Lalu Terkupaslah

: afw

KARENA lebat kata-kata di pohon cerita kita
sebaiknya kita menunggu yang jatuh matang
dipetikkan oleh waktu, tangan yang arif itu.

Karena lezat kata-kata di meja hidangan kita
sebaiknya kita keluarkan pisau yang matanya
memejam tajam, memandang kita dengan takzim

Lalu terkupaslah aku, lalu terkupaslah engkau
Lalu mengertilah aku, lalu mengertilah engkau

Dan tangan waktu menyalami aku dan engkau.

 

 

Iklan

Nanti Kau Juga Mengerti

DARI kelam kenangan
datanglah aku sebagai imigran
turun dari kabut
ke batas langit dan laut

Apakah ada muara
suara yang melepas meander
mempertemukan kita dengan arus yang enggan
yang menyamarkan hulu waktu?

Hingga subuh tumbuh
dengan selapis embun
tubuh kita (kata, dalam tanda kurung) mencoba betah
dalam lema lama kamus yang lemah

Kau Harus Bertanya padanya dan Mendengarkan Apa Jawabannya

: Hasan al-Bashri

KAU harus bertanya padanya
Kau harus bertanya pada guru yang
untukmu ia menyediakan sebaik-baiknya jawaban

Kau harus bertanya padanya
pada seorang yang bernapas dengan hikmah dan ilmu
pada seorang yang sewaktu bayi disusui Ummu Salamah,
istri Sang Penuntun kita itu, Muhammad Rasul Allah itu

Kau harus bertanya padanya,
“Apa rahasia zuhudmu terhadap dunia,
wahai, pewaris Rasul Allah?”

Kau harus mendengarkan jawabannya,
yaitu ketika ia berkata,
“Karena aku yakin rezekiku tidak akan diambil
orang lain, maka tenanglah hatiku
dalam mencarinya.”

Kau harus merenungkan jawabannya,
yaitu tatkala ia berkata,
“Karena aku yakin amalku tidak akan bisa diwakilkan
kepada orang lain, sehingga aku sendiri
yang harus sibuk menjalankannya.

Kau harus mengingat jawabannya,
yaitu sewaktu ia berkata,
“Karena aku yakin Allah selalu mengawasi diriku,
hingga aku malu jika dalam pengawasan-Nya itu
aku berbuat maksiat.”

Kau harus menyimak jawabannya,
yaitu apabila ia berkata,
“Karena aku yakin bahwa kematian pasti menantiku.
Sehingga kusiapkan bekal
untuk bertemu dengan-Nya, Allah,
tuhanku yang hanya Dia Tuhanku.”

 

Kwatrin tentang Sebentang Kanvas

: gm

DIA lihat pada kanvas
pintu setengah terbuka
dengan hangat pada bulu-bulu kuas
menyelinap seseorang ke sana

Masih diurusnya sejumlah pertanyaan
dengan jawaban senantiasa sementara
Ketika ia cantumkan nama dan tandatangan
Ada yang tak hendak selesai, ternyata

Dia lihat kembali kanvas
Yang mengekal itu ilusi (atau sebaliknya?)
Mungkin tak lagi ia ingin memperjelas
Itu wajahmu atau wajahnya

Pada Sebuah Galeri

TAK ada bingkai bulan dan langit ada
dan kubayangkan kelelawar
dan unggas senja
tak ada engkau dan mereka ada
kubayangkan sebait “apa kabar…”
dan kau tak menjawabnya.

Di halaman galeri
yang menari adalah liukan bayangan
sekelebat mimpi yang gemulai
ketika perih kumulai
rambang rintihan gamelan
sebelum kumasuki seluruhnya
ruang dirimu
kaca pada pintu
dan sepotong Neruda
yang telah kau terjemahkan untukku

Dan kubaca itu seakan mantra
mengubah aku menjadi Minotaur
banteng yang lama kusembunyikan
dalam diriku

Tak ada mural bulan dan langit ada
dan kubayangkan Picasso
dan kanvas dengan potret kubisme
dan kau bertanya “itu siapa…”
dan aku tak menjawabnya.

Morfologi Payung

YANG hidup dengan
kenangan nyaris mati
kecuali misellia

jari-jari akar yang setia
menadah sisa spora
tak lagi hendak tumbuh
dengan puji puja
dan doa

Yang menampung hujan
yang mungkin bisa membalik-kembalikan
bilah dan tudung pada payung
jamur yang dihancurkan
musim hujan kita sendiri

tinggal gagang
dan batang

dan benang hujan nilon
menjerat leher mendung

Yang menghindar ke dinding kamar
memutar ke pintu keluar
berteduh dari terkam dan tikam
tajam tangkai payung
tak bertudung