Apabila Pemungutan Suara Dilakukan pada Hari Ini

MAKA aku akan tidur dan bermimpi indah
tentang kota yang bersih, tanpa baliho

dan suara bising, spanduk dan senyum
palsu. Juga poster dan janji kosong.

Aku bertanya pada pemilu, kenapa kota
ini suka menumpuk sampah? Menebarkan
kotoran ke dalam pikiran warga kota?

Aku bertanya pada pohon-pohon di tepi
jalanan, kenapa kita kuat disakiti?

Berulang kali! Oleh harapan yang tak
pernah bisa diwujudkan, dan kenapa kita

masih bisa memimpikan perubahan dari
orang yang wajahnya dipoles Photoshop,

lalu dicetak digital massal, dan
dipakukan ke tubuh kita dan kita benci

karena harus menemuinya di mana-mana.
(juga di dalam mimpi di kepala kita).

Iklan

Engkau Sudah Bisa Menyetir Sekarang

             : shiela

LIHATLAH jalanan, lihatlah kita, Nak,
sekarang, dan engkau bukan kanak lagi,
sudah punya SIM dan KTP, rekening bank
atas namamu sendiri, dan kami berdiri
dengan kaki gemetar, akan ada gelap
dan jembatan, juga bayangan, akan ada
hujan dan tikungan, dan engkau pergilah,
dan kami akan turun, menyatukan diri
dengan cuaca kota, atau menunggu di
halaman, melepas engkau di gerbang kampus,
atau kantor instansi di mana tadi sudah
kami selesaikan semua urusan.

.

Kenalilah jalanan, ingatlah kita, Nak,
ketika singgah dan memesan burger yang tebal
di McDonald, dan segelas Milo yang hangat,
dan malam lembab, dan jalanan licin,
menu yang kau pilih tadi di satu kotak
bersuara, dan kau membayar di jendela
selanjutnya, dan sekantong pesananmu
disodorkan di tingkap berikutnya,
hidup ini, dan lapar itu memang bisa
begitu sederhana, dan kau makanlah, kami
akan menunggu, kabarmu, dan lanjutan serial
cerita di Netflix atau drama Korea.

.

Berhentilah di batasmu, parkirkan kendaraan,
Nak, kami ingin membekalimu dengan banyak
kecemasan, tapi itu tak kau perlukan,
dan begitulah kita, hidup, dan jalanan,
tanganmu mengemudi, arahnya kemana, dan
seberapa lajunya, kami akan menceritakan
kamu lagi, berulang kali dengan senyum
dan tertawa sesekali, mendengar Dylan
di Spotify, atau nyanyianmu di Soundcloud
dan melihat foto-fotomu di Instagram, lalu
berangkat tidur setiap malam, dan mimpi kami
subur sekali, dan tadi hujan sepanjang hari,
tetap saja tanaman bunga itu kami sirami.

 

 

 

Variasi Lain atas Lirik Gurindam Jiwa

AKU melihatmu
mengintai dari balik rindu
lalu esok aku pun akan terbantai
oleh hati yang layu

Rindu yang masak
merunduki hari tak tertuai
aku terperangkap pada lukahku sendiri
telah terikat hati, tak lagi terurai

Patah sehelai selasih
dipermainkan sayap seribu merpati
sekuat apakah kasih kekasih?
tak tertalak kecuali kelak oleh mati

anak bermain seorang sendirian
memungut kemboja jatuh di tanah
sebelum berkubur di telapak tangan
penuhkan airmatamu di sini, menangislah

musim menuai lalu berlalu
harum padi mengharumi hujung-hujung kuku
mungkin surga itulah hulu mudikku
tuan tahu di mana aku menunggu…

Instacerita: Pengukur Arah Kiblat

Instacerita oleh Hasan Aspahani

1.

MASJID besar di kota kelahirannya itu arah kiblatnya salah. Dia tahu, dia merasakan itu sehabis salat magrib berjamaah, pada hari pertama kepulangannya. Masjid itu dibangun di atas lahan masjid lama. Seingatnya dulu arah kiblat masjid itu tak seperti sekarang. Dua puluh tahun di kantor pusat ia mengurusi hal itu. Ia mengepalai bagian kalibrasi dan sertifikasi arah kiblat. Sudah puluhan ribu masjid dikalibrasi arah kiblatnya olehnya bersama timnya.

2.
“Kamu melihat itu?” tanyanya kepada keponakannya, anak abang tertuanya, anak muda lulusan perguruan tinggi agama Islam di kota provinsi. Masih menganggur. Anak muda itulah yang kini mendiami rumah masa kecilnya.

“Aku melihatnya, Paman!”

“Kau tak memberi tahu takmir masjid?”

“Paman-paman yang lain melarangku untuk bicara…”

Lanjutkan membaca “Instacerita: Pengukur Arah Kiblat”

Adalah Cinta Kita

                                                            : dhiana

AKU cabang, kau dedaunan,
sepasang burung hinggap di ranting
itu, tak tahu bahwa teduhnya

adalah Cinta kita

*

Aku lelah angin, kau tabah laut,
pantai yang selalu menunggu itu
tak tahu ombak yang sampai padanya

adalah Cinta kita

*

Aku matahari pagi, kau manis
gerimis, pelangi yang melengkung
itu tak tahu, bahwa warnanya

adalah Cinta kita

*

Aku mata air, kau liku sungai,
air yang mengalir itu tak tahu
bahwa deras arusnya

adalah Cinta kita

*

Aku batang lilin, kau sumbu
api yang menyala padamu itu
tak tahu bahwa terangnya

adalah Cinta kita

*

Aku kukuh akar, kau julang batang,
ranting di cabang itu tak tahu
bahwa bunga yang mekar padanya

adalah Cinta kita

 


Catatan:
Sajak ini saya tulis 20 Mei 2010. Mula-mula saya siarkan di blog sejuta1puisi.blogspot.com. Mei itu bulan penting bagi saya dan Dhiana. Soal ini mungkin nanti akan saya ceritakan. Mungkin dalam novel. Sajak ini kemudian terbit dalam DUKA MANIS (Diva Press, 2018). Ada satu bait yang tak saya sertakan dalam versi buku, rasanya terlalu personal. Tapi versi awal itu – dengan bait akhir yang kena ‘sensor’ itu bisa dilihat di blog.