Tentang Selembar Jaket

AKU menemukan
selembar jaket yang kucel
di tepi simpang jalan yang ruwet
yang tak jelas lagi
ke mana arahnya.

Aku menduga
jaket yang lusuh itu
dicampakkan oleh seorang sarjana
setelah lelah dan resah
karena gagal mencari kerja.

Aku mengira
jaket yang kumal itu
dibuang oleh
mahasiswa entah dari kampus apa
setelah berunjuk rasa tanpa rasa
dengan bayaran sedikit di atas
standar upah buruh harian.

Aku ingin sekali memastikan
apakah itu dulu jaket almamater aktivis forum kota,
atau jaringan badan eksekutif mahasiswa,
yang kini menjadi anggota dewan perwakilan yang terhormat?

Mungkin saja. Ya, mungkin saja.

Mereka tak lagi perlu jaket itu,
sekarang mereka sudah necis dan rapi
dengan jas yang hangat dan nyaman
di kursi empuk dan ruang sidang yang sejuk dan remang-sendu
sehingga mereka lupa
menginterupsi sidang yang terburu-buru
memutuskan undang-undang yang terlalu
bersemangat mengirim rakyat ke penjara-penjara.

Aku hendak memungut jaket itu, hei, tetapi lihat!
Lihatlah!
Jaket itu berubah-ubah warnanya,
seperti lampu mercusuar yang hendak padam di kejauhan…

Kuning culas,
lalu menjadi hijau anyir,
kemudian biru dungu,
dan merah muntah,
lantas menjadi jingga KPK, astaga!

Aku tinggalkan jaket brengsek itu,
dan setelah beberapa langkah menjauh
dari saku-sakunya terdengar
suara orang-orang tertawa.

Aku mengenalnya, ya, tawa itu,
adalah tawa para koruptor
dari dalam sel-sel mewah penjara.

Iklan

Jangan Bikin Kami Semakin Malu Menjadi Orang Indonesia

     : Boy Riza Utama

SEBELUM kau naik ke
tangga pesawatmu itu,
mari sini, kami bersihkan
lumpur di sepatumu.

Sumur di kampung kami
masih berair, jernih
dan segar. Sejuk dan tawar.

Kalau ada waktu, singgahlah,
rumah kami, tak jauh dari
lahan yang dibakar itu.

Kami masih bertahan di sini,
sebelum, kami digusur oleh
investor perkebunan besar.

Atau menjadi petani plasma,
menerima satu dua hektare
kebun yang ditawarkan oleh negara.

*

Sebelum kau rapikan
lagi rambutmu, dari
abu asap, dan aroma bangkai
hewan terpanggang, mari sini,
untukmu telah kami siapkan
sisir dan seribu lembar masker.

Tutuplah mulutmu, asap ini
berbahaya bagi paru-parumu,
tapi jangan tutup kupingmu,
karena kata-kata kami jauh
lebih berbahaya apabila kau
tak mau mendengarkannya.

*

Kami ingin bicara banyak,
padamu, mungkin di bekas TPS,
di lapangan desa kami, tapi kau
sibuk, kami tahu itu, draf
revisi UU itu pun tak sempat
kau baca, nama-nama calon
pemimpin KPK itu pun tak
sempat kau tinjau, ditambah
lagi soal saudara kami
di Papua, dan rencana pindah
ibukota negara.

Kami hanya ingin sampaikan
satu perkara – satu permintaan
yang sederhana saja: jangan
bikin kami semakin malu
menjadi orang Indonesia.

Jakarta, 18 September 2019

Kalau Engkau Meninggalkan Aku

KALAU engkau meninggalkan aku, maka aku akan berpura-pura
gila, berjalan di lorong-lorong kota, memanggili namamu,
(aku tahu kau masih ada di kota ini) dan engkau mendengar
jeritanku, agar engkau merasa benar telah meninggalkan aku.

Kalau engkau meninggalkan aku, maka aku akan menyanyikan
seluruh lagu-lagu Didi Kempot, mengunggah di Youtube*, agar
engkau merasa nyaman dan tak terlalu berdosa, karena aku
telah dilindungi oleh Sang Godfather of Broken Heart itu.

Kalau engkau meninggalkan aku, maka aku akan berunjuk rasa dan
lapar lagi, berteriak demi tenggorokan radang, melempar batu dan api
ke arah istana negara dan gedung perwakilan, membela KPK yang
disekaratkan, sebab hanya dengan cara itu aku bisa melupakan kamu.

* Akun Youtube Juru Baca

Ruang Renung 2 – Marah dan Jatuh Cinta

SEORANG kawan berkata: saya bisa menulis puisi kalau sedang marah. Kawan yang lain bilang: saya hanya bisa menulis puisi kalau sedang jatuh cinta. Lalu seorang teman yang lain menyimpulkan seorang penyair adalah orang yang selalu marah dan terus menerus jatuh cinta. Benarkah begitu?

Penyair adalah manusia biasa yang bisa marah dan tentu juga boleh jatuh cinta. Ada persamaan antara keduanya, yaitu membuat manusia pada saat itu peka perasaannya. Puisi memerlukan itu. Kepekaan yang berlebih untuk menangkap tanda yang dikirim yang datang yang mengusik yang mengganggu yang diburu yang sekecil apapun bahkan yang remeh tak berguna.

Kerja menyair yang bersungguh-sungguh, sesungguhnya bukan pada saat membuat syair, tapi membuat perasaan kita terus menerus peka. Kepekaan itu berguna untuk menjemput tanda yang datang tadi, tanpa harus menunggu saat marah atau jatuh cinta. Yang entah kapan dan entah dimana akan berguna untuk hidup dan manusia lainnya.

Ruang Renung 1 – Perlukah Konsep Puisi?

SEORANG kawan yang bertungkus-lumus bekerja keras dan sepenuh hati mencintai puisi bertanya, perlukah falsafah puisi bagi seorang penyair? Bagi saya jawabnya ya.

Konsep, falsafah, atau kredo puisi bisa jadi semacam pintu masuk bagi penjelajahan ke puisi-puisi yang kita tuliskan.

Tapi tidaklah kemudian seluruh puisi kita dipertaruhkan pada konsep itu. Penyair boleh saja mencampakkan rumusan yang sebelumnya pernah ia agung-agungkan, lalu mencari pegangan lain yang tak apa-apa apabila itu sama sekali berbeda dengan yang ia yakini sebelumnya.

Kredo mungkin juga tidak harus terumuskan. Biar saja dia menjadi tangan gaib yang membimbing proses persetubuhan ide-ide, kehamilan dan lalu kelahiran puisi.

 

Catatan: Rubrik “Ruang Renung” adalah catatan saya di blog lama saya. Saya mulai menuliskannya 2003. Saya membacanya lagi. Menampilkannya di sini. Dengan tambahan ala kadarnya, dan mungkin nanti juga dengan perubahan besar.