Yang Dikatakan

yang dikatakan kayu kepada api yang
menyala padanya itu, “abu yang tersisa
adalah tanda bahwa kau pernah ada.”

yang dikatakan awan kepada hujan yang
tercurah darinya adalah, “seseorang akan
menyajakkanmu dan aku bahagia.”

Sesalan yang Sungguh

ANGIN mempermainkan juntaian kain tilai
meneruskan kibar bendera Lebanon
dari pucuk teluk
dan kita lepaskan peluk

Engkau seperti negeri yang memejam
mengelak dari memandang masa lalu dan masa depan
:
Berapa kali maaf harus aku ucapkan
agar maafku kau terima sebagai maaf
lalu kita bisa saling melupakan?

Kapal-kapal belum akan berlayar
terikat pada tali tiang-tiang tambatan
padanya – seperti pada kita – ada serat yang koyak
bekas badai pelayaran semalam

Engkau seperti pantai yang tak sempat berbenah
menunggu – masih akan ada gelombang susulan
:
Berapa kali yang keliru harus kusesali
agar kau tahu aku terluka lebih parah
luka yang kuciptakan di tubuhku sendiri?

Apabila Lagu Itu Ingin Kau Nyanyikan

: Ikhsan Risfandi Zetry Iminy

DI jalan itu tadi
kita melintas bergegas
dikejar angin yang lekas
yang enggan dan dingin
dan kita bayangkan
ada yang tertahan dinding-dinding
rumah di perbukitan

Beirut menyiapkan senja
untuk kita,
setelah hari-hari
dikirim keluar kota
melawati jalan besar
gedung tak berpenghuni
tembok dengan grafiti huruf hijaiyah,
bekas peluru tembakan, dan
baliho tak meneriakkan revolusi lagi.

Kau jerang air untuk teh
dan mendidihlah petang,
di Youtube aku memutar Maalouf
lalu kutulis puisi yang kusiapkan
sebagai lirik apabila lagu itu
ingin kau nyanyikan.

Beirut

Beirut
: Ibrahim Maalouf

BEIRUT seperti lagu seorang remaja mengaji
aku mengingat ayat-ayat yang dulu kubaca
guru mengajarkan tafsir kata per kata

Orang berjalan, beli roti dan tomat di pasar,
mengenang perang, taksi berlalu perlahan,
di Beirut lampu dinyalakan dan dimatikan.

Catatan 2020, 1

TAHUN hampir habis
aku semakin tergagap-gagap
di hadapan almanak: sangkar yang mengurung
bilangan besar yang ingin benar melepaskan diri.

Hari-hari unggas lapar dan putus asa
mematahkan sebelah sayap
mematuki bulu-bulu yang lepas
sampai tak ada lagi bayangan.

Musim yang rutin itu berhenti,
—- begitu saja berhenti
dan lewatlah beberapa bulan
seperti aku terlambat beberapa saat
kembali ke permukaan laut
ketika pasang semakin dalam
dan aku belum juga kuat lebih lama menyelam.

Tahun hampir lepas
aku tak bisa kemana-mana
hari-hari selalu sibuk tapi tak bergerak
ramai datang tamu tak kukenal tapi tak bisa kutolak
menyapa dengan suara tak jelas dari balik masker
berkampanye terlalu dini untuk kandidat lancung
atau mengajak masuk jaringan bisnis MLM
Anda bisa pensiun dengan gaji seorang direktur
dan berwisata ke bandar pelancongan mana saja
seperti sebelum pandemi,
seperti tak pernah ada wabah ini
.

Tahun hampir silam
meninggalkan fragmen drama amat membosankan
aku duduk gelisah dan berdiri tak tentu arah,
di lobi apartemen tua dengan resepsionis
(yang judes dan sibuk menulis di status Facebook)
yang besok harus kutinggalkan.

Aku sedang menunggu paket surat
pemberitahuan sisa kredit
rumah yang tak pernah kutempati
yang tak sanggup kucicil lagi.

Jakarta, 2020

Aku Bilang Aku Bilang Aku Bilang / Simon Armitage

Aku Bilang Aku Bilang Aku Bilang / Simon Armitage

Siapa di sini yang menjelek-jelekkan diri sendiri
supaya orang tertawa? Siapa yang mengiris lengan
dengan belati di bak mandi? Kalian yang gelap-gelapan
di belakang, simak baik-baik, ya. Yang di depan
yang sudah tahu, yang sudah pernah, angkat tangan,
coba perlihatkan mana kulit yang tersayat antara
lengan bawah dan kepalan tangan. Ceritakan saja
seperti ini: minuman keras, garis merah tua
membekas di bak mandi, segulung perban, handuk putih dicuci
berbelas kali, masih merah dadu. Nasib baik yang kejam.
Lalu renjana untuk arloji, gelang, dan manset.
Atau cerita yang mungkin begini: kau dicambuk duri semak
saat memetik beri di hutan. Mengaku saja, mulai lagi,
ikuti punchline ini bersamaku ‘seperti darah itulah’
ketika mereka yang di belakang merangsek maju berkata
sedikit sekali sedikit sekali cinta bisa berdayakan kita.

I Say I Say I Say / Simon Armitage

Anyone here had a go at themselves
for a laugh? Anyone opened their wrists
with a blade in the bath? Those in the dark
at the back, listen hard. Those at the front
in the know, those of us who have, hands up,
let’s show that inch of lacerated skin
between the forearm and the fist. Let’s tell it
like it is: strong drink, a crimson tidemark
round the tub, a yard of lint, white towels
washed a dozen times, still pink. Tough luck.
A passion then for watches, bangles, cuffs.
A likely story: you were lashed by brambles
picking berries from the woods. Come clean, come good,
repeat with me the punch line ‘Just like blood’
when those at the back rush forward to say
how a little love goes a long long long way.

Sajak / Simon Armitage

Sajak / oleh Simon Armitage

Dan apabila salju turun dan salju menutupi jalan
dia ambil sekop lalu menyisihkannya ke sisian.
Dan selalu ia selimuti putrinya di hari malam
Dan menepaknya sekali waktu si anak berdusta.
Dan setiap minggu dia menaikkan setengah upahnya.
Dan yang tak dia habiskan seminggu itu ia tabungkan.
Dan dia puji istrinya untuk setiap makanan yang dimasaknya.
Dan ada sekali, sebab tertawa, ia tinju wajah istrinya.

Dan untuk ibunya ia membayar perawat pribadi.
Dan setiap hari Minggu dia antar pergi ke gereja.
Dan dia meratap ketika dia parah dan makin parah.
Dan dua kali dia curi sepuluh pound dari dompetnya.

Beginilah mereka menilai dia bila terpulang kenang:
kadang ia berbuat begini, kadang ia melakukan itu.

Poem / by Simon Armitage

And if it snowed and snow covered the drive
he took a spade and tossed it to one side.
And always tucked his daughter up at night
And slippered her the one time that she lied.
And every week he tipped up half his wage.
And what he didn’t spend each week he saved.
And praised his wife for every meal she made.
And once, for laughing, punched her in the face.

And for his mum he hired a private nurse.
And every Sunday taxied her to church.
And he blubbed when she went from bad to worse.
And twice he lifted ten quid from her purse.

Here’s how they rated him when they looked back:
sometimes he did this, sometimes he did that.

Cara Membunuh Tikus (3)

SUARA sapu lidi di halaman terhenti. Aku yang sejak lepas subuh tadi sudah tidur-tidur ayam saja menduga istriku melihat tikus di perangkap yang kupasang lagi semalam. Tapi aku tak berharap banyak soal itu.

Kemarin aku sudah berhasil membunuh seekor tikus besar. Itu sudah cukup memuaskan bagiku. Aku kira tikus kemarin itu jantan. Apabila semalam tadi terjebak lagi seeekor, mungkin betina istrinya, yang gelisah tak bisa tidur lalu lapar, lalu keluar sarang dan tergiur potongan ayam yang kutebar di dalam perangkap, aku tak terlalu herap. Tapi jantan atau betina, suami-istri atau bukan, sama saja brengseknya. Tikus adalah tikus adalah tikus.

Pintu kamar terbuka. “Ada tikus kena jebak,” kata istriku. Benar seperti yang tadi kuduga. Aku bingkas berdiri. Kali ini aku sudah tahu apa yang harus kulakukan. Hari ini hari Jumat, tukang angkut sampah prei. Berarti bangkai tikus yang kemarin mati kulelapkan di tong sampah masih di situ.

Perangkap tikus itu masih di tempatnya. Terpojok di sudut tembok dan kotak meteran air. Tertindih batu. Pagi di situ masih remang oleh rimbunan ranting belimbung. Beberapa ekor lalat hijau mendengung. Terbanglah mereka apabila terkejut oleh gerakan tikus di dalam perangap itu. Seekor tikus lagi. Seekor? Oh, tidak. Ternyata dua ekor. Berbeda ukurannya. Perangkap kawat yang sempat kuragukan ini telah menunjukkan kemampuannya. Aha!

Naluri membantaiku sepagi ini telah bangkit lagi. Dua ekor tikus! Dua musuh besarku. Aku panen besar. Aku seperti terjangkiti semangat pemburu yang berpose dengan senyum mantap, senjata di tangan, dan kaki menginjak tubuh hewan buruan yang terkapar.

Aku mengamati sejenak dua ekor tikus itu. Keduanya seperti menghindar untuk menatap langsung mataku. Mungkin mereka menyesal dan disiksa oleh rasa bersalah. Aku menatap ke tong sampah, tak jauh dari perangkap itu. Aku mau bilang pada dua tikus itu, “di situ, di dalam tong sampah itu, seekor kawan kalian menggelembung tanpa nyawa. Mati kedinginan dengan paru-paru penuh air. Saya tak punya alasan untuk melelaspan kalian. Saya tak sepemurah itu. Kalian akan bernasib sama!”

Aku memasang sarung tangan lalu mengangkat batu penindih. Sebelah tanganku menahan pintu masuk, sebelahnya memastikan dinding lain tak terlepas kaitnya. Tong sampah sudah kusiapkan. Perangkap itu kuletakkan perlahan di dasar tong. Perlawanan terakhir dua ekor tikus ini gila-gilaan juga. Terasa seperti hantaman-hantaman petinju ke telapak tanganku. Jeritan mereka juga memekakkan telinga. Aku tak pernah mendengar suara tikus dari jarak yang sedemikian dekat. Sangat menyayat, apalagi dalam hatiku menyeringai naluri jahat, “menjeritlah, sebentar lagi toh kalian akan mampus, tikus!”

Ayahku memang meyakinkanku dulu bahwa aku boleh membunuh tikus karena mereka hama. Sama seperti tupai. Atau kumbang penggerek batang kelapa. Tapi ayahku melarang aku menyiksa tikus, juga binatang lain.

“Bunuh dengan lekas, lalu buang. Biar dia menjadi santapan ular,’ kata ayahku, sambil mengumpulkan buah-buah kelapa dengan lubang pada tempurung dan daging habis disantap tikus, juga tupai.

Aku bisa membedakan mana buah kelapa yang dimakan tupai mana yang dimakan tikus. Apabila lubang dan lapisan serabutnya terpotong rapi berarti itu tikus. Tupai melubangi buah kelapa dengan kerja yang lebih amatiran. Serabutan. Tapi keduanya membuat lubang dengan lingkaran yang nyaris sempurna pada tempurung. Dari situ kalian bisa membayangkan betapa kuatnya gigi kedua hewan pengerat itu.

Maka kalian paham saja kalau kini aku memegang perangkap pakai sarung tangan, bukan? Berurusan dengan hal-hal kotor yang tak bisa kita hindarkan, juga mengancam, kita harus melindungi diri kita agar tetap bersih dan terhindar dari bahaya. Kita tak bisa meminta musuh kita untuk membersihkan diri dulu atau mengimbau mereka bermain bersih. Mereka, musuh-musuhmu akan tetap saja bermain kotor, karena mereka memang sebrengsek itu.

Dua tikus itu kali ini tak sekuat seekor sebelumnya. Mungkin karena sudah terperangkap sekian jam di situ. Aku mengucurkan air keran dengan dingin tanpa perasaan. Ya, aku sudah menjadi sesadis itu. Tapi, ini kan yang kalian mau, tikus? Tak sampai satu menit, kedua tikus itu mengapung tak bernyawa, dengan gigi-gigi menyeringai seperti memaki-maki dan mewartakan ancaman aksi balas dendam ke arah aku.

Jakarta, 6 November 2020.

Cara Membunuh Tikus (2)

MEMANG benar, perang belum usai, dan saya kira tak pernah usai.

Saya hanya merasa menang ketika berhasil membunuh – sejauh ini – enam ekor tikus, tapi serangan tikus-tikus itu tak pernah berhenti. Siang dan malam. Terakhir pot-pot pembiakan episcia kami berjatuhan dari rak. Di bawah rak ada setumpuk tahi dan menguar bau pesing. Saya tahu benar itu tahi dan kencing tikus. Bau yang sama kau dapati apabila lewat di gang-gang sempit di kota, dengan got mampet, lembab, dan gelap. Dan tikus-tikus itu menciptakan suasana itu di teras rumah kami. Dasar tikus!

Aku berharap pada perangkap yang beberapa hari lalu kubeli bersama lem tikus di pasar Pospengumben. Beberapa hari, setelah memindahkan posisi perangkap itu beberapa kali, tak ada tikus yang terjebak.

Aku mulai merasa bodoh. Beberapa kali di depanku, ketika jebakan itu kuletakkan di bawah pohon belimbing, tempat biasa kami meletakkan sisa makanan untuk kucing, aku melihat dua ekor tikus mendekat, mengendus-endus, turun naik perangkap, berkeliling mencari cara masuk dan menyantap apa yang saya sajikan di dalam itu. Saya pura-pura tak memperhatikan. Lalu kedua tikus itu berlalu tenang ke dalam parit. Aku kira mereka sepasang. Suami istri yang harmonis. Berbagi tugas dengan adil. Dua tikus kecil yang terbunuh dengan lem beberapa hari lalu itu pasti anak mereka. Dua anak yang belajar mandiri dan masih terlalu polos untuk mengenal kejamnya dunia, juga jahatnya dendam seorang yang telah mengobarkan perang terhadap mereka. Tapi tikus adalah tikus adalah tikus adalah tikus adalah tikus.

Aku mulai ragu dengan perangkap tikus itu. Ukurannya terlalu besar dibandingkan perangkap yang biasa kutahu. Tapi toko di pasar hanya menjual satu model itu. Pagi itu, toko tersebut memajangnya di depan. Mencolok sekali. “Tinggal satu, Pak. Lagi beseler,” kata si penjaga. Kayaknya memang sedang ada perang besar melawan tikus di mana-mana.

Istriku menyarankan agar umpan di dalam perangkap itu diganti. Ikan cue kurang keras baunya. Lagi pula yang sepotong terkait menggantung di dalam itu memang sudah agak kering. Aku memasukkan dalam satu wadah kecil – cukup untuk diletakkan di dalam perangkap – sisa-sisa ayam, brutu, ujung sayap, lemak dan kulit. Semuanya direbus lebih dahulu. Lemaknya mencair. Tikus yang lapar pasti akan menetes air liurnya.

Perangkap sudah kami pasang lagi sejak pagi. Aku memberi pecahan lantai semen di atasnya buat berjaga. Aku perkirakan apabila satu atau dua tikus terjebak apabila tak diberi pemberat perangkap itu tak cukup kuat untuk menahan rontaan mereka.

Suara azan asar tadi seakan jadi pengantar kematian bagi musuhku. Seekor tikus besar terjebak. Dan itulah persoalannya. Sebesar apapun marah dan dendamku, aku tak terlalu tega membunuhnya. Begini situasnya: bayangkan musuh yang di hadapanmu menyerah, mengaku kalah. Tak lagi bisa melawan. Penjaga taman tetangga depan rumahku memberi saran begini: masukkan karung, buka pintu perangkap, biarkan tikusnya keluar dari perangkap, ikat karungnya, lalu banting si tikus dalam karung itu. “Saya gitu, dulu sampai lima belas ekor saya bunuh. Ya, begitu…”

Aduh, saya tidak tega. Tapi, bagaimanapun, toh aku harus membunuhnya. Demi pot-pot episcia, demi pisang yang sesisir utuh tak jadi kami bikin kue jemput-jemput. Aku berpikir sejenak. Memperhatikan tikus itu. Aku menatap matanya. Aku melihat perlawanan di mata itu. Dia tidak menyerah. Oke, baiklah. Dan kulihat umpan di dalam perangkap itu habis! Tandas. Itu artinya, dia menikmati benar apa yang terhidang di situ. Mungkin dengan hati tertawa-tawa mengejek kebodohanku, sebelum menyadari dia terperangkap. Oke, baiklah.

Aku akhirnya ingat juga bagaimana cara ayahku membunuh tikus yang terperangkap. Mudah sekali. Ia lemparkan saja ke got perangkap tikus itu. Si tikus mati lemas dengan perut kembung penuh air. Ah, kenapa baru teringat. Itu cara yang paling tidak sadis. Tapi bukankah tak ada got di sekitar komplek perumahan kami? Drainase semuanya tertutup dan kering belaka. Kali Pesanggaran mengalir jauh di luar komplek. Ketika mataku tertumbuk pada tong sampah, serta-merta aku berseru, “Aha, ini dia.”

Tong sampah dan perangkap itu kubawa ke pojok halaman dekat gulungan selang dan keran air. Tong sampah cukup besar untuk menampung perangkap. Tikus itu benar-benar melakukan perlawanan, habis-habisan. Aku sempat cemas apabila perangkap itu rapuh dan tak cukup kuat menahan rontaan si tikus. Perangkap itu akhirnya duduk dengan manis di dasar tong. Aku mengambil selang, mengarahkan ujungnya ke tong, membuka keran. Air menggenangi tong. Perlahan. Meninggi. Aku sudah memberi pemberat batu di atas perangkap itu. Tikus itu tahu ada yang mengancam nyawanya. Ia mempergencar perlawanan. Menyundul ke semua sudut secara acak. Menabrakkan diri sekuat tenaga. Aku lihat ujung hidungnya berdarah. Terluka parah.

Lalu air meninggi, terendamlah seluruh perangkap itu. Aku menutup keran. Si tikus masih berusaha melepaskan diri. Meronta. Rontaan terakhir. Lalu gerakannya semakin lemah. Tak sampai lima menit. Ia akhirnya terjepit dan mati di antara dinding samping perangkap dan pintu masuk jungkit-jungkit yang merupakan filosofi dari jebakan itu. Kau bisa masuk tapi tak bisa keluar, itulah hakikat dasar dari sebuah jebakan, bukan?

Jakarta, 5 November 2020.

Cara Membunuh Tikus

IA lincah memanjat pipa AC. Saya memukulkan tongkat ke arahnya. Ia terlempar, mengeluarkan jerit nyaring, lalu terhempas di lantai. Kepalanya berdarah. Jeritnya nyaring lalu lindap. Terhenti. Dan mati.

Itu tikus kedua yang saya bunuh di rumah kami sejak pandemi merebak. Tikus yang pertama mati menderita terbalur lem tikus dalam posisi yang kusut dan kacau. Sungguh sebuah kematian yang buruk.

Yang ketiga lebih dramatis. Saya membangkitkan lagi kemampuan saya berburu di waktu kecil, mengingat dan melatih lagi kemahiran menombak sasaran. Dulu menombak itu permanan kami di kampung, di rawa-rawa lumpur pasang surut, sasarannya tempakul.

Tikus kedua dan ketiga yang saya bunuh itu bersarang di dalam AC. Ya, benar di dalam AC. Mereka masuk lewat lubang untuk pipa pembuangan air AC di dinding. Tiga hari, setelah membunuh tikus yang kedua, lubang itu saya tutup.

Rupanya masih ada seekor tikus di dalam dan pada hari kedua saja sudah terdeteksi keberadaannya. Dia pasti lapar dan risau. Jika saya biarkan dia di dalam itu toh saya tak bisa juga lekas membunuhnya.

Saya pun memulai perang. Saya buka sumbat pada lubang dan menunggu dia keluar dan pasti akan merambat pada pipa itu juga. Dan memang benar, beberapa saat kemudian dia memang keluar.

Saya menyabetkan tongkat bambu. Kali ini luput! Si tikus ketiga ini lincah berlari ke rak piring, ke rak bumbu-bumbu, ke bawah kompor gas – lalu ke atas lemari dinding. Di situ dia terpojok. Terengah-engah, lapar dan tampak letih. Saya mengambil sapu dan melepaskan tangkainya. Senjata baru. Di pojok atas lemari itu si tikus pasrah. Saya membidikkan tangkai sapu, mengambil jarak sedekat mungkin. Mempertajam naluri kapan harus melemparkan tombak saya itu pada detik sebelum si tikus lari. Tombak saya melesat dan menghantam kepala si tikus. Telak. Sama sekali tak ada jerit sakit dan ratapan kematian.

Perang terhadap tikus-tikus itu kami mulai sejak menemukan sisa-sisa ikan dan ayam menumpuk di bawah kompor gas. Saya langsung menebak itu pasti tikus. Apalagi ekornya tampak menjuntai santai ketika dia bersembunyi di situ. Dasar bodoh. Dan jumawa sekali. Ketika hari itu terpergok dia dengan ligat berlari lewat tangga dinding ke lantai atas, lewat satu-satunya pintu yang menuju ke sana. Memang hanya itulah kemungkinan jalan masuk tikus ke dapur kami. Hari itu skor 0-1 untuk kekalahan saya.

Kemanangan itu tampaknya membuat para tikus semakin percaya diri menyerang. Seekor di antaranya bahkan masuk ke dalam ruang keluarga. Jejaknya kami temukan sampai ke depan pintu kamar di lantai dua, dan yang paling membangkitkan kemarahan adalah dia menggerogoti pisang yang tadinya hendak kami buat kue jemput-jemput.

Saya membeli racun tikus. Tapi sajian maut itu tampaknya tak menarik minat mereka. Saya pikir benar juga, buat apa menyantap kudapan itu kalau ada santapan lain yang bisa dicuri yang lebih enak. Konon tikus memang tergolong hewan pengerat yang cerdas. Tapi secerdas-cerdasnya tikus ya tikus adalah tikus adalah tikus. Saya berpikir keras bagaimana menaklukkan mereka memanfaatkan kecerdasannya itu.

Lem tikus adalah upaya kedua. Saya juga membeli perangkap tikus dengan umpan ikan cue tongkol tapi sejauh ini belum ada hasil.

Si tikus penggerogot pisang sempat bersembunyi di antara kotak-kotak buku saya. Kami tahu dia ada di sana karena semua pintu keluar kami tutup. Seharian kami biarkan saja dia, mungkin tidur enak dengan perut penuh pisang. Malam harinya, saya pikir dia pasti keluar dari persembunyian.

Saya menunggu sampai pukul 12 malam. Beberapa menit menjelang tengah malam dia memang keluar. Melihat saya duduk di sofa bed, kelelahan setelah seharian mengikuti beberapa zoom meeting, dia terperanjat dan berlari ke belakang bangku kotak panjang yang kami letakkan dengan memberi sedikit ruang dari dinding. Kena! Dalam hati saya. Dengan santai saya menuju bangku panjang lalu dalam sekali dorong bangku itu jadi senjata pembunuh yang sadis. Si tikus penyet di antara dinding dan bangku tanpa sempat menyampaikan pesan terakhir.

Dapur kami sementara aman. Tapi beberapa pekan kemudian tikus-tikus muncul di halaman. Selama ini memang sisa-sisa makanan kami selalu kumpulkan dalam satu wadah di halaman untuk kucing-kucing liar di komplek. Invasi tikus ke halaman merampas jatah kucing-kucing itu.

Ada dua varian produk lem tikus. Yang dalam tabung dan yang sudah dalam wadah kertas dengan lem yang sudah terbalur. Saya tak merekomendasikan yang tabung itu. Karena daya rekat yang saya kira ratusan kali lem Glukol untuk kertas itu, jari-jarimu nyeri ketika memencetnya, untuk membalurkannya di papan atau kertas karton. Mending yang siap pakai, buka, tarok umpan, saya pakai ikan cue atas saran Encing Sahli,tukang parkir di Pasar Pospengumben.

Dua tikus terakhir terbunuh dengan lem tikus di halaman kami. Kemenangan besar buat saya. Dua lawan langsung teringkus dalam satu serangan balik. Tapi perang tampaknya belum berakhir. Seperti manusia brengsek, tikus selalu saja ada, tak akan pernah benar-benar habis terbasmi. Tikus – kata ayah saya dulu – boleh saya bunuh. Karena dia hama yang mengganggu, merusak tanaman kami, mencuri hasil panen kami.

Jakarta, 4 November 2020.

Masih Jauh

TURUNKAN langkahmu
jalan lurus dan akan jauh
jalan simpang dan riuh.
Ikat dan ketatkan tali sepatu
rapikan topi dan kaus kaki
lemaskan sebentar pundak
dan leher yang tegang kaku.

Jalan lurus dan masih jauh.

Aku Berdoa Bersama Indonesia / Sajak Hasan Aspahani

Aku Berdoa Bersama Indonesia
Sajak Hasan Aspahani

KETIKA aku berdoa
aku mendengar Indonesia berdoa
pagi bangkit berkemas,
aku dan matahari menyiapkan diri,
sebelum sampai kedua tanganku
mengusap hangat wajahku.

Dalam doa yang kudengar itu
matahari tersenyum
karena namanya disebut
dalam kalimat yang hangat
dan lembut, dan seperti aku
ia tak pernah bosan
menyiapkan dan menyambut
harapan yang bertunas
yang tumbuh dan berbuah
dan yang akan ada
dan akan selalu ada.

Aku mendengar
kalimat dalam kata-kata yang terang
dari nyala doa yang terjaga,
kayu kering kutambahkan
harapan-harapan menghangat
di dalam dadaku dan dada Indonesia,
karena siang datang,
dan matahari cemerlang.

Aku menangkap
bubuk cahaya doa itu
dalam keringat jalanan,
uap dedaunan,
dan suara saling sapa,
suara harapan dan orang lalu-lalang
dan dari suara gerobak penjual makanan.

Aku menghirup hawa kehidupan
pada udara dalam perjalanan
pada udara setiap persimpangan
pada udara di perhentian
aroma yang mengudara dari doa
yang memadat bersama kerja.

Aku berdoa
bersama Indonesia
dengan kata-kata yang hangat
mengerami telur-telur garuda
menetaskan lagi Bung Karno
menetaskan lagi Bung Hatta
menetaskan lagi sejuta pemuda
yang tak henti berdoa bersama aku,
bersama matahari, bersama Indonesia
dan mengaminkannya dalam kerja

dengan

bekerja.

Jakarta, 28 Oktober 2020

Persimpangan – Louise Glück

Ragaku, tak lagi kita bisa kemana-mana kini, lebih lama, bersama-sama,
kurasakan kelembutan baru padamu, yang mentah terlalu dan asing itu,
seperti yang kukenang dari cinta masa remaja –

cinta yang seringkali bodoh tentukan arah
tapi tak dalam pilihan, dan daya.
Terlalu banyak kita ingin lekas dapatkan, yang tak terjanjikan –

Jiwaku begitu takut, begitu bengis;
maafkan keberingasannya.
Seperti jiwanya jiwa, tanganku bimbang membelaimu

Tak hendak melukai perasaan
tapi gelora, akhirnya, mencapai ekspresi sebagai saripati:

Bukan bumi yang kelak kurindu,
tapi kamu yang ‘kan kurindu.

Menerjemahkan, Bayar Utang, Berkhianat


Menerjemahkan puisi-puisi adalah bagian dari keasyikan saya menikmati puisi. Tentu saja saya menerjemahkan puisi dari bahasa yang saya bisa. Saya tak pernah menguasai benar bahasa kedua, atau ketiga saya itu.

Saya juga membaca sajak-sajak terjemahan. Seperti sajak-sajak asli ada terjemahan yang saya suka karena saya anggap bagus, ada juga yang saya merasa terjemahannya harusnya tidak begitu. Biasanya saya akan mencoba mencari sajak aslinya. Sekadar melayani rasa penasaran. Kadang sajak yang terjemahan bagus pun membuat saya mencari sajak aslinya.

Menerjemahkan puisi adalah langkah berikutnya dari membaca puisi. Ya, mula-mula dan yang utama adalah membaca. Membaca puisi dari bahasa apa saja. Seperti banyak orang, saya membaca puisi yang saya tertarik dan saya suka. Tertarik pada sajaknya tanpa tahu benar siapa penyairnya, atau bisa juga misalnya karena si penyair yang mendapatkan penghargaan atas karya-karyanya, atau karena sosok pribadinya yang menarik, meskipun ia tak pernah dapat penghargaan apapun, bahkan tak dikenal atau terlupakan.

Menerjemahkan puisi bagi saya mula-mula untuk kepentingan saya sendiri sebagai orang yang menulis puisi saya sendiri. Dari penerjemahan yang saya upayakan sendiri itu, saya biasanya mendapatkan banyak hal: belajar bagaimana sebuah tema digarap, bagaimana sebuah gagasan diucapkan, dan hal-hal lain yang hanya saya dapatkan, saya olah atau saya curi, apabila saya melibatkan diri dalam proses penerjemahan.

Horst Frenz (lahir 1912), guru besar sastra bandingan dan sastra Inggris di Indiana Univesity, mengutip korespondensinya dengan Andre Gide dalam esai “The Art of Translation”, mengatakan setiap penulis kreatif berutang kepada negerinya untuk menerjemahkan sedikitnya satu karya dari negeri asing, yaitu karya yang bersesuaian dengan bakat dan tempramennya, dan itu sekaligus untuk memperkaya perbendaharaan dan wawasan sastranya sendiri.

Saya terutama terpikat pada gagasan akhir dari kutipan dari Horst Frenz, menerjemahkan bagi saya adalah memperkaya perbendaharaan dan wawasan sastra saya sendiri.

Ketimbang prosa, menerjemahkan puisi adalah sebuah proses yang lebih dramatis kata Umberto Eco dalam esai “A Rose by Any Other Name” yang diterjemahkan dari Bahasa Italia ke Bahasa Inggris oleh William Weaver untuk Guardian Weekly, 16 Januari 1994. Puisi, kata Eco, adalah seni dimana gagasan diperjelaskan dengan kata-kata, maka ketika kita mengubah bahasanya, maka kita mengubah gagasannya.

Apakah penerjemah terbaik adalah pengarngnya sendiri? Atau pengarangnya harus terlibat dalam proses itu? Umberto Eco mengatakan belum ada contoh penerjamahan puisi yang cemerlang yang dihasilkan dari kerja sama pengarang dan penerjemahnya. Artinya, si pengarangnya sendiri, tidak serta adalah penerjemah yang terbaik dari puisinya, meskipun dia menguasai bahasa tujuan penerjemahan.

Tapi bukan berarti penerjemahan itu tak mungkin dan sia-sia dilakukan. Umberto Eco mengatakan mungkin bahasa sejati itu memang tak pernah ada, tetapi mencari kesesuaian antara satu bahasa dengan bahasa lain adalah sebuah petualangan yang mengasyikkan.

Umberto Eco mengatakan penerjemahan itu tak penting mesti benar. Ia mengutip ujar-ujar orang Italia bahwa seorang penerjemah senantiasa juga seorang pengkhianat. “Maka, siapkan tempat bagi si pengarangnya untuk ikut juga dalam pengkhianatan itu,” katanya.

Vesper / Louise Glück

Vesper/ Louise Glück

Dalam absenmu yang semakin makin, kau bolehkan aku
mengolah bumi, mempertimbangkan
berapa laba atas investasi. Aku harus bikin laporan
kegagalan dalam tugasku, terutama
dalam budidaya tomat.
Aku kira aku seharusnya tidak tertarik untuk
menanam tomat. Atau, jika memang harus, kau harus
menahan lebat hujan, dingin malam yang datang
sangat sering ke sini, sedang belahan bumi lain
musim panas bisa dua belas minggu lamanya. Semua ini
milikmu: di sisi lain,
Aku menanam benih, melihat tunas pertama
seperti sayap merobek tanah, dan itulah hatiku
rusak karena hawar, bintik hitam yang menular
berlipatganda dalam barisan. Aku ragu
kau punya hati, seperti yang kami pahami
tentang istilah itu. Kau yang tidak membedakan
antara s mati dan si hidup, yang, sebagai akibatnya,
kebal terhadap bayangan, kau mungkin tak tahu
berapa besar teror yang kami tanggung, daun berbintik,
daun merah pohon mapel berjatuhan
bahkan di bulan Agustus, di awal kegelapan: aku bertanggung jawab
pada tanaman merambat ini.

Dari sajak “Vespers” Louise Glück, 1992, terjemahan oleh Hasan Aspahani, 2020.

Catatan: Sajak terjemahan ini semula saya kasih judul “Kebaktian Magrib”. Mario F Lawi mengingatkan judul itu kurang tepat mengingat konsep waktu yang dipakai dalam peribadatan Katolik adalah satuan jam, bukan kapan matahari terbenam. Terima kasih.