Ada Sandiwara di Balai Desa

WAKTU mengajak
segalanya berubah
tanpa terlebih dahulu
menanyakan kesediaan kita
tapi ada yang akan tetap
selamanya sebagai
apa yang semula ada.

Misalnya, kepak burung kekek
melintasi ingatan dengan lekas
dan setelahnya suara bilatuk
di batang kelapa yang tinggi.

Dulu aku selalu menemukannya
setiap kali pulang sekolah
menyimpang ke arah empang
menyusuri pematang panjang
belakang rumah kepala kampung.

Atau bila aku lewat
di depan rumah itu,
rumah kawan sekolahku itu,
aku akan melihat
pesawat terbang kayu
dan antena televisi
pada tiang yang tinggi.

Setelah itu
ada balai desa
pernah ada pertunjukan
sandiwara di situ,
sekelompok trubadur
menggelar cerita dari
kampung ke kampung.

Berulang malam pertunjukan,
tapi aku tak menontonnya.

Dari luar kudengar
seperti adegan pertengkaran,
piring pecah, juga
anak-anak menangis.

Teman sekolahku itu,
aku kira dia menontonnya,
mungkin bersama ibu dan ayahnya,
di kursi paling depan,
aku ingin sekali
bertanya padanya,
tapi kukira dia
tak akan mau menceritakan
kisah yang dia saksikan
di panggung kayu papan
balai desa itu.

Beberapa waktu berlalu,
panggung itu masih di situ
tapi tak pernah lagi ada
kelompok sandiwara singgah.

Aku suka berdiri di sana
membayangkan cerita apa
yang sedang dimainkan
dan lakon apa
yang bisa aku perankan.

Di halaman balai desa
lalu menjalar lebat
semak balaran,
di belakangnya
belukar jeruju.

Waktu memang mengubah
segalanya tanpa menunggu
kesiapan kita
tapi ada yang ia biarkan
tak terlupakan meski tak lagi
sama sebagai
apa yang semula ada.

(2021)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s