Kami Menziarahimu di Mana-mana

– Obituari Wiji Thukul

KAMI menziarahimu di mana-mana
karena mereka menghilangkan mayatmu
maka kami temukan kamu di mana saja

Kami menziarahimu di luar pagar istana
yang penghuninya lupa siapa yang dulu mengantarkan
mereka sampai ke sana

Kami menziarahimu di markas penyiksaan
yang tak bisa menyembunyikan darah dari luka
di tubuhmu yang dulu memercik di sana

Kami menziarahimu di gedung parlemen
tempat wakil rakyat tertawa dan tak kenyang juga memakan
keratan-keratan tubuhmu yang tak mati-mati

Kami menziarahimu dalam karung lusuh
pemulung yang mengumpulkan ceceran beras impor
di dermaga bongkar-muat pelabuhan

Kami menziarahimu dalam kata-kata peringatan
yang dulu nyaring kau teriakkan dalam sajak-sajakmu
yang kau tulis dengan tangan yang tak bisa mereka patahkan

Kami menziarahimu dalam ketakutan kami
karena tak mampu melunasi janji reformasi
apa yang kita bayar sangat mahal dengan uang muka nyawamu

Kami menziarahimu dalam diri kami sendiri
yang tercekik suara kami sendiri, yang ikhlas kami beri,
tapi mereka merampas lebih dari apa yang kami punyai

Kami menziarahimu dalam sajak ini, obituari ini
dan maafkanlah kami, karena ini tak pernah cukup untuk
menampung sesal dan kesal, dan rasa bersalah kami

Kami menziarahimu di mana-mana
karena kuburmu tak pernah ada, maka
kuburmu ada di mana-mana!

Iklan

Pantun Angin Liar

tombak besar gagang pun panjang
kuat serat tali pengikat
ombak liar angin pun jalang
kami teringat Pulau Penyengat

bila tiada mawar yang merah
sekuntum kemboja saya petikkan
bila rintih rindu semakin parah
pantun cinta pun saya tuliskan

walau ditebas rumpun keladi
akar umbi tak kan tercabut
siapa penyebab rindu menjadi
dalam pantun tak kan tersebut

ombak itu ombak yang dulu
menghempas di bentang waktu
hendak itu hendak yang dulu
merampas seluruh hilang hariku

sumur ladang tak kita gali lagi
kering menumpang kemarau itu
bertemu lagi kita berpisah lagi
terlepas dari tali-tali waktu

saya membelitkan tangkai mawar
seakan darah di mata parang
rindu itu hati sakit atau lapar
engkau tabib atau juru hidang

 

 

(siapa yang mau memberi judul pada sajak ini?)

IA memunguti piring-piring kotor itu,
gelas-gelas, dan botol-botol minuman,
tadi ramai sekali suara percakapan,
gema tawa dan lelucon-lelucon yang
tidak lagi lucu, hal-hal ia telah dengar
berulang kali, dalam siklus lima tahunan.

Ia tak lagi ingin, dengan jelas mendengar
suaranya sendiri, semakin malas ia
menyebutkan kata-kata yang dulu ia
bayangkan akan membawanya ke berbagai
festival dari Sabang hingga Rajaampat,
yang sekarang hingga nanti yang tak sempat.

Tapi ia tahu benar apa yang harus
ia lakukan: isi setiap gelas kosong,
tambahkan lauk pada meja hidangan,
tersenyum dan mengangguk pada mereka
yang sedang menyelenggarakan perayaan
kemenangan itu. Semuanya telah diselesaikan
di jamuan makan besar itu, dan dia merasa
semakin lapar…

Di Depan Sebuah Rumah Pertunjukan

AKU duduk saja di tangga
tiket masuk telah kuberikan
pada seseorang, beberapa menit lagi
pertunjukan dimulai, aku sudah tahu cerita apa
yang akan dipertontonkan, dan aku bosan

Aku duduk saja di tangga
orang ramai datang dengan riang
bergandengan dengan dusta yang kecut
aku tahu siapa saja mereka itu, tapi
mereka pura-pura tak melihat padaku

Aku duduk saja di tangga
di depan sebuah rumah pertunjukan
sebenarnya, siapa yang berdiam dan apa yang ada
di rumah ini? Apakah cuma harapan yang harus
kubeli dengan tiket mahal sekali?

Kemarin kubaca di sisa koran lokal
artikel yang jauh dari headline
seorang menulis ulasan tentang
teater yang redup, aktor yang semakin buruk,
dan manajemen pertunjukan yang bangkrut.

Aku duduk saja di tangga
melihat orang berpura-pura gembira
membeli tiket dengan sisa uang tabungan
yang seharusnya dibayarkan
untuk jaminan kesehatan.

 

 

 

Minggu Pagi

DI lapangan itu semalam
orang nyanyi, bergantian, entah
untuk menghibur siapa.

Di gedung itu, sebuah pelantikan
dipersiapkan, dengan anjing dan
puluhan ribu serdadu.

Panggung itu akan dibongkar
seseorang akan naik dan silau, lupa,
tadi dalam pidato ia mengucap apa.