Tempat-tempat di Mana Sekarang Saya Ingin Sekali Berada di Sana

SAYA ingin berada
di bengkel mobil
mematuhi jadwal ganti oli
atau mengecek daya aki
dinginnya AC
saringan udara pada mesin
menunggu sambil berbincang
dengan petugas tentang
persoalan mekanik
dan elektrik
pada mobil otomatik
dan tip-tip menghadapi
jalan kota yang banjir
yang mengapungkan kekonyolan
dan menenggelamkan kewarasan.

“Jangan berhenti
di tengah genangan itu.
Jalan saja terus.
Akan ada yang rusak,
tapi itu tak seberapa,
karena jika kita
diam dan mematikan mesin
kita mungkin akan kehilangan
atau membiarkan kerusakan
yang tak tertanggungkan.”

Lalu saya pulang dari sana
dan melewati tempat yang
mengingatkan saya bahwa
saya pun sangat ingin berada
di sana.

*

Saya ingin berada di
pasar Pospengumben, menyinggahi
los sayur dan ikan segar,
membeli gula aren, jamur,
sementara istriku menunggu
ayam dipotong delapan, dan
ikan tengiri dibersihkan,
membeli ketupat plastik,
timun dan bumbu giling,
juga cabai dan bawang.

Atau kelapa parut
dan santan.

Tadi kami sudah
berembuk hendak memasak apa:
opor, dan gulai
ayam masak pedas,
sambal lingkung,
dan rendang. Es buah
dengan longan kalengan.
(biasanya) made in Thailand.

Apa yang membuat
saya teringat
pada tempat lain,
tempat di mana
saat ini saya sangat ingin
berada di sana.

*

Saya ingin berada di hadapan
sepasang makam. Berziarah,
membaca surah Yasiin,
dan doa arwah. Dan kata-kata
ini kuucapkan dalam hati,
(atau hanya dalam puisi ini),
“Mama, Abah, cucu pertama
kalian tahun depan wisuda.
Nilai-nilainya bagus.
Kami ingin Abah dan Mama
nanti hadir di sana,
mendengarkan namanya disebutkan
dengan gelar sarjana.”

Saya tak bisa berjanji
bahwa nanti
saya tak menangis.
Dan tangis itu akan
mengingatkan saya
pada suatu tempat di mana
saya ingin sekali
berada di sana.

*

Saya ingin berada
di masjid komplek
perumahan kami di Batam
sehabis salat tarawih
lalu bersama takmir
menghitung uang infak
sambil mendengarkan anak-anak
menamatkan tadarus Quran
dan meninjau lagi
daftar penceramah
dan tokoh undangan
yang sudah disusun
dan mencoret nama-nama politisi
yang hanya datang pada
masa kampanye, tapi kini
tak bisa dihubungi
untuk diminta konfirmasi
memastikan kehadiran.

Lalu kami menandatangani
lembar laporan hasil
perhitungan, menyerahkan
ke bendahara masjid, dan itu
membuat saya teringat
pada tempat lain di mana saya
ingin sekali berada di sana.

Kambing dan Tukang Cukur

SEEKOR kambing memandangi wajahnya di cermin tukang cukur yang tergantung di pohon. Si tukang cukur sedang tertidur dan bermimpi menjadi kambing. Kambing itu mengelus janggutnya dan bertanya apa guna janggut itu baginya. Hari menjelang sore. Sejak pagi tak ada seorang pun yang bercukur di situ. Si tukang cukur tertidur karena mengantuk dan lapar. Ia terbangun dan melihat dirinya sedang mengaca. 

Bulan dan Anjing

SEEKOR anjing menggonggongi bayangan sendiri, mencoba mengusir apa yang selama ini mengolok-olok dia. Bayangannya itu memanjang di tanah digambar oleh bulan. Bulan menunggu lama sekali sampai gonggongan itu sampai padanya. Anjing itu letih lalu memasuki gua. Lubang gua itu terlalu sempit untuk bulan. Bulan mengintai di luar. Bulan tak bisa lagi melihat anjing. Di dalam gua anjing ditelan bayangannya sendiri. Bulan memperhatikan tanah di mana tadi dia menggambar anjing. Tak ada apa-apa lagi di sana selain bayangannya sendiri. Bulan menyangka anjing tak suka pada bayangan yang ia gambar. Bulan pun berpikir bagaimana bisa masuk ke dalam gua.

Sapardi : Kata-kata adalah Segala-galanya dalam Puisi

Sapardi Djoko Damono: Kata-kata adalah Segala-galanya dalam Puisi
– Sebuah Wawancara Imajiner
Oleh Hasan Aspahani
Tanya: Pak saya mau menulis puisi. Apakah menulis puisi itu harus mengikuti kaidah? Atau menulis begitu saja?
Jawab: Kalau mau menulis, ya, menulis saja. Saya juga dulu begitu. Saya suka puisi karena saya membaca puisi. Bukan karena saya membaca teori sastra. Itu saya pelajari belakangan ketika saya kuliah.
Tanya: Jadi tak perlu memahami kaidah puisi dulu, Pak? Masa gitu sih, Pak?
Jawab: Bahkan setelah saya tahu teori pun ketika menulis saya menulis saja tanpa mengingat teori apa-apa.
Tanya: Tapi saya ingin memulai dengan bekal yang cukup, Pak. Mungkin dengan begitu saya bisa lekas jadi penyair hebat.
Bersama SDDJawab: Kamu serius? Baiklah. Kamu mulai dengan menyadari apa fungsi kata dalam puisi. Kata-kata adalah segala-galanya dalam puisi. Kata-kata tidak sekadar berperan sebagai alat yang menghubungkan pembaca dngan ide penyair, seperti peran kata-kata dalam bahasa sehari-hari dan prosa umumnya, tetapi sekaligus sebagai pendukung imaji dan penghubung pembaca dengan dunia intuisi penyair. Meskipun perannya sebagai penghubung tak bisa dilenyapkan, namun yang utama adalah sebagai obyek yang mendukung imaji. Hal inilah yang membedakannya dari kata-kata yang bukan-puisi.
Tanya: Kenapa harus dibedakan, Pak?
Jawab: Kamu mau menulis puisi, bukan? Sebenarnya saya menulis itu di tahun 1969, setelah saya mengamati puisi yang ditulis pada tahun-tahun itu. Dan saya bosan. Kedua peran itu rupanya tak dipahami benar oleh penyair muda pada masa itu. Saya kira juga oleh sebagian besar penyair muda hari ini. Mereka apa pernah baca esai saya itu?
Tanya: Memangnya apa yang terjadi pada waktu itu, Pak?
Jawab: Mereka mendengar kata dan kata setiap hari lewat radio, di balik tembok-tembok sekolah, di pasar dan toko, dan membaca di koran-koran, dan kemudian mendapatkan kata-kata yang sama dalam puisi dan oh betapa membosankannya, bukan? Kalau kata-kata, idiom-idiom, serta kalimat-kalimat yang kita dapati dalam puisi sama sekali tak berbeda dengan yang kita dapati sehari-hari, maka rasa bosan adalah sah. Itu yang saya rasakan ketika dulu pada tahun-tahun itu saya membaca sajak yang ditulis penyair Indonesia.
Tanya: Jadi bagaimana caranya menulis supaya puisi tak membosankan, Pak?
Jawab: Sadarilah bahwa puisi itu unikum, hasil pengamatan yang unik seorang penyair. Hal di atas tak bisa tercapai kalau si penyair dengan tenang saja mengoper kata-kata yang bertebaran di sekelilingnya, tanpa menyesuaikannya dengan dunianya yang baru, yang unik.
Tanya: Tapi kan kata-kata dalam bahasa kita itu ya itu-itu saja, Pak?
Jawab: Maka tugas utama penyair, tugas terberat adalah melawan kata-kata, untuk bisa menguasainya kemudian memurnikannya dan memberinya bobot. Kata-kata begitu pentignya sehingga apabila kita mencobanya mengganti satu dua di antaranya dengan sinonimnya, seketika itu juga sajak tersebut berhenti sebagai sajak. Dalam bahasa sehari-hari, dan dalam prosa umumnya, sinonim masih bisa diterima, tanpa merusak maksud atau arti sebab di situ tugas utama kata-kata adalah sebagai penghubung antara pembaca atau pendengar dengan ide.
Tanya: Bukankah puisi itu juga menyampaikan ide, Pak?
Jawab: Tapi kata tetap harus dinomorsatukan. Ketidaktahuan atau mungkin sikap acuh tak acuh, terhadap peran kata-kata inilah yang telah menghasilkan sajak-sajak membosankan, dari masa ke masa. Kalau penyair menganggap bahwa yang utama adalah ide, dan kata-kata dengan demikian menduduki tempat kedua maka ia pun tak menciptakan puisi tetapi memberi anjuran, pernyataan, atau keterangan.
Tanya: Saya belum paham, Pak. Bingung saya harus mulai menulis dari mana.
Jawab: Makanya, kan tadi sudah saya bilang, kalau mau menulis ya menulis saja tak perlu memikirkan teorinya.
Tanya: Oh, begini, Pak. Saya mulai paham maksud Bapak. Misalnya saya punya ide, gagasan, atau pikiran, lalu saya ingin menyajakkannya, maka saya harus mencari cara yang unik untuk mengungkapkannya?
Jawab: Ya. Saya mau kasih kutipan dari Saini K.M., dia katakan: puisi, di samping yang lain-lain, meminta kemampuan kepada kita untuk menyodorkan atau menuliskan pengalaman dengan cara tertentu.
Tanya: Maksudnya ‘cara tertentu’ itu apa, Pak?
Jawab: Nah, itu kalau yang dimaksud ‘cara tertentu’ itu adalah ‘cara puisi’ bukan cara yang lain maka saya setuju dengan dia. Tanpa cara tertentu itu maka kata-kata dalam puisi tak mempunyai peran yang berarti. Yang tertinggal di benak pembaca setelah membaca sajak yang demikian adalah idenya, atau apapun itu namanya, dan bukan suasana tertentu yang hanya bisa timbul dari kata-kata tersebut.
Tanya: Cara puisi itu bagaimana, Pak?
Jawab: Akan sangat panjang penjelasannya. Perlu kuliah beberapa semester. Kamu bisa baca buku-buku teori yang sekarang mudah sekali didapat. Saya tak punya waktu untuk menjelaskannya, dan kalau pun ada, kamu pasti akan semakin bingung harus memulai dari mana. Dan kapan kamu mau nulis puisinya?
Tanya: Jadi sebenarnya menulis puisi itu perlu kaidah atau tidak, Pak?
Jawab: Kalau kamu tertarik, menulislah. Tanpa memikirkan kaidah puisi itu apa dan bagaimana. Ikuti saja intuisimu. Baca puisi yang baik sebanyak-banyaknya, kamu menyukai puisi karena tertarik pada teorinya atau karena terpesona pada puisi yang kamu baca? Pasti karena puisi yang kamu baca, kan? Nah, selanjutnya kalau kamu benar-benar mencintai puisi maka kamu harusnya akan mencari informasi lebih banyak tentang apa yang kamu cintai itu agar kamu bisa mencintai dan menggaulinya dengan lebih baik.
Diolah dari Esai Sapardi Djoko Damono “Puisi Indonesia Mutakhir: Beberapa Catatan” dalam “Kesusastraan Indonesia Modern: Beberapa Catatan” (Gramedia, 1983, Ed. Pamusuk Eneste).

Seribu Kota, Seribu Kata

                                       : Didi Kempot (1966-2020)

AKU mendengar kamu
dengan telinga ibuku
telinga yang kehilangan masa lalu
tertinggal (dan tak kutemukan lagi)
di hutan bekas desa transmigran
di terminal dan stasiun
di bandara, trotoar,
dan pelabuhan

Aku tak pernah menemui
tapi kutemukan kamu
dalam perjalanan dari kota ke kota
bersilih antara berangkat dan tiba

Di sebuah loket tiket
seorang pengamen jalanan
menyanyikan serangkai lagu
dari hancur hatinya sendiri
kata dalam lirik yang diam-diam kuingat
(tanpa pernah kucatat)
tentang kehilangan
cinta yang datang dan pergi begitu saja
dan kibas rambut yang panjang itu
bukan aba-aba, bukan apa-apa
selain memang ada yang hendak dibegitusajakan
seperti baju yang basah terbiarkan
atau baju pengantin yang tak pernah dipakai
seperti sobekan tiket
yang kubuang di gerbang kota

Ada perjalanan yang pasti
ada pencarian yang harus berhenti
ada pertemuan yang tak terjadi
ada yang serentak terdiam pada nada akhir
dalam sebuah dendang keroncong dan campur sari
(lalu kau membungkuk dan menurunkan kaca mata hitam)
berlalu ke belakang panggung besar
merangkum seribu kota jadi satu pintu
seribu kata jadi Sesuatu.

Pelajaran-Pelajaran Pertama Akuntansi

1. Yang Tak Terbaca dalam Laporan Akuntansi

DAN kita ingat dia pernah memberi amanat: sebuah perniagaan yang tak pernah kerugian.
Perdagangan dengan transaksi tak tercatat di buku laporan, tak terbaca pada jurnal harian.

Kita mungkin akan mengenang dia, Nabi terakhir. Di gerbang ramai sebuah pasar besar.
Dengan seorang sahabat yang amat lapar. “Tunggu, di sini!” Dan ia kembali. Setelah
sejumlah transaksi. Dengan segenggam dirham, laba keikhlasan yang jujur diperniagakan.

“Belikanlah pada makanan. Secukupnya. Bawalah pada anak dan istrimu,” ujarnya.

Ia sesungguhnya telah memberi sebuah pelajaran tentang hidup dan kehidupan, tentang
tangan, yang menawarkan, yang mengantarkan, yang mengikhlaskan. Yang kiri dan kanan.

Ada yang tak terbaca pada laporan akuntansi: Neraca Pahala, Saldo Dosa, Transaksi Hati

2. Semacam Audit Atas Hati

KITA sepasang penjual-pembeli. Bertransaksi dalam satuan mimpi-mimpi.
“Berapa harga semua ini?” Kita kerap menimbang ragu, membimbang lagu.

Kelak kita mungkin ingin melacak seluruh transaksi. Semacam audit atas hati.
Saat itu segalanya mungkin sudah terbayar. Kita tak lagi peduli laba rugi.

3. Transaksi yang Tak Biasa

BEGINILAH caraku mencintai engkau: tunai segalanya kubayar, pada harga aku tak menawar. Lalu kusimpan rapi rahasia kuitansi, selembar-selembar. Semacam dokumen sah akuntansi, bila kelak ada yang menuntut bukti.

Beginilah caraku mencintai engkau: mungkin kelak ada yang tak tertagih. Kau bilang, “padamu aku berutang.” Dan aku akan menutup mata rapat, menjadi pencatat yang tak cermat. Melakukan semacam penyimpangan pada pembukuan. “Sejak semula sepertama, aku tahu ini adalah transaksi yang tak biasa. Aku peniaga yang tak hirau pada peroleh laba.”

 

4. Kaidah Dua Pintu

DUNIA ini, pasar besar ini,
Menarik kerah baju dan ujung celana. Kita: para peniaga

Lalu tiba-tiba saja telah ada di tengah sana kita
Hingar dalam tawar-menawar yang kasar

Kita tak sempat bertanya
Itu tadi tangan siapa
Bimbang menimbang nilai Waktu
Jual-beli yang senantiasa terjadi pada harga yang tak pernah bisa disepakati

Kita lupa menambal lubang besar di saku

Nanti, di ujung lorong, akan sampai kita pada dua pintu.

Pada pintu satu: menggerutu para peniaga yang rugi
Pada pintu kedua: menuju mereka yang tahu arti kata Kecuali.

Ki (Selamat Hari Penjijikan Nasional)

                                             It is hard not to write satire. – Juvenal

RUANG kelas ini, Ki, semakin kacau kini
Tak jelas lagi kami sedang belajar apa
sebenarnya

Tak ada yang becus mengajar

Mereka yang berdiri di depan kami
orang-orang yang terus saja bicara
dengan kata-kata centang-perenang
yang berbantahan sendiri

Mereka bicara seperti kutipan acak
dari komik Juki
atau omongan seorang menteri
mencoba berdusta
dalam dialog berjam-jam di televisi.

Apabila mereka berada di tengah kami
mereka akan bertanya seperti
kuis obat maag atau mi di televisi
lalu benarlah semua jawaban
dan kami diberi hadiah
lima lembar buku kosong
dengan sampul jelek
bergambar Garuda Pancasila

“Ambil di Ruang Guru,…” kata mereka,
“Jangan lupa tunjukkan kartu prakerja.”

Apabila mereka di belakang kami
mereka tak pernah berada di belakang kami
kami yang berpaling dari mereka, Ki…

Tapi kami tak bisa kemana-mana
ruang kelas ini seperti darurat karantina

Tak ada yang cakap mengajar

Kami menjadi murid-murid pelo
celik huruf tapi tak suka membaca

Ruang kelas ini, Ki, semakin kacau kini
tak usah kau singgah
lewat saja di depan sekolah
baca apa yang terbentang di gerbang
spanduk mahal, cetak digital
(dengan wajah politisi lokal)
sebaris ucapan dalam font komikal

: selamat Hari Penjijikan Nasional!

Jakarta, 2020

Sajak ini Kuberi Judul: Buku

: untuk Kafebaca Biblioholic
/1/
PADA hari ulang tahunku, ada yang memberi kado
: sebuah buku. Aku terkejut karena ternyata
ada engkau dalam kado itu.
“Selamat ulang tahun, ya,” katamu.
Sejak saat itu, kau dan aku,
menjadi kekasih abadi.
Sehidup mati.
Hidup semati.
/2/
ENGKAU, Sayangku, adalah buku,
aku membaca matamu tak jemu-jemu.
Sampai kau bilang, “Sudah ya,
aku mau memejam dulu…”
“Ya,” jawabku – sambil diam-diam
berharap kau mengajakku tidur
bersamamu. Dan membayangkan
halaman paling rahasia dari dirimu.
Halaman yang hanya bertulisan
sebuah kata, yang kau sendiri,
belum pernah membacanya.
“Mungkin saja, itu hanya teka-teki.
Yang sudah kau tahu jawabnya. Kau,
silakan menebak apa pertanyaannya…”
katamu pada suatu hari.
/3/
DI Rumah Buku.
Aku sering tersesat ke masa lalu,
menjadi bocah nakal lagi,
berlarian tanpa sepatu,
berguling-gulingan di lumpur,
memanjat pohon kedondong.
Tak ada yang bisa menghentikan:
kecuali Waktu. Kecuali waktu.
“Ah, siapa bilang begitu,” kata Waktu.
Tapi, aku tak mendengarnya. Tentu.
Karena di Rumah Buku, aku terlalu sibuk
mencari-cari matamu. Yang hendak
kubaca lagi dengan serak (maksudku satu rak) rindu…
tapi, akhirnya, lagi-lagi hanya tersesat
ke masa lalu.
“Rasain, lu,” kata Waktu. Dan aku
lagi-lagi tak mendengarnya. Tentu.
/4/
DI ranjangku yang paling syahdu,
bertebaran buku-buku di sisiku.
“Salah satunya adalah kamu, Sayangku…”
kataku sambil menatapi sampul-sampul
itu satu per satu.
Yang paling mengganggu adalah engkau yang
bisa-bisanya menuliskan: Hei, DukaMu Abadi!
Yang paling seram itu adalah engkau yang
berseru nyaring: Hei, Orang-orang Terasing!
Yang paling riang adalah engkau juga yang
enteng bilang: Mengarang itu Gampang, Kok!
Tapi, setelah bertahun-tahun meniduri buku,
aku belum juga bisa menebak teka-tekimu.
/5/
WAKTU kecil, kalau ada yang bertanya, “Engkau
mau jadi apa?” Aku menjawab, “Mau jadi buku..”
Dan tak pernah ada yang bisa mengerti.
“Wah, bagus. Menjadi penulis buku itu hebat…”
Sesudah tua begini, masih juga ada yang bertanya,
“Apa keinginan Anda yang belum tercapai?” Aku
menjawab, “Menjadi sebuah buku…”
Keinginan yang juga tak bisa mereka pahami.
“Ya, ya… banyak orang yang di masa tuanya ingin
menuliskan buku. Anda juga masih punya waktu…”
/6/
TETAPI tidak ada yang bertanya:
kau hendak dimakamkan di mana?
Diam-diam aku sedang mempersiapkan
sebuah kematian yang paling sempurna:
dikuburkan di dalam buku. Engkau tahu?
Buku akan hidup abadi. Tak mati-mati!
Barangkali saja, kelak dalam perjalananku
dari halaman-halamanmu, duhai Bukuku,
duhai Kuburku, duhai Kekasih Abadiku,
bisa kutemukan pertanyaan teka-tekimu,
bisa kudengar apa saja yang dikatakan oleh Waktu.
2009

Ode bagi Garam – Pablo Neruda

ODE BAGI GARAM
Sajak Pablo Neruda

Asin garam
di wadah garam
pernah kulihat ia di ladang garam.

Aku tahu
engkau tak akan mau
percaya pada apa kataku,
tapi sungguh
asin garam itu berlagu,
lagu-lagu yang asin, bentang
ladang-ladang garam itu
berlagu-lagu
meski dengan mulut yang
ditimbun tubuh bumi.

Aku pun menggigil dalam kesunyi-sunyian ini,
ketika sampai kudengar
suara asin garam
di gurun geram.
Tak jauh dari Antofagasta
padang-padang rumput basa
menerusulangkan gema:
sebuah suara
yang parah terluka,
lagu-lagu
duka cita.

Pada guha-guha
asin garam
menggunung kubur cahaya,
katedral tembus cahaya,
kristalnya samudera, ombak
yang terlupa padanya.

Maka lalu, pada setiap meja hidang
di mana saja di dunia,
wahai garam,
kami temui gurih serbukmu
memercikkan
cahaya kehidupan
pada tiap saji santap kami.

Penjaga palka-palka kapal-kapal tua,
penemu arah
di puncak-puncak laut.
Pelaut tersemula
yang entah asalnya,
bertukar arah dengan buih-busa.
Debu-debu laut yang datang
padamu, mengirimkan
ke lidahmu kecupan malam samudera: lalu
rahasia rasa yang adil disampaikan
kepada semua bumbu, semua rempah.
Sembah saji, dari lautmu tersari;
Miniatur terkecil
ombak, pada wadah garam di meja
membukakan pada kita
lebih dari sekadar serbuk putih di dapur kita;

garam:
pada asinnya
kita kecup kecap tak terhingga rasa.

– Diterjemahkan oleh Hasan Aspahani

Melupakan Tangis dan Rintih

I came to explore the wreck.
The words are purposes.
The words are maps.
I came to see the damage that was done
and the treasures that prevail.
I stroke the beam of my lamp
slowly along the flank
of something more permanent
than fish or weed

Adrienne Rich (1929-2012)

AKU tak sanggup menjadi perempuan
seperti engkau dengan sakit yang
permanen. Dan kau tak menangis.

Aku tak sanggup menjadi perempuan
seperti engkau dengan luka yang
tak sembuh. Dan kau tak merintih.

Aku tak sanggup menjadi perempuan
seperti engkau tapi aku akan menemani
engkau merasakan sakit dari luka itu.

Menemanimu melupakan tangis dan rintih.

Menamanimu bila memang engkau tak tahan
dan harus menangis dan merintih.

V untuk Virus yang Lebih Rakus

SELAMAT datang di tubuh kami
mana tahu inilah rumah terakhir kita
dunia yang senantiasa sementara
sebelum kita berbenah pulang
ke kampung lengang
yang oh ternyata
dekat sekali jauhnya
menunggu pintu membuka.

Selamat datang di tubuh kami
terminal yang selalu sibuk
kendaraan besar keluar masuk
memuat dan membongkar
penumpang dan barang
keinginan-keinginan yang tak
pernah pasti hendak
berangkat atau diantar ke mana.

Selamat datang di tubuh kami
dan terima kasih sebab sudah memberentang
kami dari lupa ke jurusan ingatan
dengan sengal dan sesak napas
dengan demam dan suhu tinggi
seperti radang pada iklim yang tak lazim
dan oh kamilah virus yang lebih rakus
menggeramus paru-paru bumi.

Jakarta, 2020

Di Kantor Tuhan

/1/

Di pintu-Nya terbaca:
Aku Selalu Ada.

Tapi kita hanya lalu lalang
atau sibuk mengetuk
tak mendengar Dia berkata,
“masuklah, tidak dikunci…”

/2/

Di meja-Nya ada tumpukan map-map doa,
dengan disposisi: kabulkan, segera!

/3/

Sejak semula kita sudah
diberi kartu nama
tertulis lengkap alamat-Nya,
tapi kita memang
suka pura-pura lupa.

2005-2020

17 Manifesto Indonesia Kuat

1. Indonesia KUAT adalah Indonesia dengan pagi yang cemerlang dan masih menyempatkan kita saling menyapakan, “Selamat pagi, Kawan!”

2. Indonesia KUAT adalah Indonesia yang kota-kotanya tumbuh menjadi diri sendiri, tak terseragamkan, karena memang menolak diseragamkan.

3. Indonesia KUAT adalah Indonesia yang tak memberi kesempatan pada penguasa yang lalim, lalai, lamban, dan lemah!

4. Indonesia KUAT adalah Indonesia yang tak hanya tersibukkan perkara-perkara besar, tapi juga tak terlalaikan oleh hal-ihwal yang remeh.

5. Indonesia KUAT adalah Indonesia yang ramai memperdebatkan ide-ide dalam suasana kecendekiaan yang mencerahkan, bukan saling melecehkan.

6. Indonesia KUAT yang kuat adalah Indonesia yang merdeka dan dalam kemerdekaan itu kebebasan digunakan untuk maslahat, bukan mudarat.

7. Indonesia KUAT adalah Indonesia yang ringan langkah di jalan menuju kebaikan, lantang suara ketika menyeru pada kebenaran!

8. Indonesia KUAT adalah Indonesia yang menangis dan tertawa, menangis karena hati yang lembut, tertawa karena jiwa yang dewasa.

9. Indonesia KUAT adalah Indonesia yang tak henti menumbuhkan etos kerja, keberanian dan semangat berbagi.

10. Indonesia KUAT adalah Indonesia yang bijak mengedepankan keutuhan akal, arif mengetengahkan keteguhan hati, cermat mengerahkan kekuatan badan.

11. Indonesia KUAT adalah Indonesia yang mencipta, menyumbangkan ciptaannya pada dunia, tak hanya bisa bangga memakai yang dicipta bangsa lain.

12. Indonesia KUAT adalah Indonesia yang belajar pada hutan hujan tropis: di sana berbagai flora, fauna, bahkan mikroorganisme tumbuh bersama.

13. Indonesia KUAT adalah Indonesia yang tak sekadar memuja-muja apalagi sampai menyembah tapi juga tak menghinakan dan mengabaikan sejarahnya sendiri.

14. Indonesia KUAT adalah Indonesia yang belajar dari kesalahan, menjauh dari kebodohan, keluar dari kurung sempit pikiran!

15. Indonesia KUAT adalah Indonesia yang besar, membesar, semakin besar, karena terus melahirkan dan dibesarkan oleh orang-orang besar!

16. Indonesia KUAT adalah Indonesia yang besar tapi tak pernah merasa terlalu besar besar untuk mengecilkan orang-orang kecil.

17. Indonesia KUAT adalah Indonesia yg sehat tanahnya dan airnya, menyehatkan manusianya, hinga bisa menjaga tanah dan airnya senantiasa sehat!

2012-2020

 

Kita di Rumah Saja Dulu

KITA di rumah saja dulu, dengan
begitu kita membantu mereka yang
tidak bisa tidak harus keluar rumah

Kita di rumah saja dulu, titip
belanja pada suami istri gerobak
di gerbang komplek kita itu

Kita di rumah saja dulu, saatnya
cemas, sedikit takut, juga bertanya
sebenarnya kita ini hendak kemana

Kita di rumah saja dulu, dunia
di luar sedang memperbaiki apa yang
telah lama kita merusakkannya

Kita di rumah saja dulu, matikan
televisi, baca Detektif Conan, Gibran,
Fuzo, dan Kamus Besar Bahasa Tuhan

 

 

G

ADA bayangan melintas
gitar baru saja diletakkan
setengah air di gelas
tutup piano diturunkan

ada lirik manis yang muram
tak selesai dituliskan
tiang mikropon diam
dan syal belum dilepaskan

udara akan selalu begini
seperti ada yang selesai bernyanyi
udara akan selalu begini
ingin kau terus bernyanyi lagi