Halo, Kay!

  • Save

FOTO-FOTO dulu
di dinding itu,
membuat dia bertanya
pada masa lalunya,
yang tak ada lagi
di dalam dirinya,
“apakah aku pernah
berbahagia
bersamanya?”

Dia ketakutan sejak
memasuki ruang kerja itu,
sejak dia menutup pintu.

Tapi dia memang
tidak datang
untuk masa lalu,
ia datang
untuk masa depan
anak-anaknya,
anak Michael yang
tumbuh jauh dari ayahnya,
tumbuh bersamanya.

“Halo, Kay!
Kamu cantik,” kata
Michael, dan Kay
ketakutan, sejak
ia keluar dari
ruang kerja itu, dulu,
dan Michael
menutup pintu.

Setelah tahun ke-8
sejak perpisahan itu,
setelah sepucuk surat
untuk sebuah seremoni
(yang palsu dan
memalukan itu)
Michael menyapanya,
“Halo, Kay…”
Pintu pun ditutup,
di luar Johny Fontaine
bernyanyi, mengecup
tangan Mary, dan
di antara mereka
trauma meruang
dan percakapan itu
nyaris gagal
dan buntu.

Tapi ia memang
tidak datang
untuk masa lalu,
ia datang
untuk masa depan,
Mary dan terutama
Anthony.

“Selesaikan apa
yang kau mulai, Anthony,”
kata Michael.
“Tidak, aku tak akan
jadi ahli hukum, dan
aku tak akan bekerja
untukmu. Aku
ingin jadi penyanyi,”
kata Anthony.

Ayah dan anak,
sepasang kata tidak,
dua hati yang keras hati,
dua kepala yang keras kepala,
telah menyatakan diri,
tegas saling tolak.

Michael terduduk,
dan Anthony bertolak.
“Bertahun-tahun, aku
lindungi anak-anakku,
dan keluargaku, dari
kengerian dunia ini,”
kata Michael.

“Tapi kaulah ketakutanku,
kaulah sumber kengerianku,
Michael,” ujar Kay gentar,
takut dan ngeri,
“anakmu menanggung
trauma itu, setelah dia tahu,
kaulah yang membunuh
pamannya: Fredo!”
“Halo, Kay!” kata Michael
setelah tahun ke-8,
perpisahan itu, seakan
apa kabar yang ragu.
Kay tak menjawab
(kabarnya tak baik-baik saja,
jika dia memang ingin
menjawab basa-basi itu).

Michael yang menua,
seperti dirinya, kini
kian berkuasa, dan
kian menakutkan baginya.

Kay pernah bisa
menerima lelaki itu,
dulu, sebagai penjahat
mentah dari keluarga
mafia yang melemah,
yang tak pernah bisa
ia pahami, (tapi dia ingat
pernah bahagia bersamanya),
bersama kelaki yang dulu
dia terima sebagai
prajurit hijau,
sebagai si bungsu
yang menatapnya
dengan teduh
dan penuh.

“Halo, Kay…”

“Anak-anak tetaplah
anak-anakmu, Michael,
mereka selalu
mencintaimu…”

(2022)

Baca juga
Dia Mendengar Kalimat Itu di Mana-mana
  • Save

DIA mendengarkalimat itu di mana-manadi ruang kerja ayahnya,di tengah pertengkaran keluarga,di meja restorandari mulut seseorangyang baru sajamemerintahkanpembunuhan,juga dalam perundingandi Vatikan. Baca

Tampar Aku Sekali Lagi, McCluskey
  • Save

SUARA anjingdan tangis bayisuara keretadi rel yang dekatyang kian mendekatmenabrak sunyiyang tak terhalangi. Suara tembakanbeberapa kali. Dia ingatpanduan Clemenza:tembak tepat Baca

Di Hadapan Jenazah Santino
  • Save

KETIKA dia terbaringdengan punggung hancurkarena hujan peluru,pada malam itu, merekamembantai Santino. "Lihat, bagaimanamereka membunuh anakku,"katanya kepada Bonasera. Si perias jenazah Baca

Matinya Vito Corleone
  • Save

BERAPA kalidia harus matisebelumbenar-benar mati?Peluru (dari senapanpemburu di Sisilia,atau mulut-mulut senjatapara pembunuh suruhandi seberang kedai buah)tak bisamemastikannya. Vito Corleone matisebagai Baca

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Share via
Copy link
Powered by Social Snap