10 Jejak (Pemikiran) Chairil

  • Save

1. Mendurhaka pada Kata
Sekarang: Hoppla! Lompatan yang sejauhnya, penuh kedara-remajaan bagi Negara remaja ini. Sesudah masa mendurhaka pada Kata kita lupa bahwa Kata adalah yang menjalar mengurat, hidup dari masa ke masa, terisi padu dengan penghargaan, Mimpi, Pengharapan, Cinta dan dendam manusia. Kata ialah Kebenaran!!! Bahwa kata tak membudak pada dua majikan, bahwa kata ialah These sendiri!!!

– Chairil Anwar dalam “Hoppla”, dalam Pembangunan, No. 1, Thn. I, 10 Desember 1945)

2. Perintis Jalan
Tiap seniman harus seorang perintis jalan, adik. Penuh keberanian, tenaga hidup. Tidak segan memasuki hutan rimba penuh binatang-binatang buas, mengarungi lautan lebar-tak-bertepi, seniman adalah dari hidup yang melepas-bebas.

Jangan pula menceraikan diri dari penghidupan, bersendiri!

Bukan, bukan, sekali-kali bukan! Mungkin yang begini akibatnya mati sendiri, dan tak ada yang akan menguburkan. Hanya kemauan, inti hidup, itu yang merdeka.

– Chairil Anwar dari “Pidato 1943”, diucapkan di muka Angkatan Baru Pusat Kebudayaan, 7 Juli 1943.


3. Pemain Lagu Kehidupan
Kita pemain dari lagu kehidupan, membikin kita selamanya lurus berterang. Karena keberanian, kesedaran, kepercayaan dan pengetahuan kita punya. Kita tegas pula, Ida. Kita hidup sekarang dalam 1000 km sejam!

Tegas dan pendek bukan tidak berisi, tidak! Dalam kalimat kecil seperti: Sekali berarti sudah itu mati – kita bisa jalin-anyamkan seluruh tujuan hidup kita.

Jadi tegas, bukan kosong. Tidak, tidak lupa aku, Ida, mana boleh.

– Chairil Anwar dari “Pidato 1943”, diucapkan di muka Angkatan Baru Pusat Kebudayaan, 7 Juli 1943.


4. Pemeriksa yang Cermat

Pujangga muda akan datang musti, pemeriksa yang cermat, pengupas pengikis sampai ke saripati sesuatu. Segalanya, segalanya sampai ke tangannya dan merasai gores-bedahan pisaunya yang berkilat-kilat. Segalanya! Juga pohon-pohon beringin keramat yang hingga kini tidak boleh didekati!!!

Tapi pujangga di masa akan datang – pujangga sejati! Memanjatnya, dan memotong cabang-cabang yang merindang merimbun tak perlu….

Sudah berdesing-desing di kuping dahsat-hebat suara meneriakan: Berhenti! Berhenti!
Hai, Perusak, Peruntuh!!!

Aku berani memasuki rumah suci hingga ke ruang tengah! Tidak tinggal di pekarangan saja.

– Chairil Anwar, dari “Pidato 1943”, diucapkan di muka Angkatan Baru Pusat Kebudayaan, 7 Juli 1943.


5. Wahyu, Impropisator, Seni-Cipta
Wahyu dan wahyu ada dua. Tidak tiap yang menggetarkan kalbu, wahyu yang sebenarnya.
Kita musti bisa menimbang, memilih, mengupas dan kadang-kadang sama sekali membuang. Sudah itu baru mengumpul-satukan.
Jika kerja setengah-setengah saja, mungkin satu waktu nanti kita jadi impropisator. Sungguhpun impropisator besar!
Tapi hasil seni impropisasi tetap jauh di bawah dan rendah dari hasil seni-cipta.

– Chairil Anwar, dari “Pidato 1943”, diucapkan di muka Angkatan Baru Pusat Kebudayaan, 7 Juli 1943.


6. Sajak yang Berarti

Sebuah sajak, sebuah hasil kesenian menjadi penting dan berarti bukanlah karena panjangnya atau pendeknya, tetapi adalah karena tingkatnya, kadarnya (gehalte).
Yang menentukan ini adalah dalamnya (karena ketinggiannya, keluasannya, jauhnya) penglihatan, kupasan, pandangan si seniman tadi dalam menyatukan, memadukan suasana, kehidupan dan tokoh (gestalte).

– Chairil Anwar, Pidato Radio 1946.


7. Sajak yang Menjadi

Sebuah sajak yang menjadi adalah suatu dunia. Dunia yang dijadikan, diciptakan kembali oleh si penyair. Diciptakannya kembali, dibentukkannya dari benda (materi) dan rohani, keadaan (ideeel dan visueel) alam dan penghidupan sekelilingnya, dia juga mendapat bahan dari hasil-hasil kesenian lain yang berarti bagi dia, berhubungan jiwa dengan dia, dari pikiran-pikiran dan pendapat-pendapat orang lain, segala yang masuk dalam bayangannya (verbeelding), anasir-anasir atau unsur-unsur yang sudah ada dijadikannya, dihubungkannya satu sama lain, dikawinkannya menjadi suatu kesatuan yang penuh (indah serta mengharukan) dan baru, suatu dunia baru, dunia kepunyaan penyair itu sendiri.

– Chairil Anwar, Pidato Radio 1946.


8. Perkakas Bahan Bahasa
Perkakas-perkakas yang bisa dipakai oleh di penyair untuk menyatakan, adalah bahan-bahan bahasa, yang dipakainya dengan cara intuitif. Dengan “memakaikan” tinggi-rendah dia bisa mencapai suatu keteraturan, dan dalam keteraturan ini diusahakannya variasi: irama dari sajaknya dipakainya sebagai perkakas untuk menyatakan. Lagu dari kata-katanya bisa pula dibentuknya sehingga bahasanya menjadi berat dan lamban atau menjadi cepat dan ringan.
– Chairil Anwar, “Membuat Sajak Melihat Lukisan”, Internasional, No. 8, Juni 1949.


9. Yang Penting Bukan Bahan yang Dipakai Tapi Hasil yang Dicapai

Sajak terbentuk dari kata-kata, seperti juga sebuah lukisan dari cat & sehelai kain, atau sebuah patung dari pualam, lempung, dsb. Tapi mereka yang mengalami keterharuan ketika melihat suatu lukisan atau sebuah patung, tidak akan menganggap kwalitas cat & kain atau batu pualam sebagai soal yang penting, soal yang pokok. Bukanlah bahan-bahan yang dipakai yang penting, yang penting adalah hasil yang dicapai.
– Chairil Anwar dalam “Membuat Sajak Melihat Lukisan”, 1949.



10. Memilih Kata, Membentuk Kalimat: Sesuatu Sajak
Dia bisa memilih kata-kata yang hubungan-kata yang tersendiri, ditimbang dengan saksama atau kata-kata ini menyatakan apa yang dimaksudnya. Bentuk kalimatnya dibikinnya menyimpang dari biasa, dengan begitu mengemukakan dengan lebih halus, lebih pelik apa yang hidup dalam jiwanya.

Dengan irama dan lagu, dengan bentuk kalimat dan pilihan kata yang tersendiri dan dengan perbandingan-perbandingan si penyair menciptakan sajaknya dan hanya jika pembaca sanggup memperhatikan dengan teliti “keistimewaan” yang dicapai oleh penyair, bisalah si pembaca mengertikan dan merasakan sesuatu sajak dengan sepenuhnya.

– Chairil Anwar dalam “Membuat Sajak Melihat Lukisan”, 1949

Baca juga
Membayangkan Li-Young Lee, Penyair Amerika Kelahiran Jakarta Itu Baca Sajak di @america
Membayangkan Li-Young Lee, Penyair Amerika Kelahiran Jakarta Itu Baca Sajak di @america

Li-Young Lee. (Foto dari Poetry Foundation) UNTUK pertama kalinya selama tiga tahun tinggal di Jakarta, siang Baca

Budi Darma: Sublimitas dan Kontemplativitas Puisi
  • Save

Oleh Hasan Aspahani ADA puisi-suasana, ada puisi-cerita. Saya kira keduanya adalah istilah yang khas dan paling cocok untuk melihat perkembangan Baca

Memadatkan Bahasa: Maka Maknanya Makin Bertambah-tambah
Memadatkan Bahasa: Maka Maknanya Makin Bertambah-tambah

Oleh Hasan Aspahani SEJAK kapan pengarang Indonesia punya kesadaran untuk memadatkan bahasa, dalam arti menulis dalam bahasa yang sebaik-baiknya, seringkas-ringkasnya, Baca

Berkata Apa Remy Sylado di Podium Musyawarah Sastra Indonesia 2016?
Berkata Apa Remy Sylado di Podium Musyawarah Sastra Indonesia 2016?

Antara lain dia berkata: ....saya ingin memberi saran kepada Badan Bahasa – dipedulikan syukur, tak dihirau itu biasa bagi pegawai Baca

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Share via
Copy link
Powered by Social Snap