Menyelidik Karya Sastra seperti H.B. Jassin

Esai Hasan Aspahani

KETIKA Universitas Indonesia menganugerahi gelar doctor honoris causa, pada 14 Juni 1975,  H.B. Jassin menerima dengan kuatir. Gelar kehormatan dari perguruan tinggi – lembaga dengan otoritas ilmiah itu – jelas bernilai dan bermuatan akademis. Justru itulah yang dikuatirkan olah  Jassin, kekuatiran yang bercabang ke dua arah.

Pertama, Jassin merasa apa yang telah dia lakukan di lapangan kritik sastra di Indonesia, yang menjadi pengarena gelar yang ia terima, dia anggap masih sedikit sekali dan masih jauh dari apa yang disebut ilmiah.  Jassin tentu saja merendah dalam hal ini. Sementara itu, seakan-akan berlawanan dengan kekuatiran pertama,  alasan untuk kuatir yang lain bagi Jassin adalah ia justru cemas jika yang ia lakukan menjadi ilmiah. Dalam arti, kata Jassin, hanya bekerja dengan otak.

Selengkapnya baca Hari Puisi -> Menyelidik Karya Sastra seperti H.B. Jassin

Iklan

Bagaimana Sajak Tercipta?

* Dari analisa Kuntowijoyo atas Sajak D Zawawi Imron

MENUTUP buku puisi D. Zawawi Imron “Madura, Akulah Darahmu” (Grasindo, Jakarta, 1999), Kuntowijoyo menulis sebuah artikel yang menarik dan baik untuk memahami puisi dan memahami bagaimana kerja seorang penyair menghasilkan puisi. Ada bagian dari artikel itu yang menjelaskan bagaimana menurutnya sajak-sajak Zawawi tercipta.

Mula-mula Kuntowijoyo menjelaskan bahwa menulis nonfiksi (esai, artikel, buku ilmiah), menulis fiksi (novel dan drama) itu berbeda secara kategoris dengan menulis puisi. Masing-masing punya cara sendiri.

Lanjutkan membaca “Bagaimana Sajak Tercipta?”

Tentang Kritik Sastra dalam Apresiasi Sastra

Oleh Budi Darma

/1/
Meskipun bertautan, kritik sastra berbeda dengan apresiasi sastra. Memang tidak selamanya kritik sastra mengkritik obyek sastra, akan tetapi unsur kritik selalu mendampingi pengertian kritik sastra. Sebaliknya pengertian kritik tidak mendampingi apresiasi sastra. Apresiasi sastra cenderung untuk menghargai karya sastra, cenderung untuk menerima suatu obyek sebagai sesuatu yang baik.

Lanjutkan membaca “Tentang Kritik Sastra dalam Apresiasi Sastra”

Mengikuti “Montase” Jengki: Masuk Keluar Bali, Masuk Keluar Diri

sampul-montase
Sampul buku ‘Montase’ (Pustaka Ekspresi, Denpasar, 2016)

 

DI Musyawarah Sastra Nasional 2016, Hotel Bidakara, Jakarta, Oktober lalu, sahabat saya penyair Wayan Jengki Sunarta memberi saya buku kumpulan puisi terbarunya “Montase” (Pustaka Ekspresi, Denpasar, 2016). Tepatnya kami bertukar buku puisi. Saya juga memberinya buku puisi terbaru saya. Dia senang. Saya senang. Tapi, dengan buku puisinya di meja tulis saja, saya kemudian gelisah dan tidak tenang. Saya menulis ini untuk menenangkan ketidaktenangan saya itu.

jengki-sunarta
Wayan Jengki Sunarta

Jengki, penyair kelahiran Denpasar, 1975 ini, selalu menarik perhatian saya untuk diikuti perkembangan perpuisiannya. Sajak-sajak Jengki di buku ini dengan lekas saya bagi menjadi dua kelompok. Pertama, sajak-sajak yang ia tulis di Bali atau tentang Bali, tanah kelahirannya. Ke dalam kelompok sajak ini saya masukkan sajak-sajaknya yang tidak secara khusus menyebut tempat, yaitu sajak-sajak yang membawa saya masuk ke dalam dirinya, jiwanya, permenungan batinnya.

Kelompok kedua, sajak-sajak yang ia tulis ketika atau setelah bepergian keluar Bali. Saya harus ulangi, bahwa ini adalah pengelompokan yang lekas, mungkin buru-buru. Soalnya, ketika Jengki menulis sajak yang dengan jelas menyebutkan nama tempat, atau kota, yang bukan Bali pun, dia sebenarnya juga membawa keluar apa yang ada di dalam dirinya, atau nama tempat itu adalah titik masuk baginya untuk masuk juga ke dalam dirinya sendiri.
Lanjutkan membaca “Mengikuti “Montase” Jengki: Masuk Keluar Bali, Masuk Keluar Diri”

Waktu Menunggu – Erik Axel Karlfeldt

2273
Erik Axel Karfeldt

 

Erik Axel Karlfeldt (20 Juli 1864 – 8 April 1931) adalah penyair Swedia yang menerima Hadiah Nobel Sastra pada tahun 1931. Nobel tidak diberikan kepada sosok yang sudah meninggal, kecuali padanya. Namanya diusulkan pada tahun itu dan dia meninggal menjelang pengumuman. Ia konon seharusnya menerima itu pada tahun 1919 tapi ia menolak.

Kenapa ia menerima Nobel Sastra? Akademi Swedia seperti kehabisan kata-kata. Pernyataan resminya cuma menjelaskan hadiah itu diberikan untuk “Puisi-puisi Erik Axel Karlfeldt”.

Kita nikmati satu sajaknya:

Waktu Menunggu
Erik Axel Karlfeldt

Yang termanis adalah waktu menunggu,
Ketika air berlimpah, dan tunas-tunas tumbuh.
Mei bulan yang tak berdandan tapi bikin hati
tertawan, semenawan April di kata petang.
Jangan jalan berlumpur ini menipu engkau,
Lalu hutan lembab itu menggigilkan engkau,
Dan kau terbujuk dedaunan berlagu-merayu.
Bukan di musim panas ini aku berkubang,
yang tak beri apa kecuali pisau yang mengintai
salju yang melebur dalam bayangan pinus kelam,
Dan nyanyian murai di pagi yang dini.

Kekasih terbaik adalah waktu menunggu,
pertunangan sebelum persandingan.
Musim semi yang tak berdandan tapi bikin hati
tertawan, seperti satu rahasia kekasih hati.
Yang jarang berjumpa, yang lekas terpisah
Termimpi-mimpi tentang keajaiban tak kauduga,
Kenapa terasa hidupnya begitu tergesa-gesa.
Buah emas, toh orang lain juga yang memetiknya,
tangan tak sampai bahkan hanya untuk menyentuhnya,
Tamanku pun aku harus segera meninggalkannya,
ketika pohon-pohon mulai bertunas di sana.

Membayangkan Li-Young Lee, Penyair Amerika Kelahiran Jakarta Itu Baca Sajak di @america

li-young-lee
Li-Young Lee. (Foto dari Poetry Foundation)

UNTUK pertama kalinya selama tiga tahun tinggal di Jakarta, siang tadi, aku mengunjungi @america, di Mal Pacific Place, di Jalan Sudirman, Jakarta.  Ada yang ingin saya bicarakan dengan Eka Kurniawan yang siang itu akan jadi pembicara di acara di sana.  Kedutaan Amerika selalu bikin acara di tempat ini. Macam-macam. Pertunjukan musik, baca puisi, diskusi, kuliah terbuka. Pemeriksaan ketat. Ruangannya nyaman. Acara berlangsung sangat ringkas. Tak banyak pidato.

Lanjutkan membaca “Membayangkan Li-Young Lee, Penyair Amerika Kelahiran Jakarta Itu Baca Sajak di @america”

Kesepakatan Bahasa dan Parole Penyair

chagallike
Menggambar Seperti Marc Chagal (kuas pada kertas, diolah dengan aplikasi Prisma), Hasan Aspahani, 2016.

Catatan: Artikel ini adalah bagian dari sebuh rencana buku saya yang berjudul “Menyentuh Jantung Bahasa, Meraih Hati Puisi”. Isinya mendekati puisi dari Linguistik. Ini adalah artikel kedua dari tiga belas artikel yang saya sebut artikel sebelas paragraf, sebab semuanya terdiri dari sebelas paragraf saja. Selamat menikmati, dan menyentuh hati puisi.  

/1/
ILMU bahasa atau linguistik menetapkan, bahasa adalah sistem tanda bunyi yang disepakati untuk dipergunakan oleh para anggota kelompok masyarakat tertentu dalam bekerja sama, berkomunikasi, dan mengidentifikasi diri. Bahasa yang dirumuskan seperti itulah yang juga dipakai oleh penyair sebagai bahan dan sekaligus juga sebagai alat bermain yaitu ketika ia menyusun sajak-sajaknya. Penyair ada dan hidup dalam bahasa itu, ia tidak berada di luar bahasa itu.

Lanjutkan membaca “Kesepakatan Bahasa dan Parole Penyair”