Gambang Semarang

untuk Triyanto Triwikromo

SEMARANG adalah warung soto dalam mangkuk kecil, sendok pendek, dan pilihan tambahan sate kerang atau perkedel ubi, udara panas, dan pengumuman kecil di dinding: pengamen dan pengemis khusus hari Jumat.

Semarang adalah warung tenda pagi hari, dengan opor ayam, mangut mayung, dan tempe garit, tukang becak, pedagang pasar Johar, teh tawar, dan jalan lebar yang membuat aku bertanya: berapa ratus meter lagi aku akan bertemu apa: Indomaret? Atau Alfamart?

Semarang adalah kompleks kota tua, kafe yang disulap dari kantor penguasa kolonial dan aku menyimak seorang penyair bercerita tentang bagaimana menuliskan riwayat pengusaha teh, dengan kata-kata Mao, petikan Kafka, dan Kawabata.

Semarang adalah penjual koran tua, menyerah di trotoar dengan lembar-lembar eksemplar harian yang mengempis dan aku melihat berita risau dari matanya yang seakan mengatakan: aku tahu kau tak akan membeli apa yang kujajakan ini.

Petarung Dungu

MEMASUKI ruang tunggu bandara
seperti melangkah ke gelanggang tinju
ronde yang tak akan kumenangkan

dia, lawanku itu, adalah mitra latih
yang tahu benar bagaimana harus
mengalahkanku, dengan mutlak

aku memang sudah terlalu lelah
untuk perjalanan meninggalkan diri
sendiri, tapi bagaimana harus
mengelak dari pertarungan kekal ini?

apalagi, aku tahu, di kursi penonton
ada engkau, menyaksikan setiap
pukulan, dan sakit hati yang kuderita

kau memasang taruhan besar untuk
kemenanganku atas sepi yang semakin
perkasa ini, seperti janjimu sebelum
melepas aku menjadi petarung dungu

Di Loket BPJS Kesehatan

DI loket BPJS Kesehatan ini
tangan negara yang berlemak itu
mengulur ke hadapanku
ke arah tanganku yang terlalu kecil
untuk menyambutnya, lagi pula,
untuk apa aku bersalaman
dengannya?

Untuk KTP dan
kartu keluarga ini?
Atau untuk sekeping
Kartu Indonesia Sehat?

Ini, pertemuan yang begini ini,
adalah peristiwa yang tak pernah nyaman,
menunggu dengan selembar nomor antrean
sambil menonton Jusuf Kalla
bicara tentang hidup sehat dan olahraga

Asuransi kesehatan
– jaminan pensiun, tabungan hari tua –
adalah cara kami
menyelamatkan diri kami sendiri

Dan di loket ini
negara mengatur cara memungut biaya
(sebentuk cukai, atau pencurian
yang dilegalkan dengan regulasi)
dari uang hasil kerja kami sendiri

Karena itu, seorang ibu tua
menangis di hadapan petugas,
menangis untuk perempuan muda yang menggedong bayi
dan anak lelakinya yang mati kecelakaan kerja

“…ini peraturan negara, Bu. Maaf
saya hanya menyampaikan….”

Aku melihat negara tersenyum mendengar jawaban itu
dan aku ingin menangis untuk keduanya:

1. Untuk ibu yang menangis karena negara
tak bisa mengembalikan anak lelakinya

2. Untuk negara yang tersenyum karena
petugas itu pandai benar berbicara
soal hal-hal yang telah dibuat aturannya.

Setelah berlalu dari petugas itu
kugandeng istriku
menyeberangi zebra cross Pospengumben Lama
diiringi tatapan mata negara.

Dengan suara yang sengaja agak kukeraskan
aku berbisik pada istriku,
“aku tak pernah percaya
bahwa dia benar-benar
peduli pada kita.”

Perihal Pakaian – Kahlil Gibran

Perihal Pakaian
Kahlil Gibran

DAN seorang penenun berkata, Bicaralah pada kami perihal Pakaian.
Dan dia menjawab:
Pakaianmu menyembunyikan sebagian besar kecantikanmu, namun ia tidak menyembunyikan ketakelokanmu.
Dan meskipun engkau di dalam pakaian itu mencari kebebasan diri, di dalamnya engkau mungkin menemukan baju zirah dan rantai besi.
Semestinya engkau bisa menyentuh matahari dan angin lebih banyak dengan kulitmu, alih-alih melalui pakaianmu.
Karena nafas kehidupan ada pada gelimantang matahari dan tangan kehidupan ada dalam angin.

BEBERAPA dari engkau berkata, “Angin utara telah menenun pakaian yang kita kenakan.”
Tetapi rasa malu adalah alat tenunnya, dan kelembutan otot urat adalah utasnya.
Dan ketika pekerjaannya selesai, dia tertawa di dalam hutan.
Jangan lupakan bahwa kesopanan adalah perisai terhadap mata orang yang najis.
Dan ketika yang najis itu tidak ada lagi, apakah yang disebut dengan kesopanan kecuali belenggu dan cemaran pada pikiran?
Dan jangan lupakan bahwa bumi senang merasakan kaki telanjangmu dan angin rindu bermain dengan rambutmu.

(Diterjemahkan dari The Prophet)

Untuk Sejumlah Hal dari Masa Lalu

                                      : ns

UNTUK beberapa hal
dari masa lalu
yang aku tahu
akan membuat kita
saling menertawakan,
aku menemuimu
di beranda kafe itu.

Kalibata memiliki malam
yang sama saja
dengan bagian-bagian lain
di daerah khusus ibukota Jakarta ini,
tubuh kota kapital
dengan orang-orang yang
tiap saat menghitung modal
untuk bertahan
dan melawan: menanggung
deru dan dera,
mengunyah dan
dikunyah
masa.

Kalibata adalah tanda merah
pada Waze,
persimpangan ruwet
yang tak teratasi oleh aplikasi,
palang perlintasan kereta
yang terburu-buru menutup lagi.

Belum dan sebelum sempat
kita lewatkan sebuah mimpi yang lain.

“Kapan terakhir kali MCU?”
tanyaku, padamu, lalu aku bercerita
tentang kadar gula pada darah
yang tak pernah rendah
dan kenapa aku tak suka
beras merah.

Bahan ini, tak akan
kita bincangkan jika kita bertemu
di awal-awal tahun 2000-an.
Tahun ketika kita masih
mengandalkan koneksi internet di warnet
untuk mengecek puisi-puisi
(dan perasaan-perasaan lain)
yang kau tapis atau kau tepis
untuk sebuah jalan yang lain
dari situs Cybersastra.

Aku memesan jus kiwi,
sebagai percobaan atas hijau yang merencam
dan ampas yang rampus.

Kau memesan kopi
melengkapi sekepal Dji Sam Soe
untuk tubuhmu yang batuk
mengabaikan tiga jenis obat
dalam plastik biru itu
sejak memulai rapat
mengevaluasi soal-soal kenaikan jabatan
yang kau buat sendiri.

Setelah kita tertawa
sejumlah pertanyaan
di Kalibata tetap tinggal
sebagai pertanyaan
seperti pada masa lalu kita itu.

Untuk beberapa hal
dari masa lalu
yang aku tahu
akan membuat kita
saling bertanya,
aku menemuimu
di beranda kafe itu.

Kami Menziarahimu di Mana-mana

– Obituari Wiji Thukul

KAMI menziarahimu di mana-mana
karena mereka menghilangkan mayatmu
maka kami temukan kamu di mana saja

Kami menziarahimu di luar pagar istana
yang penghuninya lupa siapa yang dulu mengantarkan
mereka sampai ke sana

Kami menziarahimu di markas penyiksaan
yang tak bisa menyembunyikan darah dari luka
di tubuhmu yang dulu memercik di sana

Kami menziarahimu di gedung parlemen
tempat wakil rakyat tertawa dan tak kenyang juga memakan
keratan-keratan tubuhmu yang tak mati-mati

Kami menziarahimu dalam karung lusuh
pemulung yang mengumpulkan ceceran beras impor
di dermaga bongkar-muat pelabuhan

Kami menziarahimu dalam kata-kata peringatan
yang dulu nyaring kau teriakkan dalam sajak-sajakmu
yang kau tulis dengan tangan yang tak bisa mereka patahkan

Kami menziarahimu dalam ketakutan kami
karena tak mampu melunasi janji reformasi
apa yang kita bayar sangat mahal dengan uang muka nyawamu

Kami menziarahimu dalam diri kami sendiri
yang tercekik suara kami sendiri, yang ikhlas kami beri,
tapi mereka merampas lebih dari apa yang kami punyai

Kami menziarahimu dalam sajak ini, obituari ini
dan maafkanlah kami, karena ini tak pernah cukup untuk
menampung sesal dan kesal, dan rasa bersalah kami

Kami menziarahimu di mana-mana
karena kuburmu tak pernah ada, maka
kuburmu ada di mana-mana!