Karmina dan Tradisi Puisi Pendek Kita (1)

KITA, komunitas-komunitas bangsa yang hidup di kawasan nusantara, yang sejak lama telah terhubung dalam bahasa Melayu, sudah lama pula akrab dengan sajak pendek.

Kita punya bentuk sajak tradisional yang bernama karmina. Budaya Jawa pun punya tradisi sajak lisan yang sangat mirip yaitu parikan, yang sangat populer di kalangan rakyat dan seniman rakyat.

Karmina adalah pantun kecil atau pantun kilat. Seperti separuh pantun dalam jumlah kata. Sebuah pantun ringkas, dalam delapan kata. Ciri-ciri pantun jelas terbawa lewat kehadiran sanjak atau rima, dan pembagian isi larik antara sampiran dan pesan.

Ini contohnya:

kura-kura dalam perahu
pura-pura tidak tahu

sudah gaharu cendana pula
sudah tahu bertanya pula

gendang gendut tali kecapi
kenyang perut senanglah hati

Pinggan retak nasi tak dingin
Tuan tak hendak kami tak ingin

Sebait Karmina bisa disusun dalam dua larik, atau empat larik. Penyusunan bait dalam empat larik itu tak mutlak. Sebagai mana syair dan pantun dalam naskah beraksara arab melayu, syair dan pantun ditulis dua baris. Dengan begitu rima di ujung baris langsung tersandingkan dan terasa hadir.

Seperti juga pantun, yang tumbuh dan berkembang dalam tradisi lisan, sesungguhnya tak penting atau tak dipikirkan benar bagaimana karmina harus dituliskan dalam perkembangn awalnya, yang penting adalah ya rima di ujung larik itu, yang membantu orang untuk menghapalkannya.

Karmina bukan gurindam. Jelas keduanya berbeda meskipun secara fisik serupa. Yang paling tepat ya itu tadi, pantun kilat itu. Mari kita bandingkan dengan petikan dari Gurindam Dua Belas gubahan Raja Ali Haji.

Barang siapa mengenal dunia,
Tahulah ia barang yang teperdaya.

Barang siapa mengenal akhirat,
Tahulah ia dunia mudarat.

Memang, ada rima juga di ujung larik gurindam, tapi lebih diutamakan kehadirannya di ujung larik itu saja. Sementara pada karmina, ada rima pada setengah larik, yang apabila itu dipenggal dan seluruh bait kemudian menjadi empat larik maka ia juga menjadi rima akhiran. Pada gurindam tidak tampak pertimbangan rima tengahan itu.

Yang paling membedakan, dan menjadi ciri khas gurindam adalah pembagian sampiran dan isi. Pada gurindam tak ada pembagian itu. Dua larik gurindam itu seakan membagian tugas antara pertanyaan dan jawaban. Atau pernyataan dan tanggapan.

Gurindam adalah juga sajak pendek. Tapi jenis dan bentuk puisi ini selalu ditulis dalam rangkaian panjang. Jarang atau bahkan tak pernah ditulis tunggal, sebait saja.

Maka, jika kita ingin melacak jejak tradisi puisi kecil kita, menurut saya karmina itulah wujudnya. Akarnya. Apakah keringkasan karmina adalah menuntut pemadatan? Tidak. Yang dihadirkan ya pengucapan yang lebih ringkas. Itu saja. Karmina, sebagai mana sudah disebutkan di atas adalah pantun kecil.

Sajak 11 Kata #3

tadi pagi
seekor ulat
kutemukan

memakan

pucuk
tanaman kunyit
di polibeg

Sajak 11 Kata #2

lewat perlintasan
ripuh jalanan kota

panas

gerah hari beringsang
matahari siang

sajak 11 kata #1

menyemai benih
bunga pukul empat

berkecambah

ada kupu-kupu lewat
angin mengikutinya

#sajak11kata

Surat untuk Seseorang yang Bertanya tentang Puisi (7)

Salam sejahtera senantiasa untukmu,

Pertanyaan-pertanyaan mendasar yang engkau ajukan itu akhirnya memang penting juga untuk ditanyakan. Bagus juga engkau menanyakan itu setelah saya tahu bahwa engkau memang benar-benar telah mengerjakan puisi-puisimu. Saya tahu itu dari puisi-puisi yang kau sertakan dalam surat-suratmu. Nanti ya, akan kita bicarakan sajak-sajakmu itu. Saranku, kirimlah ke surat kabar, majalah, media daring yang banyak sekali sekarang, bukan? Itulah cara menguji kekuatan puisimu.

Engkau bertanya bagaimana saya memahami puisi. Di suratku yang pertama, rasanya saya bercerita padamu tentang bagaimana saya terpikat pada puisi. Semakin lama menggauli puisi, pesona puisi tak pudar di mataku.

Saya lalu mencari tahu sebanyak-banyaknya informasi tentang puisi. Banyak dan mudah sekali mendapakannya. Engkau pun bisa memperoleh informasi yang sama. Apa yang akan kusampaikan adalah rangkuman dari apa yang saya peroleh dan apa yang saya nyaman memahaminya.

Puisi, dari bahasa Yunani “poesis” -berarti “pembuatan” atau “penciptaan” adalah sebuah bentuk seni di mana sarana utamanya yaitu bahasa diberdayakan agar tercapai kualitas estetisnya dengan menambahkan, menggantikan, atau memaksimalkan makna nyatanya yang semula ada.

Ada beberapa kata kunci yang perlu engkau beri garis tebal di situ; bentuk seni, sarana bahasa, kualitas estetis, memaksimalkan makna. Bagiku itulah yang kita perhatikan ketika kita mengerjakan puisi. Pada hal-hal itulah engkau bekerja ketika engkau mengerjakan puisi-puisimu.

Kita bicara puisi secara global. Nanti kita bicara tentang puisi di tanah air kita. Rasanya di suratku sebelumnya sudah ada juga saya jelaskan padamu sedikit tentang itu, terutama dalam katan puisi dan Bahasa Indonesia.

Secara global, puisi telah menempuh sejarah yang panjang. Upaya-upaya awal untuk menjelaskan apakah puisi itu, seperti dilakukan oleh Aristoteles dalam risalahnya “Poetics”, terpusat pada ihwal pemanfaatan “daya bahasa” dalam retorika, drama, lagu atau komedi.

Pada zaman yang lebih kemudian, puisi mulai ditengok lebih khusus pada bagian-bagian khasnya seperti repetisi, rima, ritme, metrum, pilihan kata, dan mulai lebih ditekankan pula pada pertimbangan estetika bahasa puisi yang sudah mulai dipisahkan atau dibedakan dengan prosa.

Sejak pertengahan abad ke-20, puisi sudah mulai dipegang dengan longgar pengertiannya, definisi yang baku tidak lagi disakralkan. Sejak itu yang penting bagi puisi adalah ia telah didudukkan sebagai dasar dari kerja kreatif yang menggunakan bahasa sebagai ranahnya.

Puisi kerap menggunakan bentuk-bentuk khusus dan aturan-aturan tertentu untuk memperluas kemungkinan makna literal kata-kata, atau untuk merangsang bangkitnya tanggap rasa dan emosi.

Perangkat-perangkat perpuisian seperti, asonansi, aliterasi dan ritme digunakan untuk mencapai efek musikal dan efek jampi-jampi atau mantra.

Pada puisi terkandung ambiguitas, simbol-simbol, ironi, dan pada puisi diberdayakan juga unsur-unsur stilistika diksi puitik lainnya.

Akibatnya, makna puisi menjadi multitafsir, puisi membuka dirinya bagi pemaknaan yang berganda-ganda.

Dengan cara yang sama, metafora dan simile menciptakan gaunggambar yang bersahut-sahutan antara imaji-imaji yang tidak sama bahkan bertentangan — serentak tercipta pula pelapisan-pelapisan makna, terbentuk jalinan yang sebelumnya tidak terduga.

Beberapa bentuk puisi yang khas lahir dari kebudayaan tertentu, akibat kekhasan pada bahasa yang digunakan atau dikuasai oleh sang penyair. Dari Italia, kita mengenal soneta, dari Persia kita mengenal ghazal, dan bahasa Melayu yang menjadi cikal bakal bahasa Indonesia kita mengenal pantun, dari Jepang kita mengenal haiku. Bentuk-bentuk puisi itu kemudian melintasi bahasa-bahasa. Tradisi perpuisian dalam berbagai bahasa itu saling memberi dan mengambil pengaruh dan itu biasa saja, terjadi juga di ranah kebudayaan dan kesenian lain, bukan?

Sekarang, di zaman dunia yang terbuka, mengecil, dan menyatu, engkau sebagai penyair amat bebas menjelajah, tidak hanya mencari kemungkinan yang disediakan oleh bahasa utama yang engkau pakai. Sebagai penyair juga bebas meminjam gaya, teknik, dan bentuk dari budaya dan bahasa lain.

Saya ingin menjawab pertanyaanmu, karena saya punya jawaban seperti ini, intinya: bebaslah berpuisi, berimajinasi.

Batasan-batasan apapun memang perlu engkau ketahui agar engkau punya pijakan untuk melanggar batasan itu, tentu harus dengan alasan yang kuat, dengan konsep yang otentik, dengan kemahiran dan penguasaan atas bagaimana memberdayakan perangkat puitika dan jurus-jurus stilstika.

Terima kasih, dan mohon maaf jika jawabanku mungkin mengganggumu. Menggelisahkanmu, tapi itu saya pikir lebih baik darpada engkau merasa terlena dan terjebak dalam kenyamanan pemahaman yang jumud.

Sekian dulu suratku kali ini.

Salam,
Hasan Aspahani

Haiku di Indonesia: Sebuah Tinjauan Sekilas (7)

BISAKAH Sapardi Djoko Damono mengelak dari haiku? Bisa saja, tapi buat apa kita bertanya begitu? Kenapa pula penyair liris kita yang keras kepala dengan kelirsannya itu harus menghindar darinya?

Apabila peninjauan sekilas-sekilas ini mengandung muatan sejarah pula, maka itulah dan begitulah sejarah sastra harus dikerjakan. Sejarah sastra adalah catatan tentang pencapaian-pencapaian, pengaruh-pengaruh, dan percobaan-percobaan. Juga penafsiran.

Sejarah sastra bukan himpunan riwayat para sastrawan, meskipun keterangan tentang diri penyair ada gunanya untuk membantu memahami, meneluri jejak pengaruh dan pencapaian karyanya.

Tapi Sapardi saya kira harus dikecualikan. Riwayat hidupnya seakan sudah menjadi sejarah puisinya, juga sebagian sejarah puisi Indonesia. Hal penting ini akan kita bicarakan nanti dalam kesempatan yang lebih istimewa.

Kali ini kita lacak jejak haiku dalam sajak-sajak Sapardi. Buku pertamanya “Duka-Mu Abadi” (1969) jelas menunjukkan keyakinannya pada sajak liris-imajis. Ia membawa atau mengambil tradisi sajak Eropa, dengan kemantapannya pada bentuk-bentuk kuatrin dan soneta ala Shakespeare yang berbeda dengan penyair Pujangga Baru, juga tentu sajak sajak bebas.

Apakah Sapardi tak tergoda untuk menggarap haiku? Secara tak langsung Sapardi sudah merangkul haiku. Sajak imajis, sebagai mana dijelaskan oleh para penggagasnya berutang besar pada estetika haiku dan sajak klasik cina, juga pantun, apa yang dicatat oleh William Marsden sebagai puisi liris Melayu.

Kelak pada tahun 2000, dalam buku “Ayat-Ayat Api” baru kita temukan jejak haiku dalam portofolio kepenyairan dan perpuisian Sapardi. Ia menulis dua sajak “Ayat-Ayat Tokyo” dan “Ayat-Ayat Kyoto”. Keduanya adalah sajak imajis-liris yang mendasarkan pengucapannya pada estetika haiku, kepadatan, keringkasan, pemotongan kalimat – bukan sekadar pemabagian tiga larik pendek – dalam satu bait itu.

Mari kita baca beberapa petikannya:


/2/
ada kuntum melayang jatuh
air tergelincir dari payung itu
“kita bergegas,” katanya.

/3/
kita pandang daun bermunculan
kita pandang bunga berguguran
kita diam: berpandangan

/6/
menjelma burung gereja
menghirup langit dalam-dalam –
angin musim semi

(Ayat-Ayat Tokyo)

Sajak kedua, lebih pendek, hanya tiga bait, kita petik dua bait.

/2/
gerimis musim semi –
tengkorakku retak
kau pun menetes-menetes ke otak

/3/
kita sakura –
gugur sebelum musim selesai
tak terlacak pula

(Ayat-Ayat Kyoto)

Jejak estetika haiku atau kehaikuan sajak-sajak Sapardi di atas bukan karena judulnya yang memakai nama dua kota di Jepang. bukan pula hanya karena sajak itu ditulis dalam tiga baris pendek sebait. Tapi terutama pada kependekan, dan pemenggalan citraan pada kalimat-kalimat sajak yang mengingatkan kita pada kireji, unsur penting dalam haiku.

Coba perhatikan ini: 1. kita pandang daun bermunculan, 2. kita pandang bunga berguguran, 3. kita diam: berpandangan. Kita rasakan memang satu larik itu selesai, berhenti, lalu melompat kecil ke larik berikutnya. Itulah hakikat pemenggalan dalam haiku, kireji. Seperti kotak-kotak dalam komik. Yang penting selain apa citraan yang dihadirkan dalam kotak itu, adalah apa yang kosong , atau jeda di antara kotak-kotak imaji itu. Lantas makna terhidang dari suguhan ketiganya, citraan apa yang hadir dari persandingan, jukstaposisi, atau pertemuan serentak ketiganya.

Sapardi dengan demikian telah mengolah haiku, bukan sekadar memakai haiku, tapi menaklukkan bentuk itu, menurut atau melayani kepentingannya mengucap dalam sajak imajis-liris. Apabila kita katakan itu bukan haiku, ya, dia memang tak hendak menulis haiku. Sekali lagi dia telah dengan kreatif berangkat dari kehendak mengolah bentuk haiku. (bersambung)

Haiku di Indonesia: Sebuah Tinjauan Sekilas (6)

JEJAK percobaan atau penciptaan dalam bentuk haiku kita temukan juga pada karya Taufiq Ismail. Ada beberapa judul puisi dalam buku “Sajak Ladang Jagung’ (Pustaka Djaja, 1975) yang langsung bisa kita lihat sebagai haiku atau bentuk dan isi yang mendekati ke pola tersebut. Yang paling terasa adalah sajak “Bunga Alang-alang”. Sajak sepuluh bait itu ditulis 1963. Semua bait terdiri dari tiga larik pendek dengan pemenggalan yang terasa benar seperti haiku.

Bunga alang-alang
Di tebing kemarau
menggelombang

Mengantar
Bisik cemara
Dalam getar

Dan seribu kalong
Bergayut
Di puncak randu

Di bawh bungur
Kau pungut
Bunga rindu

Kemarau pun
berangkat
Dengan kaki tergesa

Dalam angin
Yang menerbangkan
Serbuk bunga.

(Bunga Alang-alang)

Apabila dalam sajak ini Taufiq Ismail setia bertahan dengan pembagian bait dalam tiga larik di sajak lain, sembilan tahun kemudian, tahun 1972, ada satu sajak lagi yang tulis dengan kekuatan pemadatan citraan yang semakin ia kuasai benar, apa yang tak hanya ia kerahkan dalam bentu haiku. Sajak itu berjudul “Bulan”. Barangkali justru ia mendapatkan atau berlatih menulis dengan ringkas, padat, dengan citraan visual yang kuat itu dari estetika haiku.

Bulan pun merah
Dan tersangkut
Pada rimba musim gugur

Sungai pun lelah
Dan mengangkut
Daun-daun bertabur

Lalu pada tiga bait berikutnya Taufiq Ismail menulis dalam empat larik.

Padang-padang jagung
serangga mendesing
Baling-baling
Berputar

Bulan merah
Tersangkut
Ke bawah rimba
Musim gugur.

Dengan menggabungkan larik ke-3 dan ke-4 pada bait ke-3 itu, dan larik ke-2 dan ke-3 pada bait terakhir, kita bisa merasakan bahwa bait-bait ini adalah haiku tiga baris.

Perhatian para penyair pada tahun-tahun 1960-an hingga 1970-an itu tampaknya tak secara khusus hanya pada haiku. Tapi jejak-jejak pesona haiku itu jelas ada. Apakah itu tren? Saya kira bukan. Mereka mencoba bentuk bentuk tetap apa saja, kuplet, terzet, kuatrin, juga pantun. Tak nampak lagi ada yang mencoba soneta, kecuali nanti sajak-sajak Wing Kardjo.

Masa-masa itu, bagi sebagian besar penyair seperti adalah masa mencari dan bereksperimen. Kelak, pada masing-masing penyair tampak kenyamanan pada bentuk tertentu. Umumnya mereka merangkul sajak bebas.(bersambung)

Haiku di Indonesia: Sebuah Tinjauan Sekilas (5)

HARTOJO ANDANGDJAJA menulis soal haiku di majalah Sastra, Mei 1963, dalam sebuah esai berjudul “Haiku” yang dengan sangat jelas menjelaskan sejarah dan filosofi , dan keunggulan dari apa yang ia sebut sebagai sajak alit dan sajak murni itu. Esai itu terangkum dalam bukunya “Dari Sunyi ke Bunyi” (Grafiti Pers, 1991)

Setelah memberi ilustrasi dan penjelasan panjang tentang konsep dan estetika shibumi dan contoh-contoh haiku ia menulis: Haiku, bentuk puisi paling alit dalam sastra Jepang, yang lahir dan berkembang pada masa antara abad-abad keenambelas dan tujuhbelas, merupakan kelanjutan dari perkembangan bentuk-bentuk puisi sebelumnya.

Artinya, haiku tidak muncul begitu saja, ada proses ratusan tahun dan ada kerja penyair yang melakukan interpretasi bentuk dan isi serta eksperimen-eksperimen pemurnian.

Hartojo menjelaskan, dalam Mansyoshu, antologi tertua puisi Jepang yang menghimpun sejumlah sajak dari masa-masa sebelum abad kedelapan, didapati 324 naga-uta (sajak panjang) dan 400 tanka (sajak pendek). Naga-uta, sajak panjang yang kadang-kadng ada yang mencapai 150 baris, sama sekali tidak timbul lagi sesudag abad kedelapan.

Sementara tanka, sajak pendek yang terdiri dari lima baris itu, berkembang di abad keenembelas dan delapanbelas, menjadi haiku, sajak yang terdiri dari 17 suku kata tersusun dalam tiga baris dan tak berima.

Apakah shibumi? Hartojo menjelaskannya sebagai “wujud keindahan yang menyimpan amanat alam, yaitu kesejatian sifat alam itu sendiri. Syibumi adalah citra keindahan di Jepang, dalam segala seni, malahan dalam segala bidang kehidupan sehari-hari, orang Jepang menjelmakan shibumi.

“Begitulah dalam puisi, para penyair berusaha pula menjelmakan shibumi. Dan betapa mereka berusaha menjelmakan shibumi itu, barangkali tidak ada yang lebih lembut menyaran seperti yang dilakukan haiku,” kata Hartojo.

Dalam esainya Hartojo menerjemahkan haiku dari Basho, Buson, dan Issa. Ketika memberi contoh bagaimana shibumi menjelma dalam haiku, ia memakai contoh haiku, apalagi kalau bukan, haiku Basho tentang sumur tua, kodok dan suara air itu. Bandingkan dengan terjemahan Amir Hamzah dalam seri tulisan ini sebelumnya:

Kolam tua
Katak terjun – suara
Plung – bergema

Inilah contoh haiku yang paling bisa menjelaskan apa dan bagaimana haiku dan bagaimana shibumi menjelma di situ. Sepi di seputar kolam tua, ujar Hartojo, baru menemukan kesejatian artinya, ketika bunyi cipratan air akibat katak terjun di kolam tua itu. Saat itulah tertangkap kesadaran penyair, betapai sepinya hari terasa.

“Demikianlah, antara kesepian dan bunyi plung terjalinb keselarasan perhubungan yang mesra: sebenarnya lantaran bunyi itulah kesepian mendapatkan intensitasnya dalam ruang kesadaran penyair,” ujar Hartojo.

Itulah shibumi, kata Hartojo, dan semua dinyatakan dalam bentuk pengucapan yang tidak lebih dari semacam saranan, dalam sebentuk puisi, yang justru karena jumlah baris dan suku katanya terbatas, tidak memberikan tempat bagi permainan retorika. Tidak juga memuat beban filsafat yang sering malah memberati puisi, sehingga kehilangan kemurnian sebagai puisi.

Saya kira, esai Hartojo adalah esai yang paling awal dan paling lengkap menjelaskan konsep dan estetika haiku pada publik pembaca sastra Indonesia. Ia tidak hanya mengajarkan apa itu haiku, tapi apa itu sajak murni, sajak yang tak dibebani permainan retorika dan beban muatan filsafat. (bersambung)

Haiku di Indonesia: Sebuah Tinjauan Sekilas (4)

DALAM buku “Setanggi Timur” kumpulan sajak dari beberapa negeri timur (Turki, India, Tiongkok, dan Jepang) yang diterjemahkan oleh Amir Hamzah, terkumpul sejumlah sajak penyair dari Jepang. Salah satunya adalah haiku karya Basho yang paling terkenal ini:

paya tua beradu cendera
tersingkir sunyi,
katak terjun, plung.
(Basho)

“Setanggi Timur” adalah kumpulan seri tulisan Amir Hamzah di majalah Pujangga Baru. Haiku karya Basho ini muncul di bersama 21 sajak penyair Jepang lain di Pujangga Baru VII/Thn. 4, Oktober 1939.

Upaya penerjemahan oleh Amir Hamzah, tentu telah diputuskan bersama oleh para pengasuh majalah yang punya tujuan memajukan sastra Indonesia. Mereka sadar semua pengaruh baik harus diserap, seperti pupuk yang bikin subur pohon sastra Indonesia. Pengaruh itu diserap dari budaya timur juga barat. Sikap ini dijelaskan oleh J.E. Tatengkeng dalam sebuah esai panjang.

Selain haiku karya Basho, diterjemahkan juga karya Issa, Shi-e, Kosen dan beberapa nama lain. Sebagai perbandingan menarik juga kita kutip utuh haiku dari tiga nama itu.

alangkah cemburu
burung di sangkar memandang kupu!
(Issa)

Wah! Dua bambu muda-usia
Bulan tertawa di celahnya.
(Shi-ei)

Terangnya bulan
Serasa sinarnya menyusup ke hatiku.
(Kosen)

Dari keterangan pada buku itu Amir Hamzah mendapatkan bahan terjemahannya dari buku-buku berbahasa Inggris dan Belanda, bukan langsung dari bahas Jepang. Terjemahan Amir ringkas, rendek, padat tapi tak tentu jumlah suku katanya. Memang sulit mempertahankan hitungan suku kata itu, apalagi kalau itu didapatkan dari bahasa Inggris atau Belanda, yang pasti sudah disesuaikan pula. Amir Hamzah sebagai penerjemah berhasil mempertahankan ketenangan, keriangan, dan kewajaran suasana dan emosi haiku-haiku itu.

Jejak terjemahan Amir Hamzah atas haiku setidaknya membuktikan bahwa sejak akhir tahun 1930-an, orang Indonesia, yang membaca Pujangga Baru tentu saja, telah mengenal bentuk sajak itu. (bersambung)

Pancasila Pericolosamente

Sajak Hasan Aspahani

Selamat pagi, Pancasila
aku menyapamu dengan geretar
suara kendaraan dengan servis yang tak disiplin
dari arah lurus dan datar
di ruas Tentara Pelajar
melewati sekerumun pengojek lelah
menunggu notifikasi dari aplikasi
di depan Stasiun Palmerah

Aku ingin mengajakmu
kembali pada kami sebelum
engkau mati lagi dalam bingkai
di dinding kantor dan sekolah
sebelum nanti aku menyatukan diri
di Jenderal Sudirman
masih jauh, tapi tak apa
jalan masih nyaman
meskipun akan sedikit sendat
di perlintasan kereta
dan kota yang ganjil ini
terus saja berpura-pura
bisa menggenapkan hidup kami
warga kota yang tak berdaya
dan tak kapok mencoba saling
membaca lagi engkau sila demi sila.

Selamat pagi, Pancasila
aku berkendara tak memilih jalan,
pasrah dan mengikut saja
pada petunjuk peta yang beri tahu
aku ada di jalan apa
dan harus berbelok ke mana.

Di tangan mereka, Pancasila
kau jadi manis manis manis kenangan
dan jauh jauh jauh lenso nostalgico

– vivere pericolosamente! –

kau jadi komoditi yang pura-pura dipahami
para cukong dan makelar memperjualbelikan
dengan harga murah sekali

Apakah engkau akan mengantar kami
masuk surga, wahai, Pancasila?
Mungkin, sebab engkau
telah bikin kami jadi rakyat yang sabar
(bukankah Tuhan sayang pada mereka yang sabar?)
dan doa kami terutama adalah harapan pada surga
(bukankah doa rakyat teraniaya langsung diurus Tuhan?)

Aku telah memasuki Gatot Subroto
melingkar tadi di Semanggi
tak melewati Senayan atau Gerbang Pemuda
Bersama pagi melagukan,
“o, pikir lagi, pikir dua kali”,
lirik yang ingin kuganti dengan sajak ironi
tentang antrean mobil curian
macet total di jalan menuju kantor tuhan

Selamat pagi, Pancasila
kalau siang mulai panas
atau petang nanti bila aku kembali
melewati jalan rutin ini Rasuna Said lagi,
lewat K.H. Mas Mansyur atau Galunggung lagi,
aku mau bikin jus dari kandunganmu
kuperas kuperas kuperas dan bagiku
engkau selalu segar, lengas dan bernas….

Sementara mereka sibuk berebut ampas!

Selamat pagi, Pancasila
bersama kami terus mencoba membawamu
kembali menjadi ideologi, lewat
kantor KPK di Kuningan tadi,
dan aku akan memutar lagi, berputar lagi
ke orang besar yang namanya mengecil
dan tertinggal sebagai toponomi kota,
atau pahatan di batu nisan
di taman makam pahlawan,
sementara kau berkali-kali
– dan kami tak akan membiarkanmu lagi –
hanya menjadi propaganda,
menjadi bahan indoktrinasi.

2020

Haiku di Indonesia: Sebuah Tinjauan Sekilas (3)

BILA kita mundur ke kurun tahun yang lebih silam kita bisa menemukan beberapa sajak Rivai Apin, kompanyon Chairil dalam tiga menguak takdir. Rivai menulis beberapa sajak yang saya anggap sebagai percobaan dengan bentuk haiku, dalam beberapa model.

Umumnya sajak-sajak Rivai adalah sajak yang panjang. Dan tampaknya dia nyaman dan telah mencapai sesuatu gaya dengan sajak panjang itu. Karena itu, sajak yang dekat dengan haiku itu saya katakan sebagai eksperimen. Dan sepertinya beliau tak merasa berhasil, tak melanjutkan eksperimennya dengan sajak pendek ala haiku itu. Mari kita lihat.

GELISAH

gelisar tidur
otak pecah-pecah, kenangkan bukan-bukan
semua panas hampa semata

10-5-46

Sajak ini berbentuk seperti haiku, isinya ekspresi perasaan bukan gambaran visual suatu pemandangan. Pengaturan tiga baris dalam satu larik, dan sebuah sajak utuh diselesaikan dalam satu bait itu saja mengasosiasikan pada bentuk haiku yang ringkas padat itu. Berbeda dengan sajak berikut.

?

samar senja membuat gelap
seekor layang terbang pergi
hilang dimakan malam.

nanti tiba juga waktunya
akan terbang pergi ini nyawa
dan hilang ditelan gelap malam ketiadaan.

8-8-46

Sajak ini tanpa judul atau judulnya “?” (tanda tanya). Bait awal, dengan mengabaikan aturan jumlah suku kata, dekat sekali dengan haiku. Seluruhnya adalah citraan visual layaknya sebait haiku. Tapi, bait itu tak berdiri sendiri. Bait awal itu seakan menjadi sampiran seperti pada pantun untuk ekspresi isi perasaan di bait kedua. Rivai menggabungkan haiku dan pantun, atau soneta dalam hal pembagian pemandangan dan tanggapan yang dibagi dalam dua bait yang diperuntunkan.

Ada dua sajak lagi yang ditulis Rivai pada tahun 1946 yang tampak berlandas pada estetika haiku yang kemudian dengan sedikit perubahan muncul lagi di tahun 1947.

Setelah itu sajak-sajaknya hingga tahun 1961, menurut yang bisa kita temukan dalam buku “Dari Dua Dunia Belum Sudah” (atas upaya Harry Aveling sebagai editor dan diterbitkan oleh Universiti Sains Malaysia, 1971) Rivai menulis sajak-sajak panjang. Haiku, bagi Rivai, dalam perkembangan jiwa dan perhatiannya selanjutnya, tampaknya tak menarik lagi untuk dikulik. (bersambung)

Kota Ini

KOTA ini bangsal sesak dan besar
orang usiran mengungsi
dari ketakutan
malam dengan sunyi
dan suara tembakan

Kota ini bandar yang ramai
kapten itu berseru,
“ohoi, kucium bau rempah!”
Atau aroma darah
(demi diksi dan rima)

Kota ini rapat gelap malam hari
sejumlah orang
mengumpulkan huruf
menyalakan kata “revolusi”

Kota ini tugu tinggi menjulang
rambatan bagi benih yang ditaburkan
sedikit harapan,
banyak kehilangan

Kota ini stasiun dan terminal
tak ada penjemput bagi yang datang
cari sendiri alamat
di kawasan tanpa nama

Kota ini sebak sungai mau mati
putus dari hulu mampat ke muara
di situ kau mandi
dan buang kotoran

Kota ini jalan mewah-panjang
nama pahlawan yang tak bisa membelamu
dari intaian bahaya
di tiap tikungan

Kota ini jembatan penyeberangan
senja menyilu pada halte yang kau benci
repetisi (baca: rutinitas) menggeramusmu

Kota ini menara perkantoran
penunggu jam kerja,
para pekerja magang
karyawan menghitung keseimbangan
antara sisa kredit kendaraan
dan jaminan pensiun

Kota ini kau, aku, dia,
kita, kau tanpa aku,
kita tanpa dia, dia tanpa kau,
kita tanpa kita. Aku
tanpa aku.

Jakarta, 2020

Haiku di Indonesia: Sebuah Tinjauan Sekilas (2)

SUBAGIO Sastrowardoyo dalam “Keroncong Motinggo” (1975) menyertakan satu sajak yang beliau beri judul “Haiku”. Secara bentuk sekilas sajak itu sangat jauh dari haiku jika yang dimaksud adalah haiku sajak formal yang dari Jepang itu. Puisi itu terdiri dari sepuluh baris. Aneh, judul dan isi sajak tak kompak. Mari kita baca:

HAIKU

malam rebah
di punggung
sepiku
gigir gunung
susur di kaca
hari makin surut
dan bibir habis kata:
dinda, di mana, siapa
tangan terkepal
terhenyak di meja

Kenapa Subagio memberi judul pada sajaknya ini “Haiku”? Apakah beliau bermaksud menulis haiku? Tapi kenapa sajak ini sama sekali tak mengikuti aturan ketat haiku? Rasanya tak mungkin juga menyimpulkan bahwa beliau tak tahu apa itu haiku dan bagaimana menuliskannya. Sajak ini adalah sajak liris-imajis ditulis dalam bentuk bebas. Ya, sebuah sajak bebas. Bukan haiku.

Barangkali, ya memang hanya sebuah dugaan, Subagio ingin memakai kata haiku pada judul sebagai alusi untuk menjelaskan seseorang yang menunggu seseorang yang tak datang, tak jelas juga akan datang atau tidak, dan dia kesal (tangan terkepal/terhenyak di meja), akan tetapi dia toh – seperti penulisan haiku – harus menyamarkan kesal itu dengan dan dalam kehadiran hal-hal lain yang terindera, kepal tangan di meja itu misalnya.

Tapi bisa juga begini. Apabila kita mau tata ulang sajak ini, kita bisa menemukan tiga bait haiku, atau sesuatu yang hampir haiku. Mari kita coba:

malam rebah
di punggung sepiku
gigir gunung

susur di kaca
hari makin surut
(dan) bibir habis kata

dinda, di mana, siapa
tangan terkepal
terhenyak di meja

Lebih terasa semakin menyerupai haiku bukan? Meskipun tetap saja hanya hampir haiku. Dan saya ingin simpulkan Subagio dalam sajaknya ini memang sedang menafsir ulang bentuk haiku, menuliskannya menjadi sajak bebas. Beliau semula tampaknya memang ingin menulis haiku, mengikuti ikatan-ikatannya, tapi kemudian karena tidak memuaskan sebagai jalan ucap bagi apa yang hendak ia ekspresikan beliau pun lalu bereksperimenlah menabraknya. Hasilnya adalah sebuah sajak bebas yang berangkat dari haiku. Dalam ketegangan antara konvensi (haiku) dan inovasi (melanggar aturannya) Subagio memenangkan inovasi. (bersambung)

Haiku di Indonesia: Sebuah Tinjauan Sekilas (1)

APAKAH haiku masuk ke Indonesia bersama invasi Jepang? Atau sudah masuk ketika kegiatan mata-mata Jepang sepuluh tahun sebelum invasi itu? Atau lebih lama lagi? Sejauh ini saya belum punya data yang meyakinkan terkait kapan masuknya haiku di Indonesia.

Pertanyaan-pertanyaan tadi pun diajukan asal-asalan saja mengingat haiku memang dari Jepang dan negeri itu dalam hal kebudayaan gencar sekali berdiplomasi. Kita ingat bagaimana tenaga seniman disatukan dan dikerahkan lewat Keimin Bunka Sidosho. Tapi sepelacakan saya tidak ada pembicaraan soal haiku di sana. Mungkin saya saja yang terlewat.

Beberapa jejak kecil yang bisa saya lacak adalah siapa dan kapan penyair Indonesia menulis haiku. Sementara saya kira ini menarik, meskipun harus dikatakan sejak awal bahwa catatan tinjauan sekilas ini masih sangat minim data dan fakta.
Siapakah yang pernah menulis haiku di Indonesia?

Dan dari sajak yang mereka sebut haiku itu seperti apakah perlakuan mereka terhadap bentuk formal itu? Secara acak – tidak kronologis, sepenjangkauan buku saja – saya ingin tampilkan dulu sajak Abdul Hadi WM. Dalam buku “Tergantung pada Angin” (Budaya Djaja, 1977) ada dua sajak yang berjudul haiku ditulis pada 1976.

Haiku, 1

Sungai,
Tapi yang mengalir
jam lambat.

Haiku, 2

Kupu-kupu sutra.
Oh! cahaya bergetar
dalam kehijauan yang tiba-tiba lenyap.

Jika kita berpegang pada judul maka dua sajak ini memang diniatkan sebagai haiku. Tapi apakah dua puisi ini memenuhi syarat-syarat kecukupan haiku? Jawabannya: tidak. Yang segera terlihat adalah syarat sebaran suku kata yang 5-7-5 itu. Kurang pada puisi yang pertama, berlebihan pada puisi yang kedua.

Bagaimana dengan ruh atau jiwa atau suasananya? Ya, dua sajak ini berhasil hadir dengan suasana haiku. Terutama terasa sekali terasa pemakaian kineji, pembedaan bait atau perpindahan dari gambaran situasi (sungai, kupu-kupu sutra) lalu dua baris berikutnya adalah persepsi (jam yang lambat mengalir, cahaya bergetar, dst.). Dalam dua sajak itu penyair juga menahan diri untuk tak menghadirkan sosok ‘aku’ dan hanya menghadirkan respon dari sang “aku” penangkap itu. Itu juga ciri yang dipenuhi oleh sajak ini untuk disebut sebagai haiku.

Saya kira tak mungkin Abdul Hadi WM tak tahu ketentuan ketat penulisan haiku. Pada tahun-tahun itu beliau sangat intens menggauli puisi. Beliau ada menulis esai panjang sekali tentang sejarah masuknya sajak imajis di Indonesia. Di esai itu tentu saja beliau menyebut haiku yang menjadi sumber inspirasi gerakan imajis di Inggris itu.

Seandainya beliau tak memberi judul haiku, maka dua sajak itu tetap kita terima sebagai ajak imajis-liris yang kuat. Sebagai haiku, suasananya dapat, sebagai mana tadi saya jelaskan, tapi syarat fisiknya yang melenceng, pelencengan yang saya yakin disengaja. Begitulah. Dari sini paling tidak kita bisa melihat bagaimana bentuk itu diadaptasi lewat sebuah eksperimen penulisan. Tidak secara mentah, tapi, disesuaikan. Abdul Hadi WM mengadopsi semangatnya, ruhnya, unsur batinnya, dan mengabaikan bentuk fisik kecuali kepadatan dan keringkasan juga ciri utama tiga baris itu. (bersambung)

Surat untuk Seseorang yang Bertanya tentang Puisi (6)

Salam sejahtera senantiasa untukmu,

Saya ingin menanggapi puisi yang engkau kirim dan engkau harapkan aku menilainya. Baiklah, saya akan menanggapi tapi belum ingin memberi penilaian. Saya hanya akan katakan engkau sudah bekerja sebagai penyair, mencari cara ucap dari apa yang hendak engkau ucapkan.

Di dalam beberapa sajakmu engkau memasukkan nama-nama dari khazanah produk pop. Engkau tuliskan Marlboro, Popeye, Jusuf Kalla, Uniqlo, Alfamart, Rinso bahkan merek kondom, dll.

Tentu saja pertama harus saya apresiasi itu sebagai sebuah eksperimen yang diperbolehkan, kalau engkau bertanya apakah itu boleh dilakukan. Ya, tentu saja boleh. Puisi tak harus memakai kata-kata arkaik atau kata-kata antik. Semua kata boleh dan berhak kau ikutkan dalam puisi kita. Tugasmula memberi tempat pada puisimu, pada cara ucapmu, dengan memakai kata-kata itu agar mereka hadir dengan wajar bahkan segar. Tidak janggal atau bakan genit bin kenes.

Engkau pasti tersadarkan betapa lingkungan kita ini dipenuhi merek-merek. Ini zamannya merek, zamannya “brand”, bukan? Brand adalah pertaruhan berhasil tidaknya sebuah produk dipasarkan, brand adalah asset. Merek-merek berlomba-lomba menjadi nomor satu bahkan menjadi yang paling identik dengan jenis produknya. Maka, orang pun mengidentikkan sepeda motor dengan Honda, rokok rendah nikotin dan tar sebagai Sampoerna A Mild, dll.

Bukankah Chairil Anwar pun menuliskan coca-cola dalam sajaknya “Tuti Artic”. Saya tak tahu seberapa popularkah minuman ringan itu pada tahun-tahun 1947 ketika ia menuliskan sajaknya itu. Saya tidak tahu adakah penyair lain yang pada tahun-tahun itu yang menuliskan hal yang sama. Tapi, keputusan Chairil memasukkan kata itu saya kagumi sebagai sebuah keberanian. Dia memang hebat, dan karena itu kita punya alasan banyak untuk mengaguminya, bukan?

Dan ketika enkau dengar kata Adidas apa yang terbayang? Yang terbayang adalah deretan kata-kata “sporty”, penyuka aktivitas fisik, gaya hidup sehat, muda, dan dinamis. Lihat, betapa merek itu seperti puisi juga bukan? Merek seperti menjadi metafora untuk citra apa yang hendak dikenakan pada merek itu dan pada produk itu. Maka, orang-orang berduit berburu dan doyan sekali pada barang-barang bermerek.

Saya katakan menyair adalah menjadikan sebuah kata seperti mereknya peristiwa, atau imaji, atau situasi, atau keadaan tertentu. Jika upaya itu berhasil, dalam sebuah sajak yang berhasil, maka ketika sebuah kata tersebut, maka terbayanglah sederetan kata lain yang dicitrakan pada kata itu.

Kita mengenal alusi dalam puisi, yaitu penyebutan satu hal yang membawa sejumlah imaji besertanya. Seperti yang kau lakukan dalam sajakmu, beberapa saya kira berhasil menjadi alusi yang membawa citraan yang cocok untuk memperkuat sajakmu.

Ya, kita memang tak bisa mengelak dari merek-merek yang mengepung itu bukan? Sekarang, saya kira kita tidak perlu melawan kepungan itu, kita manfaatkan merek-merek itu di dalam bait-bait puisi kita. Mungkin dengan cara itu kita tidak akan menambahkan apa-apa pada puisi, tapi ya itu tadi, kita telah memberi sesuatu yang baru pada puisi.

Sekian dulu suratku kali ini.

Salam,
Hasan Aspahani