Menunggu Buku Puisi dengan Kredo Baru Sutardji

tardji

KABAR terbaru dari penyair Sutardji Calzoum Bachri, beliau sedang menyusun sebuah kredo baru untuk puisi-puisinya pada buku yang sedang dipersiapkan untuk terbit.

“Penerbit Yogya. Isinya puisi-puisi saya setelah O, Amuk, Kapak. Mereka minta saya menulis kredo baru untuk puisi-puisi itu. Ini saya sedang bikin. Kesepakatan kami buku itu tak akan terbit kalau kredo baru itu belum selesai saya tulis,” kata Sutardji, kami bertemu Jumat 13 Januari lalu.

 

Tentang Kritik Sastra dalam Apresiasi Sastra

Oleh Budi Darma

/1/
Meskipun bertautan, kritik sastra berbeda dengan apresiasi sastra. Memang tidak selamanya kritik sastra mengkritik obyek sastra, akan tetapi unsur kritik selalu mendampingi pengertian kritik sastra. Sebaliknya pengertian kritik tidak mendampingi apresiasi sastra. Apresiasi sastra cenderung untuk menghargai karya sastra, cenderung untuk menerima suatu obyek sebagai sesuatu yang baik.

Lanjutkan membaca “Tentang Kritik Sastra dalam Apresiasi Sastra”

Mengikuti “Montase” Jengki: Masuk Keluar Bali, Masuk Keluar Diri

sampul-montase
Sampul buku ‘Montase’ (Pustaka Ekspresi, Denpasar, 2016)

 

DI Musyawarah Sastra Nasional 2016, Hotel Bidakara, Jakarta, Oktober lalu, sahabat saya penyair Wayan Jengki Sunarta memberi saya buku kumpulan puisi terbarunya “Montase” (Pustaka Ekspresi, Denpasar, 2016). Tepatnya kami bertukar buku puisi. Saya juga memberinya buku puisi terbaru saya. Dia senang. Saya senang. Tapi, dengan buku puisinya di meja tulis saja, saya kemudian gelisah dan tidak tenang. Saya menulis ini untuk menenangkan ketidaktenangan saya itu.

jengki-sunarta
Wayan Jengki Sunarta

Jengki, penyair kelahiran Denpasar, 1975 ini, selalu menarik perhatian saya untuk diikuti perkembangan perpuisiannya. Sajak-sajak Jengki di buku ini dengan lekas saya bagi menjadi dua kelompok. Pertama, sajak-sajak yang ia tulis di Bali atau tentang Bali, tanah kelahirannya. Ke dalam kelompok sajak ini saya masukkan sajak-sajaknya yang tidak secara khusus menyebut tempat, yaitu sajak-sajak yang membawa saya masuk ke dalam dirinya, jiwanya, permenungan batinnya.

Kelompok kedua, sajak-sajak yang ia tulis ketika atau setelah bepergian keluar Bali. Saya harus ulangi, bahwa ini adalah pengelompokan yang lekas, mungkin buru-buru. Soalnya, ketika Jengki menulis sajak yang dengan jelas menyebutkan nama tempat, atau kota, yang bukan Bali pun, dia sebenarnya juga membawa keluar apa yang ada di dalam dirinya, atau nama tempat itu adalah titik masuk baginya untuk masuk juga ke dalam dirinya sendiri.
Lanjutkan membaca “Mengikuti “Montase” Jengki: Masuk Keluar Bali, Masuk Keluar Diri”

Kesepakatan Bahasa dan Parole Penyair

chagallike
Menggambar Seperti Marc Chagal (kuas pada kertas, diolah dengan aplikasi Prisma), Hasan Aspahani, 2016.

Catatan: Artikel ini adalah bagian dari sebuh rencana buku saya yang berjudul “Menyentuh Jantung Bahasa, Meraih Hati Puisi”. Isinya mendekati puisi dari Linguistik. Ini adalah artikel kedua dari tiga belas artikel yang saya sebut artikel sebelas paragraf, sebab semuanya terdiri dari sebelas paragraf saja. Selamat menikmati, dan menyentuh hati puisi.  

/1/
ILMU bahasa atau linguistik menetapkan, bahasa adalah sistem tanda bunyi yang disepakati untuk dipergunakan oleh para anggota kelompok masyarakat tertentu dalam bekerja sama, berkomunikasi, dan mengidentifikasi diri. Bahasa yang dirumuskan seperti itulah yang juga dipakai oleh penyair sebagai bahan dan sekaligus juga sebagai alat bermain yaitu ketika ia menyusun sajak-sajaknya. Penyair ada dan hidup dalam bahasa itu, ia tidak berada di luar bahasa itu.

Lanjutkan membaca “Kesepakatan Bahasa dan Parole Penyair”

Menguji Kekuatan Konsep Sajak Sonian

contoh-karya-soni-farid-maulana
Soni Farid Maulana.

Pembatasan cuma tambah menyatukan kenang. – “Kabar dari Laut” – Chairil Anwar

SAYA mendengar tentang konsep sajak ‘sonian’ dari cerpenis Tawakkal M Iqbal, penulis Bogor yang karyanya masuk dalam Kumpulan Cerpen Terbaik Pilihan Kompas 2015. Sayangnya, kabar itu saya dapatkan sebelum Musyawarah Sastra Nasional 2016. Jika saja saya sudah tahu sebelum perhelatan yang digagas oleh Badan Pembinaan dan Pengembangan Bahasa itu saya tentu bisa bertanya banyak dan berdiskusi dengan sang penggagas, penyair senior asal Bandung yang saya hormati, Soni Farid Maulana.

Untunglah bahan-bahan untuk memahami konsep sajak berbentuk tetap itu sudah tersedia di beberapa laman internet. Sajak sonian yang rupanya sudah diperkenalkan oleh sang kreator pada Januari 2015 adalah sajak sebait dengan empat larik.

Masing-masing larik berturut-turut berisi enam, lima, empat, dan tiga suku kata.

Supaya mudah diingat rumusnya adalah 6-5-4-3.  Jumlah suku kata seluruhnya ada delapan belas. Dengan begitu, sajak ini benar-benar mengikatkan diri pada bentuk fisik. Tipografinya mengerucut ke bawah. Tak ada penjelasan soal apakah emosi sajak itu juga menajam seiring penajaman bentuk tersebut. Tapi, dari beberapa contoh sajak yang saya temukan saya tak melihat pola itu.

Lanjutkan membaca “Menguji Kekuatan Konsep Sajak Sonian”