Sejumlah Apakah, Sejumlah Adalah

APAKAH rindu? Rindu adalah aku
merampok, semua apotek, kau sejenis
obat yang telah kucandui, mereka
tak menjualnya lagi padaku

APAKAH hampa? Hampa adalah
aku di perahu, memegang dayung,
tapi kemarau menanduskan sungai
ini, sungai yang menujukanku padamu.

APAKAH dendam? Dendam adalah aku,
mendung besar berhalilintar.
Kukira yang akan kucurahkan
padamu adalah rintik api

APAKAH dingin? Dingin adalah
derajat baru yang ingin kutetapkan,
mengukur suhu hatiku. Mungkin
satuannya akan kupakai namamu

APAKAH rumput? Rumput adalah kau
keluar subuh, kakimu telanjang,
melacak jejak disamarkan embun.
jejakku yang pergi terburu

APAKAH tidur? Tidur adalah mimpi
yang menarik tanganku, memberat di
pelupuk mataku, dan ia membincangkan
cerita tentang engkau

APAKAH buku? Buku adalah aku menyelam,
teluk tenang, menjemput sejilid
cangkang kerang. Kau pendar mutiara
kubaca di lembar itu

APAKAH rumah? Rumah adalah tubuhku
menutup pintu. Hatiku menunggu, jika
engkau tak mengetukku, kukira akan
ada firasat kupu-kupu

APAKAH haus? Haus adalah mulutku
musafir, bibirmu kukira teduh oase,
rinduku padang pasir, ah, engkau
fatamorgana, hanya

APAKAH lapar? Lapar adalah aku
melewatkan jam makan malam, memandang
saja apa yang terhidang di meja,
engkau tak ada di sana

APAKAH malam? Malam adalah ketika
aku membelakangimu, tak menatap
cahayamu, sebab engkaulah matahari
bagi siang kesadaranku

APAKAH arus sungai? Arus sungai
adalah engkau di muara itu, menunggu,
aku tak bergegas, sebab aku pasti
akan mengalir dan sampai padamu

Sumber: Sejuta1Puisi, Mei 2010

Iklan

Apakah Kau Masih Membaca Koran?

DULU kita bergantian membuka halaman-halaman kertas yang lebar dan fana itu, di ruang tamu asrama mahasiswa, mencermati iklan lowongan kerja. Itu penting untuk kita lakukan, sebagai sarjana baru menempuh ujian akhir, tak bisa wisuda.

Dulu kita diam-diam membaca di kamar, halaman-halaman tersisa, koran lewat kemarin, mencari iklan perjodohan, mencocokkan umur dan sifat. Itu tak penting, tapi setidaknya dengan cara itu kita bisa mengukur apakah masuk kriteria.

Dulu kita sambil lalu membaca iklan duka cita, nama-nama keluarga yang mengumumkan kesedihan, dan membayangkan dia yang ditulis dengan ukuran huruf besar itu menyiapkan sendiri obituari, lalu seseorang mengirim ke bagian iklan.

Dulu kita membaca kolom yang cerdas dan jenaka, Mahbub, Sobari, Ariel, atau Arswendo. Dulu kita membaca komik dan karikatur. Dulu kita membaca puisi dan cerita. Dulu kita membaca opini dan tajuk rencana. Sekarang, apakah koran itu masih kau baca?

Meja yang Lain, Malam yang Lain

KENANGAN menegur dia dari meja lain, di kafe itu,
malam lain, remang lampu, sebentar lagi ia matikan

Perempuan di hadapannya, meringkas cerita 30 tahun,
dan pertanyaan penghabisan: apakah akan kau tahan
atau kau biarkan aku meninggalkanmu, seperti dulu?

“Aku pulang, mungkin hanya singgah, dan menulis buku,”
kata perempuan itu, sambil menyeka gula dengan tisu,
yang ditaburkan oleh lelaki itu, 30 tahun lalu.

“Apakah akan kau tahan atau kepergianku kau biarkan?”

“Kenangan itu milik kita, dan kafe ini kini milikku,”
kata lelaki itu sambil memandang ke meja lain, pada
kursi yang kosong, dan roti puding sepisin yang
tak sempat dinikmati oleh si perempuan.

Ketika lampu dimatikan, maka lelaki dan perempuan itu
telah menyepakati berapa harga pengganti kenangan,
tiket antarkota, dan kebahagiaan yang akan mungkin.

Desember dan Setelah Itu

AKU akan sampai lagi padamu, Desember, kau
tahun yang mengunyah, yang akan menelan aku,
atau meludahkan aku ke kalender yang mati itu

Aku akan sampai lagi padaku, Desember, tak ada
lagi yang kita percakapkan tentang kegaduhan pesta,
api kembang api, dan hitung mundur yang konyol.

Aku akan pergi lagi dari diriku dan dari dirimu,
Desember. Setelah itu. Mencoba mengelak dari jejak
waktu yang kau ciptakan pada tubuhku. Setelah itu.

Berjalan di Tanahabang

HIDUP di situ seperti seseorang
yang menghadang di ujung gang
menunggu dan menantang
jawaban kita
untuk sebuah duel yang tanggung

kita toh tak bisa kalah
tapi juga tak pernah menang
tak bisa menghindar
dari peluh dan peluru
dari keluh dan gerutu

*

Atau, seperti catatan Si Djon
yang terpesona pada pastel pelukis Jepang,
juga caranya menangkap, dan memindahkan
zaman yang panas, ke kertas,
dan berpikir bagaimana caranya
menjaga agar lembar itu tak terbakar

demi ingatan yang selalu ragu

*

Atau juga, hidup itu seperti lirik awal
lagu-lagu melayu, bunyi orkes dari kurun lain
yang masih jauh dari kata beres.