Aku Membonceng di Sepedamu

: Tjak S. Parlan.

AKU sedang membonceng di sepedamu.

Aku bocah yang lupa di mana
terakhir kali kutinggalkan sepedaku.

“Mari kita cari,” katamu.

Lalu aku membonceng di sepedamu.

Kau mengayuh dengan woles
sambil bersiul-siul lagu Koes Plus
tapi sepedamu seperti
membawaku terbang
kulihat ada seribu kaki
membantumu mengengkol pedal itu.

Sesekali kau kring-kringkan lonceng
memberi peringatan pada kenangan
yang ceroboh: tiba-tiba saja
hendak menyeberang
ke sembarang seberang.

Aku bocah yang sebenarnya
sudah lama kehilangan sepeda.

Aku kini membonceng di sepedamu.

Kau membawaku ke sebuah lapangan,
ramai banget anak-anak bermain di sana.

Ada seorang sedang belajar sepeda
berikhtiar keras menyeimbangkan diri
tangan pada setang
kaki pada pedal, dan
palang di tengah sepeda besar itu
menghalangi tubuhnya
yang tak sampai ke sadel.

Ia seperti tergantung.

“Apakah itu kamu dan itu sepedamu?” tanyamu.

Aku belum sempat menjawab
ketika sepeda besar itu rebah
dan aku tertimpa gelagat kehilangan
: simpaian jarak yang melingkar
semakin lebar.

Aku bocah yang sudah lama
ditinggalkan dan meninggalkan
sepeda yang dulu
pernah kupunya.

Aku senang sekali pada sepedamu.

Aku senang bisa ikut membonceng
di belakang sepedamu.

(2021)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s