Mendekati (dan Menikmati) Puisi Sebagai Teks

WUJUD fisik puisi itu adalah teks. Menikmati dan mencintai puisi tak mesti harus memahami itu. Tapi, puisi bisa didekati lewat jalan itu, memasukinya sebagai sebagai sebuah medan teks.

Apakah teks? Dalam bahasa Inggris, kini teks juga berarti pesan lewat SMS. “Text me…” berarti kirimi saya SMS. Orang Inggris, karena memang dekat dengan sumber etimologi kata teks itu, menyebut SMS sebagai teks untuk membedakannya dengan pesan yang bisa disampaikan lewat lisan melalui gawai yang sama yaitu ponsel. “Call me…”, lawannya adalah “text me…”.

Konsep teks, text, textum (dari sini juga turun kata tekstil yang tersusun dari jaringan benang), jaringan, muncul menjadi perhatian manusia dalam konteks memahami bahasa. Benang jaringan teks bahasa itu adalah kata-kata.

Lalu pengertian teks itu meluas, menjadi apa saja yang bisa dibaca dan “dibaca”, rambu lalu lintas, iklan, bentuk bangunan, gambar, lukisan, hamparan alam, gaya berpakaian, gerak tubuh, batuknya Pak Harto, kerdip mata Sukarno, diamnya Bung Hatta, senyumnya Dian Sastro, jambulnya Syahrini, dll.

Apa yang menyamakan semua itu? Ada segugus tanda dan simbol, yang daripadanya bisa ditangkap suatu pesan. Itu!

Teks bahasa dimaknai lewat semantik, bagian dari linguistik, yang juga merupakan cabang dari semiotik, satu ilmu yang dikembangkan untuk “membaca” atau memaknai teks, termasuk yang bukan teks bahasa (tulis).

Kita berenang dalam lautan teks. Kita dikepung teks. Baliho, status FB, pesan WA, berita, tweet, email, blog, komentar, dan lain-lain. Tak pernah kita terlelap dalam samudera teks sedahsyat hari-hari ini. Duhai manusia, duhai homo signans, seberapa kuat kita mampu memaknai semua paparan teks semenderu ini? Apakah sebanyak itu teks harus hadir di ruang publik dan ruang privat kita manusia modern ini?

Ah, daripada mumet, mari kita nikmati teks puisi saja. Ya, puisi adalah teks. Yang bisa dinikmati. Nah, biar terasa sedikit ilmiah, saya ingin mengutip apa definisi teks. Benny H. Hood (Semiotik & Dinamika Sosial Budaya) memakai definisi ini: teks adalah satu satuan kebahasaan (verbal) yang mempunyai wujud dan isi, atau segi ekspresi dan segi isi.

Terbayang bukan bahwa puisi memang bisa didekati sebagai sebuah teks. Dalam puisi ada wujud fisik dan ruh. Ada bentuk dan isi. Ada cara ucap ada bahan yang hendak diucapkan.

Dari buku yang sama, kita dapat penjelasan bahwa untuk dapat disebut sebagai teks maka sebuah teks harus memenuhi unsur-unsur tekstualitas. Apa itu? Ada enam. Inilah dia:

1. Kohesi. Unsur-unsur pembentuknya mempunyai kaitan semantis, atau unsur pembangun makna. Penyair menjaga benar unsur ini, ketika ia menulis puisi. Antara lain dengan memilih diksi, membangun metafora, rima, ritme, pokoknya perangkat puitika itulah.

2. Koherensi. Segi isinya, sekali lagi isinya, dapat diterima karena memenuhi logika tekstual. Bukan hanya diterima. Tapi juga diterima dengan nikmat. Teks puisi harus menjanjikan kenikmatan tekstual. Dia harus istimewa dibanding teks bahasa biasa yang bukan puisi.

3. Intensionalitas. Ada intensi, ada tujuan. Ada udang-di-balik-batu-nya. Teks diproduksi dengan tujuan atau maksud tertentu. Puisi juga pasti mengandung itu. Penyair menulis puisi karena itu. Kalau tidak, dia tak akan menulis puisi. Meskipun tak selalu pembaca tahu dan tak perlu juga tahu apa tujuannya menulis puisi itu.

4. Keberterimaan. Teks berterima bagi masyarakat pembaca. Jika tidak, puisi sebagai teks, akan menjadi medan yang gelap, yang tertolak, yang tak diterima pembaca.

5. Intertekstualitas. Ada kaitan semantis dengan teks-teks yang lain. Nah, ini penting sekali dalam puisi. Goenawan Mohamad menyebutnya pasemon. Persemuan. Ada sesuatu yang dihadirkan, atau disusupkan ke dalam teks puisi, yang diam-diam membawa segugus teks dan makna lain. Ketika Chairil Anwar menulis “Ahasveros” dalam sajaknya, maka mitologi yang melibatkan nama itu, menjadi bagian dari makna puisi Chairil. Itu intertektualitas.

6. Informativitas. Ya, teks juga harus mengandung informasi dan pesan tertentu. Di dalam puisi, informasi apa yang menjadi latar belakang pencetus informasi itu tak terlalu penting lagi, lebur ke dalam lapisan-lapisan makna, berganda-ganda, membangun, terbangun dari ambiguitas unsur-unsur pembentuk puisi itu.

Nah, apakah penjelasan ini bikin puisi tampak menjadi semakin ribet? Maafkan, kalau begitu, dan lupakan saja. Kalau mau masih ada penjelasan yang lebih rumit. Puisi kok dilawan. Dekati dan terima puisi sebagai puisi saja. Kalau memang itu lebih nikmat untuk dilakukan.

Pantun Seribu Tentakel

genangan semangkuk sup
pada kedai seberang bengkel
kecemasan masuk menyusup
seperti seribu tentakel

belum beres reparasi vespa
seorang montir menggulung lengan
dia tak pernah punya apa-apa
tapi selalu seperti kehilangan

menguaplah aroma bawang
dan bau tumpahan oli bekas
dia berjaga di muara gawang
batu Sisifus terlepas lepas

Haiku adalah Kesaksian Saat Ini dan di Sini

Blue Guitar Fourth of July Instagram Post

 

retak tabung air:
aku baring terjaga
malam dingin ini.

– haiku Matsuo Basho.

DARI puisi bernama haiku kita belajar bahwa menulis adalah mencatatkan kesaksian. Karena itu, seorang penulis, apalagi penulis puisi, harus tahu benar bahwa ada proses yang harus ia lewati untuk sampai pada kesaksian itu.

Pertama, mengalami, artinya ada peristiwa yang datang atau yang diterima sebagai pengalaman.

Kedua, menyadari, artinya, peristiwa itu diterima dengan kesadaran, sepenuh-penuhnya. Yang tak melewati itu hanya akan berlalu tanpa jejak dalam pikiran dan terutama perasaan.

Ketiga, menghayati, artinya kita merenungkan, apa arti peristiwa itu bagi kita sebagai pribadi, kita sebagai bagian dari alam semesta, dan terutama kita sebagai manusia.

Haiku tradisional menggambarkan momen kesaksian, kesadaran, penghayatan itu dengan kata-kata ringkas, padat, yang membangkitkan rangsang inderawi.

Haiku itu, “Sederhana saja, apa yang terjadi di sini, saat ini,” kata Basho, dalam sebuah kutipan yang terkenal.

Sebuah kesaksian instan? Sebuah kesadaran spontan? Tanpa penghayatan dan permenungan? Di situlah tantangannya. Di situlah tuntutannya. Bila kita benar-benar ingin menjadi penulis puisi, hayatilah hidup, jalanilah hidup dengan sadar, sehingga setiap peritiwa yang datang pada kita, mampu kita maknai, seketika itu juga.

Dari haiku, dari maestronya Matsuo Basho, kita belajar hal itu. – h.a

 

#jejakhaiku #kelaskreatif #kelaspuisi #menuliskreatif #menulispuisi

Gerakan Puisi Imajis

GERAKAN Imajis melibatkan para penyair di Inggris dan Amerika pada awal Abad ke-20. Mereka menulis sajak bebas dan mempersembahkannya untuk “kejernihan ekspresi melalui pemakaian ketepatan imaji-imaji visual.”

Gerakan ini disemaikan dari ide T.E. Hulme, yang di awal tahun 1908 membahas pada sebuah Klub Puisi di London sebuah puisi yang ditulis berdasarkan penggambaran dengan akurat subyek setepat-tepatnya, tanpa ada kata-kata berlebihan yang tak berguna.

Ezra Pound memproklamasikan gerakan ini pada tahun 1912. Kala itu dia membaca sebuah sajak Hilda Doolittle, dan menyebutnya sebagai “H.D. Imagiste” lalu mengirimnya ke Harriet Monroe di Majalah Poetry.

Rukun iman pertama dari manifesto (lihat di akhir tulisan ini) Gerakan Imajis adalah “menggunakan bahasa dari bahasa yang umum, tapi selalu memberdayakan kata yang setepatnya kata, bukan kata yang hampir-tepat, bukan kata-kata dekoratif belaka.”

CONTOH yang kerap disebut adalah puisi Ezra Pound berikut ini:

Di Stasiun Metro

Di kerumun orang, wajah-wajah menyelinap hilang;
Basah kelopak kembang, di hitam cabang-cabang.

Sajak ini dimulai dari pemandangan wajah-wajah di statiun bawah tanah yang gelap lalu membawa pada pandangan lain dengan menyejajarkan dengan imaji yang lain. Dari situ hadir sebuah atau serangkai metafora yang membangkitkan penemuan intutitif yang tajam untuk meraih esensi kehidupan.

Ezra Pound mendefinisikan imaji sebagai “apa yang padanya, dalam waktu sekilas seketika, menghadirkan sebuah kompleksitas emosi dan intelektual”.

Puisi Imajis, dirumuskannya antara lain sebagai: puisi dengan memperlakukan langsung “sesuatu”, sebagai subyek atau obyek; dan mutlak menggunakan, tak satupun kata yang tak memberikan sumbangan makna.

Antoligi Puisi Imajis terbit 1914 berisi karya-karya William Carlos Williams, Richard Aldington, dan James Joyce, serta H.D. dan Pound. Penyair Imajis lainnya adalah F. S. Flint, D. H. Lawrence, dan John Gould Fletcher.

Setelah antologi itu terbit, Amy Lowell dipandang sebagai pemimpin gerakan tersebut. Tahun 1917 gerakan imajis dianggap sudah berakhir tetapi idenya terus memberi pengaruh menembus abad 20. Model Puisi Imajis, sadar atau tidak banyak mempengaruhi puisi-puisi karya penyair Indonesia.

Manifesto Imajis

  1. Menggunakan bahasa dari bahasa yang umum, tapi selalu memberdayakan kata yang setepatnya kata, bukan kata yang hampir-tepat, bukan kata-kata dekoratif belaka.
  2. Kami percaya bahwa individualitas penyair seringkali lebih baik diungkapkan dalam sajak bebas daripada dalam bentuk konvensional. Dalam puisi, ritme yang baru berarti gagasan baru.
  3. Kebebasan mutlak dalam pilihan subjek.
  4. Sajikan gambar yang nyata. Kami bukan satu aliran pelukis, tapi kami percaya bahwa puisi harus memberikan gambaran yang tepat dan tidak berurusan dengan generalisasi yang tidak jelas, betapapun indah dan nyaringnya. Untuk alasan ini kami menentang penyair kosmis, yang bagi kami tampaknya hanya untuk menghindar dari sesuatu yang sebenarnya adalah masalah dalam karya mereka.
  5. Menghasilkan puisi yang tegas dan jelas, tidak pernah kabur atau tak terdefinisikan.
  6. Akhirnya, kebanyakan dari kami percaya bahwa konsentrasi adalah hal yang esensi terpenting dalam puisi.