Beberapa Pelajaran yang Kudapat Setelah Bertemu Dia

: rdp

1.
IA mungkin berpikir dengan puisi. Ada pohon besar, pohon kata, di kepalanya. Rimbun dan subur. Berbuah lebat sekali. Berbagai amsal menggantung matang. Jika hendak mengucap, ia tinggal pergi memetiknya. Tapi ia biarkan juga kelelawar mencuri pada malam-malam ia meninggalkan dirinya sendiri.

2.
Ia menulis seperti penebang. Ia pandai memanjat. Tapi pohon-pohon kata di kepalanya harus tumbang, dengan kapak di tangannya sendiri, agar terendam batang besar itu. Ia tahu akan tumbuh tunas-tunas baru, akan matang buah-buah amsal baru. Sebagai perantau, begitulah ia ingin memasuki, kepalanya sendiri.

3.
Ia telah banyak memakan jalan. Ia telah menemukan tapi ia terus saja berjalan. Ia tahu musim tak selalu kemarau. Ia tahu pohon tak selalu meranggas, dan akan berjatuhan benih-benih baru. Ia ingin seperti pohon yang tumbuh di kepalanya, yang bayangannya meneduhkan, yang terbawa kemana pun ia mencari jalan.

Iklan

Sebuah Review untuk Novel “Ya, Aku Lari!”

ya aku lari blog
Foto dari Blog Baca Biar Beken!

Saya menggambarkan novel ini seperti kisah 1001 malam. Satu kisah dengan begitu banyak cerita berlapis di dalamnya. Hanya saja, di novel ini yg berlapis lapis adalah karakternya. Ada begitu banyak karakter dimasukkan. Satu karakter kemudian berkisah tentang karakter-karakter lain. Teknik yang unik tapi juga rentan bikin pembaca bingung.

Tidak hanya unik, setiap karakter di Ya, Aku Lari membawa kisahnya masing-masing. Pembaca tidak akan menyangka betapa mereka akan disuguhi bacaan yang sedemikian pelik namun ringan, beragam sekaligus penuh muatan sosial, politik hingga religi dalam novel yg tidak terlalu tebal ini.

:: Selengkapnya baca blog Baca Biar Beken! Ada kuis berhadiah bukunya. 

Kenapa Tak Pernah Selesai Aku Merumuskan Cintaku Padamu?

                                                             : Dhiana

CINTA adalah jaket hujanmu yang kusimpan lagi di ransel perjalananku. Aku tak tega bila apa yang dimendungkan langit itu kelak membasahinya.

CINTA adalah kita menangis bersama: kau terbebas dari sakit, aku yang tak bisa mengambil sakit dari sakitmu itu, dan anak kita yang baru mendunia.

CINTA adalah jarum gaibku, pada jam gaibmu, yang tak tampak bergerak, tapi ia berdetak ke segala arah, memenuhi waktu kita.

CINTA adalah sajak yang kutulis di lembar kertas-kertas kecil, bait-bait belajarku dan yang mengajari aku mencintaimu.


Catatan:
Sajak ini saya tulis 2011. Saya pos ulang dari apa yang dulu saya pajang di SEJUTA PUISI.

Kenapa Bahasa Kita Semakin Panas

: Muhammad Sadli

 

KENAPA bahasa kita semakin panas
kita mencoba menyebut kata yang terlupa itu
melepuh dan tergigitlah lidah
kita muntahkan ganyir inguh api

Sebab rasa mual, air ludah kita membanjir
rongga mulut kita semakin luka karena kata yang tajam
yang kita tahan di pangkal tenggorokan
kita ingin marah, tak bisa lagi menelan darah

 

 

Berbagi dan Mendapat Ilmu di Payokumbuah Literary Festival

SAYA hanya lebih dahulu tahu. Maka saya membagikan pengetahuan jika ada anak-anak muda yang serius bertanya, dan sunguh-sungguh pula menyimak.

Acara mengobrol di saung Komunitas Intro, Payakumbuh, ini tak terjadwal dalam senarai acara Payokumbuah Literary Festival, 13-15 November 2018 lalu di Payakumbuh, Sumatera Barat.

Terhadap Boy Candra, pengarang superlaris asal Padang ini, sesungguhnya saya yang belajar banyak dari dia. Terima kasih, Boy. Ketemu lagi kita, ya.

Bagaimana Cara Menghitung Ciuman?

: Mario F Lawi

1.
MALAM hidup di halaman malam,
seorang lelaki membakar udara,
gurih dan harum, membikin kata-kata
lapar, dan kalimat perih, keluar sangkar,
gugur daun-daun durian, jerami
yang mungkin dari seberang, ladang
pusaka tinggi, setelah panen raya,
padi dibagi. Bagi beberapa pagi.

2.
Malam terbakar, dan hidup menyala,
udara menampung cahaya, memadat
menjadi kata-kata, memagma makna,
seorang lelaki menghambur mantra:
seratus ciuman, seratus yang lain,
seribu ciuman, lalu seribu lagi…
Tapi bagaimana menghitung ciuman?
Dengan bahasa Latina atau Italia?

3.
Malam habis, dan tersisalah sumbu,
sedikit nyala, dan mungkin jelaga,
dari pembakaran yang tak sempurna.
Aku mendengar lelaki itu bernyanyi,
mengikuti apa yang dia dengar,
mungkin Coldplay. Kami memang sedang
mempermainkan dingin di kursi-kursi
bandara. Kami menunggu, ruang tunggu.

Hal-hal yang Bergerak Tidak Lurus dan Tidak Beraturan

MISALNYA kita berangkat dari Payakumbuh pada pukul dua dinihari
dengan seorang supir asyik bercerita tentang kaidah matrilineal

jalanan yang berkelok itu lengang, dan kita pun singgah di toko
oleh-oleh dengan sederet kotak sumbangan surau di pintu masuknya

Misalnya kita tiba di bandara itu pada saat kedai kopi belum
membuka mata, dan udara dingin dari Bukittinggi masih terbawa

berapakah kecepatan tempuh yang harus dilawan oleh keinginan untuk
membatalkan kepergian itu, dengan perasaan tidak lurus dan tidak

beraturan, sementara rumus sederhana kinematika dari buku sekolah
menengah tak pernah kau ingat sebab kau bilang tak ada gunanya?