Kamar Kerja Paman Mawi

PAMAN Mawi adalah ayahku yang kedua
tapi mungkin dia musuhku yang pertama.

Aku sering menyelinap ke ruang kerjanya
dan mengacaukan buku-buku di mejanya,
(untuk membaca buku-buku itu, aku rela
menghadapi risiko apa saja, misalnya
kupingku akan dijewernya, tapi itu
pun tak pernah ia lakukan padaku).

Dia marah tapi padaku dia tak bisa marah.

Nanti acilku akan mengadu ke mamaku
dan mamaku memarahi aku, “pamanmu marah,
kamu berani-beraninya membaca buku-bukunya,
tak ada yang pernah berani melakukan itu.”

Dia marah tapi padaku dia tak pernah marah.

Karena aku selalu membantunya bertukang,
membuat lemari, ranjang, kursi, meja makan,
atau rak buku, atau para-para kembang.

Aku membantunya memegang balok atau papan
ketika ia menggergajinya, aku membantunya
mengambilkan perkakas yang ia butuhkan.

Paman Mawi adalah tukang yang terampil.

Rumahnya ia bangun sendiri, setelah
jam-jam mengajar di sebuah sekolah dasar.
Paman Mawi seorang guru yang sangat
disegani, lulusan terbaik SGB.

“Aku hanya ingin murid-muridku berani,
rajin, dan pintar,” katanya padaku, ketika
aku bertanya, kenapa dia tak marah
dicap sebagai guru killer, waktu itu
kami sedang membuat papan tulis
dengan papan dan cat terbaik, bukan
triplek tipis dari kontraktor memasok
barang murahan, yang kerja asal-asalan.

Paman Mawi mengajar di sekolah yang
bukan SD-ku, sekolah proyek Inpres,
dan dia bahagia mengajar di sana,
meskipun tak pernah suka pada foto
presiden yang tak pernah berganti itu.

*

Di kamar kerja Paman Mawi ada poster besar
Presiden Sukarno dan John F. Kennedy, dan
tanda tangan kedua orang itu. “Dua tokoh
besar,” katanya. Juga ada gambar partai
kepala banteng dalam bingkai segi lima,
dengan warna merah pada latar.

Aku kira itulah rahasianya. Itulah sisa
perlawanannya. Ketika penguasa mewajibkan
seluruh pegawai ikut penataran – yang
artinya penyeragaman – Paman Mawi tak lagi
memasang lambang partai itu di pintu rumahnya.

Di meja kerja Paman Mawi di rumahnya, ada
satu set buku “30 Tahun Indonesia Merdeka”,
buku pembagian negara untuk proyek
pengadaan bacaan sekolah dasar.

Paman Mawi mengajar sejarah, tapi empat jilid
buku keberhasilan rezim penguasa itu baginya
cuma omong kosong, cuma dusta yang ia malas
membacanya, apalagi mengajarkannya.

Paman Mawi adalah ayahku yang kedua,
dia mungkin musuhku yang pertama, tapi
kami adalah teman dengan musuh yang sama.

(2021)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s