Beberapa Pagi di Rumah Haji Jatta

DI pagi Idulfitri
Haji Jatta berseru memanggil kami
sarapan di dapurnya
di depan hangat tungku
dengan sepotong kue apam
dan teh vanili
lalu dia bekali kami
dengan sepiring tapai ketan
yang manisnya matang
yang nanti kami santap
sehabis sembahyang.

Di pagi berikutnya
pada hari-hari biasa
istrinya menunggu pedagang ikan
datang bersepeda
dari Senipah atau Kuala
seekor ikan besar dan segar
turun dari keranjang
lalu di samping sumur besar
ia bersihkan sisiknya
ia belah perutnya
ia sisihkan telurnya
ia potong-potong seukuran
pas untuk digoreng atau masak berkuah
lalu membagi-baginya
dalam tumpukan-tumpukan sama bagian
untuk para tetangga
yang ikut urunan.

Di pagi seterusnya
Haji Jatta sering mencegatku
singgah di terasnya
kami bertetangga
berjarak hanya satu rumah
lalu dia memilih kue yang kubawa
(dia paling suka kue sarimuka
atau amparan tatak, pokoknya
kue yang dikukus pada talam,
kue manis dengan gurih santan)
kujual padanya dengan harga setoran
seperlima bagian lebih murah
daripada bila ia beli
di kedai kopi.

Di pagi lainnya
datang berkarung-karung barang
dibawa kerabatnya pedagang
kain dari Banjarmasin
rumah Haji Jatta
berubah menjadi toko pakaian,
kami datang membeli
baju kami pakai harian,
daster dan gordin, atau
kain tilai untuk kelambu,
sarung, peci, serta seragam,
juga membeli mangir tanjung
dan bedak dingin.

(2021)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s