Beberapa Soal Ujian Nasional Mata Pelajaran Kesetiaan yang Diam-diam Kuikuti tanpa Sepengetahuan Engkau (2)

: Sapardi Djoko Damono

6. Apa yang akan kau lakukan jika berpapasan dengan hujan pada sebuah lorong dan di dalam hujan itu ada seseorang yang menyembunyikan tangis dan tak ingin ditanya kenapa ia menangis?

a. Aku akan menjelma menjadi sebuah payung yang melindungi dia dari hujan itu, agar aku tahu pasti bahwa basah di matanya itu adalah basah airmata, meskipun aku tak akan bertanya kenapa dia menangis.

b. Aku akan menjelma jadi hujan yang semakin memperlebat hujan itu, agar dia bisa menyembunyikan tangis yang mungkin akan semakin lebat juga nanti di sepanjang hingga nanti di ujung lorong itu.

c. Aku akan menggandeng tangannya, merangkul pundaknya, dan kami berdua akan membiarkan hujan memeluk kami, dan kami bertiga akan membiarkan tangis mempersatukan kami.

d. Aku akan menangis juga dan menyembunyikan tangisanku di dalam hujan itu, agar air mata kami bertemu di selokan di sepanjang lorong yang mengalirkan air hujan itu ke sebuah muara.

7. Apa yang akan kau tulis pada kartu pos bergambar jembatan “Golden Gate”, San Francisco, dan kepada siapa kau akan mengirimkannya?

a. Aku akan menulis kuatrin dengan kata kabut dan membayangkan kabut itu seperti gulali tanpa pewarna, putih saja, dan hambar. Aku akan mengirimkannya untuk dia yang bertaruh bahwa aku akan bisa dengan mudah melupakan dia.

b. Aku akan menulis tentang matahari yang mengucek mata, dan melihat dirinya berenang di permukaan teluk luas, dan membayangkan betapa sejuknya air di teluk itu. Aku akan mengirimkannya untuk dia yang membuang pandang dari mata cintaku.

c. Aku akan menulis tentang gerimis dalam sebuah stanza yang tak kuhitung lariknya, yang turun perlahan dan menghilang sebelum menyentuh apa-apa. Aku akan mengirimkannya ke sebuah seseorang yang akan menerima dengan mengatakan: ini salah alamat.

d. Aku akan menulis tiang-tiang jembatan dalam sebuah sajak yang bebas, yang tak bisa menahan kabut, yang tak bisa menolak gerimis, dan memuai oleh hangat matahari. Aku akan mengirimkannya ke alamatku sendiri, dan seseorang menerima dengan berkata: aku tak tahu siapa yang mengirimkan ini untukku.

8. Apa yang akan kau lakukan jika kau berada di taman umum New York? Dan siapa yang kan bayangkan duduk menemanimu di sana?

a. Aku akan bercerita pada beberapa ekor merpati tentang kau yang seperti mereka, bebas dan liar, lepas dan lapar, sia-sia saja kubayangkan kau ada menemaniku duduk dengan tenang, di bangku panjang ini.

b. Aku akan menggambar stasiun yang disinggahi kereta terakhir. Kau keluar dari sana berjalan menujuku, tapi kita tak segera saling mengenal. Aku ragu apakah itu kamu, dan kau ingin sekali meyakinkan dirimu sendiri bahwa aku bukanlah aku.

c. Aku akan menggambar bunga ceri yang jatuh di halaman koran yang kubaca, berita tentang pemilu sela, dengan infografis negara bagian mana saja yang berwarna merah atau biru. Aku tetap membayangkan kamu, menganalisa dengan tajam cerdas, meskipun bukan hal itu yang ingin kutanyakan.

d. Aku akan menggambar lonceng dan apa saja yang tak terlalu mendengar lagi pada tanda yang ia sampaikan, garis musim semi yang ia pertegas, dan kubayangkan kamu di sampingku terdiam karena telah menyadari sesuatu, bahwa seharusnya kau tak berada di sini bersamaku.

9. Berapakah jarak antara surga dan dunia? Bagaimana kau hendak mengukurnya?

a. Jarak antara surga dan dunia itu sejauh rasa kehilangan Adam, yang turun di hutan-hutan, yang sepanjang hidupnya tetap saja percaya bahwa dunia adalah halaman belakang surga dan ada gerbang di balik air terjun itu.

b. Jarak antara surga dan dunia itu sebesar kerinduan Adam, rindu yang masih ada, rindu yang sama dengan rindu yang dirasakan Hawa, setelah mereka saling menemukan dan saling memaafkan.

c. Jarak antara surga dan dunia itu adalah jarak antara kenyataan dan dongeng, yang makin tak ada bedanya, semakin jauh tapi semakin dekat saja, yang semakin samar dan semakin nyata.

d. Jarak antara surga dan dunia itu sepanjang perjalanan doa, yang oleh Adam diukur dengan harapan yang ia tengadahkan ke langit, yang kosong dan sepi, karena Tuhan menjawab dengan diam dan dengan begitu kini Dia mencintai dan menguji.

10. Apakah yang terjadi atau yang tak terjadi; yang kau persiapkan dan yang tak kau persiapkan untukku ketika hari itu tiba pada suatu hari nanti?

a. Yang terjadi adalah jazadku tak ada lagi, tapi ada yang akan tetap ada menemanimu di larik-larik sebuah sajak dan menemanimu, karena aku tak rela kau sendiri.

b. Yang terjadi adalah suaraku pun tak terdengar lagi, tapi akan tetap ada yang bernyanyi di antara bait-bait sajak dan menenangkanmu meski kau tersesat sendiri di taman itu.

c. Yang terjadi adalah impianku tak dikenal lagi, tapi di antara huruf-huruf sebuah sajak ada aku yang letih mencari, apa yang belum kutemukan dalam diriku dan dalam dirimu.

d. Yang terjadi adalah kau tak mengenali aku lagi tapi merasa mengenal siapa yang menulis sajak untukmu yang tak pernah bosan kau baca meski tak kau mengerti maknanya, sajak yang kutulis untukmu itu.

Iklan

Terbayang-bayang Rumah Gadang

: Kuyut

ENGKAU yang menunjuk ke sudut, dan
mengatakan: itulah dulu kamarku…
ruang yang tak lagi perlu kau masuki
karena telah berjajar genjang bingkai
jendela, permainan gambar matahari
siang, dan halaman lapang melepasmu
liar dan terbang.

Engkau yang menuju jenjang ke belakang,
karena begitulah lelaki pergi, setelah
mencium tangan ibu, menghirup aroma doa,
santan susu, buih peluh, kecoh kenangan
yang senantiasa minta ditarikan, di jalan
lurus dan berbelok, juga yang menurun
dan mendaki.

Engkau yang mengingat bayangan tahun,
1930, dan kembang api mekar pada dapur
yang dekat, dan lapar yang dipersunting
lebih dekat lagi, dan engkau yang menunjuk
pada teras, dengan tempat duduk untuk
para tamu-tamu dekatmu, yang kau terima
sebagai dirimu yang jauh darimu.

Beberapa Soal Ujian Nasional Mata Pelajaran Kesetiaan yang Diam-diam Kuikuti tanpa Sepengetahuan Engkau

: Sapardi Djoko Damono

1. JIKA harus memilih cara lain untuk mencintai kekasihmu dengan sederhana, manakah yang akan engkau pilih?

a. Dengan sapaan yang tak jadi diucapkan kasir Indomaret kepada pelanggan yang hanya ingin mengecek saldo tabungannnya di ATM BCA.

b. Dengan kalimat yang ditahan penjaga toilet di pasar tradisional untuk seorang waria yang bayar Rp.2.000 setelah berak dan mandi lama sekali di toilet pria.

c. Dengan kalimat indah yang tak bisa kuingat yang kuucapkan kepadamu di dalam mimpiku semalam dan kamu tersenyum manis sekali setelah mendengar kalimat itu.

d. Dengan nama kekasih yang dituliskan oleh seorang barista pada gelas kopi agar ada alasan ia memanggil nama itu meskipun kekasihnya tak ada di sana dan tentu tak memesan apa-apa.

2. Apakah ada alasan lain bagimu untuk senantiasa mendoakan kekasihmu selain karena engkau mencintainya meskipun ia bukan lagi kekasihmu?

a. Aku mendoakan dia karena dia adalah kelelawar yang berkembang biak dan hatiku adalah gua yang menikmati siksa dari jerit menjelang senja dan gema-gema yang mempertebal rasa sakit itu.

b. Aku mendoakan dia sebagai pohon nyiur di pantai yang condong tapi tak tumbang dan dia adalah ombak yang tak berhenti menghantam dan yang dulu mendamparkanku di pantai itu.

c. Aku mendoakan dia seperti penjual kue putu yang membunyikan piul kecil di sepanjang gang dan berharap dia mendengar dan membayangkan harum pandan dan manis gula jawa yang dulu sering kami nikmati bersama.

d. Aku mendoakan dia seperti rasa syukur ketika menerima gaji pertama dan cinta adalah apa yang kusisihkan untuk anak-anak panti asuhan, mereka yang mengajarkan padaku bagaimana cara menemukan banyak hal dari sebuah kehilangan.

3. Apa yang engkau pesan apabila engkau bertemu lagi dengannya di restoran di mana engkau dan dia dulu bisa menerima sebuah perpisahan dengan alasan yang tak bisa diterima?

a. Aku akan memesan gelas kosong dan sekantong teh Sariwangi. Karena aku yakin bahwa aku akan menangis dan mungkin dia juga akan menangis meniru tangisanku.

b. Aku akan memesan tempat duduk di dekat jendela kaca, dan berharap hujan turun selebat-lebatnya, agar dia terlambat datang dan aku punya waktu lebih banyak untuk membenahi perasaanku sendiri.

c. Aku memesan televisi yang dipasang pada kanal berita yang menyiarkan langsung kabar para pengungsi agar dia tahu begitulah keadaanku setelah bencana perpisahan yang dia timbulkan dulu.

d. Aku memesan apa saja yang dia pesan. Mungkin ia sudah tahu apa arti ilalang, bunga rumput, batu di tengah sungai, rasa lapar, dan rasa sakit, dan akan memesannya untuk merayakan pertemuan yang entah itu.

4. Apakah ada lagi yang masih mengalir, menggenang, meriak, yang ingin kau beri nama, yang membuat hidupmu indah, dan karena itu kau ingin menangis sepuas-puasnya?

a. Tentu saja ada. Yaitu kenangan yang panjang, rindu namanya. Yaitu rindu yang parah, doa namanya. Yaitu doa yang dirahasiakan, cinta namanya.

b. Tentu saja ada. Yaitu kehilangan yang fardu, dosa namanya. Yaitu dosa yang menunggu, surga namanya. Yaitu surga yang terbawa, cinta namanya.

c. Tentu saja ada. Yaitu masa kanak yang mentah, bahagia namanya. Yaitu bahagia yang rawan, ingin namanya. Yaitu ingin yang melepaskan, cinta namanya.

d. Tentu saja ada. Yaitu sepatu yang dilepaskan, letih namanya. Yaitu letih yang diteduhkan, rumah namanya. Yaitu rumah yang menunggu, cinta namaya.

5. Apa yang akan engkau katakan, jikalau Si Tuan itu mengetuk lagi pintumu pada suatu subuh dan kau tak menyangka bahwa Dia akan kembali kepadamu?

a. Saya akan menjawab: Tuan mencari Tuhan, bukan? Maaf, kami sedang sibuk berkemas untuk sebuah berpajalanan yang tak lagi membuat aku harus memastikan apakah aku sedang berada di dalam atau di luar.

b. Saya akan menjawab: Masuk saja, Tuan. Pintuku tak pernah kukunci. Dan aku selalu ada di dalam dirimu. Jadi buat apa aku harus mempersilakan Engkau lagi?

c. Saya akan menjawab: Tuan Tuhan, bukan? Kebetulan, saya hendak keluar. Tolong Tuan jaga rumahku. Jangan kemana-mana sampai saya kembali nanti, ya…

d. Saya akan menjawab: Tuan Tuhan, bukan? Sudah lama saya menunggu. Tapi, Tuan Tuhan, bukan? Kebetulan sudah lama saya ingin bertanya pada-Mu, siapa saya sesungguhnya…

Aku Lupa Rupanya Aku Tak Sedang Berada di Bali

: Erie Prasetyo

MAKA meliuklah aku dan malam itu
dengan jerit tangisan bocah, yang
mungkin takut pada suara peluru,
atau luka tusuk dari duri mawar itu

Maka, meliuklah, dan sisakan sedikit
sisa kesabaran, meliuklah, seperti
tangga, yang harus kunaiki sendiri,
yang mungkin menuju pada pelukmu.

Aku memang tak lagi ingin menunggu
seperti aku dahulu menunggu.

Hujan pagi hari, di sejuk gerbong,
mempermainkan aku dan kaca kereta,
di luar perjalanan, ia mengukur rel,
membubuhkan warna akuarel pada
hatiku, dengan dentang kecil bel,
dari sebuah stasiun yang tak bisa
berhenti.Pergi lagi. Dari secawan
mimpi ke sudut kusam sebuah bar.

Untuk sebuah pelukan lain darimu,
tubuhku terluka, tapi lenganku terbuka.

Jangan memandang aku seperti itu!

Beri saja mantel, atau kemeja flanel,
yang tak jadi kubeli di sebuah distro.

Tapi, ya, aku memang lupa, aku tidak
sedang berada di Bali. Di mana semua
bermula, dan berkali-kali ingin kuakhiri.

Yang Liar dan Yang Berdarah

BANYAK teman yang percaya berbagi cerita pada saya. Ceritanya kadang-kadang sangat personal. Saya menghormati kepercayaan mereka dengan menuliskannya menjadi puisi untuk mereka. Salah satunya Erie Prasetyo. Untuk dia, saya bahkan membayangkan sebuah novel biografis. Kami pernah membicarakan kemungkinan itu, tapi karena jarak dan waktu rencana itu masih tinggal sebagai rencana.  Puisi berikut ini, saya tulis 2011, mungkin bisa dianggap sebagai kisah pendahuluan dari rencana kami itu.

Lanjutkan membaca “Yang Liar dan Yang Berdarah”

Neoplasia

APAKAH ini adalah jawaban yang benar dari pertanyaanku?
Tak ada pertanyaan. Tak ada jawaban. Kita sudah berbicara
bergantian. Saling berkisah dan mendengarkan.

Waktu adalah sejenis jaringan lain pada tubuh kita
tumbuh liar dari sel tak dikenal, dan menular. Kita saling
menjangkiti. Menguji: siapa yang kebal, siapa yang rentan.