Doa

: bre redana

AKU adalah hadiah terbaik
yang kuterima untukku hari ini
setiap kali aku bangun
dan menemukan lagi pagi,
selimut terhampar
di lantai kamar,
dan tangan cahaya menyibak
sedikit tirai pada jendela.

Bunyi peluit pada ketel,
memanggil aroma kopi,
nasi goreng kunyit,
dan telur ceplok, atau
selai srikaya pada selembar roti
dan aku siulkan lagu
dari mimpi malam tadi.

Setiap hari aku adalah
keterkabulan doaku
sebelum tidur semalam,
yang akan kuucapkan bila
berangkat tidur lagi nanti.

Lagu Terakhir Untukku

AKU masih mencoba untuk betah
berada di sini
panggung kosong
gelap melempariku
dengan sepi.

Tapi sementara ini
inilah tempat yang paling masuk akal
untuk seseorang yang nyaris habis akal.

Tadi kita berciuman sekali,
kita berciuman dua kali,
kita berciuman sekali lagi,
seperti ciuman yang terakhir kali
dan memang itu tadi ciuman kita
yang terakhir kali.

Di panggung itu kini
aku bayangkan engkau bernyanyi
dengan pandangan yang menggantung
pada titik kosong
di antara jatuhan cahaya lampu
dan mejaku dengan gelas dan botol
yang telah berganti isi.

Di panggung itu lalu
aku mengutuki diriku sendiri
komika yang gagal menyusun materi
lelucon untuk menertawakan diriku sendiri.

Aku masih berada di sini
mencoba mengecoh sedikit sisa waktu
mencoba mengutuhkan kepingan-kepingan kesadaran
mencari di mana harus kuletakkan
kalimat yang kau selipkan
di antara lirik lagu
yang tadi kau nyanyikan
lagu terakhir untukku.

(2021)

Ex Nihilo

TAK ada penjual bubur ayam di depan toko Tiffany & Co atau di pasar Blora. Tak ada. Tak ada suara Audrey di jendela melagukan bulan di hutan jati.

Tak ada. Dan waktu adalah sungai tak bertepian, dan sia-sia saja Adriana mencoba bertahan, jauh terseret dia ke kenyataan yang berantakan.

Terzina Adriana

APAKAH di kamar Adriana ada tumpukan jerami?
Dan ketika pintu terkunci jerami itu terbakar
oleh sesuatu yang lebih panas daripada api?

Apakah di hati Adriana ada unggunan bara?
Yang dengan mudah menyala cukup dengan
sehembus napas ketika ia menyebut satu nama?

Tes Wawasan Kebangsaan

SEEKOR kupu-kupu
hinggap di perisai
yang tergantung miring
di dada garuda
di garis batas antara
gambar bintang
dan padi-kapas.

Sepasang cicak
bersarang di balik
perisai itu,
kawin, bertelur, dan
menetaskan anaknya,
tahinya berjatuhan
di pita yang dicengkeram
oleh garuda itu.

Seorang anak melihat
garuda itu di gudang
di antara barang bekas
di loteng rumahnya
yang jendelanya patah,
ketika ia sedang mencari
mainan masa kecilnya:
boneka plastik yang bisa
menirukan kata-kata
yang diperdengarkan
padanya.

(2021)

Aforisme Adriana

CERITA, tentang engkau dan betapa kuat cinta mengada, sesamar apapun nama yang ia sebutkan, adalah usahanya menghadirkan masa lalu agar senantiasa berada pada masa kini. Seperti cermin mengembalikan segala yang berani berdiri di hadapannya: dengan kelam dan cahaya.

Blues Adriana

Blues Adriana

: bre

PINGGANGMU cawan sake
ia letakkan tangannya di situ
dan kau sandarkan sepimu
di pundaknya.

(tapi yang telah tersaji
malam itu belum ingin kau nikmati)

Bayangan daun-daun jati
keloneng lonceng sapi
terbawa ke pangkal pagi.

Kaca ditabrak kelelawar
dari dada yang gusar
ingin keluar dari dalam
jendela dua kamar.

(2021)

Kami Sudah Lama Tergadai

Kami Sudah Lama Tergadai

SELAMAT pagiku
berasal dari petang yang lampau
di depan televisi tak berwarna
seorang anak orde baru
mencatat nama-nama gubernur
dan ibukota provinsi
dari siaran berita nusantara
yang harus ia hapal
di luar kepala.

Selamat pagiku
berasal dari selembar peta
yang terbentang di dinding kelas
seorang anak SD inpres menandai
dengan pensil di mana letak kampungnya
di peta itu dan mencongak
berapa jaraknya dari ibukota negara.

Selamat pagiku
besal dari doli anak yang berani
yang melanggar larangan ayahnya
agar tak bermain dengan senapan berburu
tapi harus ia lakukan itu
untuk membunuh harimau liar
yang mengancam di depan pintu rumahnya
cerita yang berasal dari bagian lain negerinya
yang datang bersama ribuan buku proyek
pengadaan bacaan sekolah dasar.

Selamat pagiku
berasal dari berita viral
tentang data induk penduduk
yang bocor dan diperjualbelikan
di situs penadah barang-barang curian.

Selamat pagi, Negara,
apakah kamu juga akan mereka jual
di sana? Jangan sampai itu terjadi, ya
karena kami lama sudah tergadai,
kami terlalu miskin
untuk bisa menebusmu kembali.

(2021)

Sungsang

DINDING batu
terbakar cahaya lampu
langit samar seperti gambar
bayi kembar
pada layar monitor
ultrasonografi
dari malam kita
yang hamil tua

Jalan waktu
dilumuti
atribut kabut
tak lagi jelas
batas antara perantara
jenjang-jenjang tangga
jauh sudah jarak selisih
kita tak menginsafi

Dinding waktu
runtuhlah sehari
runtuhlah lagi sehari
seperti membran ketuban
pecah dan kita
saling menghalangi
kita ada di rahim mati
kita tak menyadari.

(2021)

Penulis Surat Cinta

LALU lewatlah cerita itu
jalan panjang halaman buku
ke lapangan basah masa kecil kita.

Udara lepas kata-kata
kita mengejar dan menangkapinya
dengan mulut dan lidah
yang belum lancar
membaca.

Lalu lewatlah kenangan itu
kita mengikuti bayangannya
melewati jalan cerita
yang banyak simpang dan
tak tertebak arahnya.

(2021)

Seperti Kongres Luar Biasa

HAI, apa kabar, kenangan,
Aku pasti sudah kau lupakan, bukan?
seperti pendiri partai yang disingkirkan.

Di arena kongres luar biasa itu
aku tak bisa masuk
aku bukan siapa-siapa
di antara massa bayaran
dan kau, kenangan,
digadaikan pada penadah
yang merampasmu
dengan harga rendah.

(2021)

Wabah Pasti Berlalu (tapi Tak Dalam Waktu Dekat Ini)

Wabah Pasti Berlalu
(Tapi Tak Dalam Waktu
Dekat Ini)

1.
Kita terkumpul
di bangsal karantina ini

lalu satu per satu pamit
keluar sebentar dan
tak pernah lagi kembali.

2.
Air tak berhenti
mengucur dari kran
yang rusak (selalu rusak)
di kamar mandi bersama.

Lalu datanglah
petugas yang jutek
(wajahnya kering seperti negara)
dengan tagihan
berlipat kali
menguras sisa pesangon
dan kesabaran
yang tekor.

Kita bertengkar
tak ada yang mau
membayar.

3.
Kita terkurung
di bangsal isolasi mandiri
(yang bernama rumah kita sendiri)
dihantui sirine mobil jenazah,
pengumuman kematian
(mereka yang pamit dan tak kembali)
dari pelantang masjid
di seberang jalan,
dan suara peringatan
dari meteran
listrik prabayar.

(2021)

402

LAUT itu adalah
lembar besar
teka-teki silang,
dengan pertanyaan-pertanyaan
yang tak lagi bernomor.

Laut itu adalah
peta pada radar
dengan sinyal berkedip
memberi tanda koordinat
persilangan titik bujur dan lintang
untuk jawaban-jawaban kami
yang menurun, mendatar,
yang kemudian tenggelam.

Laut itu adalah pangkalan
yang tak lagi perlu
menunggu perintah dan jadwal
kapan harus menarik
dan mengulur jangkar
adalah markas komando
adalah rumah besar
adalah teman yang
menjaga dan dijaga
yang bersama berbagi
tugas yang kini abadi

yang kini selamanya.

Kaca Mata


MATAKU rabun jauh
aku tak bisa melihat diriku sendiri
karena kami selalu berjarak.

Aku perlu kaca mata minus
aku membawa mataku
ke toko kaca mata.

Mataku kuserahkan
pada pemeriksa mata
“Anda lahir tahun berapa?”
dia bertanya pada mataku,
mataku memandangku
dia tahu bahwa
sudah lama aku mengelak
dari pertanyaan itu.

Sambil menunggu
aku melihat-lihat
berbagai kaca mata
dalam berbagai
bingkai dan gagang
yang dipajang di toko itu.

Mataku juga rabun dekat
rulanya itulah sebabnya
kenapa selama ini
aku tak pernah bisa
membaca diriku dengan baik.

Tukang kaca mata
memberiku kaca mata
dengan lensa yang cocok
untuk mataku yang
rabun jauh dan
rabun dekat itu.

Mataku senang
memakai kaca mata yang pas
dengan bingkai masa depan
dan gagangnya masa lalu.

Aku sekarang bisa melihat
dengan jelas
bagaimana diriku dilihat
oleh orang lain
dan bagaimana selama ini
aku melihat orang lain.

(2021)







Imajinasi

ADA seorang lelaki
pamit keluar dari kepalaku
ia mau mencari pohon
dan hendak menggali sumur
di bawahnya.

Beberapa ekor kodok
melompat keluar
dari layar telepon pintarku
mengikuti si lelaki tadi
mungkin karena mendengar
kata sumur itu.

Diam-diam
aku mengikuti mereka.

Si lelaki menemukan
sebatang pohon yang rindang,
pohon yang dulu kutanam
dari benih yang kutemukan
dalam mimpiku.

Setelah digali
setinggi badan
sumur itu tak juga
sampai pada mata air,
si lelaki menemukan beberapa
batu permata warna-warni,
pelangi yang telah membatu.

Kepada lelaki yang
sedang menggali itu
aku katakan mungkin
dia harus memancing air
dengan tangisan.

“Ada kampung di dekat sini
mereka pandai menangis,
mugkin air mata mereka
bisa mengundang mata air,
di sumur yang kau gali itu,”
kataku.

“Aku sudah tahu,” kata
lelaki itu, “dulu aku
tinggal di kampung itu.”

“Tapi, kini mereka
profesional, mereka
menjual air mata,
Rp500 ribu per orang
setiap kali menangis.”

Kodok-kodok tadi
tertawa terbahak-bahak
mendengar percakapan kami,
tertawa sampai mereka mati.

Si lelaki tadi menghilang,
mungkin dia tersinggung
karena ditertawakan
oleh kodok-kodok itu.

Aku lalu menguburkan
kodok-kodok tadi
di sumur yang tak berait itu,
lalu kukumpulkan dan
kubawa pulang permata
warna-warni, pelangi
yang menjadi batu itu.

Permata itu kusimpan
dalam sebuah poci,
di dalamnya kulihat
kodok-kodok tadi
berenang, kawin,
beranak, dan bermain
dengan gerimis.

(2021)