Puisi Lahir Ketika….*

     Puisi lahir ketika….

Ketika seorang prajurit yang gagah di medan laga menjadi seorang raja. Dia ingin mengenangkan pertempuran-pertempuran yang dia menangkan. Dia ingin rakyatnya membanggakannya. Lalu seseorang yang kalau sekarang disebut penyair pun diminta untuk menyusun kisah pujian dalam kata-kata yang terindah yang bisa ditatanya. Sebuah panegyric. Saat itulah puisi lahir.

Puisi lahir ketika …

Ketika dulu, kerajaan-kerajaan ingin mengabadikan semangat tempur prajurit-prajuritnya dalam lagu yang dinyanyikan ketika menuju ke pertempuran berikutnya. Seorang yang kalau sekarang mungkin disebut penyair dititahkan untuk menyusun syair lagu itu. Syair puja-puji, penggugah hati, pengobar semangat, pengingat kepada janji setia atas raja-raja, atau ringkasan sejarah kejayaan kerajaan. Saat itulah puisi lahir.

Puisi lahir ketika…

Sejarah minta diabadikan. Dalam syair-syair lama, kisah kepahlawanan bisa dikenang. Bisa dikaji ulang. Pencatat sejarah ketika itu adalah mereka yang mungkin kini kita sebut penyair saja.

Puisi lahir ketika …

Ketika huruf belum lagi jadi budaya manusia. Bahasa yang susunan kata-katanya indah begitu mudahnya diingat. Lalu, mereka yang kalau sekarang mungkin disebut penyair itu tiba-tiba disergap bosan. Hatinya tergoda menyairkan perasaannya tentang batu karang, gunung, laut, hutan, sungai, tentang kekuatan gaib dan misteri alam, tentang rasa gentar manusia, tentang dewa-dewa, dan makhluk halus. Juga tentang dongeng-dongeng dan kepercayaan yang luar biasa liar imajinasinya. Ketika itulah puisi lahir.

Puisi lahir ketika ….

Penyair telah menemukan dirinya sendiri. Memberi makna tak tergugat pada predikatnya itu sendiri. Puisi tak lagi menghamba pada apa-apa, kecuali pada puisi itu sendiri. Ia bebas. Ia mengundang tafsir datang pada dirinya sendiri. Penyair berburu, mencari, mencoba, bereksperimen dengan bahasa dengan puisi-puisinya. Pembaca juga bebas menafsir, jatuh cinta, atau mencampakkan puisi yang mana saja, hasil kerja penyair mana saja. Saat itulah puisi juga lahir. Dan akan terus lahir.

Puisi lahir ketika …

Ketika kita tak berhenti memperdebatkannya. Ia tak peduli.

* Diilhami oleh tulisan Thomas Love Peacock (1785-1866), The Four Ages of Poetry (1820)

Dan Lihatlah Unta Itu – Puisi Penyair Iran Simin Behbahani

Dan Lihatlah Unta Itu
Sajak Simin Behbahani (1927-2014)*

“Apakah mereka tidak mempertimbangkan unta, bagaimana ia diciptakan?”
– Alquran, Surah 88:17

Dan lihatlah unta itu, bagaimana ia diciptakan:
bukan dari lumpur dan air,
tetapi, seakan-akan, dari kesabaran dan fatamorgana.
Dan kau tahu bagaimana fatamorgana itu menipu mata.
Dan fatamorgana tak tahu rahasia kesabaranmu:
bagaimana kau menahan haus, pasir, dan ladang garam,
dan menatap mahaluas kehadiran itu dengan mata lelahmu.
Dan lihatlah bagaimana tatapan itu membekas di alur garam
seperti garis tersisa di pipimu sehabis kering tangis.
Dan lihatlah, air mata yang mengalir padamu
atas nama keinsyafan.
Dengan ketiadaan apa kau harus isi ruang kosong ini?
Dan lihatlah di ruang kosong ini agitasi seekor unta yang haus,
menjadi gila melampaui aras kesabarannya,
berat hari agar sabar memikul beban.
Dan lihatlah kilau dua giginya mengertuk murka.
Kesabaran memunculkan kebencian dan membenci luka parah:
lihatlah dengan dendam apa unta itu
menggigit hingga urat darah penunggangnya.
Fatamorgana itu kehilangan kesabarannya.
Dan lihatlah unta itu.

 


Simin Behbahani, putri dua penyair, dilingkungi sastra dan syair sejak usia muda, dan mulai menulis puisinya sendiri sebelum ia menjadi remaja. Dua kali diusulkan untuk Hadiah Nobel Sastra, Behbahani punya pengaruh yang luar biasa baik di lingkaran puisi Iran dan dalam masalah hak asasi manusia; puisinya sangat politis, mencerminkan pandangan feminisnya yang kuat dan kritik terhadap masyarakat di bawah Shah dan Republik Islam. Mengungkap tragedi kemiskinan, prasangka, dan perang – khususnya perang Iran-Irak – puisi Behbahani adalah suara bagi yang tertindas dan terpinggirkan di Iran.

Manisnya Air Mata Kami – Puisi Penyiar Iran Simin Behbahani

Manisnya Airmata Kami*
Sajak Simin Behbahani (1927-2014)

Air mata kami manis, tawa kami berbisa.
Kami bahagia saat berduka, kami berduka saat bersuka.
Sebelah tangan kami basuh darah, sebelah habis kucur darah.
Kami menangis menertawakan kesia-siaan dua aksi itu.
Delapan tahun berlalu, kami belum tahu apa artinya.
Kami sudah seperti anak-anak, lepas segala perhitungan.
Kami patahkan semua tangkai, bagai angin kencang di taman.
Kami telah pilih bersihkan kandil angur itu.
Dan bila ada pohon, yang masih tegak, menantang lagak,
kami potong dahannya, kami renggut hingga akarnya.
Kami inginkan perang, yang menderitakan kami,
kini, sisa sesal, kami inginkan perdamaian.
Kami lepaskan sayap dan kepala dari tubuh,
kini, kami ingin kembali, kami sibuk memasangnya lagi.

Apakah kami akan kembali bernyawa, mengepak terbang,
kepala yang kami pasang, sayap yang kami jahitkan?

 

(Dari A Cup Of Sin: Selected Poems oleh Simin Behbahani, diterjemahkan ke Bahasa Inggris oleh Farzaneh Milani dan Kaveh Safa, University of Syracuse Press, 1999)

* Diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia oleh Hasan Aspahani.

Horoskop (3) – Pisces

Pisces
(19 Februari – 20 Maret)

BICARALAH tentang apa saja.
Aku akan mendengarkannya seperti
sedang menyimak puisi. Maksudku,
tak semuanya harus lekas dipahami.
Tapi, percayalah segalanya punya
makna dan pantas diapresiasi. Aku
penyimak yang semakin bisa bersabar.
Bagimu aku adalah menjadi pendengar.
Temanmu di rumah, mengucilkan kita dari
dunia luar, malam yang liar.

Asmara: Aku bukan seorang pelupa,
tapi ingatkanlah terus aku dengan
mengatakan bahwa kau cinta padaku.
Sesering-seringnya.

Horoskop (2) – Aquarius

Aquarius
(20 Jan – 18 Feb)

Hidup adalah kamus besar yang
kubuka secara acak. Aku suka
pada kata apapun yang kutemui
di halaman yang terbentang itu
lalu kususun kalimat dengannya,
dengan namaku dan namamu. Atau
kususun kalimat pertanyaan
dengan kata itu lalu kuajukan
padamu, aku suka apapun jawabanmu,
meskipun aku lekas lupa, apa
tadi yang kutanyakan padamu.

Asmara: Bersenandunglah, aku akan
membuat lirik yang paling indah,
dari senandungmu itu, dengan
atau tanpa kata cinta, kau akan
mendengarkan cinta di sana.

Horoskop (1) – Capricorn

Capricorn
(21 Des – 19 Jan)

HIDUP adalah kalimat
panjang. Aku harus bicara
keras dan lekas, mengucapkan
namaku dalam kalimat itu,
dengan berbagai kata kerja
besar yang menyertainya,
berkali-kali, agar kau
mendengar jelas apa yang
kauucapkan. Berapa kali
harus kuulangi lagi mengucapkan
kalimat panjang itu untukmu?

Asmara: Cinta adalah tali
yang mengikat aku dan kamu,
tak peduli siapa yang
terseret siapa yang menghela,
karena belenggu ini mengekang
dalam rengkuh-rangkum bahagia.