Suara Haji Jatta

: untuk Fahmi

ADA sumur besar
di depan rumah Haji Jatta
tempat kami mandi
sehabis main bola
membersihkan badan dengan air hanta
tanpa sabun dan anduk
menghilangkan lekat lumpur,
dan bau keringat, daki
dan gatal sengkadi.

Ada suara besar
dalam diri Haji Jatta
dia khatib di masjid kami
dengan teks yang rapi
dan tema khotbah abadi
seruan takwa dan wasiat
untuk tetap saling mengingatkan
pada kebaikan dan kebenaran,
ke atas mimbar itu
dengan tongkat dan surban
soal politik tak pernah
ia bawa-bawa.

Suara Haji Jatta
adalah suara kami
dia kami pilih dalam pemilu
menjadi wakil kampung kami
di dewan perwakilan kabupaten
Kutai Kartanegara.
Konon Pak Kaning, bupati kami
itu pun segan padanya
gentar apabila ia bicara
dengan suara besarnya.

Ada bangunan besar
di samping rumah Haji Jatta
rumah pembakar kopra
(di situ kami boleh
ambil upah kerja menguit kelapa)
juga pabrik pengolah kopra
dengan tungku pemanas
dan mesin penggiling
juga tangki-tangki penampung minyak
(kami suka melihat bagaimana
minyak mengucur deras
dari mesin pemeras).

Tapi mesin diesel besar
di pabrik itu adalah barang tua
sering ngadat dan susah dihidupkan.

Tanpa baju, Haji Jatta
akan turun tangan sendiri
memperbaiki mesin kebanggaannnya
(entah dari mana tamatan Sekolah Normal itu
mendapat pengetahuan mekanika permesinan)
lalu kami pasti akan mendengar lagi
kumandang lantang mesin bekerja kembali,
selantang suara Haji Jatta
dan bau minyak kopra
memenuhi udara.

(2021)

Baca juga
Yang Mereka Bicarakan dan yang Membicarakan Mereka
Yang Mereka Bicarakan dan yang Membicarakan Mereka

MEREKA membicarakan kisah seseorang yang mencintai seseorang dengan cinta yang tak mereka bayangkan akan membawa banyak sekali kepedihan dan kepedihan. Baca

Alami, Lupakan,… Lalu Puisikan
Alami, Lupakan,… Lalu Puisikan

MENULIS puisi, meminjam uraian Kuntowijoyo (1943-2005) adalah pekerjaan bergelut dengan teks, membangun sebuah struktur dengan tiga bahan pembentuk: pengalaman, imajinasi, Baca

Aku Membonceng di Sepedamu
Aku Membonceng di Sepedamu

: Tjak S. Parlan. AKU sedang membonceng di sepedamu. Aku bocah yang lupa di manaterakhir kali kutinggalkan sepedaku. "Mari kita Baca

Di Kebun Kelapa Bersama Kai Ahmad
Di Kebun Kelapa Bersama Kai Ahmad

KAI Ahmad berjalan di depankuaku melompati jejak-jejak langkahnyadi antara genangan air sisa hujanaku bermain dengan bayangannyadi antara bekas kaki dan Baca

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Share via
Copy link
Powered by Social Snap