Waktu Malam

WAKTU malam adalah siang

hati yang subur
peladang sedang pulang

Waktu yang bunga
waktu yang madu

Waktu lebah tahu ada yang mekar
hanya pada waktu malam

Iklan

Bulan Purnama – Alice Oswald

oswald-devon_trans_NvBQzQNjv4BqJ0zd-KWzTJBDizhRSplkloJQn4ZHscCdfk4g9A2bPEk
Alice Oswald

Alice Oswald
Bulan Purnama

Tuhan yang baik!
Apa yang kumimpikan malam semalam?
Aku bermimpi aku adalah bulan kemimpian.
Aku terbangun dan kulihat aku masih bermimpi.

Lihatlah: wajahku berkabut dari dalam kabut
Dan aku datang dan pergi pada lubang intipan.
Aku tak bersuara, tak ada mulut, tak bisa teriakkan bahaya,
kecuali bayanganku yang jatuh menyilang, tak setimbang.

Ada yang harus dikatakan untuk jelaskan cahaya bulan.
Yang nyaris beku tapi lunak, hampir repuh tapi utuh.
Nyaris air seluruhnya, yang tegas mengucap suara
Tidak bawa apa-apa, menantang terang, merekah cerah.

Seakan dalam hutan, berdesakan bentuk bertudung,
Kepala mereka membeku bersama, saling tiada saling meniada,
Ada makhluk-bulan, makhluk-suara, seperti kijang, separuh-kijang
Melintas di sana, matanya menembus benda-benda.

Lihatlah: tampak tak tampak tampak tak tampak.
Tak ada zat yang berbagai zat seperti cahaya bulan.
Aku meninggi, melekat di dalam tulang sendiri, menduga-duga:
Tuhan yang baik! Siapakah aku yang semalam aku?

Impromptu, 1

SEORANG perempuan berjalan ke arah kebun teh. Ia terburu-buru menyusul teman-temannya yang sudah sampai di setengah pundak bukit. Ia membawa keranjang dan gunting besar untuk memetik teh. Air di kali kecil bergegas mengimbangi kemiringan lereng. Cahaya matahari membuat embun hangat. Semak mawar meninggi bunganya adalah bintang-bintang turun semalam. Tak mau kembali. Mungkin nanti ia mau bergabung dengan pelangi. Langit juga tak menanti dan tak peduli. Langit membuat rencana lain dengan sangat sabar. Seperti tak berususan dengan waktu. Setiap kali ada bintang lahir di langit, juga bintang yang hilang dan mati.

VI. Prelude to Attitude

conrad-aiken-interview
Conrad Aiken (1889-1973)

Conrad Aiken (1889-1973)
Elu-eluan bagi Leluri (Prelude to Attitude)

VI

Ini bukan engkau? frase-frase ini bukan engkau
Ayat-ayat tentang buah delima itu bukan engkau?
Cerah hijau daun itu bukan engkau, juga buah emas
yang terbakar di sela daun, buah emas panas itu,
Atau burung, dahan, batang kayu, atau biru surga?
O, sayang, aku telah bernyanyi dengan sia-sia.

Biarkan aku mencari sekali lagi pada lembar-lembar
kamus riang Cupid, dan di sana menemukan
kata dari kata-kata, benih dari benih merah menyala,
Suara dari suara berkilauan; dan lain dari semua ini
Bayangkan satu lagi kecantikanmu, karena matamu
mata manis menikam, mata tak akan terhinakan

Lanjutkan membaca “VI. Prelude to Attitude”

Rumah Tua

Ini puisi? Ya. Saya bisa menikmatinya sebagai puisi. Bisa ditakar dengan kaidah puisi. Saya suka. Penulisnya sudah dan punya potensi besar untuk bekermbang menjadi penulis puisi yang baik. Saya memuji bukan karena dia menjadi moderator saat diskusi sesi saya di Kemah Sastra IV di Medini, Ngesrepbalong, Limbangan, Kendal, Jateng, 4-6 Mei lalu. 🙂

Saklar Rusak

Rumah tua. Tempat menyuci segala patah arang. Tempat ternak memamah diri sendiri. Babi hutan, anjing buduk dan monyet tolol mati menggelepar di tengah rindu.

Deru ombakmu. Ombak-ombakmu. Di tubir dadamu sendiri. Kau sendiri terpingkal dan terperanjat ingin menuntaskan drama dan sinema. Ada matamu. Memantulkan anjing mati dan rasa misuhku.

Kanji lengket. Perekat ketabahan. Ketaatan rindu dan proses memakamkan paling panjang rasa sesal. Tolol di pelihara sebagai babi hutan, anjing buduk dan monyet tolol dalam rumah tua.

Ini rumah tua. Tempat pisuh menjadi asah. Lewat sekilas menjadi asuh. Dan kau memaafkan asu dalam dirimu juga asu dalam diriku.

Amin

Lihat pos aslinya

Kata Sekelompok alias Kolokasi

klinikpuisiPERHATIKAN kata-kata berikut: melirik, melihat, menatap, menonton, mengerdip, mengerling, mengerjap, memicing, melotot, membelalak, memandang, mendelik, membeliak, memejam.

Apa yang menyatukan dari semua kata kerja di atas? Semuanya berkolokasi, semuanya adalah kata kerja yang dilakukan oleh manusia dengan matanya.

Beberapa kata di atas selain berbeda, juga punya kedekatan makna dengan beberapa kata lain. Tak sepenuhnya sama, ada nuansa makna yang kaya. Kekayaan itulah yang harus dipetakan, dirasakan, dan diberdayakan oleh penyair dalam puisi-puisinya.

Lanjutkan membaca “Kata Sekelompok alias Kolokasi”