Sepi yang Tak Mengenalmu dan Tak Kau Kenal Itu

DI sebuah kafe
yang tak usah kusebut namanya
ketika aku mencari sepi yang terkenal itu
kudengar ada orang yang asing
asyik menyanyi dengan getar gitar
seolah di sana
tak ada siapa-siapa

Tapi, tentu saja ada aku

Aku yang gagal
menemukan sepi yang terkenal itu
sebab dia menyanyi lagu yang bagus
dengan gaya yang membuat aku seakan dimaki-maki,
“….mampus kau dikoyak-koyak imajinasi!”

Ia menatap pada ruang kosong
kata-katanya menari dan mengambang
antara terang lampu dan remang masa lalu
dan aku terbawa ke gelanggang
sama sekali sudah lupa pada sepi yang terkenal itu

Aku tak tahu itu lagu siapa
Mungkin sebuah puisi yang ia tulis sendiri
sekilas mirip Sapardi tapi tentu saja bukan,
bukan Sapardi

Sebab liriknya
seakan diambil dari dalam diriku
seakan dicuri dari dokumen di laptopku
seakan dipungut dari puisi di blogku
seakan dia membuka rahasiaku dan membunuhku perlahan
seakan dia sudah tahu bahwa aku malam itu
akan datang ke situ, ke kafe itu

“…selamat malam, Pencari Sepi.
Sepi yang terkenal itu, sepi yang
tak mengenalmu dan tak kau kenali itu,”
katanya setelah jeda sejenak dari berhenti menyanyi,
dan aku tak berani mengatakan bahwa
ia mengatakan itu untukku.

Iklan

Di mana Nanti Kau Terbangun

AKU bermimpi menjadi bantal kecil
pada sofa di ruang tamumu
bantal yang menemanimu tidur siang
dan kau bermimpi tentang aku

Aku bermimpi kau tertidur hingga petang
dan aku datang dan hari hujan
lalu kebentangkan selimut pada mimpimu
aku beranjak masuk ke mimpimu itu

tubuhmu mimpi, tubuhku mimpi, tubuh mimpi
hari makin hujan, hari lalu jadi malam
lampu di rumahmu kubiarkan saja tak menyala
sebab nanti kau terbangun dalam mimpiku

Janji Jiwa dan Kenangan Mantan

HAMPIR malam di kafe,
ketika pesananku tiba,
secangkir kopi lagi, bukan, bukan latte
ini spesialti arabika.

Tadi, kudengar, dia barista
memanggil nama yang ia tuliskan pada cangkir
nama yang kudustakan padanya
sebagai orang lain, aku mengarah ke bar

Kopi, sekali lagi, kopi
dan waktu yang kusesap perlahan
nyaris tak lagi berarti
sesia-sia janji jiwa, dan kenangan mantan

Ruang Sidang Ratna

DI kursi itu
kau duduk lagi, Ratna,
melayani pertanyaan
para pendakwa dalam
babak-babak panjang sidang
dan ini bukan drama.

Kau mungkin
bertanya kenapa
pertanyaan itu kini
berbeda?

Dulu, kau seakan
punya semua jawaban,
bahkan kau adalah jawaban
untuk pertanyaan
pada zaman ketika
untuk bertanya pun
menuntut keberanian.

Tapi, kini kau hanya terdakwa
dan semua harus kaujawab
dan kau menyerah ketika
mencari celah untuk
berdusta.

Dan kau pun
sendiri di sana.

Kau mungkin benar, Ratna,
bahwa bedah wajah itu
sejenis penganiayaan juga,
dan untuk itu
diperlukan
seperangkat dusta,
dan sebuah pernyataan
yang gagal menzalimkan
sebuah rezim.

Kau memang lekas
menyesalinya
tapi drama itu
ternyata
tak lagi bisa kauhentikan
dengan sebuah pengakuan
dan cuci tangan kawan
yang ramai-ramai
meninggalkan.

Dan kau pun
sendiri di sana.

Hatimu, Ratna,
dengan segala bukti
yang meringankan dan
yang memberatkan,
sudahkah menjatuhkan
hukuman untuk
kesalahanmu itu?

Di kursi itu,
kau duduk lagi di situ,
mencoba mengerti
pertanyaanmu sendiri,
pertanyaan yang
harus kau jawab sendiri,
yang tak lagi kau tahu
hendak mengajukannya
kepada siapa.

Tiga Bait dari Sebuah Novel yang Sedang Kutulis – 1

 “AKU akan membuka sebuah kafe,” ujarnya, “dengan desain interior yang membuat kamu betah membaca Murakami, Pamuk, atau Hemingway, teman-temanmu itu…”

“Aku punya barista yang bisa meracik kopi seperti kopi yang kamu suka itu, kopi yang kamu perkenalkan padaku,” ujarnya, “tapi kamu tak akan pernah singgah di kafeku…”

“Aku akan menyediakan meja kecil dengan kertas dan pensil gambar, juga kursi yang akan selalu kosong,” ujarnya, “itu sudut untukmu, ada atau tak ada kamu di situ…”

 

 

 

 

Lagu Trubadur – Edward Hirsch

Lagu Trubadur
Edward Hirsch

Terbangun di pagi musim dingin
     menjelang aroma laut
dan berlagu tak tentu tuju,
     betapa hampa padaku tiba.

Aku bermimpi menunggang kuda
     di sepanjang pantai lengang
di mana kami jauh berlari
     hingga hilang di lepas pandang.

Kami berpacu melewati mercusuar
     terbengkalai di bukit pasir
dan berhenti di kandang kecil
     yang tinggal reruntukan.

Terbangun di pagi musim dingin
    menjelang aroma laut
dan berlagu untuk yang tak ada,
     betapa hampa padaku tiba.

Kami mendaki gigir paling tajam
     di daerah yang tak ada, di laut.
Kuda itulah hanya yang tersisa
     dari apa yang kuinginkan ada.

Kami di derah yang dalam untuk diam
     dan tak ada lagi yang tampak ada,
maka kami berdua berjalan
    ke arah pemakaman.

Terbangun di pagi musim dingin
     menjelang aroma laut
dan berlagu tak tentu tuju,
     betapa hampa padaku tiba.

Malaikat Malang – Edward Hisrch

Malaikat Malang
Edward Hirsch

Pada jam ketika jiwa melayang tak berbeban
lewat jalan kota, senyap dan tanpa tampak,
tercengang oleh bauran asap kelam-cerlang
menyesap pada udara, gelap setengah-takar

senja begitu saja memenuhi langit kota
sementara tubuh itu duduk lesu ambang jendela
murung dan limbung, terlalu lelah untuk bergerak,
terlalu penat untuk berdiri pun untuk sekadar rebah.

Pada jam ketika jiwa seperti sayap kuning
nyelinap menembus pucuk pohon, sedikit senang
di atas trotoar awan mengambang, memanggil
malam mendekat, “Takjubkan aku, takjubkan aku,”

sementara tubuh itu duduk murung ambang jendela
mendengarkan panggilan yang pasti dari si mati
telus sebagai kaca, tembus laksana kristal. Malam
lalu malam, lalu mereka nyaris terpersatukan.

Oh, ini pengekangan yang aneh dan tak biasa,
tautan murka antara yang cepat dan yang lambat:
ketika jiwa terbang, tubuh akan terbenam dan
sepanjang malam — terkunci di ruang sempit yang sama —

mereka terus bertengkar, dengan bebal mengancam
saling meninggalkan, tanpa kata mengisi udara
dengan lirih suara yang terbakar dari dalam.
Berapa lama persandingan berantakan ini bertahan?

Di tengah malam, jiwa bermimpi seunggun api
bintang menyala di sisi langit yang lain,
tetapi tubuh memandang kemilau malam kosong,
kegelapan bermata hampa. Nasib buruk malaikat,

kesumat cinta lama: belum terleraikan jua.
Biar yang fajar hidup bersama yang menyenja.