Kepala Kampung Kami

KEPALA kampung kami
adalah ayah yang sabar
ia berpidato dengan
bahasa yang rapi,
tertib, dan teratur,
setiap kata seakan
dipertimbangkan
dengan hati-hati,
kami anak-anaknya,
mendengarkannya
dengan keyakinan bahwa
tak ada masalah
di kampung kami yang
tak bisa ia atasi,
semua ia bereskan
dari meja kerjanya,
kantor dengan pohon
hampalam besar di halamannya,
bangunan kayu yang
tenang dan sederhana.

Kepala kampung kami
adalah guru yang
kami hormati, ia tak
hanya pintar dan terampil
dengan administrasi pemerintahan
tapi juga khatib yang
dengan tongkat dan surban
berkhotbah di atas mimbar,
dan kami murid-muridnya
yang menyimak takzim,
memanggilnya dengan kata guru
di hadapan namanya,
bukan pak kades atau pak lurah,
dan dia tampaknya
lebih bahagia disapa
dengan cara itu.

Kepala kampung kami
menyambut warganya
dari kelahiran hingga
mengantarnya sampai
ke pemakaman, meskipun
ia telah lama tak
memakai kemeja safari,
seragam pegawai negeri,
dan tak lagi mengendarai
sepeda motor dinasnya
yang dengan gagah
mengantarnya bertugas
ke mana-mana, ke seluruh
pelosok kampung kami.

Ketika ibuku meninggal,
dia membacakan talkin
dan menyampaikan
khutbah kematian,
janggutnya panjang dan putih,
jubahnya panjang dan putih,
surbannya panjang dan putih,
bingkai kacamatanya hitam,
dengan lensa yang makin tebal,
kacamata yang membuatnya
melihat jauh ke masa lalu
dan masa kini dalam lanskap
yang panjang meskipun
perlahan juga memutih,
tapi-tapi kata-katanya
yang kadang terdengar bergetar
selalu jernih, tertib, dan teratur,
dan dengan fasih ia membaca doa.

Aku yakin ibuku – seperti
siapa saja warga yang ia
pimpin penguburannya
di pemakaman umum desa,
yang bersama-sama
kami turunkan ke liang lahat itu
tersenyum mendengar
doa yang dia bacakan,
paham nasihat kematian
yang ia sampaikan dan
kami serentak mengaminkannya.

2021

Baca juga
7 Sajak
  • Save

Maafkan Mereka Maafkan aku, kata batu kepada sungai yang merasa selama ini selalu menghalangi-halangi air yang mengalir padanya. Maafkan aku, Baca

Elegi bagi Dewi Venus
Elegi bagi Dewi Venus

(setelah mendengarkan Freddy Tamaela) YANG paling menyiksa adalah bayangan(aku tahu itu setelah aku tak bisamengusir engkau dari alam anganku) Kini Baca

Gagal Paham
Gagal Paham

AKULAH juru bicara bagi kesunyianku yang gagal paham pada tugasku sendiri. Padamu aku bicara, selalu bicara tentang sesuatu yang tak Baca

Puisi yang Prosais, Prosa yang Puitis
Puisi yang Prosais, Prosa yang Puitis

PADA mulanya tidak ada beda dan pemisahan antara prosa dan puisi itu. Cerita disampaikan dalam sebuah bentuk yang sama yaitu Baca

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Share via
Copy link
Powered by Social Snap