Juru Lelang Nuriyah

MASJID dan madrasah kami
terbangun antara lain dengan
suara Nuriyah, sang juru lelang
wajahnya cahaya terang
yang membuat malam hari kami dan
lampu-lampu panggung menyala

“Sekali sekali? Sekali dua kali?
sekali tiga kali? Anjur!”
Maka jatuhlah setalam kue
atau apapun yang disumbangkan warga
kepada penawar tertinggi.

Nuriyah tahu
kapan harus melepas dan menahan
setelah berseru,
“fastabiqul khairat!”
dengan barang lelang di tangan.

Nuriyah tahu
kapan harus menyanyikan Nasyida Ria
atau lirik dangdut tentang kegagalan cinta
agar penawar mengajukan
tawaran lebih tinggi
sebelum barang lelang ia lepaskan.

Nuriyah adalah selingan
Nuriyah adalah pertunjukan utama
pada malam-malam saprah amal
malam-malam pengumpulan dana

Nuriyah adalah alasan kami
mengumpulkan uang hasil menjual apa saja
daun pisang, atau arang kayu bakar,
upah menebas kebun,
mengangkut atau mengupas kelapa
agar bisa memenangkan satu barang lelang
lalu naik panggung dan bersalaman dengannya
atau meminta satu lagu dinyanyikan olehnya.

Nuriyah tak pernah minta dikenang
bahwa kubah, keramik, dan menara masjid,
juga ruang kelas dan kantor madrasah
terbangun antara lain setelah
ia berdiri berjam-jam lamanya
pada malam kampung kami yang menyala
dengan kebaya dan selop tinggi
dengan sanggul sasak
dan selendang merah terang
berseru, “fastabiqul khairat!”
lalu kami berlomba menawar
dengan harga tertinggi
diselingi dendang kasidah
dan alun dangdut
yang dengan merdu
ia lantunkan.

(2021)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s