Kudaku adalah Buku

Semulia-mulia tempat di dunia ini
ialah di atas pelana kuda tunggangan.
Dan sebaik-baik karib
di zaman ini ialah buku.

– Abu Tayyib Mutanabbi*

KUDAKU adalah buku,
membawaku jauh
berkelana tanpa pelana,
menyesatkanku
ke padang-padang
dan wadi kabilah asing
yang menerimaku
sebagai anak mereka

Kudaku adalah buku,
yang menemaniku berburu,
menyeberangi sungai deras,
menumpang kapal dagang,
menunggu malam dan aku
menyalakan unggun api, lalu
berdiang di sisi tenda.

Kudaku adalah buku,
membawaku pulang
ke rumah sederhana,
di dalam jiwa, dan
seseorang menunggu di situ
dengan sabar merawat segalanya
selama aku tak ada.

* Diterjemahkan oleh Mustamdi

Pagebluk, 2

HUJAN sudah berhenti ketika kamu meneruskan tangisanmu dan menghayati apa yang masih mengalir di parit-parit perumahan yang padat hingga jalan ke kampus tua itu sebagai air matamu. Kenapa kamu bahagia menangisi ketakmampuanmu menahan dan meyakinkan kami dengan sedu sepedih ini?

Pagebluk, 1

KAMU meniti tali yang dibentangkan dua ekor kupu-kupu. Tali itu semakin panjang tapi tak menyampaikan kamu ke mana-mana. Kamu hanya menunggu saatnya jatuh. Di tempat yang tak pernah tepat: halte kosong, stasiun sepi, atau terminal lengang. Tempat-tempat yang menyisakan seorang loper tua. Ia membuang setumpuk surat kabar. Ada berita yang ditulis dari ucapanmu. Seorang reporter mewawancaraimu lewat telepon. Dan kamu menjawab dengan sejumlah dusta yang kaukutip dari siaran langsung di televisi.

Patuh atau Membangkang pada Ejaan Baku?

Oleh Hasan Aspahani

JANGAN takut sama ejaan. Jangan buru-buru jengah pada ejaan baku. Ejaan disusun untuk menolong kita, para pemakai bahasa. Seperti bahasa, karena memang bagian darinya, terutama bahasa tulis, ejaan itu kesepakatan.

Atau disusun oleh otoritas bahasa, dan kita para pemakai dianggap secara suka rela bersepakat pada apa yang mereka tetapkan. Misalnya, kalau ditetapkan setelah titik, huruf pertama pada kata pertama pada kalimat berikutnya harus menggunakan huruf besar, maka ikutilah itu.

Ejaan terutama penting dan perlu pada ragam bahasa tulis atau naskah resmi. Korespondesi di bidang bisnis, akademis, media, atau di birokrasi resmi. Bayangkan betapa kacaunya kalau masing-masing pihak mengembangkan gaya sendiri.

Ejaan adalah kaidah tulis-menulis baku yang didasarkan pada penggambaran bunyi. Ejaan mengatur cara menulis huruf, juga cara menulis kata dan cara menggunakan tanda baca. Karena itu, ejaan punya empat prinsip: cermat, hemat, luwes, dan praktis.

Tak boleh ada kontradiksi atau aturan yang bertabrakan, menghemat waktu, tenaga, dan pikiran dalam berkomunikasi, juga harus selalu menyisakan ruang untuk kebutuhan perkembangan bahasa, dan tak merepotkan kita menuliskan dengan perkembangan perangkat bantu penulisan.

Terus dalam puisi bagaimana? Bukankah ada yang namanya lisensi puitika? Yaitu ruang bagi penyair untuk menabrak aturan tata bahasa dan ejaan untuk mencapai efek puitik tertentu? Baiklah… (akhirnya sampai juga pada pembahasan soal ini!)

Puisi, pada satu sisi, memang ajang untuk memuaskan bagian dari diri kita sebagai Homo ludens, makhluk yang bermain, bergembira ria dengan mengutak-atik menggali potensi bahasa, termasuk di antaranya melanggar aturannya, melawan apa yang baku, apa yang ditetapkan untuk disepakati.

Maka kita pun bisa menerima bahkan ikut menikmati pelanggaran seperti teks tanpa huruf besar di awal kalimat dan tanpa titik di akhir kalimat seperti yang kita temukan di sajak-sajak Sapardi Djoko Damono dan Sutardji Calzoum Bachri. Pada Sutardji kita bahkan menemukan pelanggaran besar bukan hanya pada ejaan tapi pada gramatika, leksikon dan pragmatik, sebagaimana ia maklumatkan di kredo puisinya.

Untuk Sutardji, segala keasyikan menabrak aturan itu ia lakukan untuk satu hal: ketika kata dibebaskan maka kreativitas dimungkinkan. Itu intinya: memungkinkan kreativitas. Maka di dalam sajak-sajak Sutardji kita menemukan hal itu: sebuah bahasa yang segar, yang baru, kreatif, lincah, mengejutkan, dan kita percaya, aduh, ternyata bahasa ini ternyata punya ruang-ruang baru yang menarik untuk diekplorasi ya? Eksplorasi itu bisa dilakukan di mana saja, tapi terutama dalam seni bernama seni puisi.

Saya tak ingin mengatakan bahwa pembakuan ejaan dan gramatika itu membuat bahasa menjadi garing dan kaku. Ejaan baku penting untuk berbagai hal yang sudah disebutkan di atas. Ketika tak semua sempat diatur oleh ejaan resmi, banyak pihak yang karena intensitas penggunaan bahasa tinggi berikhtiar juga membuat aturan sendiri. Di media misalnya, atau lembaga-lembaga yang komunikasi tertulisnya juga intens, mereka bikin ejaan atau istilah selingkung. Aturan yang dipakai di lingkungan terbatas.

Ejaan baku dan gramatika ada di ranah langue, kalau mau mengingat lagi teori Saussure. Kita para pemakai bahas ini memang semestinya mendekat sedekat-dekatnya ke wilayah yang dibayangkan ideal itu, tapi toh tetap saja kita ada di wilayah parole, bahasa yang sadar atau tak sadar kita kembangkan untuk kepentingan dan kenyamanan kita sendiri.

Bahasa puisi adalah parole-nya penyair. Dalam puisi berbahasalah dengan sadar bahwa kita ada dalam ketegangan dan keasyikan bolak-balik antara langue da parole. Kita bisa kok mengacu sepenuhnya pada ejaan baku, dengan tetap berupaya melahirkan gaya ucap yang tak kaku, sambil juga menunjukkan gaya bahasa yang khas. Atau melanggarnya dengan tujuan tertentu yang kita sadar benar itu tujuannya apa.