Pantun Angin Liar

tombak besar gagang pun panjang
kuat serat tali pengikat
ombak liar angin pun jalang
kami teringat Pulau Penyengat

bila tiada mawar yang merah
sekuntum kemboja saya petikkan
bila rintih rindu semakin parah
pantun cinta pun saya tuliskan

walau ditebas rumpun keladi
akar umbi tak kan tercabut
siapa penyebab rindu menjadi
dalam pantun tak kan tersebut

ombak itu ombak yang dulu
menghempas di bentang waktu
hendak itu hendak yang dulu
merampas seluruh hilang hariku

sumur ladang tak kita gali lagi
kering menumpang kemarau itu
bertemu lagi kita berpisah lagi
terlepas dari tali-tali waktu

saya membelitkan tangkai mawar
seakan darah di mata parang
rindu itu hati sakit atau lapar
engkau tabib atau juru hidang

 

 

(siapa yang mau memberi judul pada sajak ini?)

IA memunguti piring-piring kotor itu,
gelas-gelas, dan botol-botol minuman,
tadi ramai sekali suara percakapan,
gema tawa dan lelucon-lelucon yang
tidak lagi lucu, hal-hal ia telah dengar
berulang kali, dalam siklus lima tahunan.

Ia tak lagi ingin, dengan jelas mendengar
suaranya sendiri, semakin malas ia
menyebutkan kata-kata yang dulu ia
bayangkan akan membawanya ke berbagai
festival dari Sabang hingga Rajaampat,
yang sekarang hingga nanti yang tak sempat.

Tapi ia tahu benar apa yang harus
ia lakukan: isi setiap gelas kosong,
tambahkan lauk pada meja hidangan,
tersenyum dan mengangguk pada mereka
yang sedang menyelenggarakan perayaan
kemenangan itu. Semuanya telah diselesaikan
di jamuan makan besar itu, dan dia merasa
semakin lapar…

Di Depan Sebuah Rumah Pertunjukan

AKU duduk saja di tangga
tiket masuk telah kuberikan
pada seseorang, beberapa menit lagi
pertunjukan dimulai, aku sudah tahu cerita apa
yang akan dipertontonkan, dan aku bosan

Aku duduk saja di tangga
orang ramai datang dengan riang
bergandengan dengan dusta yang kecut
aku tahu siapa saja mereka itu, tapi
mereka pura-pura tak melihat padaku

Aku duduk saja di tangga
di depan sebuah rumah pertunjukan
sebenarnya, siapa yang berdiam dan apa yang ada
di rumah ini? Apakah cuma harapan yang harus
kubeli dengan tiket mahal sekali?

Kemarin kubaca di sisa koran lokal
artikel yang jauh dari headline
seorang menulis ulasan tentang
teater yang redup, aktor yang semakin buruk,
dan manajemen pertunjukan yang bangkrut.

Aku duduk saja di tangga
melihat orang berpura-pura gembira
membeli tiket dengan sisa uang tabungan
yang seharusnya dibayarkan
untuk jaminan kesehatan.

 

 

 

Minggu Pagi

DI lapangan itu semalam
orang nyanyi, bergantian, entah
untuk menghibur siapa.

Di gedung itu, sebuah pelantikan
dipersiapkan, dengan anjing dan
puluhan ribu serdadu.

Panggung itu akan dibongkar
seseorang akan naik dan silau, lupa,
tadi dalam pidato ia mengucap apa.

 

Buku Merah

YANG tercatat dan yang ingin dihilangkan
yang melacak dan yang menghapus jejak
yang melihat dan kehilangan penglihatan
yang ditakut-takuti dan yang takut sendiri
yang mencuri dan yang mengejar pencuri