Imajinasi

ADA seorang lelaki
pamit keluar dari kepalaku
ia mau mencari pohon
dan hendak menggali sumur
di bawahnya.

Beberapa ekor kodok
melompat keluar
dari layar telepon pintarku
mengikuti si lelaki tadi
mungkin karena mendengar
kata sumur itu.

Diam-diam
aku mengikuti mereka.

Si lelaki menemukan
sebatang pohon yang rindang,
pohon yang dulu kutanam
dari benih yang kutemukan
dalam mimpiku.

Setelah digali
setinggi badan
sumur itu tak juga
sampai pada mata air,
si lelaki menemukan beberapa
batu permata warna-warni,
pelangi yang telah membatu.

Kepada lelaki yang
sedang menggali itu
aku katakan mungkin
dia harus memancing air
dengan tangisan.

“Ada kampung di dekat sini
mereka pandai menangis,
mugkin air mata mereka
bisa mengundang mata air,
di sumur yang kau gali itu,”
kataku.

“Aku sudah tahu,” kata
lelaki itu, “dulu aku
tinggal di kampung itu.”

“Tapi, kini mereka
profesional, mereka
menjual air mata,
Rp500 ribu per orang
setiap kali menangis.”

Kodok-kodok tadi
tertawa terbahak-bahak
mendengar percakapan kami,
tertawa sampai mereka mati.

Si lelaki tadi menghilang,
mungkin dia tersinggung
karena ditertawakan
oleh kodok-kodok itu.

Aku lalu menguburkan
kodok-kodok tadi
di sumur yang tak berait itu,
lalu kukumpulkan dan
kubawa pulang permata
warna-warni, pelangi
yang menjadi batu itu.

Permata itu kusimpan
dalam sebuah poci,
di dalamnya kulihat
kodok-kodok tadi
berenang, kawin,
beranak, dan bermain
dengan gerimis.

(2021)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s