Bangun Pagi dan Ingin Tidur Lagi

BANGUN lagi
dengan putih pagi seperti
lembar besar silang teka-teki
untuk pertanyaan-pertanyaan yang mati

Telah jauh percakapan
sejak semalam ketika kita
berangkat dan berjanji
bertemu pada satu titik dalam satu mimpi

Mungkin akan ada jawaban
mungkin akan ada diam yang panjang
kotak-kotak kosong teka-teki
untuk kita: kata,
berbagi huruf yang sama.

Iklan

Suatu Pagi di Kedai Kopi di Sebuah Pasar

DANGDUT dengan lirik yang beberapa kali mengulang kata geli. Mancis bertahan dari lupa pada tali rafia. Sepasang botol yang setia, kecap dan saus tomat yang benci warnanya sendiri. Matahari mencari siapa yang hendak ia tanya apakah dia hanya sia-sia.

“Sakitnya tuh di sini,” kata jam dinding yang menunjuk pada dirinya sendiri.

Seorang pemarut kelapa membeli dua batang rokok. Penjual daging mengasah satu per satu pisaunya. Bulan mengucak mata. Penjaga kedai menuangkan air panas pada segelas kopi Kapal Api. Amanat kepala sekolah pada upacara dalam pengeras suara.

“Aku mah apa atuh…” kata jam dinding sambil memandangi wajahnya sendiri.

Apabila Pemungutan Suara Dilakukan pada Hari Ini

MAKA aku akan tidur dan bermimpi indah
tentang kota yang bersih, tanpa baliho

dan suara bising, spanduk dan senyum
palsu. Juga poster dan janji kosong.

Aku bertanya pada pemilu, kenapa kota
ini suka menumpuk sampah? Menebarkan
kotoran ke dalam pikiran warga kota?

Aku bertanya pada pohon-pohon di tepi
jalanan, kenapa kita kuat disakiti?

Berulang kali! Oleh harapan yang tak
pernah bisa diwujudkan, dan kenapa kita

masih bisa memimpikan perubahan dari
orang yang wajahnya dipoles Photoshop,

lalu dicetak digital massal, dan
dipakukan ke tubuh kita dan kita benci

karena harus menemuinya di mana-mana.
(juga di dalam mimpi di kepala kita).

Engkau Sudah Bisa Menyetir Sekarang

             : shiela

LIHATLAH jalanan, lihatlah kita, Nak,
sekarang, dan engkau bukan kanak lagi,
sudah punya SIM dan KTP, rekening bank
atas namamu sendiri, dan kami berdiri
dengan kaki gemetar, akan ada gelap
dan jembatan, juga bayangan, akan ada
hujan dan tikungan, dan engkau pergilah,
dan kami akan turun, menyatukan diri
dengan cuaca kota, atau menunggu di
halaman, melepas engkau di gerbang kampus,
atau kantor instansi di mana tadi sudah
kami selesaikan semua urusan.

.

Kenalilah jalanan, ingatlah kita, Nak,
ketika singgah dan memesan burger yang tebal
di McDonald, dan segelas Milo yang hangat,
dan malam lembab, dan jalanan licin,
menu yang kau pilih tadi di satu kotak
bersuara, dan kau membayar di jendela
selanjutnya, dan sekantong pesananmu
disodorkan di tingkap berikutnya,
hidup ini, dan lapar itu memang bisa
begitu sederhana, dan kau makanlah, kami
akan menunggu, kabarmu, dan lanjutan serial
cerita di Netflix atau drama Korea.

.

Berhentilah di batasmu, parkirkan kendaraan,
Nak, kami ingin membekalimu dengan banyak
kecemasan, tapi itu tak kau perlukan,
dan begitulah kita, hidup, dan jalanan,
tanganmu mengemudi, arahnya kemana, dan
seberapa lajunya, kami akan menceritakan
kamu lagi, berulang kali dengan senyum
dan tertawa sesekali, mendengar Dylan
di Spotify, atau nyanyianmu di Soundcloud
dan melihat foto-fotomu di Instagram, lalu
berangkat tidur setiap malam, dan mimpi kami
subur sekali, dan tadi hujan sepanjang hari,
tetap saja tanaman bunga itu kami sirami.

 

 

 

Variasi Lain atas Lirik Gurindam Jiwa

AKU melihatmu
mengintai dari balik rindu
lalu esok aku pun akan terbantai
oleh hati yang layu

Rindu yang masak
merunduki hari tak tertuai
aku terperangkap pada lukahku sendiri
telah terikat hati, tak lagi terurai

Patah sehelai selasih
dipermainkan sayap seribu merpati
sekuat apakah kasih kekasih?
tak tertalak kecuali kelak oleh mati

anak bermain seorang sendirian
memungut kemboja jatuh di tanah
sebelum berkubur di telapak tangan
penuhkan airmatamu di sini, menangislah

musim menuai lalu berlalu
harum padi mengharumi hujung-hujung kuku
mungkin surga itulah hulu mudikku
tuan tahu di mana aku menunggu…