Menelusuri Sungai Raden

SUNGAI kecil ini
sejak dahulu
selalu terancam buntu
aliran lumpur dari pasang laut
dan endapan hujan dari gunung
mendangkal bersama waktu
yang kadang terasa amat lambat
(mungkin karena aku belum bisa sabar)
tapi kerap sangat buru-buru
(pasti karena aku lengah menunggu).

“Tapi jangan kau terlalu cemas,”
kata sungai kecil itu,
“bukankah aku telah mengajarimu berenang?
Maka lemparkan saja semua
seperti menghanyutkan panen kelapa
selagi arus menderas ke muara,
Haji Darwis sedang menunggu,
Julak Jakar dan teman-temannya
telah menajak tunggul kukuyak.”

*

Jalan lurus ini
tak lagi hanya membawa
orang pulang pergi bekerja
dengan keringat membasahi baju tilasan
dan pupur dingin tebal
di wajah dan lengan
setelah tiang dan kabel listrik
dan lapisan semen pada jalan.

Orang kampung pergi dan kembali
membawa masa lalu ke masa depan
membawa masa depan ke masa lalu
seperindukan itik japun
berenang riang ke seberang
sambil mematuki ikan-ikan kecil
di dekat pintu air
Haji Ridwan menebang pisang sanggar
Ayahku memperbaiki lanjung rotan.

*

Ada jembatan ulin ke seberang
bila kuikuti itu
maka ingatanku akan tumbuh
bersama pohon kuini besar itu
yang apabila tiba musimnya
akan menjatuhkan satu per satu buahnya.

Begitulah kenangan
benih liar yang kita lempar
setelah kita nikmati segala peristiwa
yang manis dan yang masam
lalu tiba-tiba telah sedemikian besar
lingkar batangnya
dan kita tak perlu memanjatnya.

*

Kita kembali dulu
ke muaranya muara itu
dengan garis pantai yang dulu jauh
yang telah tidak ada karena
laut yang semakin dekat,
semakin mendekat.

Rumah-rumah dengan tiang tinggi
di bawahnya perahu ditambatkan
pelantar penuh tumpukan tali
dan jaring rengge
aroma ikan yang membusuk dan mengering
yang tak sempat dilepaskan.

Kita kembali dulu
untuk memastikan bahwa
waktu hanya memberi satu pilihan
hanya ada sekali kesempatan dan
kita telah kehilangan semua itu.

*

Dan Sungai Raden
adalah hamparan kebun kelapa
harapan yang selalu tumbuh
yang menua, yang kelak tumbang
dan yang harus ditanam ulang.

Mungkin tak akan
ada lagi anak lelaki
yang mahir menjerat buburak
dan memerangkap keruang,
tak ada lagi yang mencari
cabang lurus pohon kopi
untuk tongkat pramukanya,
tak ada lagi anak perempuan
yang mencari jamur yang tumbuh
di pangkal handayang
yang memetik biji jali
yang hendak ia rangkai menjadi
kalung untuk kucing kesayangan.

Tapi Sungai Raden
adalah teduh pohon kelapa
hingar-bingar suara hihirangan
tupai berkejaran, gagak bersahutan,
dan suara azan zuhur Busu Gani
dari Masjid Sirajuddin
masih saja seperti itu
tetap saja seperti itu
seperti dulu ketika aku
yang terlalu mencintainya
hendak menguji seberapa kuat
dan sebarapa jauh aku mampu
pergi meninggalkannya.

(2021)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s