apakah, Sejumlah Adalah

APAKAH rindu? Rindu adalah aku
merampok, semua apotek, kau sejenis
obat yang telah kucandui, mereka
tak menjualnya lagi padaku

APAKAH hampa? Hampa adalah
aku di perahu, memegang dayung,
tapi kemarau menanduskan sungai
ini, sungai yang menujukanku padamu.

APAKAH dendam? Dendam adalah aku,
mendung besar berhalilintar.
Kukira yang akan kucurahkan
padamu adalah rintik api

APAKAH dingin? Dingin adalah
derajat baru yang ingin kutetapkan,
mengukur suhu hatiku. Mungkin
satuannya akan kupakai namamu

APAKAH rumput? Rumput adalah kau
keluar subuh, kakimu telanjang,
melacak jejak disamarkan embun.
jejakku yang pergi terburu

APAKAH tidur? Tidur adalah mimpi
yang menarik tanganku, memberat di
pelupuk mataku, dan ia membincangkan
cerita tentang engkau

APAKAH buku? Buku adalah aku menyelam,
teluk tenang, menjemput sejilid
cangkang kerang. Kau pendar mutiara
kubaca di lembar itu

APAKAH rumah? Rumah adalah tubuhku
menutup pintu. Hatiku menunggu, jika
engkau tak mengetukku, kukira akan
ada firasat kupu-kupu

APAKAH haus? Haus adalah mulutku
musafir, bibirmu kukira teduh oase,
rinduku padang pasir, ah, engkau
fatamorgana, hanya

APAKAH lapar? Lapar adalah aku
melewatkan jam makan malam, memandang
saja apa yang terhidang di meja,
engkau tak ada di sana

APAKAH malam? Malam adalah ketika
aku membelakangimu, tak menatap
cahayamu, sebab engkaulah matahari
bagi siang kesadaranku

APAKAH arus sungai? Arus sungai
adalah engkau di muara itu, menunggu,
aku tak bergegas, sebab aku pasti
akan mengalir dan sampai padamu

Sumber: Sejuta1Puisi, Mei 2010