Cerpen: Ada Suara Ketukan di Pintu-pintu Rumah di Kampung Karangbecak

Cerita Pendek Hasan Aspahani

SETIAP malam ada yang mengetuk-ngetuk pintu rumah di kampung Karangbecak.  Mula-mula hanya pintu rumah Gonggiber, juragan ojek. Mula-mula ketukannya pelan saja. Gonggiber mengira itu ketukan cabang pohon kembang kertas yang tertiup angin.  Makin lama ketukannya makin keras. Gonggiber tak bercerita kepada siapa-siapa. Ia memotong cabang pohon itu, tapi suara ketukan itu tetap saja ada. Lama-lama ketukan yang sama juga didengar oleh  Suparlas. Nah, Suparlas ini mulutnya agak bocor. Dialah yang membuka cerita di rapat warga. Ia mengira jangan-jangan ini gangguan keamanan atau teror kecil-kecilan menjelang pemilihan umum.

“Biasanya kan memang begitu. Setiap kali pemilu di kampung kita ini ada saja gangguan keamanan.  Dulu pernah ayam peliharaan kita hilang satu per satu. Itu pas pemilu tahun berapa ya? Tahun itu deh pokoknya. Pemilu zaman Orde Baru,” kata Suparlas, juragan bengkel las legendaris.

Lanjutkan membaca “Cerpen: Ada Suara Ketukan di Pintu-pintu Rumah di Kampung Karangbecak”

Iklan

Engkau Sudah Bisa Menyetir Sekarang

             : shiela

LIHATLAH jalanan, lihatlah kita, Nak,
sekarang, dan engkau bukan kanak lagi,
sudah punya SIM dan KTP, rekening bank
atas namamu sendiri, dan kami berdiri
dengan kaki gemetar, akan ada gelap
dan jembatan, juga bayangan, akan ada
hujan dan tikungan, dan engkau pergilah,
dan kami akan turun, menyatukan diri
dengan cuaca kota, atau menunggu di
halaman, melepas engkau di gerbang kampus,
atau kantor instansi di mana tadi sudah
kami selesaikan semua urusan.

.

Kenalilah jalanan, ingatlah kita, Nak,
ketika singgah dan memesan burger yang tebal
di McDonald, dan segelas Milo yang hangat,
dan malam lembab, dan jalanan licin,
menu yang kau pilih tadi di satu kotak
bersuara, dan kau membayar di jendela
selanjutnya, dan sekantong pesananmu
disodorkan di tingkap berikutnya,
hidup ini, dan lapar itu memang bisa
begitu sederhana, dan kau makanlah, kami
akan menunggu, kabarmu, dan lanjutan serial
cerita di Netflix atau drama Korea.

.

Berhentilah di batasmu, parkirkan kendaraan,
Nak, kami ingin membekalimu dengan banyak
kecemasan, tapi itu tak kau perlukan,
dan begitulah kita, hidup, dan jalanan,
tanganmu mengemudi, arahnya kemana, dan
seberapa lajunya, kami akan menceritakan
kamu lagi, berulang kali dengan senyum
dan tertawa sesekali, mendengar Dylan
di Spotify, atau nyanyianmu di Soundcloud
dan melihat foto-fotomu di Instagram, lalu
berangkat tidur setiap malam, dan mimpi kami
subur sekali, dan tadi hujan sepanjang hari,
tetap saja tanaman bunga itu kami sirami.

 

 

 

Cerpen: Seseorang yang Menyanyi Seperti Malaikat

Cerpen Hasan Aspahani

“TERIMA kasih, sudah mendukung saya dengan SMS, juga online voting, sehingga saya bisa memenangkan kompetisi ini.  Tapi, saya harus sampaikan bahwa malam ini adalah malam terakhir saya bernyanyi…. ” lalu Drusbadur berhenti bicara.

Ia berdiam.

Ia menunduk.

Seperti menikmati kemegahan panggung dengan saling-silang cahaya yang mewah. Pemandu acara, para juri, penonton di studio dan penonton yang menyaksikan siaran langsung acara itu di rumah, semuanya menunggu, menunggu apa yang akan dikatakan olehnya selanjutnya…

Lanjutkan membaca “Cerpen: Seseorang yang Menyanyi Seperti Malaikat”

Cerpen: Konsultan Politik

Oleh Hasan Aspahani

            “ANDA hanya bisa menang dengan money politics! Tak ada cara lain.  Hanya ini yang bisa saya sarankan. Kita sudah kerja keras beberapa bulan ini.  Semua sudah kita lakukan. Tapi kalau itu Anda lakukan, saya tak ikut bertanggung jawab,” Arman menutup presentasinya.

Di hadapannya, menyimak dengan takzim tim sukses Aryo – kandidat walikota yang sudah membeli jasa perahu beberapa partai politik. Sebelumnya dengan data-data yang kuat, Arman menunjukkan bagaimana elektabilitas dan popularitas Aryo memang naik, tapi tak bisa mengalahkan calon lain. Ini pertarungan bebas, tak ada petahana. Walikota sebelumnya sudah dua kali menjabat. Yang dilawan Aryo adalah wakil sang walikota sebelumnya.

Lanjutkan membaca “Cerpen: Konsultan Politik”

Cerpen: Penjual Kain Keliling dan Insinyur Zaidan

Cerpen Hasan Aspahani

UNTUK sampai ke kampung kami mereka menempuh perjalanan jauh dengan bis antarprovinsi, menyeberangi teluk Balikpapan dengan feri, lalu melanjutkan dengan minibus, angkutan antarkota yang melewati kampung kami. Perlu waktu duapuluh jam lebih. Mamaku bilang berat juga mengurus bungkusan-bungkusan kain sebesar yang mereka bawa dan menempuh perjalanan sejauh itu.  Tapi sebagai pedagang tentu mereka sudah menghitung biaya perjalanan itu.  Aku tak bisa membayangkan sejauh apa perjalanan itu. Kami tak pernah ke Banjarmasin. Kami tak cukup kaya untuk berkunjung ke kota, tanah kelahiran kakek kami itu.

Lanjutkan membaca “Cerpen: Penjual Kain Keliling dan Insinyur Zaidan”

Variasi Lain atas Lirik Gurindam Jiwa

AKU melihatmu
mengintai dari balik rindu
lalu esok aku pun akan terbantai
oleh hati yang layu

Rindu yang masak
merunduki hari tak tertuai
aku terperangkap pada lukahku sendiri
telah terikat hati, tak lagi terurai

Patah sehelai selasih
dipermainkan sayap seribu merpati
sekuat apakah kasih kekasih?
tak tertalak kecuali kelak oleh mati

anak bermain seorang sendirian
memungut kemboja jatuh di tanah
sebelum berkubur di telapak tangan
penuhkan airmatamu di sini, menangislah

musim menuai lalu berlalu
harum padi mengharumi hujung-hujung kuku
mungkin surga itulah hulu mudikku
tuan tahu di mana aku menunggu…

Instacerita: Pengukur Arah Kiblat

Instacerita oleh Hasan Aspahani

1.

MASJID besar di kota kelahirannya itu arah kiblatnya salah. Dia tahu, dia merasakan itu sehabis salat magrib berjamaah, pada hari pertama kepulangannya. Masjid itu dibangun di atas lahan masjid lama. Seingatnya dulu arah kiblat masjid itu tak seperti sekarang. Dua puluh tahun di kantor pusat ia mengurusi hal itu. Ia mengepalai bagian kalibrasi dan sertifikasi arah kiblat. Sudah puluhan ribu masjid dikalibrasi arah kiblatnya olehnya bersama timnya.

2.
“Kamu melihat itu?” tanyanya kepada keponakannya, anak abang tertuanya, anak muda lulusan perguruan tinggi agama Islam di kota provinsi. Masih menganggur. Anak muda itulah yang kini mendiami rumah masa kecilnya.

“Aku melihatnya, Paman!”

“Kau tak memberi tahu takmir masjid?”

“Paman-paman yang lain melarangku untuk bicara…”

Lanjutkan membaca “Instacerita: Pengukur Arah Kiblat”