Tentang Kritik Sastra dalam Apresiasi Sastra

Oleh Budi Darma

/1/
Meskipun bertautan, kritik sastra berbeda dengan apresiasi sastra. Memang tidak selamanya kritik sastra mengkritik obyek sastra, akan tetapi unsur kritik selalu mendampingi pengertian kritik sastra. Sebaliknya pengertian kritik tidak mendampingi apresiasi sastra. Apresiasi sastra cenderung untuk menghargai karya sastra, cenderung untuk menerima suatu obyek sebagai sesuatu yang baik.

Lanjutkan membaca “Tentang Kritik Sastra dalam Apresiasi Sastra”

Iklan

Kesepakatan Bahasa dan Parole Penyair

chagallike
Menggambar Seperti Marc Chagal (kuas pada kertas, diolah dengan aplikasi Prisma), Hasan Aspahani, 2016.

Catatan: Artikel ini adalah bagian dari sebuh rencana buku saya yang berjudul “Menyentuh Jantung Bahasa, Meraih Hati Puisi”. Isinya mendekati puisi dari Linguistik. Ini adalah artikel kedua dari tiga belas artikel yang saya sebut artikel sebelas paragraf, sebab semuanya terdiri dari sebelas paragraf saja. Selamat menikmati, dan menyentuh hati puisi.  

/1/
ILMU bahasa atau linguistik menetapkan, bahasa adalah sistem tanda bunyi yang disepakati untuk dipergunakan oleh para anggota kelompok masyarakat tertentu dalam bekerja sama, berkomunikasi, dan mengidentifikasi diri. Bahasa yang dirumuskan seperti itulah yang juga dipakai oleh penyair sebagai bahan dan sekaligus juga sebagai alat bermain yaitu ketika ia menyusun sajak-sajaknya. Penyair ada dan hidup dalam bahasa itu, ia tidak berada di luar bahasa itu.

Lanjutkan membaca “Kesepakatan Bahasa dan Parole Penyair”

Menguji Kekuatan Konsep Sajak Sonian

contoh-karya-soni-farid-maulana
Soni Farid Maulana.

Pembatasan cuma tambah menyatukan kenang. – “Kabar dari Laut” – Chairil Anwar

SAYA mendengar tentang konsep sajak ‘sonian’ dari cerpenis Tawakkal M Iqbal, penulis Bogor yang karyanya masuk dalam Kumpulan Cerpen Terbaik Pilihan Kompas 2015. Sayangnya, kabar itu saya dapatkan sebelum Musyawarah Sastra Nasional 2016. Jika saja saya sudah tahu sebelum perhelatan yang digagas oleh Badan Pembinaan dan Pengembangan Bahasa itu saya tentu bisa bertanya banyak dan berdiskusi dengan sang penggagas, penyair senior asal Bandung yang saya hormati, Soni Farid Maulana.

Untunglah bahan-bahan untuk memahami konsep sajak berbentuk tetap itu sudah tersedia di beberapa laman internet. Sajak sonian yang rupanya sudah diperkenalkan oleh sang kreator pada Januari 2015 adalah sajak sebait dengan empat larik.

Masing-masing larik berturut-turut berisi enam, lima, empat, dan tiga suku kata.

Supaya mudah diingat rumusnya adalah 6-5-4-3.  Jumlah suku kata seluruhnya ada delapan belas. Dengan begitu, sajak ini benar-benar mengikatkan diri pada bentuk fisik. Tipografinya mengerucut ke bawah. Tak ada penjelasan soal apakah emosi sajak itu juga menajam seiring penajaman bentuk tersebut. Tapi, dari beberapa contoh sajak yang saya temukan saya tak melihat pola itu.

Lanjutkan membaca “Menguji Kekuatan Konsep Sajak Sonian”