Kapan Penyair Menyebut Dirinya Sebagai Penyair?

Pallete Poetry:

Kapan Anda mulai menyebut diri Anda seorang penyair dan mengapa?

Edward Hirsch:

Saya tidak begitu yakin. Sepanjang kuliah saya biasa mengatakan bahwa saya ingin menjadi seorang penyair. Lalu entah kapan saya mengubah hal itu dan mulai memberi tahu orang-orang bahwa saya adalah seorang penyair. Saya pikir itu ada hubungannya dengan penemuan poiesis saya — yang berarti menciptakan. Penyair adalah pencipta dan puisi itu ciptaan. Saya mulai menyebut diri saya seorang penyair dengan cara yang berdasarkan ukuran fakta yang sebenarnya itu.

:: Petikan dari wawancara di sini.

Memadatkan Bahasa: Maka Maknanya Makin Bertambah-tambah

Oleh Hasan Aspahani

SEJAK kapan pengarang Indonesia punya kesadaran untuk memadatkan bahasa, dalam arti menulis dalam bahasa yang sebaik-baiknya, seringkas-ringkasnya, akan tetapi pada nas atau teks yang tersusun itu termuat makna yang seluas-luasnya?

Sejak kapan pengarang Indonesia percaya bahwa bahasa Melayu (yang kelak dalam satu percabangan perkembangannya menjadi Bahasa Indonesia) punya potensi untuk menjadi alat ucap yang efektif juga potensi estetis?

Lanjutkan membaca “Memadatkan Bahasa: Maka Maknanya Makin Bertambah-tambah”

Menyelidik Karya Sastra seperti H.B. Jassin

Esai Hasan Aspahani

KETIKA Universitas Indonesia menganugerahi gelar doctor honoris causa, pada 14 Juni 1975,  H.B. Jassin menerima dengan kuatir. Gelar kehormatan dari perguruan tinggi – lembaga dengan otoritas ilmiah itu – jelas bernilai dan bermuatan akademis. Justru itulah yang dikuatirkan olah  Jassin, kekuatiran yang bercabang ke dua arah.

Pertama, Jassin merasa apa yang telah dia lakukan di lapangan kritik sastra di Indonesia, yang menjadi pengarena gelar yang ia terima, dia anggap masih sedikit sekali dan masih jauh dari apa yang disebut ilmiah.  Jassin tentu saja merendah dalam hal ini. Sementara itu, seakan-akan berlawanan dengan kekuatiran pertama,  alasan untuk kuatir yang lain bagi Jassin adalah ia justru cemas jika yang ia lakukan menjadi ilmiah. Dalam arti, kata Jassin, hanya bekerja dengan otak.

Selengkapnya baca Hari Puisi -> Menyelidik Karya Sastra seperti H.B. Jassin

Bagaimana Sajak Tercipta?

* Dari analisa Kuntowijoyo atas Sajak D Zawawi Imron

MENUTUP buku puisi D. Zawawi Imron “Madura, Akulah Darahmu” (Grasindo, Jakarta, 1999), Kuntowijoyo menulis sebuah artikel yang menarik dan baik untuk memahami puisi dan memahami bagaimana kerja seorang penyair menghasilkan puisi. Ada bagian dari artikel itu yang menjelaskan bagaimana menurutnya sajak-sajak Zawawi tercipta.

Mula-mula Kuntowijoyo menjelaskan bahwa menulis nonfiksi (esai, artikel, buku ilmiah), menulis fiksi (novel dan drama) itu berbeda secara kategoris dengan menulis puisi. Masing-masing punya cara sendiri.

Lanjutkan membaca “Bagaimana Sajak Tercipta?”

Tentang Kritik Sastra dalam Apresiasi Sastra

Oleh Budi Darma

/1/
Meskipun bertautan, kritik sastra berbeda dengan apresiasi sastra. Memang tidak selamanya kritik sastra mengkritik obyek sastra, akan tetapi unsur kritik selalu mendampingi pengertian kritik sastra. Sebaliknya pengertian kritik tidak mendampingi apresiasi sastra. Apresiasi sastra cenderung untuk menghargai karya sastra, cenderung untuk menerima suatu obyek sebagai sesuatu yang baik.

Lanjutkan membaca “Tentang Kritik Sastra dalam Apresiasi Sastra”

Mengikuti “Montase” Jengki: Masuk Keluar Bali, Masuk Keluar Diri

sampul-montase
Sampul buku ‘Montase’ (Pustaka Ekspresi, Denpasar, 2016)

 

DI Musyawarah Sastra Nasional 2016, Hotel Bidakara, Jakarta, Oktober lalu, sahabat saya penyair Wayan Jengki Sunarta memberi saya buku kumpulan puisi terbarunya “Montase” (Pustaka Ekspresi, Denpasar, 2016). Tepatnya kami bertukar buku puisi. Saya juga memberinya buku puisi terbaru saya. Dia senang. Saya senang. Tapi, dengan buku puisinya di meja tulis saja, saya kemudian gelisah dan tidak tenang. Saya menulis ini untuk menenangkan ketidaktenangan saya itu.

jengki-sunarta
Wayan Jengki Sunarta

Jengki, penyair kelahiran Denpasar, 1975 ini, selalu menarik perhatian saya untuk diikuti perkembangan perpuisiannya. Sajak-sajak Jengki di buku ini dengan lekas saya bagi menjadi dua kelompok. Pertama, sajak-sajak yang ia tulis di Bali atau tentang Bali, tanah kelahirannya. Ke dalam kelompok sajak ini saya masukkan sajak-sajaknya yang tidak secara khusus menyebut tempat, yaitu sajak-sajak yang membawa saya masuk ke dalam dirinya, jiwanya, permenungan batinnya.

Kelompok kedua, sajak-sajak yang ia tulis ketika atau setelah bepergian keluar Bali. Saya harus ulangi, bahwa ini adalah pengelompokan yang lekas, mungkin buru-buru. Soalnya, ketika Jengki menulis sajak yang dengan jelas menyebutkan nama tempat, atau kota, yang bukan Bali pun, dia sebenarnya juga membawa keluar apa yang ada di dalam dirinya, atau nama tempat itu adalah titik masuk baginya untuk masuk juga ke dalam dirinya sendiri.
Lanjutkan membaca “Mengikuti “Montase” Jengki: Masuk Keluar Bali, Masuk Keluar Diri”

Waktu Menunggu – Erik Axel Karlfeldt

2273
Erik Axel Karfeldt

 

Erik Axel Karlfeldt (20 Juli 1864 – 8 April 1931) adalah penyair Swedia yang menerima Hadiah Nobel Sastra pada tahun 1931. Nobel tidak diberikan kepada sosok yang sudah meninggal, kecuali padanya. Namanya diusulkan pada tahun itu dan dia meninggal menjelang pengumuman. Ia konon seharusnya menerima itu pada tahun 1919 tapi ia menolak.

Kenapa ia menerima Nobel Sastra? Akademi Swedia seperti kehabisan kata-kata. Pernyataan resminya cuma menjelaskan hadiah itu diberikan untuk “Puisi-puisi Erik Axel Karlfeldt”.

Kita nikmati satu sajaknya:

Waktu Menunggu
Erik Axel Karlfeldt

Yang termanis adalah waktu menunggu,
Ketika air berlimpah, dan tunas-tunas tumbuh.
Mei bulan yang tak berdandan tapi bikin hati
tertawan, semenawan April di kata petang.
Jangan jalan berlumpur ini menipu engkau,
Lalu hutan lembab itu menggigilkan engkau,
Dan kau terbujuk dedaunan berlagu-merayu.
Bukan di musim panas ini aku berkubang,
yang tak beri apa kecuali pisau yang mengintai
salju yang melebur dalam bayangan pinus kelam,
Dan nyanyian murai di pagi yang dini.

Kekasih terbaik adalah waktu menunggu,
pertunangan sebelum persandingan.
Musim semi yang tak berdandan tapi bikin hati
tertawan, seperti satu rahasia kekasih hati.
Yang jarang berjumpa, yang lekas terpisah
Termimpi-mimpi tentang keajaiban tak kauduga,
Kenapa terasa hidupnya begitu tergesa-gesa.
Buah emas, toh orang lain juga yang memetiknya,
tangan tak sampai bahkan hanya untuk menyentuhnya,
Tamanku pun aku harus segera meninggalkannya,
ketika pohon-pohon mulai bertunas di sana.

Membayangkan Li-Young Lee, Penyair Amerika Kelahiran Jakarta Itu Baca Sajak di @america

li-young-lee
Li-Young Lee. (Foto dari Poetry Foundation)

UNTUK pertama kalinya selama tiga tahun tinggal di Jakarta, siang tadi, aku mengunjungi @america, di Mal Pacific Place, di Jalan Sudirman, Jakarta.  Ada yang ingin saya bicarakan dengan Eka Kurniawan yang siang itu akan jadi pembicara di acara di sana.  Kedutaan Amerika selalu bikin acara di tempat ini. Macam-macam. Pertunjukan musik, baca puisi, diskusi, kuliah terbuka. Pemeriksaan ketat. Ruangannya nyaman. Acara berlangsung sangat ringkas. Tak banyak pidato.

Lanjutkan membaca “Membayangkan Li-Young Lee, Penyair Amerika Kelahiran Jakarta Itu Baca Sajak di @america”

Kesepakatan Bahasa dan Parole Penyair

chagallike
Menggambar Seperti Marc Chagal (kuas pada kertas, diolah dengan aplikasi Prisma), Hasan Aspahani, 2016.

Catatan: Artikel ini adalah bagian dari sebuh rencana buku saya yang berjudul “Menyentuh Jantung Bahasa, Meraih Hati Puisi”. Isinya mendekati puisi dari Linguistik. Ini adalah artikel kedua dari tiga belas artikel yang saya sebut artikel sebelas paragraf, sebab semuanya terdiri dari sebelas paragraf saja. Selamat menikmati, dan menyentuh hati puisi.  

/1/
ILMU bahasa atau linguistik menetapkan, bahasa adalah sistem tanda bunyi yang disepakati untuk dipergunakan oleh para anggota kelompok masyarakat tertentu dalam bekerja sama, berkomunikasi, dan mengidentifikasi diri. Bahasa yang dirumuskan seperti itulah yang juga dipakai oleh penyair sebagai bahan dan sekaligus juga sebagai alat bermain yaitu ketika ia menyusun sajak-sajaknya. Penyair ada dan hidup dalam bahasa itu, ia tidak berada di luar bahasa itu.

Lanjutkan membaca “Kesepakatan Bahasa dan Parole Penyair”

Menguji Kekuatan Konsep Sajak Sonian

contoh-karya-soni-farid-maulana
Soni Farid Maulana.

Pembatasan cuma tambah menyatukan kenang. – “Kabar dari Laut” – Chairil Anwar

SAYA mendengar tentang konsep sajak ‘sonian’ dari cerpenis Tawakkal M Iqbal, penulis Bogor yang karyanya masuk dalam Kumpulan Cerpen Terbaik Pilihan Kompas 2015. Sayangnya, kabar itu saya dapatkan sebelum Musyawarah Sastra Nasional 2016. Jika saja saya sudah tahu sebelum perhelatan yang digagas oleh Badan Pembinaan dan Pengembangan Bahasa itu saya tentu bisa bertanya banyak dan berdiskusi dengan sang penggagas, penyair senior asal Bandung yang saya hormati, Soni Farid Maulana.

Untunglah bahan-bahan untuk memahami konsep sajak berbentuk tetap itu sudah tersedia di beberapa laman internet. Sajak sonian yang rupanya sudah diperkenalkan oleh sang kreator pada Januari 2015 adalah sajak sebait dengan empat larik.

Masing-masing larik berturut-turut berisi enam, lima, empat, dan tiga suku kata.

Supaya mudah diingat rumusnya adalah 6-5-4-3.  Jumlah suku kata seluruhnya ada delapan belas. Dengan begitu, sajak ini benar-benar mengikatkan diri pada bentuk fisik. Tipografinya mengerucut ke bawah. Tak ada penjelasan soal apakah emosi sajak itu juga menajam seiring penajaman bentuk tersebut. Tapi, dari beberapa contoh sajak yang saya temukan saya tak melihat pola itu.

Lanjutkan membaca “Menguji Kekuatan Konsep Sajak Sonian”

Tentang 50 Tahun Majalah Horison, dan Majalah Sastra yang Tidak Laku

horison-i-66-coverinternet
Sampul Horison edisi perdana.

 Sastra dan Media (1)

 

JULI 1966, edisi perdana majalah Horison terbit.  Majalah 34 halaman ini menyebut diri sebagai Majalah Sastra.  Sampul depannya menampilkan foto oleh D.A. Peransi yang menampilkan poster Sri Widodo dengan gambar ilustratif tiga anak kecil mendampingi tulisan tangan dengan huruf kapital sajak Taufiq Ismail “Karangan Bunga”.

Mochtar Lubis pada Kata Pengantar menulis: Bersama ini kami perkenalkan kepada Saudara pembaca yang budiman majalah kami ‘HORISON’, sebuah majalah sastra yang memuat cerita pendek, sajak-sajak, esai dan kritik, yang kami harap akan cukup bermutu untuk seterusnya dapat memikat perhatian dan kasih sayang Saudara pada majalah ini.

Juli 2016, lima puluh tahun kemudian, majalah yang sama terbit 196 halaman, ditambah 18 halaman sisipan Kaki Langit. Dan itulah edisi cetak terakhir majalah Horison.

Taufiq Ismail pada pengantar edisi terakhir tersebut menulis: Dua pendiri yang masih ada, Arief Budiman dan Taufiq Ismail memutuskan Horison cetak beralih ke Horison Online, mulai 1 Agustus 2016. Keputusan ini berdasarkan pertimbangan pembiayaan dan kemajuan dunia penerbitan digital. 

Taufiq Ismail di pengantar itu juga mengutip satu pertemuan majalah sastra sedunia di Rotterdam, 2003, yang ia hadiri. Kesimpulan dari pertemyan itu adalah: MAJALAH SASTRA TIDAK LAKU. Ya, ia menulis kalimat itu dalam huruf kapital dan diulang dua kali dalam satu paragraf.

“Semua karya sastra, yaitu novel, cerita pendek, puisi, drama dan esai dalam bentuk buku laris di seluruh dunia, tapi MAJALAH SASTRA TIDAK LAKU. Bahkan di negera maju dan kaya tiras majalah sastra kecil, dan cuma bisa hidup dari subsidi pemerintah,” tulis Taufiq.

Terhentinya edisi cetak Horison tak banyak menjadi perhatian dan tak banyak dibicarakan. Juga di kalangan sastrawan sendiri. Ada selentingan komentar emosional agar pengelolaan majalah legendaris itu diambil alih saja. Tapi pembicaraan itu lewat begitu saja. Saya menangkap kesan Horison tak lagi menjadi majalah yang penting bagi sastrawan Indonesia saat ini, tak seperti peran dan nama besar yang pernah tersemat padanya pada awal dan tahun-tahun gemilangnya.

Sastrawan Remy Sylado dalam makalahnya di Musyawarah Nasional Sastrawan Indonesia (2016) di Hotel Bidakara, Jakarta, menyebut majalah Horison tak mengikuti perkembangan jaman.

“…saya ingin memberi saran kepada Badan Bahasa – dipedulikan syukur, tak dihirau itu biasa bagi pegawai pemerintah yang selalu merasa diri paling betul – adalah memulai dengan penerbitan majalah sastra yang mengikuti zaman, bukan seperti Horison yang seperti kerakap tumbuh di batu, kuno, ndeso, masih seperti zaman dijajah Jepang pada 1940-an,” kata Remy.

Taufiq Ismail yang hadir di perhelatan itu harus naik podium membantah pernyataan Remy. Ia bicara panjang sampai harus dihentikan oleh moderator. Ketika Remy menjawab, Taufiq justru sudah meninggalkan ruang musyawarah.  Saya kira itu adegan yang jenaka. Di kursi peserta musyawarah saya tertawa dan bertepuk tangan. Soalnya yang mereka pertengkarkan adalah majalah yang beberapa bulan lalu dinyatakan sudah mati – setidaknya edisi cetaknya – dan oleh pendiri dan pengelola terakhirnya pun dinyatakan sebagai majalah yang tidak laku.

Lanjutkan membaca “Tentang 50 Tahun Majalah Horison, dan Majalah Sastra yang Tidak Laku”

Malam Hutan – Paul Heyse

heyse_fig2
Paul Heyse.

SEBAGAI penghargaan untuk seni sempurna, meresap dengan idealisme, yang telah ia pertunjukkan selama karir produktif yang panjang sebagai penyair liris, dramawan, novelis, dan penulis cerita pendek ternama di dunia. 

Itulah alasan yang disebutkan oleh Akademi Swedia ketika memberi hadiah Nobel Kesusasteraan tahun 1910 kepada Paul Johann Ludwig von Heyse (15 Maret 1830 – 2 April 1914), penulis berkebangsaan dan berbahasa Jerman ini. Dia sangat produktif, dia menulis novel, puisi, 177 cerita pendek dan sekitar 60 naskah drama. Dia juga seorang penerjemah rajin.

Mari kita nikmati satu sajak lirisnya ini:

 

Malam Hutan

Dingin malam hutan, malam ketakjuban
Kusambut engkau dengan ucap seribu salam
Sehabis suara bising, dunia yang sumbang
O manisnya kudengar risikmu sekarang!
Kaki-kaki lelahku pun pulih semimpi mimpi
Meringkuk aku di katil lumutmu
Bagiku ini lagi seperti sekali lagi
Segala siksa nestapaku menjauh pergi.

Ada pandu-nada tak terduga, kacau oleh
sentuhan lagu yang jauh, seperti suara suling
Membawa pikiranku ke tanah yang jauh:
tanah yang indah – Ah! tanah yang gundah.
Hutan malam, gilas-guncang aku perlahan
Halau segala derita yang menyiksaku! Aku
cukup menyusu pada yang suci, yang terberkahi.

Di ruang yang tenang tapi meretak jua,
Hatiku yang cemas, semua akan selesai,
Kedamaian yang tenang,  yang mendekat,
Mengambang sebagai debar-kibas sayap
Sentuh-belai bunyi, merdu siul burung,
Bagai jatuh aku ke dalam tidur yang tenang.
Sekali lagi, segala siksa nestapa: Menjauhlah!
Dan, hatiku yang cemas, selamat malam.

Berkata Apa Remy Sylado di Podium Musyawarah Sastra Indonesia 2016?

Antara lain dia berkata:

….saya ingin memberi saran kepada Badan Bahasa – dipedulikan syukur, tak dihirau itu biasa bagi pegawai pemerintah yang selalu merasa diri paling betul – adalah memulai dengan penerbitan majalah sastra yang mengikuti zaman, bukan seperti Horison yang seperti kerakap tumbuh di batu, kuno, ndeso, masih seperti zaman dijajah Jepang pada 1940-an.

…. Menangnya Bob Dylan tahun ini di aras sastra paling berwibawa Nobel – yang selama ini dikenal sebagai pop pewujud budaya tanding – tak pelak menjadi ilham bagi kita untuk mengubah cara pikir sastra yang keliru. Badan Bahasa sebagai organ pemerintah harus segera belajar dari perkembangan ini.

Selengkapnya baca di tautan ini -> Remy Sylado – Mengusahakan Sastra Indonesia ke Amerika

 

Senanglah Senang, Si Anak Hilang

img_1188

Di Twitter @jurubaca tadi pagi saya tuliskan: ditulis di halaman depan oleh koran di mana kamu pernah bekerja itu terasa seperti menjadi seorang anak hilang yang mereka temukan kembali. Itulah perasaan saya hari ini ketika dikirimi halaman depan Kaltim Post yang memuat wawancara mereka dengan saya. Saya memang memulai kerja sebagai wartawan dulu di koran terbesar di Kalimantan Timur itu.  Artikelnya bisa dibaca di tautan www.prokal.co ini. (Foto di Kaltim Post itu agak menyesatkan, tapi saya senang. Saya kini tentu saja sudah lebih tua dari foto beberapa tahun lalu itu).

RUU Perpuisian dan Kepenyairan 2006 (Revisi 2016)

PENGANTAR: Bisakah atau perlukah puisi diatur dengan sebuah peraturan, semacam undang-undang begitu? Buat saya bisa dan perlu. Maka dengan sepenuh keisengan, pada 2006 lalu, saya pun merangkum berbagai pendapat, telaah atas puisi-puisi, dan menyusun semacam peraturan yang secara main-main saya sebut RUU Perpuisisan dan Kepenyairan ini. Kenapa RUU? Karena ini selamanya hanya sebuah rencana, tak akan pernah diundang-undangkan. Saya sebagai penyusun akan terus-menerus meragukan, meninjau, memperbaikinya, dengan kata lain membiarkannya abadi sebagai sebuah rencana. Apa yang saya susun ini paling tidak membantu saya menulis dan terutama menilai, mengapresiasi, dan menganalisa puisi yang saya baca.  Siapa saja boleh tidak setuju, membantah, menertawakan, mencibir ini sebagai sebuah upaya yang sia-sia, dan tentu juga boleh menyusun sendiri RUU-nya sendiri. RUU ini saya  sarikan, saya petik, dan saya rangkum dari naskah-naskah telaah puisi oleh A Teeuw, Sutardji Calzoum Bachri, Sapardi Djoko Damono, Subagio Sastrowardoyo, Rainer Maria Rilke, Goenawan Mohamad, dll.  Sebelum saya revisi lagi sekarang, RUU ini saya cantumkan di buku puisi saya “Luka Mata” (Koekoesan, Depok, 2010).

RUU Perpuisian dan Kepenyairan