Kata

YANG berjalan jauh
sampai ke lidahku
kamus membesar
dalam kepala
menyimpan yang
tak terbawa oleh
sunyi dan suara.

Di Pantai Sanur

ADA angin
yang letih
dan ingin hinggap

ada pasir
yang bosan
dan ingin bersiul

ada ketapang
yang ingin berbaring
di kursi panjang itu

ada seorang pelancong
sehabis berenang

membiarkan
pasir dan garam
mengering di tubuhnya

angin asin
dan matahari dingin

bayangannya dan
bayangan ketapang
menyatu
di kursi panjang
yang ingin benar
berselancar
di ombak yang

pincang itu.

Kita Pernah Bersama di GBK

KITA pernah bersama di GBK, dan itu belum lama,
kita mengacungkan dua jari, bernyanyi
dan melihat harapan pada cahaya
dan pada dia yang berkemeja putih
di panggung yang tampak terlalu besar baginya.

Aku memotretmu di depan panggung itu
dengan ponsel dari gaji pertamaku.

Kau bilang, “aku ingin nanti sekali berada di sana
bersama orang banyak itu, dan tentu saja bersama kamu.”

Malam itu, aku pulang dan bertemu
dengan sepi yang tak peduli,
di kamarku, aku berpikir untuk pindah kerja
dan sekali lagi membiarkan negara diurus
oleh politisi-politisi yang tak pernah
sepenuhnya bisa aku percaya.

Kepada mereka aku tak pernah berharap apa-apa.

Harapan hanya ada jika ada cinta. Itu yang kau tak pernah tahu:
bahwa aku pernah berharap banyak padamu.

Aku berharap kau tahu aku mengharapkan kamu.

Kamu pernah bertanya tentang hal lain, tentang kangen atau rindu.
Atau kehilangan? Atau keterpisahan?

Aku katakan, kangen adalah bakteri yang ganas, menular, dan lekas berbiak.

Aku terjangkiti bakteri itu, dari kamu.
Tapi aku tak pernah mau mengakuinya.

Padamu, aku adalah pencinta yang pura-pura steril dan kebal.

Padahal itu belum lama, Sayang. Ya, belum lama.
Tapi kenapa rasanya itu terjadi nun di masa lalu?

Mungkin karena banyak orang yang dulu datang ke sana telah lupa
dan kecewa.

Harapan dan kepercayaan, mungkin sejenis modal penting yang
mahal dan lekas habis dalam perdagangan kekuasan yang lancung.

Seperti kita, kita yang pernah kita, sebelum kau pergi,
dan kini, apa bedanya, aku berjalan tanpa ikatan, dan kau
lebih percaya dan patuh pada orang yang menyorong berkas
yang tak pernah cermat kau baca, yang membuat kau terlibat
dalam perjudian yang sejak semula kau tahu
tak akan pernah kau menangkan.

Aku akan berteriak lagi, tidak di GBK itu,
stadion yang terlalu besar
untuk harapanku yang kecil dan kian mengecil.

Aku akan menyatukan diri dengan siang dan jalanan, dan
dengan siapapun yang dengan berani memilih berada di sana.

Ada #klinikpuisi di Kanal Youtube Juru Baca

SETIAP Jumat, sekali seminggu, kanal Youtube Juru Baca akan menayangkan obrolan #klinikpuisi. Temanya: Puisi untuk Semua. Ya, puisi untuk semua. Untuk kita semua.

Saya tak segarang Chairil yang berseru, “yang bukan penyair tidak ambil bagian” (Fragmen). Atau sebagian orang lain yang bilang semua bisa jadi penyair.

Menjadi atau tidak menjadi penyair tidak penting. Tapi mengenali (untuk menikmati) puisi itu jauh lebih penting.

Dan untuk itu, untuk bisa mencintai puisi, semua orang bisa. Dan perlu! Agar bahasa menjadi lebih segar, dan hidup lebih bermakna.