Mars Republik Oligarki

TAK usah berpidato lagi,
kami hanya akan mematikan televisi
kami sudah tahu apa yang akan kau katakan
dan pada kalimat mana kau hendak berdusta

Tak usah menjelaskan apa-apa
kami tak akan menutup telinga
tapi kami tak akan mendengarkan ucapanmu
semua telah sangat kami mengerti
tapi kami tak percaya lagi

Dulu kami gembira bernyanyi
di konser terakhir itu
kau yang kami usung ke panggung
lalu kini kau nyanyikan lagu
“Mars Republik Oligarki”
yang kami tak mengerti
(dan tak bisa kami nikmati)
lagu tentang utang negara
anak dan menantu jadi walikota
bermain-main dengan pandemi
dan korupsi para menteri!

Tak usah bicara lagi
Tak usah berpidato untuk kami
tak usah menjelaskan apa-apa
kami tahu apa arti represi
oleh rezim yang membangkrutkan demokrasi
kami telah pernah terperangkap
dalam fiksi Orwell yang senyata-nyatanya
cerita tak bernomor halamannya
bersambung dari penguasa ke penguasa.

Kami telah belajar banyak
dari harapan yang pernah ada
dari kecewa yang tak pernah tak ada.

Setelah Itu, Joe!

SETELAH itu, Joe
aku akan melolong panjang
lebih nyaring
daripada raung kematianmu
lebih menikam
daripada jerit kesakitanmu
membangunkan angin
menghidupkan gelombang
mengetatkan tali sepatu
memutus tali kapal
lepas dari tiang tambatan

Setelah itu, Joe
aku akan berlari jauh
ke arah mana saja
di pasir pantai atau lumpur rawa-rawa
mengejar dan dikejar sesal perempuan
menghantam dan dihantam para pengecut itu
mereka harus membayar, Joe.
mereka harus membayar dengan mahal!

Selama masih tegas garis cakrawala
dan darah mengucur dari hatiku luka
mereka tak akan bisa mengelak, Joe
tagihan besar dariku untuk kematianmu.

Maka Aku Akan Melompat

MATAHARI manis terbit di matamu
pagi di hari pertamaku di sekolah itu
aku melihat itu sebagai matahariku

Ya, kamulah kamu
matamu adalah matahariku
dan apabila kamu tak mau menerima aku
maka aku akan melompat memasuki hatimu
mencuri seluruh dirimu

Matahari hangat cemerlang di matamu
menyuburlah tanah jiwaku yang meranggas
dedaunan kubiarkan jatuh oleh angin yang ganas
tertimbun tebal sepanjang tahun-tahun kemarahan
kini menjadi humus
tersedia sebagai hara bagi jari-jari akar pepohonan
dan ranting pun tumbuh
dan bertunaslah keberanianku

Hatiku taman yang tak pernah kutata
(bunga dan gulma bagiku apa bedanya?)
sejak pagi itu aku mengajakmu singgah
aku mungkin tak pernah berhenti gelisah
tapi barangkali kau bisa membuat aku betah

Hatiku taman yang kubiarkan liar
terkubur segala yang mati dan yang hancur
tumbuh segala yang harum dan yang berduri

Dalam hal cinta aku adalah lelaki
yang terlalu percaya diri
dan dengan demikian
segalanya bisa dengan mudah
jadi berantakan

Dalam hal cinta aku adalah murid
yang bandel dan bebal
yang berkali-kali gagal
tak lulus ujian kenaikan

Matahari panas meninggi di matamu
mimpi-mimpiku pun terbakar di situ
di matahariku, matahari di matamu itu.

Elegi bagi Dewi Venus

(setelah mendengarkan Freddy Tamaela)

YANG paling menyiksa adalah bayangan
(aku tahu itu setelah aku tak bisa
mengusir engkau dari alam anganku)

Kini kau asing dan aku pun asing
dilerai kata yang dulu menyatukan
(yang kini tak lagi bisa kita mengerti)
yang kini mengoranglainkan kau dan aku

Kini kau jauh dan aku pun semakin jauh
hari-hari nyata kuhadapi dengan berani
tapi kenyataan tak pernah kupahami
(misalnya: aku tak tahu bagaimana caranya
memendam cinta sambil mencoba melupakanmu)

Aku bangga pernah ada di hatimu dan
tetap akan ada di hatimu, dan itu cukup,
aku tahu sehabis itu semua jadi tak ada

Kau adalah harapan yang kubawa pergi
yang aku tahu tak akan pernah ada lagi
ketika kelak aku kembali ke kota itu

Dalam avonturir, di sepanjang rel dan
perjalanan, di emperan pertokoan, yang
kubawa sesak dalam ransel adalah resah
dan bayangmu yang menggoda, kunikmati
sakit dan pedihnya, siksa dan perihnya.

Dalam senyap aku menjerit (kau tak tahu)
dalam diam aku berlari (kau mengikutiku)

Tapi bila aku kejar kau kian jauh menjauh

Bila coba kulupakan (kau makin jadi ingatan)
Bila hendak kukubur kenangan (kau gentayangan)

Aku ketakutan, kau hantu menghantui aku.

Hujan Pestisida

MASA lalu itu, sayang, adalah penjara
dan sejarah adalah pintu terbuka
agar kita bisa memasuki diri kita lagi
tanpa harus terkerangkeng di sini

Jarak itu, sayang, sesungguhnya tak ada


kita membawa ke mana-mana, segalanya:
tuhan yang kita bendakan, juga segala
keputusan yang harus kita batalkan

Kita membawa ke mana-mana, segalanya:
kebodohan yang membutakan, kesombongan
yang menempatkan kita di atas menara
yang rapuh dan mudah sekali runtuh

Masa lalu itu, sayang, adalah sangkar besar,
kita terbang gelisah di bawah sungkupnya,
tak pernah lebih jauh dari situ, karena
di luar itu langit lebat hujan pestisida.

Catatan 2020, 2

SEPERTI memberi pengantar
sebelum aku nyanyikan lagu itu
tentang seorang yang bertahan di kafe
yang telah berbulan-bulan mati
dikepung sepi berskala besar sekali

Kamu, satu-satunya orang lain,
lebur dalam batasan, redup dan gugup,
cahaya lampu diremangkan.

“Kita mengadu rencana,
yang setiap kali selesai
satu pemaparan lantas kita ucapkan
‘tak semudah itu, Ferguso’,
bergantian. Dan kini aku
akan menyanyikannya…”

Lantas kusambar gitar
dan mulailah aku memainkan,
lagu perih yang hanya
akan sekali itu kunyanyikan.

Kamu, satu-satunya orang lain,
di kafe yang telah berbulan-bulan mati,
bosan dengan masker dan karantina
bertepuk tangan dan berseru,
“aku punya banyak lirik lagu seperti itu!”

Aku berpura-pura tak mendengarmu

Sebab telah semakin jauh saja jarak kita
dari panggung ke mejamu itu, tetapi
kenangan dan harapan akan bertahan
seperti koloni kuman tak mati terbasuh disinfektan.

Lantas kusandarkan gitar
setelah kurasa cukup mengutuki
segala yang brengsek dan berantakan

Semacam cara lain menangis dan sedikit bertahan.

Yang Dikatakan

yang dikatakan kayu kepada api yang
menyala padanya itu, “abu yang tersisa
adalah tanda bahwa kau pernah ada.”

yang dikatakan awan kepada hujan yang
tercurah darinya adalah, “seseorang akan
menyajakkanmu dan aku bahagia.”

Sesalan yang Sungguh

ANGIN mempermainkan juntaian kain tilai
meneruskan kibar bendera Lebanon
dari pucuk teluk
dan kita lepaskan peluk

Engkau seperti negeri yang memejam
mengelak dari memandang masa lalu dan masa depan
:
Berapa kali maaf harus aku ucapkan
agar maafku kau terima sebagai maaf
lalu kita bisa saling melupakan?

Kapal-kapal belum akan berlayar
terikat pada tali tiang-tiang tambatan
padanya – seperti pada kita – ada serat yang koyak
bekas badai pelayaran semalam

Engkau seperti pantai yang tak sempat berbenah
menunggu – masih akan ada gelombang susulan
:
Berapa kali yang keliru harus kusesali
agar kau tahu aku terluka lebih parah
luka yang kuciptakan di tubuhku sendiri?

Apabila Lagu Itu Ingin Kau Nyanyikan

: Ikhsan Risfandi Zetry Iminy

DI jalan itu tadi
kita melintas bergegas
dikejar angin yang lekas
yang enggan dan dingin
dan kita bayangkan
ada yang tertahan dinding-dinding
rumah di perbukitan

Beirut menyiapkan senja
untuk kita,
setelah hari-hari
dikirim keluar kota
melawati jalan besar
gedung tak berpenghuni
tembok dengan grafiti huruf hijaiyah,
bekas peluru tembakan, dan
baliho tak meneriakkan revolusi lagi.

Kau jerang air untuk teh
dan mendidihlah petang,
di Youtube aku memutar Maalouf
lalu kutulis puisi yang kusiapkan
sebagai lirik apabila lagu itu
ingin kau nyanyikan.

Beirut

Beirut
: Ibrahim Maalouf

BEIRUT seperti lagu seorang remaja mengaji
aku mengingat ayat-ayat yang dulu kubaca
guru mengajarkan tafsir kata per kata

Orang berjalan, beli roti dan tomat di pasar,
mengenang perang, taksi berlalu perlahan,
di Beirut lampu dinyalakan dan dimatikan.

Catatan 2020, 1

TAHUN hampir habis
aku semakin tergagap-gagap
di hadapan almanak: sangkar yang mengurung
bilangan besar yang ingin benar melepaskan diri.

Hari-hari unggas lapar dan putus asa
mematahkan sebelah sayap
mematuki bulu-bulu yang lepas
sampai tak ada lagi bayangan.

Musim yang rutin itu berhenti,
—- begitu saja berhenti
dan lewatlah beberapa bulan
seperti aku terlambat beberapa saat
kembali ke permukaan laut
ketika pasang semakin dalam
dan aku belum juga kuat lebih lama menyelam.

Tahun hampir lepas
aku tak bisa kemana-mana
hari-hari selalu sibuk tapi tak bergerak
ramai datang tamu tak kukenal tapi tak bisa kutolak
menyapa dengan suara tak jelas dari balik masker
berkampanye terlalu dini untuk kandidat lancung
atau mengajak masuk jaringan bisnis MLM
Anda bisa pensiun dengan gaji seorang direktur
dan berwisata ke bandar pelancongan mana saja
seperti sebelum pandemi,
seperti tak pernah ada wabah ini
.

Tahun hampir silam
meninggalkan fragmen drama amat membosankan
aku duduk gelisah dan berdiri tak tentu arah,
di lobi apartemen tua dengan resepsionis
(yang judes dan sibuk menulis di status Facebook)
yang besok harus kutinggalkan.

Aku sedang menunggu paket surat
pemberitahuan sisa kredit
rumah yang tak pernah kutempati
yang tak sanggup kucicil lagi.

Jakarta, 2020

Aku Bilang Aku Bilang Aku Bilang / Simon Armitage

Aku Bilang Aku Bilang Aku Bilang / Simon Armitage

Siapa di sini yang menjelek-jelekkan diri sendiri
supaya orang tertawa? Siapa yang mengiris lengan
dengan belati di bak mandi? Kalian yang gelap-gelapan
di belakang, simak baik-baik, ya. Yang di depan
yang sudah tahu, yang sudah pernah, angkat tangan,
coba perlihatkan mana kulit yang tersayat antara
lengan bawah dan kepalan tangan. Ceritakan saja
seperti ini: minuman keras, garis merah tua
membekas di bak mandi, segulung perban, handuk putih dicuci
berbelas kali, masih merah dadu. Nasib baik yang kejam.
Lalu renjana untuk arloji, gelang, dan manset.
Atau cerita yang mungkin begini: kau dicambuk duri semak
saat memetik beri di hutan. Mengaku saja, mulai lagi,
ikuti punchline ini bersamaku ‘seperti darah itulah’
ketika mereka yang di belakang merangsek maju berkata
sedikit sekali sedikit sekali cinta bisa berdayakan kita.

I Say I Say I Say / Simon Armitage

Anyone here had a go at themselves
for a laugh? Anyone opened their wrists
with a blade in the bath? Those in the dark
at the back, listen hard. Those at the front
in the know, those of us who have, hands up,
let’s show that inch of lacerated skin
between the forearm and the fist. Let’s tell it
like it is: strong drink, a crimson tidemark
round the tub, a yard of lint, white towels
washed a dozen times, still pink. Tough luck.
A passion then for watches, bangles, cuffs.
A likely story: you were lashed by brambles
picking berries from the woods. Come clean, come good,
repeat with me the punch line ‘Just like blood’
when those at the back rush forward to say
how a little love goes a long long long way.

Sajak / Simon Armitage

Sajak / oleh Simon Armitage

Dan apabila salju turun dan salju menutupi jalan
dia ambil sekop lalu menyisihkannya ke sisian.
Dan selalu ia selimuti putrinya di hari malam
Dan menepaknya sekali waktu si anak berdusta.
Dan setiap minggu dia menaikkan setengah upahnya.
Dan yang tak dia habiskan seminggu itu ia tabungkan.
Dan dia puji istrinya untuk setiap makanan yang dimasaknya.
Dan ada sekali, sebab tertawa, ia tinju wajah istrinya.

Dan untuk ibunya ia membayar perawat pribadi.
Dan setiap hari Minggu dia antar pergi ke gereja.
Dan dia meratap ketika dia parah dan makin parah.
Dan dua kali dia curi sepuluh pound dari dompetnya.

Beginilah mereka menilai dia bila terpulang kenang:
kadang ia berbuat begini, kadang ia melakukan itu.

Poem / by Simon Armitage

And if it snowed and snow covered the drive
he took a spade and tossed it to one side.
And always tucked his daughter up at night
And slippered her the one time that she lied.
And every week he tipped up half his wage.
And what he didn’t spend each week he saved.
And praised his wife for every meal she made.
And once, for laughing, punched her in the face.

And for his mum he hired a private nurse.
And every Sunday taxied her to church.
And he blubbed when she went from bad to worse.
And twice he lifted ten quid from her purse.

Here’s how they rated him when they looked back:
sometimes he did this, sometimes he did that.

Cara Membunuh Tikus (3)

SUARA sapu lidi di halaman terhenti. Aku yang sejak lepas subuh tadi sudah tidur-tidur ayam saja menduga istriku melihat tikus di perangkap yang kupasang lagi semalam. Tapi aku tak berharap banyak soal itu.

Kemarin aku sudah berhasil membunuh seekor tikus besar. Itu sudah cukup memuaskan bagiku. Aku kira tikus kemarin itu jantan. Apabila semalam tadi terjebak lagi seeekor, mungkin betina istrinya, yang gelisah tak bisa tidur lalu lapar, lalu keluar sarang dan tergiur potongan ayam yang kutebar di dalam perangkap, aku tak terlalu herap. Tapi jantan atau betina, suami-istri atau bukan, sama saja brengseknya. Tikus adalah tikus adalah tikus.

Pintu kamar terbuka. “Ada tikus kena jebak,” kata istriku. Benar seperti yang tadi kuduga. Aku bingkas berdiri. Kali ini aku sudah tahu apa yang harus kulakukan. Hari ini hari Jumat, tukang angkut sampah prei. Berarti bangkai tikus yang kemarin mati kulelapkan di tong sampah masih di situ.

Perangkap tikus itu masih di tempatnya. Terpojok di sudut tembok dan kotak meteran air. Tertindih batu. Pagi di situ masih remang oleh rimbunan ranting belimbung. Beberapa ekor lalat hijau mendengung. Terbanglah mereka apabila terkejut oleh gerakan tikus di dalam perangap itu. Seekor tikus lagi. Seekor? Oh, tidak. Ternyata dua ekor. Berbeda ukurannya. Perangkap kawat yang sempat kuragukan ini telah menunjukkan kemampuannya. Aha!

Naluri membantaiku sepagi ini telah bangkit lagi. Dua ekor tikus! Dua musuh besarku. Aku panen besar. Aku seperti terjangkiti semangat pemburu yang berpose dengan senyum mantap, senjata di tangan, dan kaki menginjak tubuh hewan buruan yang terkapar.

Aku mengamati sejenak dua ekor tikus itu. Keduanya seperti menghindar untuk menatap langsung mataku. Mungkin mereka menyesal dan disiksa oleh rasa bersalah. Aku menatap ke tong sampah, tak jauh dari perangkap itu. Aku mau bilang pada dua tikus itu, “di situ, di dalam tong sampah itu, seekor kawan kalian menggelembung tanpa nyawa. Mati kedinginan dengan paru-paru penuh air. Saya tak punya alasan untuk melelaspan kalian. Saya tak sepemurah itu. Kalian akan bernasib sama!”

Aku memasang sarung tangan lalu mengangkat batu penindih. Sebelah tanganku menahan pintu masuk, sebelahnya memastikan dinding lain tak terlepas kaitnya. Tong sampah sudah kusiapkan. Perangkap itu kuletakkan perlahan di dasar tong. Perlawanan terakhir dua ekor tikus ini gila-gilaan juga. Terasa seperti hantaman-hantaman petinju ke telapak tanganku. Jeritan mereka juga memekakkan telinga. Aku tak pernah mendengar suara tikus dari jarak yang sedemikian dekat. Sangat menyayat, apalagi dalam hatiku menyeringai naluri jahat, “menjeritlah, sebentar lagi toh kalian akan mampus, tikus!”

Ayahku memang meyakinkanku dulu bahwa aku boleh membunuh tikus karena mereka hama. Sama seperti tupai. Atau kumbang penggerek batang kelapa. Tapi ayahku melarang aku menyiksa tikus, juga binatang lain.

“Bunuh dengan lekas, lalu buang. Biar dia menjadi santapan ular,’ kata ayahku, sambil mengumpulkan buah-buah kelapa dengan lubang pada tempurung dan daging habis disantap tikus, juga tupai.

Aku bisa membedakan mana buah kelapa yang dimakan tupai mana yang dimakan tikus. Apabila lubang dan lapisan serabutnya terpotong rapi berarti itu tikus. Tupai melubangi buah kelapa dengan kerja yang lebih amatiran. Serabutan. Tapi keduanya membuat lubang dengan lingkaran yang nyaris sempurna pada tempurung. Dari situ kalian bisa membayangkan betapa kuatnya gigi kedua hewan pengerat itu.

Maka kalian paham saja kalau kini aku memegang perangkap pakai sarung tangan, bukan? Berurusan dengan hal-hal kotor yang tak bisa kita hindarkan, juga mengancam, kita harus melindungi diri kita agar tetap bersih dan terhindar dari bahaya. Kita tak bisa meminta musuh kita untuk membersihkan diri dulu atau mengimbau mereka bermain bersih. Mereka, musuh-musuhmu akan tetap saja bermain kotor, karena mereka memang sebrengsek itu.

Dua tikus itu kali ini tak sekuat seekor sebelumnya. Mungkin karena sudah terperangkap sekian jam di situ. Aku mengucurkan air keran dengan dingin tanpa perasaan. Ya, aku sudah menjadi sesadis itu. Tapi, ini kan yang kalian mau, tikus? Tak sampai satu menit, kedua tikus itu mengapung tak bernyawa, dengan gigi-gigi menyeringai seperti memaki-maki dan mewartakan ancaman aksi balas dendam ke arah aku.

Jakarta, 6 November 2020.

Cara Membunuh Tikus (2)

MEMANG benar, perang belum usai, dan saya kira tak pernah usai.

Saya hanya merasa menang ketika berhasil membunuh – sejauh ini – enam ekor tikus, tapi serangan tikus-tikus itu tak pernah berhenti. Siang dan malam. Terakhir pot-pot pembiakan episcia kami berjatuhan dari rak. Di bawah rak ada setumpuk tahi dan menguar bau pesing. Saya tahu benar itu tahi dan kencing tikus. Bau yang sama kau dapati apabila lewat di gang-gang sempit di kota, dengan got mampet, lembab, dan gelap. Dan tikus-tikus itu menciptakan suasana itu di teras rumah kami. Dasar tikus!

Aku berharap pada perangkap yang beberapa hari lalu kubeli bersama lem tikus di pasar Pospengumben. Beberapa hari, setelah memindahkan posisi perangkap itu beberapa kali, tak ada tikus yang terjebak.

Aku mulai merasa bodoh. Beberapa kali di depanku, ketika jebakan itu kuletakkan di bawah pohon belimbing, tempat biasa kami meletakkan sisa makanan untuk kucing, aku melihat dua ekor tikus mendekat, mengendus-endus, turun naik perangkap, berkeliling mencari cara masuk dan menyantap apa yang saya sajikan di dalam itu. Saya pura-pura tak memperhatikan. Lalu kedua tikus itu berlalu tenang ke dalam parit. Aku kira mereka sepasang. Suami istri yang harmonis. Berbagi tugas dengan adil. Dua tikus kecil yang terbunuh dengan lem beberapa hari lalu itu pasti anak mereka. Dua anak yang belajar mandiri dan masih terlalu polos untuk mengenal kejamnya dunia, juga jahatnya dendam seorang yang telah mengobarkan perang terhadap mereka. Tapi tikus adalah tikus adalah tikus adalah tikus adalah tikus.

Aku mulai ragu dengan perangkap tikus itu. Ukurannya terlalu besar dibandingkan perangkap yang biasa kutahu. Tapi toko di pasar hanya menjual satu model itu. Pagi itu, toko tersebut memajangnya di depan. Mencolok sekali. “Tinggal satu, Pak. Lagi beseler,” kata si penjaga. Kayaknya memang sedang ada perang besar melawan tikus di mana-mana.

Istriku menyarankan agar umpan di dalam perangkap itu diganti. Ikan cue kurang keras baunya. Lagi pula yang sepotong terkait menggantung di dalam itu memang sudah agak kering. Aku memasukkan dalam satu wadah kecil – cukup untuk diletakkan di dalam perangkap – sisa-sisa ayam, brutu, ujung sayap, lemak dan kulit. Semuanya direbus lebih dahulu. Lemaknya mencair. Tikus yang lapar pasti akan menetes air liurnya.

Perangkap sudah kami pasang lagi sejak pagi. Aku memberi pecahan lantai semen di atasnya buat berjaga. Aku perkirakan apabila satu atau dua tikus terjebak apabila tak diberi pemberat perangkap itu tak cukup kuat untuk menahan rontaan mereka.

Suara azan asar tadi seakan jadi pengantar kematian bagi musuhku. Seekor tikus besar terjebak. Dan itulah persoalannya. Sebesar apapun marah dan dendamku, aku tak terlalu tega membunuhnya. Begini situasnya: bayangkan musuh yang di hadapanmu menyerah, mengaku kalah. Tak lagi bisa melawan. Penjaga taman tetangga depan rumahku memberi saran begini: masukkan karung, buka pintu perangkap, biarkan tikusnya keluar dari perangkap, ikat karungnya, lalu banting si tikus dalam karung itu. “Saya gitu, dulu sampai lima belas ekor saya bunuh. Ya, begitu…”

Aduh, saya tidak tega. Tapi, bagaimanapun, toh aku harus membunuhnya. Demi pot-pot episcia, demi pisang yang sesisir utuh tak jadi kami bikin kue jemput-jemput. Aku berpikir sejenak. Memperhatikan tikus itu. Aku menatap matanya. Aku melihat perlawanan di mata itu. Dia tidak menyerah. Oke, baiklah. Dan kulihat umpan di dalam perangkap itu habis! Tandas. Itu artinya, dia menikmati benar apa yang terhidang di situ. Mungkin dengan hati tertawa-tawa mengejek kebodohanku, sebelum menyadari dia terperangkap. Oke, baiklah.

Aku akhirnya ingat juga bagaimana cara ayahku membunuh tikus yang terperangkap. Mudah sekali. Ia lemparkan saja ke got perangkap tikus itu. Si tikus mati lemas dengan perut kembung penuh air. Ah, kenapa baru teringat. Itu cara yang paling tidak sadis. Tapi bukankah tak ada got di sekitar komplek perumahan kami? Drainase semuanya tertutup dan kering belaka. Kali Pesanggaran mengalir jauh di luar komplek. Ketika mataku tertumbuk pada tong sampah, serta-merta aku berseru, “Aha, ini dia.”

Tong sampah dan perangkap itu kubawa ke pojok halaman dekat gulungan selang dan keran air. Tong sampah cukup besar untuk menampung perangkap. Tikus itu benar-benar melakukan perlawanan, habis-habisan. Aku sempat cemas apabila perangkap itu rapuh dan tak cukup kuat menahan rontaan si tikus. Perangkap itu akhirnya duduk dengan manis di dasar tong. Aku mengambil selang, mengarahkan ujungnya ke tong, membuka keran. Air menggenangi tong. Perlahan. Meninggi. Aku sudah memberi pemberat batu di atas perangkap itu. Tikus itu tahu ada yang mengancam nyawanya. Ia mempergencar perlawanan. Menyundul ke semua sudut secara acak. Menabrakkan diri sekuat tenaga. Aku lihat ujung hidungnya berdarah. Terluka parah.

Lalu air meninggi, terendamlah seluruh perangkap itu. Aku menutup keran. Si tikus masih berusaha melepaskan diri. Meronta. Rontaan terakhir. Lalu gerakannya semakin lemah. Tak sampai lima menit. Ia akhirnya terjepit dan mati di antara dinding samping perangkap dan pintu masuk jungkit-jungkit yang merupakan filosofi dari jebakan itu. Kau bisa masuk tapi tak bisa keluar, itulah hakikat dasar dari sebuah jebakan, bukan?

Jakarta, 5 November 2020.