Lagu Trubadur – Edward Hirsch

Lagu Trubadur
Edward Hirsch

Terbangun di pagi musim dingin
     menjelang aroma laut
dan berlagu tak tentu tuju,
     betapa hampa padaku tiba.

Aku bermimpi menunggang kuda
     di sepanjang pantai lengang
di mana kami jauh berlari
     hingga hilang di lepas pandang.

Kami berpacu melewati mercusuar
     terbengkalai di bukit pasir
dan berhenti di kandang kecil
     yang tinggal reruntukan.

Terbangun di pagi musim dingin
    menjelang aroma laut
dan berlagu untuk yang tak ada,
     betapa hampa padaku tiba.

Kami mendaki gigir paling tajam
     di daerah yang tak ada, di laut.
Kuda itulah hanya yang tersisa
     dari apa yang kuinginkan ada.

Kami di derah yang dalam untuk diam
     dan tak ada lagi yang tampak ada,
maka kami berdua berjalan
    ke arah pemakaman.

Terbangun di pagi musim dingin
     menjelang aroma laut
dan berlagu tak tentu tuju,
     betapa hampa padaku tiba.

Iklan

Memadatkan Bahasa: Maka Maknanya Makin Bertambah-tambah

Oleh Hasan Aspahani

SEJAK kapan pengarang Indonesia punya kesadaran untuk memadatkan bahasa, dalam arti menulis dalam bahasa yang sebaik-baiknya, seringkas-ringkasnya, akan tetapi pada nas atau teks yang tersusun itu termuat makna yang seluas-luasnya?

Sejak kapan pengarang Indonesia percaya bahwa bahasa Melayu (yang kelak dalam satu percabangan perkembangannya menjadi Bahasa Indonesia) punya potensi untuk menjadi alat ucap yang efektif juga potensi estetis?

Lanjutkan membaca “Memadatkan Bahasa: Maka Maknanya Makin Bertambah-tambah”

Malaikat Malang – Edward Hisrch

Malaikat Malang
Edward Hirsch

Pada jam ketika jiwa melayang tak berbeban
lewat jalan kota, senyap dan tanpa tampak,
tercengang oleh bauran asap kelam-cerlang
menyesap pada udara, gelap setengah-takar

senja begitu saja memenuhi langit kota
sementara tubuh itu duduk lesu ambang jendela
murung dan limbung, terlalu lelah untuk bergerak,
terlalu penat untuk berdiri pun untuk sekadar rebah.

Pada jam ketika jiwa seperti sayap kuning
nyelinap menembus pucuk pohon, sedikit senang
di atas trotoar awan mengambang, memanggil
malam mendekat, “Takjubkan aku, takjubkan aku,”

sementara tubuh itu duduk murung ambang jendela
mendengarkan panggilan yang pasti dari si mati
telus sebagai kaca, tembus laksana kristal. Malam
lalu malam, lalu mereka nyaris terpersatukan.

Oh, ini pengekangan yang aneh dan tak biasa,
tautan murka antara yang cepat dan yang lambat:
ketika jiwa terbang, tubuh akan terbenam dan
sepanjang malam — terkunci di ruang sempit yang sama —

mereka terus bertengkar, dengan bebal mengancam
saling meninggalkan, tanpa kata mengisi udara
dengan lirih suara yang terbakar dari dalam.
Berapa lama persandingan berantakan ini bertahan?

Di tengah malam, jiwa bermimpi seunggun api
bintang menyala di sisi langit yang lain,
tetapi tubuh memandang kemilau malam kosong,
kegelapan bermata hampa. Nasib buruk malaikat,

kesumat cinta lama: belum terleraikan jua.
Biar yang fajar hidup bersama yang menyenja.

Sesaat adalah Abadi

NAMAMU adalah namaku yang kurang hurufnya
aku memanggil dengan suara yang berlubang
tercoblos pada tempat yang tak seharusnya

Namamu adalah namaku yang segera terhapus
kembali ke kolom kartu tanda penduduk asing
tercecer di lapangan orasi calon presiden

 

Bangun Pagi dan Ingin Tidur Lagi

BANGUN lagi
dengan putih pagi seperti
lembar besar silang teka-teki
untuk pertanyaan-pertanyaan yang mati

Telah jauh percakapan
sejak semalam ketika kita
berangkat dan berjanji
bertemu pada satu titik dalam satu mimpi

Mungkin akan ada jawaban
mungkin akan ada diam yang panjang
kotak-kotak kosong teka-teki
untuk kita: kata,
berbagi huruf yang sama.

Suatu Pagi di Kedai Kopi di Sebuah Pasar

DANGDUT dengan lirik yang beberapa kali mengulang kata geli. Mancis bertahan dari lupa pada tali rafia. Sepasang botol yang setia, kecap dan saus tomat yang benci warnanya sendiri. Matahari mencari siapa yang hendak ia tanya apakah dia hanya sia-sia.

“Sakitnya tuh di sini,” kata jam dinding yang menunjuk pada dirinya sendiri.

Seorang pemarut kelapa membeli dua batang rokok. Penjual daging mengasah satu per satu pisaunya. Bulan mengucak mata. Penjaga kedai menuangkan air panas pada segelas kopi Kapal Api. Amanat kepala sekolah pada upacara dalam pengeras suara.

“Aku mah apa atuh…” kata jam dinding sambil memandangi wajahnya sendiri.