Dalam Kata Lain

SIAPA mendengar
benih sunyi yang meledak itu

siapa cemas
dan mulai menghitung waktu itu

siapa membentang
di jagad lepas batas itu

siapa memperfana dunia
dan mengabadi dalam kata lain itu

siapa berdiri sebentar memandang sendiri
gemetar ke ruang galeri

sementara

di antara kursi-kursi roda
yang mengepung atau menjemput itu?

Iklan

Antara Sukma Berlagu dan Suara Bersaksi

klinikpuisiPUISI bergerak antara dua hal: sukma berlagu dan suara bersaksi. Sukma berlagu, atau jiwa bernyanyi, melahirkan nyanyi sunyi, semacam lirisme yang memperhadapkan pembaca dengan wajah dan dirinya sendiri. Puisi dengan nyanyi sunyi mengajak pembaca meninjau ke dalam dirinya sendiri.

Suara bersaksi membawa pembaca ke situasi orang ramai, di mana puisi adalah suara yang menyeru dan menderu, membangunkan ketidaksadaran, membangkitkan, mengajak bersaksi atas ketidakberesan, ketidakadilan, dan ketidakseimbangan.

Keduanya mempunyai kadar manfaat (utile) dan kemolekan (dolce) masing-masing.

Puisi dengan suara bersaksi kadang tergoda untuk mengabaikan kemolekan bahasa karena sibuk pada kesaksian yang hendak dihadirkan. Puisi dengan sukma berlagu kadang asyik menyolek diri sehingga kecantikannya terasa dibuat-buat.

Sajak yang demikian kehilangan kewajaran, keluar dari wilayah perbatasan, wilayah ambang dan kemudian juga membuatnya kehilangan kandungan magnet, daya pikatnya.

Menyair adalah menarik garis, membuat sebuah lingkaran, labirin yang sesungguhnya adalah sebuah kurva terbuka yang pelik dan dengan berhati-hati meletakkan puisi di sana.

Lirik untuk Lagu Cinta yang Agak Cengeng

SEJAK engkau meninggalkan aku
aku memelihara seekor binatang
yang mula-mula lucu dan menggemaskan
kemudian menjadi liar dan menakutkan

Binatang itu tumbuh dengan cepat
menghabiskan makanan
yang tak pernah tak tersedia
di dalam hati dan kepalaku

Binatang itu rindu yang buas
Makanannya berbagai jenis sepi yang parah

Aku menyayangi binatang itu tanpa pilihan
sebagaimana cintaku padamu
yang tak pernah kupertanyakan

Adakah Kopi di Surga?

DULU, sebelum dunia, kopi mungkin tak ada. Sebelum seseorang menyelamatkannya dari yang belum habis terbakar dalam api neraka. Yang terusir dan terpisah dari sana membawanya segenggam. Lalu menanamnya, di tanah yang beraroma seperti tubuhnya, berharap itu kelak menjadi tanda di mana mereka bisa berjumpa.

Nanti, setelah dunia, aku berharap kopi ada di sana. Aku hanya ingin menjadi semacam barista tanpa nama, seperti kutemukan dalam puisi seorang penyair. Menyajikan minuman yang tak pernah menyesatkan, minuman yang dikirim dari neraka untuk para penghuni surga, kafe yang tak melalaikanmu dari apa yang tak boleh kau lupa.

Menunggu Martabak Manis

SEBELUM kacang ditaburkan dan keju jatuh seperti hujan
sebelum butiran coklat dan susu kental manis dicurahkan
sebelum wijen dihamburkan dan seseorang menyeberang jalan

Sebelum angkutan umum yang penuh penumpang itu melintas
sebelum lampu lalu lintas di perempatan itu berganti warna
sebelum ia menyeberang kembali dan aku masih menunggu

Sebelum yang telah matang itu diangkat dari wajan tuangan
Sebelum lingkaran itu dibelah simetris dan ditangkupkan
Dia masih di situ, ketika aku pergi mengantar ini pesanan

Menafsirkan PAS Band

SEAKAN tikaman-tikaman kecil
begitulah sesuatu kita mulai
sepi yang gemulai
kepingan-kepingan asing
yang kita coba persatukan
seperti mimpi
saling bertukar
dengan isyarat
tangan yang berat.

Tangga ke arah kamar
kosong dari beban
serangkaian ketukan-ketukan ragu
seseorang di koridor
menebak apakah cahaya
yang menjulur ke luar
liana kata yang menjalar
mengulur luka yang harum
sakit yang kita nikmati
dan harus kita akhiri.

Seperti jawaban yang ditunggu
yang gagal diucapkan malam
dan tak dipedulikan
oleh jalanan
perang yang harus kita hadapi
sebagai bajingan
yang abai dan tak pandai
membuka mata ke hati sendiri
tak juga cerdas dan tangkas
memelihara cinta.

Seraya Minum Kopi, 6

PADA gelas itu ada sisa ampas yang membuat kopi menjadi kopi. Kopi yang tak dipaksa, kopi yang menyaring dirinya sendiri, bersamamu. Di sebuah kedai, di sebuah kota di Italia. Atau di sebuah taman, di Menteng, dari penjaja kopi bersepeda. Dengan termos yang rentan, suhu bertahan. Bersamamu dan hujan. Dan selamat pagi yang sama, diucapkan dengan berbagai cara.