Penulis Surat Cinta

LALU lewatlah cerita itu
jalan panjang halaman buku
ke lapangan basah masa kecil kita.

Udara lepas kata-kata
kita mengejar dan menangkapinya
dengan mulut dan lidah
yang belum lancar
membaca.

Lalu lewatlah kenangan itu
kita mengikuti bayangannya
melewati jalan cerita
yang banyak simpang dan
tak tertebak arahnya.

(2021)

Seperti Kongres Luar Biasa

HAI, apa kabar, kenangan,
Aku pasti sudah kau lupakan, bukan?
seperti pendiri partai yang disingkirkan.

Di arena kongres luar biasa itu
aku tak bisa masuk
aku bukan siapa-siapa
di antara massa bayaran
dan kau, kenangan,
digadaikan pada penadah
yang merampasmu
dengan harga rendah.

(2021)

Wabah Pasti Berlalu (tapi Tak Dalam Waktu Dekat Ini)

Wabah Pasti Berlalu
(Tapi Tak Dalam Waktu
Dekat Ini)

1.
Kita terkumpul
di bangsal karantina ini

lalu satu per satu pamit
keluar sebentar dan
tak pernah lagi kembali.

2.
Air tak berhenti
mengucur dari kran
yang rusak (selalu rusak)
di kamar mandi bersama.

Lalu datanglah
petugas yang jutek
(wajahnya kering seperti negara)
dengan tagihan
berlipat kali
menguras sisa pesangon
dan kesabaran
yang tekor.

Kita bertengkar
tak ada yang mau
membayar.

3.
Kita terkurung
di bangsal isolasi mandiri
(yang bernama rumah kita sendiri)
dihantui sirine mobil jenazah,
pengumuman kematian
(mereka yang pamit dan tak kembali)
dari pelantang masjid
di seberang jalan,
dan suara peringatan
dari meteran
listrik prabayar.

(2021)

402

LAUT itu adalah
lembar besar
teka-teki silang,
dengan pertanyaan-pertanyaan
yang tak lagi bernomor.

Laut itu adalah
peta pada radar
dengan sinyal berkedip
memberi tanda koordinat
persilangan titik bujur dan lintang
untuk jawaban-jawaban kami
yang menurun, mendatar,
yang kemudian tenggelam.

Laut itu adalah pangkalan
yang tak lagi perlu
menunggu perintah dan jadwal
kapan harus menarik
dan mengulur jangkar
adalah markas komando
adalah rumah besar
adalah teman yang
menjaga dan dijaga
yang bersama berbagi
tugas yang kini abadi

yang kini selamanya.

Kaca Mata


MATAKU rabun jauh
aku tak bisa melihat diriku sendiri
karena kami selalu berjarak.

Aku perlu kaca mata minus
aku membawa mataku
ke toko kaca mata.

Mataku kuserahkan
pada pemeriksa mata
“Anda lahir tahun berapa?”
dia bertanya pada mataku,
mataku memandangku
dia tahu bahwa
sudah lama aku mengelak
dari pertanyaan itu.

Sambil menunggu
aku melihat-lihat
berbagai kaca mata
dalam berbagai
bingkai dan gagang
yang dipajang di toko itu.

Mataku juga rabun dekat
rulanya itulah sebabnya
kenapa selama ini
aku tak pernah bisa
membaca diriku dengan baik.

Tukang kaca mata
memberiku kaca mata
dengan lensa yang cocok
untuk mataku yang
rabun jauh dan
rabun dekat itu.

Mataku senang
memakai kaca mata yang pas
dengan bingkai masa depan
dan gagangnya masa lalu.

Aku sekarang bisa melihat
dengan jelas
bagaimana diriku dilihat
oleh orang lain
dan bagaimana selama ini
aku melihat orang lain.

(2021)







Imajinasi

ADA seorang lelaki
pamit keluar dari kepalaku
ia mau mencari pohon
dan hendak menggali sumur
di bawahnya.

Beberapa ekor kodok
melompat keluar
dari layar telepon pintarku
mengikuti si lelaki tadi
mungkin karena mendengar
kata sumur itu.

Diam-diam
aku mengikuti mereka.

Si lelaki menemukan
sebatang pohon yang rindang,
pohon yang dulu kutanam
dari benih yang kutemukan
dalam mimpiku.

Setelah digali
setinggi badan
sumur itu tak juga
sampai pada mata air,
si lelaki menemukan beberapa
batu permata warna-warni,
pelangi yang telah membatu.

Kepada lelaki yang
sedang menggali itu
aku katakan mungkin
dia harus memancing air
dengan tangisan.

“Ada kampung di dekat sini
mereka pandai menangis,
mugkin air mata mereka
bisa mengundang mata air,
di sumur yang kau gali itu,”
kataku.

“Aku sudah tahu,” kata
lelaki itu, “dulu aku
tinggal di kampung itu.”

“Tapi, kini mereka
profesional, mereka
menjual air mata,
Rp500 ribu per orang
setiap kali menangis.”

Kodok-kodok tadi
tertawa terbahak-bahak
mendengar percakapan kami,
tertawa sampai mereka mati.

Si lelaki tadi menghilang,
mungkin dia tersinggung
karena ditertawakan
oleh kodok-kodok itu.

Aku lalu menguburkan
kodok-kodok tadi
di sumur yang tak berait itu,
lalu kukumpulkan dan
kubawa pulang permata
warna-warni, pelangi
yang menjadi batu itu.

Permata itu kusimpan
dalam sebuah poci,
di dalamnya kulihat
kodok-kodok tadi
berenang, kawin,
beranak, dan bermain
dengan gerimis.

(2021)

Cara Menghindar Perbantahan yang Sia-sia dengan Kamu

Cara Menghindar Perbantahan yang Sia-sia dengan Kamu

1. AKU akan ajukan satu pertanyaan mudah yang kususun ulang dari pertanyaan-pertanyaanmu yang sulit itu, maka jawabanmu atas pertanyaanku akan menjadi jawaban untuk pertanyaanmu sendiri.

2. Kalau kamu bertanya untuk mencari
kebenaran, aku akan setia menemanimu dengan pertanyaan dan jawabanku, kalau kau mencari kemenangan aku akan mengalah agar kebenaran tak menjauh dari kita berdua.

3. Menjawab itu menjelaskan, itu artinya memberi batasan, maka bila pertanyaanmu kamu niatkan sebagai jalan untuk mencari kebebasan, tak akan ada jawaban yang akan membuat kamu nyaman, dan sia-sia saja aku memberi jawaban.

4. Bertanya itu mencari jalan, ikhtiar untuk menemukan tempat baru bagi hal-ihwal yang tak lagi nyaman berdiam, maka apabila pertanyaanmu hanya untuk menarik jawabanku masuk ke dalam sempitnya ruang pemahamanmu, tanya-jawab kita tak banyak gunanya.

5. Kalau kamu sendiri tak paham apa yang kamu tanyakan, maka kamu tak akan pernah mengerti jawabanku, maka sebaiknya kamu perbaiki dulu pertanyaanmu itu, barangkali dengan begitu kamu bisa menjawabnya sendiri, bahkan kamu akan tak bahwa kamu tak perlu mempertanyakannya.

(2021)

Apakah Itu (atau Enigma)

1.
SESUATU yang mengubah cara orang melihatmu tapi sama sekali tak mengubah dirimu?

2.
Sesuatu yang kamu sembunyikan tapi semua orang melihatnya kecuali dirimu sendiri?

3.
Sesuatu yang kamu nyalakan untuk menyulut orang lain tapi dirimu sendiri yang terbakar?

4.
Sesuatu yang kamu membencinya tapi dia memberimu semua hal yang kamu suka?

5.
Sesuatu yang hanya akan jadi milikmu selamanya jika kamu melepaskannya pergi dari dirimu?

6.
Sesuatu yang kamu sia-siakan tapi ia  dengan tulus merawatmu dan mencemaskan hari-harimu?

7.
Sesuatu yang apabila kamu hindari kamu akan semakin jauh dari dirimu sendiri?

8.
Sesuatu yang kamu lupakan tapi dia tak pernah sedetikpun tak mengingat kamu?

9.
Sesuatu yang selalu kamu tanyakan tapi sebenarnya jawabannya ada dalam pertanyaanmu itu?

(2021)

Kecuali Presiden

SEBUAH buku terjemahan terbit di Rusia. Judulnya “Mati Ketawa Cara Indonesia”. Konon buku itu laris sekali. Salah satu leluconnya begini:

Alih-alih merevisi Undang-undang Antikebohongan yang sejak diberlakukan penuh kontroversi itu, pemerintah dan DPR justru akhirnya bersepakat menghapuskannya.

Keputusan itu disampaikan dalam jumpa pers di Istana.

UU itu mengatur soal kebohongan pejabat publik, kapan pejabat boleh dan tak boleh berbohong, dan sampai di mana batas berbohong yang diperbolehkan.

“Kalau aparat penegak hukum benar-benar bekerja dengan UU itu maka semua pejabat harus masuk penjara. Tiap hari mereka harus berbohong melebihi yang diatur konstitusi. Demi kebenaran semua pejabat mau tak mau harus berbohong, kecuali presiden,” kata Menkopolhukam, yang kerap jadi juru bicara pemerintah.

Para wartawan tahu, sang Menko itu sedang berbohong.

Presiden dan Penyair

BENARKAH ketika politik menyimpang maka puisi yang akan meluruskannya seperti kutipan terkenal dari pidato John F. Kennedy saat meresmikan perpustakaan Robert Frost, sahabatnya, penyair favoritnya yang membaca puisi saat pelantikannya?

Apa yang bisa dilakukan puisi terhadap politik yang menyimpang? Kennedy saat itu tidak bicara sebagai politisi, paling tidak bukan dalam peristiwa politis. Jadi ucapannya itu tak bisa dituduh menyimpang dan tak perlu puisi untuk meluruskannya.

Nasem Nicholas Taleb membuat saya memikirkan lagi kutipan Kennedy yang membuat para penyair di dunia besar kepala, meskipun tak banyak yang paham benar apa maksudnya. Kata Nasem, kalau ingin membuat kesal seorang penyair, jelaskan puisinya.

Kenapa Nasem berpikir dan menyimpulkan begitu? Apakah kejelasan puisi adalah ciri puisi buruk? Dan sebaliknya ketidakjelasan menunjukkan ketinggian mutu? 

Kembali ke soal awal, jangan-jangan pidato Kennedy itu sejenis puisi juga yang tak jelas maksudnya, dan memang di wilayah yang tak-terjelaskan itulah memang tempatnya. 

Di Indonesia soal ini juga pelik untuk dijawab. Meskipun kerap tidak jelas, pidato presiden jelas bukan puisi. Kadang-kadang presiden sendiri seperti tak tahu apa yang ia sampaikan. Dan, nah ini dia, seperti penyair yang disebut Nasem, dia sering kesal kalau masyarakat bertanya meminta kejelasan atau ketika ada yang menjelaskan di mana salahnya pidatonya. Jangan-jangan itu juga bukan pidato?

Jangan-jangan dia itu bukan… Ah, sudahlah, semakin tak jelas saja! 

Kapsul Waktu

SEORANG remaja mendatangi Istana, dia ingin mengambil kembali surat yang dia kirim untuk presiden pada tahun 2015 lalu, ketika dia masih anak-anak.

Surat itu berisi harapannya yang kemudian dirangkum dalam kapsul waktu “7 Mimpi Anak Indonesia”, yang kelak dibuka pada 2085.

“Saya mau meralatnya. Terutama poin ke-4: masyarakat dan aparatur pemerintah kita bebas dari perilaku korupsi. Kalau harus menunggu tahun 2085 rasanya terlalu lama,” kata si remaja, kepada Paspamres.

“Jangan khawatir, anak muda, saya pastikan Pak Presiden tidak membaca suratmu, lagi pula pada tahun 2085 jangan-jangan Anda pun sudah tak ada,” kata Paspamres.

“Mungkin saja, Pak. Jangan-jangan kalau korupsi masih separah sekarang, Indonesia pun sudah tak ada,” kata si remaja.

#matiketawacaraNKRI

Di Kebun Kelapa Bersama Kai Ahmad

KAI Ahmad berjalan di depanku
aku melompati jejak-jejak langkahnya
di antara genangan air sisa hujan
aku bermain dengan bayangannya
di antara bekas kaki dan ban sepeda
aku mengikuti bayangannya
diselingi sapaan orang yang menghormatinya
aku menjadi bayangannya.

Kai Ahmad memeriksa pintu air
sungai sedang mengembalikan air ke laut
mengalir lekas, menderu deras
hanyutlah sabut kelapa, tilambung,
dan buah gumpa, juga yang
jatuh karena tupai telah membuat
lubang pada tempurungnya,
aku mendengar dia menyenandungkan zikir
aku mengikuti nyanyiannya.

Kai Ahmad menebang sebatang buluh cina
dari rumpunan besar yang berbaris
di sepanjang watas
antara kebunnya dan kebun Haji Isur
“Ini ada kutemukan, satu yang panjang dan lurus,
bagus untuk tantaran,” ujarnya,
lalu ia jeratkan nilon di ujungnya
dan ia sematkan mata kail
dan timah pemberat juga,
lalu parangnya ia pinjamkan padaku,
dia suruh aku menyungkal tanah
mencari cacing untuk umpan.

Kai Ahmad bernaung di bawah pohon
bersandar pada batangnya
mengipaskan topi purun
ia selonjorkan kaki
sandal Daimatu ia lepaskan
mengembun peluh pada kaus Cap Swan
ia memejamkan matanya
burung tinjau terbang rendah
seekor bingkarungan menatap awas
ada ular daun di bawah rumpun birah
laba-laba membentangkan jaring
lebah berkunjung ke bunga-bunga
kembang tanjung menyemerbak harumnya
katak melompat ke sumur besar
bergoyanglah daun kembang tanding
putri malu mengatupkan daunnya
aku mengumpulkan ranting kering
beberapa ekor ikan yang kudapat
telah kubersihkan dan
aku akan membakarnya.

Aku berjalan sendiri
tak ada lagi Kai Ahmad
di depanku,
di sisiku,
atau di belakangku,
tapi ia ada berjalan bersamaku,
di manapun aku berjalan
ke manapun aku berjalan.

(2021)

Menelusuri Sungai Raden

SUNGAI kecil ini
sejak dahulu
selalu terancam buntu
aliran lumpur dari pasang laut
dan endapan hujan dari gunung
mendangkal bersama waktu
yang kadang terasa amat lambat
(mungkin karena aku belum bisa sabar)
tapi kerap sangat buru-buru
(pasti karena aku lengah menunggu).

“Tapi jangan kau terlalu cemas,”
kata sungai kecil itu,
“bukankah aku telah mengajarimu berenang?
Maka lemparkan saja semua
seperti menghanyutkan panen kelapa
selagi arus menderas ke muara,
Haji Darwis sedang menunggu,
Julak Jakar dan teman-temannya
telah menajak tunggul kukuyak.”

*

Jalan lurus ini
tak lagi hanya membawa
orang pulang pergi bekerja
dengan keringat membasahi baju tilasan
dan pupur dingin tebal
di wajah dan lengan
setelah tiang dan kabel listrik
dan lapisan semen pada jalan.

Orang kampung pergi dan kembali
membawa masa lalu ke masa depan
membawa masa depan ke masa lalu
seperindukan itik japun
berenang riang ke seberang
sambil mematuki ikan-ikan kecil
di dekat pintu air
Haji Ridwan menebang pisang sanggar
Ayahku memperbaiki lanjung rotan.

*

Ada jembatan ulin ke seberang
bila kuikuti itu
maka ingatanku akan tumbuh
bersama pohon kuini besar itu
yang apabila tiba musimnya
akan menjatuhkan satu per satu buahnya.

Begitulah kenangan
benih liar yang kita lempar
setelah kita nikmati segala peristiwa
yang manis dan yang masam
lalu tiba-tiba telah sedemikian besar
lingkar batangnya
dan kita tak perlu memanjatnya.

*

Kita kembali dulu
ke muaranya muara itu
dengan garis pantai yang dulu jauh
yang telah tidak ada karena
laut yang semakin dekat,
semakin mendekat.

Rumah-rumah dengan tiang tinggi
di bawahnya perahu ditambatkan
pelantar penuh tumpukan tali
dan jaring rengge
aroma ikan yang membusuk dan mengering
yang tak sempat dilepaskan.

Kita kembali dulu
untuk memastikan bahwa
waktu hanya memberi satu pilihan
hanya ada sekali kesempatan dan
kita telah kehilangan semua itu.

*

Dan Sungai Raden
adalah hamparan kebun kelapa
harapan yang selalu tumbuh
yang menua, yang kelak tumbang
dan yang harus ditanam ulang.

Mungkin tak akan
ada lagi anak lelaki
yang mahir menjerat buburak
dan memerangkap keruang,
tak ada lagi yang mencari
cabang lurus pohon kopi
untuk tongkat pramukanya,
tak ada lagi anak perempuan
yang mencari jamur yang tumbuh
di pangkal handayang
yang memetik biji jali
yang hendak ia rangkai menjadi
kalung untuk kucing kesayangan.

Tapi Sungai Raden
adalah teduh pohon kelapa
hingar-bingar suara hihirangan
tupai berkejaran, gagak bersahutan,
dan suara azan zuhur Busu Gani
dari Masjid Sirajuddin
masih saja seperti itu
tetap saja seperti itu
seperti dulu ketika aku
yang terlalu mencintainya
hendak menguji seberapa kuat
dan sebarapa jauh aku mampu
pergi meninggalkannya.

(2021)

Catatan untuk Usia 50 Tahun

(9 Maret 1971 -2021)

USIA adalah
tanda tanya yang sama
yang semakin kecil
di ujung tahun
dan hidup adalah
kalimat yang selalu berubah
yang harus kucoba
untuk menjawabnya lagi
dengan cara yang lain.

Aku belum akan
menyelesaikan
prosimetrum panjang ini
tapi tak lagi
terlalu peduli
pada nama kota,
juga sisa sakit dan rasa sesal,
sebab tiap peristiwa
selalu kurasa mampu kuberi nama
setidaknya dengan
selarik aforisme dangkal,
sealakadarnya.

Seseorang akan
datang di ujung tahun
yang lain, tahun y.a.d.,
meminta sepotong syair
dari segala yang
pernah kutuliskan.

Dia akan menjadikannya
lirik lagu riang
yang dinyanyikan
mungkin juga oleh kamu,
untuk sekadar mengingat
jawaban-jawabanku
yang pernah salah
dan berulang kali
kuperbaiki kembali.

(2021)

Tentang Syarif

SEKOLAH kami itu
hanya bangunan tua
melintang sejajar
jalan besar
Balikpapan – Handil 2
dan kami anak-anak kecil
(murid-murid yang tak tertib
dan mimpi-mimpi yang liar)
berbaris di pintu masa depan.

Sekolah kami itu
hanya enam ruang kelas
berdinding dan berlantai kayu
dan ruang guru bertingkat
di bagian tengahnya
merangkap perpustakaan
dan lemari-lemari tua
yang rapuh dan lapuk,
dan tak pernah muat menyimpan
begitu banyak kenangan.

Ruang-ruang kelas
di sekolah kami itu
riuh dengan suara kami
sebelum lonceng pelajaran pertama
meriung mendengarkan Syarif
murid yang kuat begadang
mengulang cerita film seri
yang ia tonton tengah malam
tentang jagoan dengan truk besar
dan simpanse yang pintar,
atau sepasang polisi
di jalan raya California berpatroli
atau manusia kuat
senilai enam juta dolar.

Padahal kami tahu nanti
menjelamg akhir cerita
dia akan menyemburkan
ludahnya ke arah kami.

Sialan benar!
(tapi kami tak pernah jera)

Syarif, teman kami,
itu jagoan panco,
tangannya kekar, pasti
karena tiap pagi dia
harus mengurus ternak
ayam broiler, mengangkat air
turun naik tangga.

Syarif, teman kami itu,
pelempar pembidik jitu
dan pelempar sepenuh tenaga,
maka apabila main kasti
sedapat mungkin
usahakan satu regu dengannya
supaya badanmu tak memar
karena hantaman bola.

Syarif, temanku itu,
tinggal di rumah besar
di seberang sekolah,
aku sering ia ajak
ke rumahnya pada
jam istirahat belajar,
membeli gado-gado
yang dijual ibunya
dengan porsi mengenyangkan
(ah, perutku yang selalu lapar)
dan melihatnya
dengan sangat terampil
menyembelih dan
membersihkan ayam.

Rumah Syarif adalah
sekolahku juga,
dari sana
dan dari dia
aku mengingat banyak hal,
bahwa belajar dan bekerja
kadang tak perlu
ada batasnya.

(2021)