Sesabar Tanah, Setenang Pohon

aku jalani hidup sesabar tanah subur
menghidupkan hidup dari apa yang mati dan
menerima lagi yang kembali dari hidup

aku hayati hidup setenang pohon rindang
mengambil semua yang disediakan tanah dan
mengembalikan lagi seluruh aku jadi dia

Yang Mengapung dan Yang Tenggelam

YANG mengapung dari diriku pada banjir ini
adalah kebodohan – aku tak bisa jelaskan
kenapa aku jadi manusia sebegitu dungu

Yang tenggelam dalam banjir ini adalah kewarasan,
air ini kotor sekali, aku mengungsi jauh, dari akal sehat
sendiri, membiarkan kalian bersimbur pertengkaran

Sajak Sapardian: Bagaimana Menyatukan Perasaan dan Citraan Alam

 

img_1256
Menggambar Seperti Chagall | Hah | 2016

PROSA, kata Kuntowijoyo, adalah restrukturisasi dari pengalaman, imajinasi dan nilai-nilai. Beliau sebenarnya bicara soal fiksi. Dan puisi toh juga fiksi, karena itu apa yang dirumuskan beliau itu juga berlaku bagi puisi.

Ini akan saya gunakan untuk menjelaskan bagaimana puisi Sapardian bisa kita bangun. Coba baca bait pertama saka “Aku Ingin”. Dari situ kita akan melihat bagaimana perasaan yang ingin kita ucapkan itu kita satukan dengan citraan alam yang kita amati.

Aku ingin mencintaimu dengan sederhana
dengan kata yang tak sempat diucapkan
kayu kepada api yang menjadikannya abu.

Perasaan apa yang ingin dikomunikasikan dalam sajak ini: Cinta. Si aku dalam sajak ini ingin menjelaskan seperti apakah cintanya pada si engkau. Itu saja. Sesederhana itu. Si aku tahu betul bagaimana perasaan cintanya itu. Ini ada di wilayah pengalaman menurut teori restrukturisasinya Kuntowijoyo.

Lanjutkan membaca “Sajak Sapardian: Bagaimana Menyatukan Perasaan dan Citraan Alam”

Sajak Sapardian #3: Sampai Anggun Jadi Duta Sampo Lain

Sampai Anggun Jadi Duta Sampo Lain
Hasan Aspahani

Kalau dia pergi kau akan bertanya padanya
sampai kapan harus menunggunya, kau jawab
sendiri: sampai Anggun jadi duta sampo lain.

Kalau dia kembali dia akan bertanya padamu
apakah kau mencintainya seperti dahulu, kau jawab
: dulu sempat hilang, tapi sebentar balik lagi.

Sajak Sapardian #2 – Seperti Pulang dari Sebuah Unjuk Rasa

Seperti Pulang dari Sebuah Unjuk Rasa
Hasan Aspahani

AKU lewati jalan itu sendiri, dan engkau
tak ada, aku bayangkan seratus matahari di
belakangku mencipta seratus bayangan

Aku lewati jalan itu sendiri, dan kenangan
itu ada, aku seperti pulang dari sebuah unjuk
rasa, memunguti sampah yang kau tinggalkan.

Sajak Sapardian #1: Lilin-Lilin Kecil – Arian Pangestu

Lilin-Lilin Kecil
Arian Pangestu – @arian_pangestu

Seperti lilin-lilin kecil caraku mencintaimu:
yang membakar habis dirinya hingga tak tersisa
melepas ketakutanmu yang ragu-ragu itu

Seperti lilin-lilin kecil takdirku mencintaimu:
yang memberikan cahayanya sampai tak berpijar
menyerahkan dirinya kepada yang dicintainya itu

Jakarta, 2016