Tiga Cara Berbahagia dan Satu Hal yang Agak Mengganggu

1. AKU bikin kopi hitam dari Top Kopi yang kusimpan dalam kantong kemasan Excelco (karena ada aromalock-nya) yang kubeli di minimarket terdekat dan sedikit kulanggar komitmen kontrol gula darah.
 
2. Aku mengetuk-ngetuk tubuh, meniru instruksi dalam video viral di grup Whatsapp kluster perumahan, yang katanya itu untuk merangsang tubuh memproduksi hormor kekebalan.
 
3. Aku bikin roti goreng yang resepnya kubaca di Cookpad tapi kemudian kuabaikan lalu kuingat resep dan cara bikin roti almarhum ibu yang tiap pagi dulu kujajakan di kampung.
 
4. Aku berdoa ketika dari arah Jalan Pospengumben terdengar sirine ambulan atau mungkin mobil jenazah, dan aroma disinfektan tercium lebih kencang pada lantai rumah.

Tulislah Sesuatu yang Berbeda dan Itu Sulit tapi Kalau Kamu Mau Beginilah Caranya

MENULISLAH sebagai
dirimu sendiri
dan itu sulit,
memang, jauh lebih mudah
bila kamu menulis
sebagai orang lain,
tapi buat apa,
orang lain masing-masing
sudah sibuk dengan diri
mereka sendiri, dan kamu
menulis sebagai mereka?
Tulislah apa yang kamu
lihat dengan matamu sendiri,
dan itu sulit, karena
kamu dikepung oleh
banyak mata lain yang
mengatur cara matamu
melihat, dan kamu mau
saja terus-menerus
melihat dengan mata mereka
yang bukan matamu itu?
Tulislah apa yang
ada di sekitarmu, yang
kamu telah menjadi bagian
darinya, dan itu sulit,
terlalu banyak hal lain
yang sudah ditulis dan
itu bukan hal-hal yang
ada di sekelilingmu,
dan kamu masih saja
hanya menulis ulang
apa yang sudah ditulis
oleh orang lain itu.
Menulislah dengan caramu,
dan itu sulit, karena
banyak sekali tersedia
cara menulis yang seolah
hendak memandumu, tapi
mudah sekali menjerumuskan
kamu ke jalan yang
bukan jalanmu.

Sebuah Saran tentang Beberapa Hal yang Perlu Kau Baca Apabila Kau Ingin atau Tak Ingin Menjadi Penyair

BACALAH Bukowski dan berhentilah
membaca saran ini di larik ini.
Bacalah Chairil dan bacalah
sajak penyair yang dibacanya,
dan sajak penyair yang dibaca
oleh penyair yang dibacanya.
Bacalah Rendra dan bacalah
apa yang tertulis dalam
keringat dan air mata
yang tak sempat dibaca
oleh orang-orang yang
berkeringat dan berair mata
yang tak sempat membaca
apa yang dituliskan oleh
Rendra dalam sajak-sajaknya.
Bacalah Sapardi perlahan
sampai kata-kata yang keluar
dari mulutmu menggigil dan
menjadi hujan yang semakin
lebat dan kamu mencari
di bait mana terdapat kata
yang harus kau baca untuk
membuat hujan itu berhenti.
Bacalah Toto dan bayangkan
sebuah peluru membuat lubang
di dadamu, dan kau
berlatihlah mengucapkan
pada diri sendiri,
“kita sedang perang”.
Bacalah Sutardji dan
bentuk pasukan pembebasan
dan kau komandannya!
Kata-kata terlalu berharga,
selalu ada penguasa lalim yang
hendak menjinakkan,
melumpuhkannya, menundukkannya,
menaklukkannya, menjadikannya
budak yang tak berdaya.
Bacalah Goenawan dan pecahkan
semua poci yang menampung
kata dan ilusi dan perhatikan
bagaimana poci-poci itu
mengutuhkan tubuhnya kembali.
Bacalah Ramadhan dan pergilah
ke hutan-hutan Priangan,
bergabung dengan para petani
di ladang sayuran, ikut
menanam benih matahari dan
merawat cemas gagal panen.
Bacalah Subagio dan temukan
sudah ada kematian dalam
dirimu, yang mengingatkanmu
bahwa hidupmu pantas dihargai.
Bacalah Afrizal dan ikuti dia kemana-mana
membawa ruang tamu dan bertanya
pada setiap orang yang tersesat
ke dalam sajaknya, “rumahku di mana?”
Bacalah Thukul dan bayangkan
kau sedang menulis sajak terakhir
dan seregu tentara mengepung
gubuk persembunyiannmu.
Bacalah bungkus mi instan,
perhatikan bagaimana dijelaskan
cara penyajiannya.
Bacalah kalimat dalam kutipan
akta kelahiranmu.
Bacalah petunjuk cara menanam pada
kemasan benih sayur, bacalah
cerita nabi dan kitab suci agamamu
dan kitab suci yang bukan agamamu.
Bacalah iklan baris pada
koran yang suka menulis
berita dengan judul panjang.
Bacalah tips memilih pasangan
berdasarkan makanan kesukaan.
Bacalah majalah lama yang berhenti
terbit sebelum kau lahir.
Bacalah kata-kata pada baliho
reklame kosong atau yang
mengiklankan diri mereka sendiri.
Bacalah teks bergerak di sisi
bawah layar televisi dan ganti
setiap kata dengan antonimnya.
Bacalah bagaimana kepandiran
dipertontonkan, kebohongan
dirayakan, dan kebencian
disebarkan di media sosial.
Bacalah surat cinta untuk
teman sekelasmu dulu yang
tak pernah kau kirimkan dan
pikirkan beberapa nama lain yang
menjadi pengirim dan penerimanya.
Bacalah nama-nama kompetisi
pada piagam yang menuliskan
namamu sebagai juara sebelum kau
merobek dan menyampahkannya.
Bacalah sajakmu yang kau
tulis dalam bahasamu,
lalu terjemahkan ke dalam
bahasa lain di Google Translate,
lalu ke bahasa lain lagi,
lalu ke bahasa lain lagi,
lalu kembali ke bahasamu.
Bacalah sajakmu sebagai
sajak seseorang yang menulis
sajak untukmu dan kau tidak
suka dengannya dan tak mengerti
kenapa dia menulis sajak untukmu.
Terima kasih karena telah membaca
sajak ini sampai di baris akhir ini
meskipun aku tak memasukkan sajak ini
sebagai bagian dari hal-hal yang harus
kau baca jika kau ingin atau
tak ingin menjadi penyair.
 
 
#kelaspuisi #kelaskreatif #menulispuisi

Kudaku adalah Buku

Semulia-mulia tempat di dunia ini
ialah di atas pelana kuda tunggangan.
Dan sebaik-baik karib
di zaman ini ialah buku.

– Abu Tayyib Mutanabbi*

KUDAKU adalah buku,
membawaku jauh
berkelana tanpa pelana,
menyesatkanku
ke padang-padang
dan wadi kabilah asing
yang menerimaku
sebagai anak mereka

Kudaku adalah buku,
yang menemaniku berburu,
menyeberangi sungai deras,
menumpang kapal dagang,
menunggu malam dan aku
menyalakan unggun api, lalu
berdiang di sisi tenda.

Kudaku adalah buku,
membawaku pulang
ke rumah sederhana,
di dalam jiwa, dan
seseorang menunggu di situ
dengan sabar merawat segalanya
selama aku tak ada.

* Diterjemahkan oleh Mustamdi

Pagebluk, 2

HUJAN sudah berhenti ketika kamu meneruskan tangisanmu dan menghayati apa yang masih mengalir di parit-parit perumahan yang padat hingga jalan ke kampus tua itu sebagai air matamu. Kenapa kamu bahagia menangisi ketakmampuanmu menahan dan meyakinkan kami dengan sedu sepedih ini?

Pagebluk, 1

KAMU meniti tali yang dibentangkan dua ekor kupu-kupu. Tali itu semakin panjang tapi tak menyampaikan kamu ke mana-mana. Kamu hanya menunggu saatnya jatuh. Di tempat yang tak pernah tepat: halte kosong, stasiun sepi, atau terminal lengang. Tempat-tempat yang menyisakan seorang loper tua. Ia membuang setumpuk surat kabar. Ada berita yang ditulis dari ucapanmu. Seorang reporter mewawancaraimu lewat telepon. Dan kamu menjawab dengan sejumlah dusta yang kaukutip dari siaran langsung di televisi.