Tak Perlu Bayar Ongkos Antar

SEKALI aku mencatat untuk matamu
silang simpang pada garis-garis palma
sekali lagi aku melepas untuk harimu
basah cahaya di kebas tanganku

Sebagai hewan-hewan buruan waktu
kita tertangkap ketika lari dari diri sendiri
lalu masuk menjinak dalam kandang terbuka
menunggu datang peluru penembak jitu

Sekali aku mengemas untuk waktumu
pengantar paket satu set senjata lama
cash on delivery – terima barang seharga nyawa –
tak perlu bayar ongkos antar

Sekali Rindu

SEKALI rindu mengada
membungkam bahasa
dari mempernyatakannya
karena hanya kau
yang tahu seharusnya

Sekali rindu bermain
bayangan, meliputi wajahmu,
paras seri, cerita kumbang,
cahaya rembulan sampai
kau jauh yang tak tercapai

Sekali rindu melukis
apa yang bisa teringat
dari nyata wujudmu
risau putih mendusta
warna yang kacau

Sekali rindu menghitung
untung perniagaan perasaan
aku pedagang naif yang
tak pandai menawar, yang
kau jual mahal terlampau

Sekali rindu berlagu
muara segala amsal umpama
asmara dan lain sebagainya
sehingga akhirnya bersunyi
bersama semesta suara

Puisi: Sebuah Imajinasi dari Masa Lalu

1. Cara Ucap Terbaik

APABILA seorang yang bekerja pada seseorang hendak menyampaikan hajat kepada tuannya, maka ia akan pikirkan bagaimana cara menyampaikan hajatnya itu dalam bahasa terbaik, ia akan memilih dan menyusun kata-kata yang pantas, agar hajatnya dimengerti dan terlebih lagi agar dengan cara itu hajatnya dikabulkan.

  1. Pengucap yang Terbaik

APABILA ada sekelompok orang hendak menyampaikan satu hajat yang sama kepada pihak lain, maka anggota kelompok itu akan memilih dan menunjuk salah seorang di antara mereka yang paling cakap bercakap, paling fasih berucap, untuk mewakili mereka, agar hajat mereka dimengerti dan dikabulkan oleh pihak yang kepadanya mereka berkepentingan itu.

  1. Magi dan Tenaga Kata

PADA masyarakat lampau, ketika kekuatan alam harus dihadapi dengan teknologi yang belum berkembang jauh, maka ada kepercayaan pada tenaga dan magi kata-kata. Hewan buas bisa ditaklukkan dengan mantra, kobaran api bisa dijinakkan dengan mantra, satu penyakit bisa diatasi dengan jampi-jampi, dan lain-lain. Ada anggota kelompok masyarakat lampau itu yang berkembang menjadi seorang yang dalam dirinya berkembang kemampuan untuk merapal dan menyusun serangkaian kata-kata, ia merasa diberkati kekuatan gaib, dan orang lain percaya. Orang menyebutnya pawang atau dengan kombinasi kemampuan lain ia pun bisa juga disebut dukun.

  1. Berdendang dan Berlagu

Burung liar berlagu, manusia pada masa lampau menyukai kemerduannya, merasakan ada kebutuhan jiwa yang terpenuhi dari mendengarkan lagu riang burung itu. Manusia pun meniru, bersiul atau bersenandung, segala bentuk bunyi yang bisa ia hasilkan dengan alat ucapnya. Ia juga mengisi lagu itu, naik turun nada senandung atau dendang itu dengan kata-kata dalam hitungan dan ukuran yang pas. Dimulailah lahirlah bentuk awal dan dimulailah evoluisi musik dan lirik.

  1. Masyarakat Berkembang, Peran Berubah

Fungsi dan peran hal-hal tersebut di atas berubah, berkembang, atau menghilang, seiring perkembangan dan kemajuan peradaban masyarakat. Akan tetapi, kemampuan berkata-kata atau berbahasa dengan lebih baik, kepercayaan dan kemampuan menghidupkan kata-kata yang menggelorakan perasaan, bentuk-bentuk pengucapan bahasa secara khusus berkembang terus dalam apa yang kita sebut sebagai puisi atau sastra secara luas.

Jakarta, 10 September 2020

Apa yang Kutulis Ketika Aku Menulis Kenapa Aku Menulis dalam Bahasa Indonesia

1. Bahasa Indonesia menjadi bahasa yang menghubungkan dan kemudian bahkan menyatukan sebuah komunitas besar bernama bangsa Indonesia karena ia mudah, lentur, dan terbuka.

2. Tidak ada yang memaksa kita menulis puisi dalam bahasa Indonesia. Kita bebas menulis dalam bahasa apa saja yang kita mau dan kita kuasai. Bahkan tak ada yang memaksa kita menulis.

3. Ketika kita menulis dalam bahasa Indonesia itu artinya kita percaya padanya, percaya bahwa bahasa ini mampu menjadi wahana menyalurkan gagasan kita, dan kita sadar ada orang lain yang juga percaya pada bahasa Indonesia yang akan membaca tulisan kita, menerima gagasan kita.

4. Dengan mempercayai bahasa Indonesia maka kita lalu mengembangkan sikap menghargainya, mempelajari potensinya, menelusuri seluk-beluknya, mengakrabi kosakatanya sebanyak-banyaknya, mengenal sejarah perkembangannya.

5. Bahasa Indonesia tak sempurna? Ya, seperti juga bahasa manapun, tak ada yang sempurna, tapi sebagai bahasa yang baik, maka sepanjang sejarahnya bahasa Indonesia berkembang, terus memperbaiki diri.

6. Sebagai penulis, ketika menulis, selain menggunakannya, menjadikannya alat, kita juga berkesempatan ikut mengembangkan bahasa Indonesia, menawarkan perbaikan, menggali potensinya.

Jakarta, 6 September 2020

Tentang Kenangan

KENANGAN tentang engkau
adalah namamu dan namaku
yang kutoreh pada setip pemberianmu
yang aromanya sangat wangi itu

Bagaimana aku harus menghapusnya, selain
dengan membuang atau menghancurkannya?

Aku menulis sesuatu untukmu
setiap malam, di buku tulis
bergaris, bersampul foto artis
tentang apa saja yang kubayangkan
jikalau engkau membacanya maka
engkau akan bertanya dan hanya
aku yang bisa menjawabnya.

misalnya, tentang kayu bengkok
yang patah menggelipuk, cerita
tentang titian menyeberang, atau
harapan kutung dikitip bidawang, atau
ombak yang menempur di sela karang.

Aku menulis apa saja yang tak lagi
ingin kubaca tapi tak ingin kuhapus
dari ingatan, meskipun aku tahu kenapa
dan bagaimana aku harus melupakannya.

Beberapa Pertanyaan yang Tak Sempat Kuajukan ketika Dulu Aku Menyanyi di Sekolah Dasar / Sajak Hasan Aspahani

Beberapa Pertanyaan yang Tak Sempat Kuajukan ketika Dulu Aku Menyanyi di Sekolah Dasar

1
NYAMUK, kenapa kau
ceroboh sekali terbang
mendatangi cicak yang
diam-diam merayap itu?

2
Kalau aku tidur di tikar
tanpa bantal dan kasur
bolehkah aku menolong
ibu dengan cara lain
setelah bangun tidur
dan mandi dan tak lupa
menggosok gigi?

3
Apakah kebunku yang
kutanami beluntas, serai,
pucuk katu, jahe, kunyit,
yang kulihat dan kusirami
semua setiap hari, juga
seindah mawar dan melati?

4
Apa lucunya kupu-kupu
yang hinggap di telingaku
membisikkan sesuatu
yang tak kupahami tapi
aku tahu ia hendak
mengatakan kemana ia
hendak terbang, lalu
hilir mudik mencari dan
hinggap di kembang sepatu
yang tangkainya bergoyang
yang ditanam ibuku di
samping sumur yang payau
di samping rumahku?

5
Wahai, Pelukis Agung,
mana yang lebih kau sukai
menggambar pelangi
yang alangkah indahnya,
atau malam yang hitam
dengan ribuan bintang,
atau langit yang gelap
oleh mendung dengan
kilat dan halilintar?

2020

Jika Harus Memilih 1, 5, 10, Lalu 25 Nama Penyair / Oleh Hasan Aspahani

INI untuk teman-teman muda yang suka bertanya. Ini pilihan personal saya, ya. Kenapa memilih mereka? Nanti saya jelaskan, sebisanya. Siapa tahu nanti bisa saya buat konten vlog yang berfaedah… iya, kan?

Ya, jika harus menyebut satu penyair saja maka saya akan memilih: Chairil Anwar.

Jika harus lima saya menambah: Sutardji Calzoum Bachri, Sapardi Djoko Damono, Rendra, dan Goenawan Mohamad.

Jika harus sepuluh? Saya menambah: Subagio Sastrowardoyo, Amir Hamzah, Abdul Hadi WM, Afrizal Malna, dan Sitor Situmorang.

Jika harus memilih 25? Saya menambah 15 nama: Toto Sudarto Bachtiar, Nirwan Dewanto, Asrul Sani, Joko Pinurbo, Saini KM, Muhammad Yamin, Sanusi Pane, Roestam Effendi, Rivai Apin, D. Zawawi Imron, Ramadhan KH, Acep Zamzam Noor, Mh. Rustandi Kartakusuma, Taufiq Ismail, dan Wiji Thukul.

Tentu saja siapapun harus menyusun “kurikulum bacaan” sendiri.

Memetik sendiri bunga-bunga puisi untuk dijadikan rampaian sendiri. Menjadikan sumber benih untuk disilang dan dijadikan hibrida puisi baru.

Semoga bermanfaat.

Jakarta, 24 Agustus 2020.

Tak Akan Ada Namaku di Antara Seratus Penyair Itu / Sajak Hasan Aspahani

KETIKA mereka memilih dan menyusun seratus nama penyair, aku sedang merencanakan daftar seratus puisi terbaik untukmu. Susah sekali ternyata karena aku telah menulis ribuan puisi, dan di setiap puisi itu tak hanya sekali kusebut namamu.

Ya, tak akan ada namaku di antara seratus penyair itu, tapi akan ada namamu di tiap larik puisiku, kusebutkan atau tak kusebutkan karena engkaulah puisi bagiku, kamulah alasan bagi setiap puisi yang kutuliskan, sejak semula aku mengenalmu hingga kamu pergi meninggalkanku.

Ya, akan selalu ada namamu di semua larik puisiku, kutuliskan atau tak kutuliskan, kamu adalah udara bagi kata-kataku, darah bagi kalimat-kalimatku, apa yang kuhirup masuk mengisi paru-paru, mengalir di tubuhku, lalu kemudian harus kulepaskan kembali, berulang kali.

Akan selalu ada namamu di seluruh bait puisiku, kuwujudkan atau kusembunyikan, sejak kau menerimaku, menulis puisi tentangmu adalah menulis apa saja yang bukan kamu, dengan cara itu ingin kupastikan banyak jejak akan tertinggal ketika engkau pergi dariku.

Merdeka 2020 / Sajak Hasan Aspahani

untuk kakekku H. Taruna

KEMERDEKAAN adalah harapan yang
harus disimpan dalam wadah Tupperware,
berbagai bentuk dan warna ngejreng,
dijajakan di pinggir jalan
bundaran Hotel Indonesia
saat ibu kota negara menggelar CFD.

Kemerdekaan adalah berita baik
diasong seorang loper tua,
bersepeda di sepanjang Sudirman
dan Senayan, “baru laku satu,
koran sekarang semakin tipis,
pelanggan pada berhenti,
semua lari ke online”.

Kemerdekaan adalah rasa asing pizza
dijual pemuda berseragam, di sebelahnya
tukang jual bendera, lalu gerobak seblak,
tukang bubur ayam, dan remaja pengarak
ondel-ondel memutar gambang kromong.

Kemerderkaan adalah baliho orang bersorban
dan pernyataan yang menyertainya: kami
siap berjuang menunggu komandomu!

Kemerdekaan adalah anakku upacara di Zoom,
dan di televisi pidato rutin presiden
dari naskah yang berdusta
dan aku berusaha untuk tidak mendengarnya
kusumpal telinga dengan petikan preambule
yang dulu sering kau minta aku membaca untukmu:
…memajukan kesejahteran umum,
mencerdaskan kehidupan bangsa,
dan ikut melaksanakan
ketertiban dunia…

Seperti Puisi Neruda Dinyanyikan Dylan / Puisi Hasan Aspahani

AKU seperti selalu tersesat
ke menit-menit akhir film sedih
dengan adegan taksi membawa
seorang perempuan ke bandara
dan menangis ketika menekan
nama seseorang di layar i-Phone,
apakah ada yang ketinggalan
kata lelaki itu, pada panggilan
ketiga, setelah jawaban otomatis
yang membuat layar ponsel itu basah
lalu taksi memutar dan mengalunlah lagu,
kota sepi, langit hampa, tapi malam
perlahan menebar butiran bintang,
lagu itu, kubayangkan, puisi Neruda
dinyanyikan Dylan, atau sebaris lirik
Sapardi disenandungkan Iwan tentang
seorang menanti kekasih tercantik
yang entah datang di hari apa
dengan harapan yang sederhana atau
tentang aku yang menemukan jalan sendiri
di luar adegan film yang kuharapkan
engkau menyaksikannya.

Vlog: Penghargaan Tertinggi pada Puisi

Restoran Gulai Kelinci / Sajak Hasan Aspahani

KITA tamu terakhir restoran rugi ini, memesan gulai kelinci. Di genangan kuah itu, duka melompat kian kemari, riang sekali. Bagai lagu dan tari Chica dan Adi.

Pada semangkuk gulai ini, mengapung sepasang mata kelinci, memandangi kita, seperti tatap penjaga gerbang tinggi, memergoki kita mau lari, bolos sekolah lagi.

Sepi sekarang memenuhi semua kursi di restoran ini, menemani kita yang saling menunggu, siapa yang lebih dahulu menangis, dan siapa yang lalu mengikuti.

Enam Pertanyaan untuk Anji / Sajak Hasan Aspahani

1. KALAU engkau padamkan lampu kemanakah perginya cahaya yang tadi menyala?
2. Pernahkah engkau berpikir membuat konten untuk menjelaskan kenapa di matahari tak ada malam hari?
3. Kenapa lem tikus itu Cap Gajah dan racun tikus mereknya Dora?
4. Kenapa tokoh jahat dalam film kartun Scooby Doo selalu menyamar jadi hantu untuk mencapai tujuannya?
5. Apalah orang gila itu sadar bahwa dia gila dan apakah kalau dia tidur dia lupa kegilaannya yang artinya saat itu dia waras?
6. Di manakah jam digital itu menyembunyikan jarum waktu yang dia putar dan kenapa dia yakin bahwa dia bekerja dengan benar meskipun tanpa suara tik tak tik tak itu?

Jurnal SEBELAS

Jurnal SEBELAS No. 2
Jurnal SEBELAS No. 2
Jurnal SEBELEAS – Nomor Percobaan 2
Jurnal SEBELAS – Nomor Percobaan 2

Lewat Bulan Juni

: sdd

KAMI kini telah bisa tabah
karena kini
bukan lagi bulan Juni
hujan sudah lewat
kami tak lagi
cemas dengan cuaca
dan semua ramalan
tangis sudah bisa
dengan kemas dan rapi
dalam sajak kami sembunyikan.

Kami kini telah jadi bijak
dan jalan panjang ini
akan terus kami telusuri
bulevar teduh dan rindang
pohon berbunga berjajar panjang
kau menanam dan tekun merawatnya
dan matahari suka membuat
bayang-bayang yang lebat
meyakinkan kami yang kerap ragu
mengikuti jejak kakimu.

Kami kini telah lebih arif
menjadi apa saja
melakukan apa pun jua
duduk di bangku besi tempa
memungut dedaunan, buah,
dan bunga yang gugur atau
yang menjuntai sepemetikan tangan
atau menjadi hujan
yang selalu dirindukan dan
secukupnya diserap akar pohon
yang tak pernah kau tinggalkan.

Jakarta, 19 Juli 2020.