Ada Sandiwara di Balai Desa

WAKTU mengajak
segalanya berubah
tanpa terlebih dahulu
menanyakan kesediaan kita
tapi ada yang akan tetap
selamanya sebagai
apa yang semula ada.

Misalnya, kepak burung kekek
melintasi ingatan dengan lekas
dan setelahnya suara bilatuk
di batang kelapa yang tinggi.

Dulu aku selalu menemukannya
setiap kali pulang sekolah
menyimpang ke arah empang
menyusuri pematang panjang
belakang rumah kepala kampung.

Atau bila aku lewat
di depan rumah itu,
rumah kawan sekolahku itu,
aku akan melihat
pesawat terbang kayu
dan antena televisi
pada tiang yang tinggi.

Setelah itu
ada balai desa
pernah ada pertunjukan
sandiwara di situ,
sekelompok trubadur
menggelar cerita dari
kampung ke kampung.

Berulang malam pertunjukan,
tapi aku tak menontonnya.

Dari luar kudengar
seperti adegan pertengkaran,
piring pecah, juga
anak-anak menangis.

Teman sekolahku itu,
aku kira dia menontonnya,
mungkin bersama ibu dan ayahnya,
di kursi paling depan,
aku ingin sekali
bertanya padanya,
tapi kukira dia
tak akan mau menceritakan
kisah yang dia saksikan
di panggung kayu papan
balai desa itu.

Beberapa waktu berlalu,
panggung itu masih di situ
tapi tak pernah lagi ada
kelompok sandiwara singgah.

Aku suka berdiri di sana
membayangkan cerita apa
yang sedang dimainkan
dan lakon apa
yang bisa aku perankan.

Di halaman balai desa
lalu menjalar lebat
semak balaran,
di belakangnya
belukar jeruju.

Waktu memang mengubah
segalanya tanpa menunggu
kesiapan kita
tapi ada yang ia biarkan
tak terlupakan meski tak lagi
sama sebagai
apa yang semula ada.

(2021)

Kembang Nini Aliyah

NINI Aliyah pencinta bunga-bunga
dan bunga-bunga memberinya cerita.

Di ruang tengah yang lapang
di tengah hamparan lampit rotan,
di atas meja pedistal
ia letakkan rumpun kuping gajah
aku kira itu gajah dari Afrika
besar sekali kupingnya
dengan hijau yang tebal
dan batang yang meninggi
mempertahankan seluruh daunnya,
“pilih satu daun dan bisikkan
cita-citamu padanya, di suatu
tempat nun di sana ada gajah-gajah
yang mendengarkan dan berdoa agar
Tuhan membantumu mewujudkannya,”
kata Nini Aliyah dan aku percaya.

Di teras belakang, di antara belanai,
di satu pojok teduh ternaung,
ia tanam kembang wijaya kusuma,
Nini Aliyah bilang ada perempuan
yang hidup di dalam bunga itu
secantik putri junjung buih
dan bunganya yang menggantung
yang berwarna merah muda itu
adalah air mata dari tangis
yang sekian lama ia tahan. Dan
ketika di suatu tengah malam
bunga itu mekar, maka itu pertanda
si perempuan telah menemukan
seorang lelaki yang bisa membuatnya
tersenyum dan tertawa. “Karena
bahagia si perempuan menangis
dan tangis itu harum sekali baunya,”
kata Nini Aliyah dan aku percaya.

Nini Aliyah pencinta bunga-bunga
dan bunga-bunga itu mencintai dia.

(2021)

Beberapa Pagi di Rumah Haji Jatta

DI pagi Idulfitri
Haji Jatta berseru memanggil kami
sarapan di dapurnya
di depan hangat tungku
dengan sepotong kue apam
dan teh vanili
lalu dia bekali kami
dengan sepiring tapai ketan
yang manisnya matang
yang nanti kami santap
sehabis sembahyang.

Di pagi berikutnya
pada hari-hari biasa
istrinya menunggu pedagang ikan
datang bersepeda
dari Senipah atau Kuala
seekor ikan besar dan segar
turun dari keranjang
lalu di samping sumur besar
ia bersihkan sisiknya
ia belah perutnya
ia sisihkan telurnya
ia potong-potong seukuran
pas untuk digoreng atau masak berkuah
lalu membagi-baginya
dalam tumpukan-tumpukan sama bagian
untuk para tetangga
yang ikut urunan.

Di pagi seterusnya
Haji Jatta sering mencegatku
singgah di terasnya
kami bertetangga
berjarak hanya satu rumah
lalu dia memilih kue yang kubawa
(dia paling suka kue sarimuka
atau amparan tatak, pokoknya
kue yang dikukus pada talam,
kue manis dengan gurih santan)
kujual padanya dengan harga setoran
seperlima bagian lebih murah
daripada bila ia beli
di kedai kopi.

Di pagi lainnya
datang berkarung-karung barang
dibawa kerabatnya pedagang
kain dari Banjarmasin
rumah Haji Jatta
berubah menjadi toko pakaian,
kami datang membeli
baju kami pakai harian,
daster dan gordin, atau
kain tilai untuk kelambu,
sarung, peci, serta seragam,
juga membeli mangir tanjung
dan bedak dingin.

(2021)

Kamar Kerja Paman Mawi

PAMAN Mawi adalah ayahku yang kedua
tapi mungkin dia musuhku yang pertama.

Aku sering menyelinap ke ruang kerjanya
dan mengacaukan buku-buku di mejanya,
(untuk membaca buku-buku itu, aku rela
menghadapi risiko apa saja, misalnya
kupingku akan dijewernya, tapi itu
pun tak pernah ia lakukan padaku).

Dia marah tapi padaku dia tak bisa marah.

Nanti acilku akan mengadu ke mamaku
dan mamaku memarahi aku, “pamanmu marah,
kamu berani-beraninya membaca buku-bukunya,
tak ada yang pernah berani melakukan itu.”

Dia marah tapi padaku dia tak pernah marah.

Karena aku selalu membantunya bertukang,
membuat lemari, ranjang, kursi, meja makan,
atau rak buku, atau para-para kembang.

Aku membantunya memegang balok atau papan
ketika ia menggergajinya, aku membantunya
mengambilkan perkakas yang ia butuhkan.

Paman Mawi adalah tukang yang terampil.

Rumahnya ia bangun sendiri, setelah
jam-jam mengajar di sebuah sekolah dasar.
Paman Mawi seorang guru yang sangat
disegani, lulusan terbaik SGB.

“Aku hanya ingin murid-muridku berani,
rajin, dan pintar,” katanya padaku, ketika
aku bertanya, kenapa dia tak marah
dicap sebagai guru killer, waktu itu
kami sedang membuat papan tulis
dengan papan dan cat terbaik, bukan
triplek tipis dari kontraktor memasok
barang murahan, yang kerja asal-asalan.

Paman Mawi mengajar di sekolah yang
bukan SD-ku, sekolah proyek Inpres,
dan dia bahagia mengajar di sana,
meskipun tak pernah suka pada foto
presiden yang tak pernah berganti itu.

*

Di kamar kerja Paman Mawi ada poster besar
Presiden Sukarno dan John F. Kennedy, dan
tanda tangan kedua orang itu. “Dua tokoh
besar,” katanya. Juga ada gambar partai
kepala banteng dalam bingkai segi lima,
dengan warna merah pada latar.

Aku kira itulah rahasianya. Itulah sisa
perlawanannya. Ketika penguasa mewajibkan
seluruh pegawai ikut penataran – yang
artinya penyeragaman – Paman Mawi tak lagi
memasang lambang partai itu di pintu rumahnya.

Di meja kerja Paman Mawi di rumahnya, ada
satu set buku “30 Tahun Indonesia Merdeka”,
buku pembagian negara untuk proyek
pengadaan bacaan sekolah dasar.

Paman Mawi mengajar sejarah, tapi empat jilid
buku keberhasilan rezim penguasa itu baginya
cuma omong kosong, cuma dusta yang ia malas
membacanya, apalagi mengajarkannya.

Paman Mawi adalah ayahku yang kedua,
dia mungkin musuhku yang pertama, tapi
kami adalah teman dengan musuh yang sama.

(2021)

Kita Sekarang Orangnya Bisa Woles

KITA tersesat jauh dari
jalan besar tapi aku tahu kita
woles, kita tidak lagi buru-buru.

Tak ada siaran FM yang bisa
ditangkap tapi di ponsel banyak
lagu untuk didengar.

Tak ada warung untuk singgah
numpang toilet tapi masih ada aqua
dan teh botol, juga roti dari
pom bensin terakhir.

Kita tersesat jauh dari
jalan besar tapi kita masih ada
di jalan panjang kita itu.

Karena rumah adalah di manapun
aku bersamamu, maka tiap tempat
bagi kita adalah alamat.

Perjalanan belum selesai,
tapi kita akan sampai, karena
kita telah sampai.

(2021)

Suara Haji Jatta

: untuk Fahmi

ADA sumur besar
di depan rumah Haji Jatta
tempat kami mandi
sehabis main bola
membersihkan badan dengan air hanta
tanpa sabun dan anduk
menghilangkan lekat lumpur,
dan bau keringat, daki
dan gatal sengkadi.

Ada suara besar
dalam diri Haji Jatta
dia khatib di masjid kami
dengan teks yang rapi
dan tema khotbah abadi
seruan takwa dan wasiat
untuk tetap saling mengingatkan
pada kebaikan dan kebenaran,
ke atas mimbar itu
dengan tongkat dan surban
soal politik tak pernah
ia bawa-bawa.

Suara Haji Jatta
adalah suara kami
dia kami pilih dalam pemilu
menjadi wakil kampung kami
di dewan perwakilan kabupaten
Kutai Kartanegara.
Konon Pak Kaning, bupati kami
itu pun segan padanya
gentar apabila ia bicara
dengan suara besarnya.

Ada bangunan besar
di samping rumah Haji Jatta
rumah pembakar kopra
(di situ kami boleh
ambil upah kerja menguit kelapa)
juga pabrik pengolah kopra
dengan tungku pemanas
dan mesin penggiling
juga tangki-tangki penampung minyak
(kami suka melihat bagaimana
minyak mengucur deras
dari mesin pemeras).

Tapi mesin diesel besar
di pabrik itu adalah barang tua
sering ngadat dan susah dihidupkan.

Tanpa baju, Haji Jatta
akan turun tangan sendiri
memperbaiki mesin kebanggaannnya
(entah dari mana tamatan Sekolah Normal itu
mendapat pengetahuan mekanika permesinan)
lalu kami pasti akan mendengar lagi
kumandang lantang mesin bekerja kembali,
selantang suara Haji Jatta
dan bau minyak kopra
memenuhi udara.

(2021)

Aku Memungutnya dan Berpikir “Gokil Juga, Nih!’

BEBERAPA penyair bersama-sama
menulis puisi di kepalaku.

Penyair pertama menulis: kalau sampai
waktuku…. Lalu dia pergi merokok.

Penyair kedua menambahkan: kalau
sampai waktuku aku ingin mencintaimu
dengan….. “Lanjutkan,” katanya kepada
penyair ketiga.

Penyair ketiga menulis: kalau sampai
waktuku aku ingin mencintaimu dengan
sesuatu yang kelak retak… “Giliranmu,”
katanya pada penyair berikutnya.

Penyair keempat menulis: kalau sampai
waktuku aku ingin mencintaimu dengan
sesuatu yang kelak retak agar orang-
orang dibangunkan, kesaksian harus…

Dia ingin terus menulis tapi penyair
berikutnya berseru, “hei, jangan terlalu
panjang, giliranku!”

Penyair kelima itu menulis: kalau sampai
waktuku aku ingin mencintaimu dengan
sesuatu yang kelak retak agar orang-
orang dibangunkan, kesaksian harus
berdarah-darah karena kapak hitam…
“kau teruskan,” katanya
pada penyair lain.

Penyair keenam menulis: kalau sampai
waktuku aku ingin mencintaimu dengan
sesuatu yang kelak retak agar orang-
orang dibangunkan, kesaksian harus
berdarah-darah karena kapak hitam tak
tumbang-tumbang juga menenang kaleng
Khong Guan.

Mereka kemudian bertentang tentang
juduls ajak itu dan tak bisa menyepakati
apa-apa, lalu membuangnya.

Aku memungutnya, membacanya,
dan berpikir, ‘gokil juga, nih,” lantas
mengetiknya di Canva dan memajangnya
di Instagram, Facebook, dan Twitter,
oh ya, tentu saja di blog
aku juga mempostingnya.

(2021)

Juru Lelang Nuriyah

MASJID dan madrasah kami
terbangun antara lain dengan
suara Nuriyah, sang juru lelang
wajahnya cahaya terang
yang membuat malam hari kami dan
lampu-lampu panggung menyala

“Sekali sekali? Sekali dua kali?
sekali tiga kali? Anjur!”
Maka jatuhlah setalam kue
atau apapun yang disumbangkan warga
kepada penawar tertinggi.

Nuriyah tahu
kapan harus melepas dan menahan
setelah berseru,
“fastabiqul khairat!”
dengan barang lelang di tangan.

Nuriyah tahu
kapan harus menyanyikan Nasyida Ria
atau lirik dangdut tentang kegagalan cinta
agar penawar mengajukan
tawaran lebih tinggi
sebelum barang lelang ia lepaskan.

Nuriyah adalah selingan
Nuriyah adalah pertunjukan utama
pada malam-malam saprah amal
malam-malam pengumpulan dana

Nuriyah adalah alasan kami
mengumpulkan uang hasil menjual apa saja
daun pisang, atau arang kayu bakar,
upah menebas kebun,
mengangkut atau mengupas kelapa
agar bisa memenangkan satu barang lelang
lalu naik panggung dan bersalaman dengannya
atau meminta satu lagu dinyanyikan olehnya.

Nuriyah tak pernah minta dikenang
bahwa kubah, keramik, dan menara masjid,
juga ruang kelas dan kantor madrasah
terbangun antara lain setelah
ia berdiri berjam-jam lamanya
pada malam kampung kami yang menyala
dengan kebaya dan selop tinggi
dengan sanggul sasak
dan selendang merah terang
berseru, “fastabiqul khairat!”
lalu kami berlomba menawar
dengan harga tertinggi
diselingi dendang kasidah
dan alun dangdut
yang dengan merdu
ia lantunkan.

(2021)

Biasa Terjadi di Dunia Perpuisian dan Kepenyairan

WAKTU aku
memikirkan kata ‘suka’
pada sebuah puisi
yang sedang kutulis,
tak sengaja aku
mengetik ‘luka’.

Aku jadi lupa
tadi sebenarnya
aku hendak
mengucapkan apa.

Tapi biarlah
lupakan saja,
itu biasa terjadi
di dunia perpuisian.

*

Waktu aku
menerawang lagi apa
yang hendak kutulis
untuk menggantikan
puisi yang tadi
akan kutulis
tapi lupa itu,
aku merenungkan
banyak hal lain,
tak ada satupun
yang akhirnya
kugubah menjadi
puisi, aku malah
menulis puisi ini.

Aku pikir
tak apalah,
itu biasa terjadi
di dunia kepenyairan.

(2021)

Sepupuku Jiu

: Fauzi

AKU dan sepupuku Jiu
seperti Batman dan Robin
tak peduli siapa yang Batman
dan siapa yang Robin,
yang penting kami merasa
bisa atasi masalah apapun
bila kami bersama.

Tuhan barangkali
tak terlalu banyak pertimbangan
ketika menghembuskan nyawa
pada janin kami
di rahim mama kami masing-masing,
sama saja bila aku yang
ada di rahim mamanya atau
dia yang ada di rahim mamaku.

Mamaku dan ayahku menikah
dalam perayaan yang sama dengan
pernikahan mamanya dan ayahnya,
satu perayaan besar yang pernah
digelar oleh Kai Ahmad,
kakek kami itu.

Kami lalu lahir dalam selisih
waktu yang tak jauh,
Aku anak kedua, dia anak pertama,
jadi aku yakin dia memang
meminta pada Tuhan
untuk diciptakan dan
dilahirkan ke dunia
bersamaan denganku
dan Tuhan menyetujuinya.

Aku dan sepupuku Jiu
diberi nama oleh Julak Satta,
Ada tiga nama yang dia sediakan
Lalu ayah kami mencabut undi
Aku dapat nama yang jadi namaku
Dia dapat nama yang jadi namanya
tersisa satu nama yang aku yakin
dia adalah seorang anak yang
juga ada saat kami mengundi nama.

Ketika aku dan sepupuku Jiu
masuk sekolah bersama-sama
kami dibelikan Kai Ahmad
sepatu boot yang sama
(aku jingga, dia biru)
dan karena kami tak pakai
kaus kaki, kaki kami
sama-sama melepuh di hari pertama.

“Sebenarnya apa gunanya
sepatu? Kenapa sekolah
mengharuskan kita memakainya?” kata Jiu
kami pulang sambil menenteng sepatu,
sepatu yang persis sama
dengan sepatu Adi Bing Slamet
di sampul album duetnya
bersama Chicha.

Aku dan sepupuku Jiu
selalu duduk sebangku, kami
menggabung bilah lidi
saat pelajaran berhitung,
kami saling meminjamkan
peraut pensil dan karet setip,
kami harus selalu yakin
tulisan kami benar dan bersih
sebab Kai Ahmad akan
memberi uang hadiah tambahan
apabila nilai kami bagus
dan tulisan kami rapi.

Aku dan sepupuku Jiu
tiap pagi sebelum berangkat sekolah
selalu singgah di rumah Kai Ahmad
yang pasti sedang asyik
menggosok batu cincin
dengan segelas kopi bergagang
hijau – dan dia akan lekas-lekas
merogoh kantong dan
memberi kami uang sangu 10 rupiah.

Aku dan sepupuku Jiu,
kami disunat bersamaan,
bertiga bersama Dani abangku,
Kai Ahmad memanggil Mantri Amir,
dan memberi kami masing-masing
selembar sarung Cap Mangga.

Jiu, sepupuku, pernah punya
sepeda trail merah, tiap kali
pulang sekolah dia mengajak
aku berboncengan, dia pegang setang
aku yang mengayuh pedalnya.
Saat itu kami merasa kami bisa pergi
ke mana saja yang kami mau
dengan sepeda trail merah itu.

(2021)

Rencana Belanja dengan Uang Sangu Rp25

APA yang bisa kau beli
dengan uang sangu Rp25?
Jangan belanja apa-apa
sebelum masuk sekolah,
minum air dan kue bekal
dari rumah. Bermain saja
sepuasnya, atau
baca buku proyek inpres,
di ruang guru itu.

Pada jam istirahat pertama,
kau boleh beli sup singkong
Mama Adang yang berjualan
di kedai seadanya di depan rumahnya
di sebelah kiri sekolah.
Ingat, itu singkongnya
dibeli dari Laduru, petani
dari Buton, yang singkongnya
hapuk, dengan jaminan mutu,
“kalau tidak hapuk
jangan panggil Laduru”.

Atau belilah sehalung
nasi kuning di kedai Acil Ciang,
di seberang sekolah itu,
udangnya segar, dimasak
bumbu bali cabai kering cincang,
dan oh ya juga gurihnya
taburan serundeng pedas.

Di kedai Acil Ciang
kau juga bisa
membeli pencok nanas segar,
perhatikan lincah tangannya
saat mengupas nanas
mengiris seiris demi seiris,
berjatuhan ke cobek bumbu,
yang lebih dahulu ia lumatkan
dengan kelincahan lain,
memirik kacang tanah,
gula merah, dan garam.

Di sebelah kedai Acil Ciang,
masih di seberang sekolah,
Bu Darmin berjualan buras,
kalau kamu mau beli,
lekaslah membeli, dia tak
pernah membuat stok banyak,
apabila habis, dia akan
segera mengangkat meja.

Atau kau bisa beli
es jualanku,
es blok kacang hijau
atau ganepo sirup santan,
aku akan beri bonus untukmu,
kugambarkan Unyil dkk,
di buku gambarmu, atau
gambar apa saja yang kau mau.
Scooby Doo? Huckleberry Hound?
Yogi The Bear? Atau Watoo Watoo?
Flash Gordon atau Johnny Quest?

Dengan satu syarat,
jangan kau kumpulkan
gambar itu pada pelajaran
menggambar. Pak Nadi,
guru kesenian kita tahu
itu gambarku.
Meskipun dia tak pernah
membeli es jualanku.
Pada jam istirahat kedua,
biasanya es jualanku sudah
habis. Tersisa dua termos kosong.
Aku bisa menghitung berapa
penghasilanku hari itu.

Tapi, semua warung
juga telah tutup. Kecuali,
kedai mamanya temanku Budi,
anak penjaga sekolah,
yang menjual goreng pisang
dan es sirup merah, juga
singkong rebus dengan
sambal terasi yang
legendaris itu. Lumayan
penahan lapar sebelum
pulang berjalan kaki
ke rumah.

Tapi cuci benar tangan
dan mulutmu, sebelum
masuk kelas pada jam
terakhir, Bu Armiyah
tak akan suka mencium
bau terasi mengepungnya
saat ia mengajar
bahasa Indonesia.

(2021)

Obrolan Nini Upah dan Nini Rukiah

: Cerita untuk Jiu dan Iwan

KALAU Nini Upah
dan Nini Rukiah bertemu
mereka akan saling bertanya
tentang serimbun apa
rumpun sirih yang mereka tanam
di rumah masing-masing.

Juga kapan terakhir kali
ikut berhuma dan mengetam padi.

Aku kira mereka
masih membayangkan
tinggal di rumah
di tengah kebun
sebelum Nini Upah
pindah ke arah gunung
dan Nini Rukiah
pindah ke muara.

Mereka berbincang
(menghadap takzim
pada seperangkat cerana)
tentang berapa jumlah cucu
(menyebutkan satu per satu
nama anak dan masing-masing
telah punya anak berapa,
setelah menikah
dengan anak siapa)
sambil membalurkan kapur pada
permukaan daun sirih,
membubuhkan hancuran gambir,
dan sehimpil pinang,
lalu menumbuknya
dalam lumpang kuningan kecil,
sebelum mencungkil dengan
telunjuk lalu mengunyahnya
perlahan. Perlahan-lahan.
(Konon begitulah cara mereka
selamat dari paksaan tentara Jepang)
Dan di antara mereka harus ada pekucuran
tempat membuang segala yang memualkan
kenangan tentang wabah kolera,
cacar dn malaria, juga segumpal
tembakau sugi.

“Apakah kolam di samping
rumahmu dulu itu masih
banyak ikan papuyu?”
tanya Nini Upah.

“Kolamnya sudah mendangkal,
ditumbuhi kangkung dan susupan,
kembang tanding dan kayapu,
juga keladi di sekelilingnya,
papuyu dan haruan tak ada lagi
habis dimakan berang-berang,”
kata Nini Rukiah.

Nini Rukiah sebenarnya
hanya mengulang laporan
yang kusampaikan. Ia telah
lama tak melihat kebunnya lagi,
tapi selalu bertanya setiap
kali aku pulang menjatu kelapa
di kebunnya, di kebun yang
di sekelliling bekas rumahnya
menjulang pohon pinang,
dan rumpun sirih merambat
tinggi di batang pohon kuini,
yang dulu ditanam kakekku
ketika aku belum ada.

Kalau Nini Upah dan
Nini Rukiah berpisah, telah disiapkan
Sebungkus pisang rimpi, nasi kering
dan sewadah iwak wadi
(konon dengan awetan makanan itulah
dulu mereka bertahan
dari ancaman kelaparan
karena kekurangan pangan)

(2021)

Rumah Kai Tarun

RUMAH Kai Tarun
harus dibangun dengan kuat
untuk menahan tawanya yang besar
rumah Kai Tarun karena itu dibangun
dengan tiang-tiang kayu ulin, dan
dindingnya papan meranti kering.

Kai Tarun orang yang
mudah sekali berbahagia
– selalu berbahagia –
dia pernah menjadi orang
yang banyak uangnya, ketika
menjadi pemasok atap
ke perusahaan minyak negara,
yang sedang membangun kantor
dan perumahan karyawan di kota,
negeri sedang giat membangun,
dan pejabat baru mulai
belajar mencuri.

Tapi Kai Tarun
terlalu baik orangnya
terlalu murah hatinya
ia bagikan rezeki dan
kebahagiaannya kepada
teman-teman seperjuangannya.

“Kaimu ini tak bisa jadi
orang kaya,” kata Tukiman Gondo,
ketua korps legiun veteran,
teman dan komandan gerilya
Kai Tarun, kepadaku pada suatu
hari, “tapi kaimu ini orang yang tak
akan kehabisan dukungan,
temannya banyak, di mana-mana ada.”

*

Rumah Kai Tarun
harus dibangun dengan luas
membentang dari sisi jalan raya
hingga tepi Selat Malaka
agar bisa menampung cerita hidupnya
yang panjang dan penuh kejutan.

“Aku pernah lolos
dari berondongan
bren pasukan Belanda,”
kata Kai Tarun memulai cerita.

Waktu itu ia sedang menyeludupkan
senjata – yan disamarkan di balik
buah pepaya, dipasok pasukan Australia
yang memihak Republik Indonesia

Usman Veteran, temannya,
menarik gelas dan menuangkan
kopi panas ke pipiringan,
dia tahu cerita Kai Tarun
tak akan habis sampai petang,
ia siapkan juga ceritanya
yang sama panjangnya.

Di Rumah Kai Tarun
ada warung kopi kecil
dan bengkel sepeda.

Warung kecil menjual kopi
dan rokok, dan kue bikinan sendiri
untuk menjamu teman-teman
veteran yang mampir bertamu,
bayar atau masuk catatan bon
itu urusan lain, perjuangan
memang tak boleh berhenti,
perjuangan harus dilanjutkan.

Bengkel sepeda untuk
menyambung dan menambal hidupnya
sebagai petani dan pensiunan veteran
sering tak berjalan lancar
yang sering putus rantainya,
sering bocor halus pada ban dalamnya.

Tapi di Rumah Kai Tarun
orang banyak selalu
suka singgah bertandang,
betah lama berbincang,
seakan memberi kesaksian
pada Bung Besar pada poster
di dinding rumahnya, bahwa
revolusi memang tak pernah berhenti,
dan dari Rumah Kai Tarun
kau akan selalu mendengar
tawa bahagianya, tawa besarnya,
tawanya bersama teman-temannya.

Aku sangat suka, ikut tertawa
bersama mereka.

(2021)

Payung Nini Aliyah

BAGAIMANA cara
menjaga tubuh
senantiasa semampai
seperti penari
setelah melahirkan
sembilan kali?

Orang-orang harus
menanyakan itu
kepada Nini Aliyah,
dia mamanya ayahku,
(anak keempat,
dari delapan
lelaki dan seorang
bungsu perempuan)

Orang-orang harus
banyak bertanya
kepada Nini Aliyah,
mamanya ayahku,
dia pasti punya
banyak jawaban bagus
untuk banyak pertanyaan
yang kau ajukan.

Misalnya, bagaimana
mengolah kue wajik
dengan warna hitam
yang mewah
dan manis yang
melekat di lidah?

Atau bagaimana
membuat roti gambung,
adonan tangan dan
dibakar sabut kelapa
dengan hasil seakan
keluaran pabrik,
lembut dan kembang,
matang sempurna?
(Aku kira mamaku
mencuri ilmu darinya)

Atau bagaimana
membuat secangkir kopi,
dari memetik buahnya,
mengeringkan,
menyangrai,
menumbuk dalam lesung besi,
menyaring dengan ayakan,
menghasilkan
bubuk halus,
lalu menyimpan dalam
toples kaca,
seperti serbuk emas yang
tiap takar ia tepatkan
dalam miligram?

Atau bagaimana
membuat gagaduh
dengan renyah kangkung liar
cacahan timun sesegar
percik fajar
kecambah yang seperti
bersantan setengah mentah
yang ia lambak sendiri
dan kuah kacang yang
bertahun-tahun kemudian
tak juga kutemukan
kata apa yang tepat
untuk menjelaskannya,
(mungkin harus
kugabungkan arti
seluruh makna lezat,
enak, sedap, nikmat,
gurih, dan sejenisnya)?

Wajik, roti gambung,
gado-gado dan kopi,
buatan sendiri, yang
dia jual sendiri
di warung kecil yang
dia kelola sendiri,
dengan pelanggan setia
para pejuang veteran
sepanjang hari duduk
bercerita mengenang masa
peralihan kolonialisme
Belanda ke Jepang, hingga
perjuangan dalam perang revolusi
mempertahankan kemerdekaan.

Tapi kepada Nini Aliyah
kau harus bertanya
bagaimana cara
menjaga tubuh
senantiasa semampai
seperti penari
setelah melahirkan
sembilan kali?

Lihatlah dia ketika
melangkah ke luar rumah
berjalan ke pengajian
atau ke puskesmas
mengambil vitamin IPI
dan pil-pil rutin yang
harus ada dalam wadah
persediaannya.

Ia yang berjalan anggun,
tegak sempurna dan
setiap langkah seakan
ia diperhitungkan,
dengan kerudung cerah,
surban berhias benang emas
meliput rambutnya,
dan lingkar langkar sarung batik
dan kembang payung
di tangannya itu – baginya
bukan sekadar penaung.

(2021)

Rumah Kawanku Burhan, 2

BERAPA harga belajar menggambar
bersama Pak Tino Sidin?
Dua drum air pendingin mesin diesel
yang harus kami isi dengan air sumur
dari seberang jalan
sebelum genset dihidupkan
dan petang hari itu
televisi dinyalakan
di rumah kawanku Burhan.

Bagaimana aku dan Burhan
menandai persabahatan?
Kami menciptakan siulan
rahasia, semacam kode panggilan,
apabila salah seorang dari
kami mendengar seorang yang lain
menyiulkannya, itu artinya
ajakan untuk keluar rumah,
berangkat sekolah arab, atau
bermain pedang-pedangan,
perang-perangan di kuburan.

Apa yang selalu kudengar
di rumah Burhan?
Dentang tuangan es, deru kulkas,
termos-termos disiapkan, dan
celoteh ibunya memberi instruksi
ini dan itu kepada Nurhaliza,
Zuhaifah dan Aidil menyetor
hasil penjualan, dan suara
motor ayahnya dipanaskan
sebelum berangkat mengajar
di sekolah dasar Senipah.

Apa yang paling kuingat
dari rumah Burhan? Pakaian
pengantin, kursi pelaminan,
dan kembang-kembang hiasan
pemeriah persandingan.
Kelak aku pun dirias oleh
ibunya Burhan – ia yang
menciptakan kebahagiaan kami
menjadi lebih membahagiakan –
ia merias siapa saja yang
merayakan perkawinan
di kampung kami juga
kampung-kampung bertetangga.

Apa yang paling kurindukan
dari rumah Burhan? Aku
merindukan lebaran, sebab
ibunya akan membuat buras dari beras
berbungkus harum daun pisang muda
dengan kuah santan yang lembut
dan lezat ikan yang berlompatan
di lidah kami setelah
puasa selama sebulan.

(2021)