Sepupuku Jiu

: Fauzi

AKU dan sepupuku Jiu
seperti Batman dan Robin
tak peduli siapa yang Batman
dan siapa yang Robin,
yang penting kami merasa
bisa atasi masalah apapun
bila kami bersama.

Tuhan barangkali
tak terlalu banyak pertimbangan
ketika menghembuskan nyawa
pada janin kami
di rahim mama kami masing-masing,
sama saja bila aku yang
ada di rahim mamanya atau
dia yang ada di rahim mamaku.

Mamaku dan ayahku menikah
dalam perayaan yang sama dengan
pernikahan mamanya dan ayahnya,
satu perayaan besar yang pernah
digelar oleh Kai Ahmad,
kakek kami itu.

Kami lalu lahir dalam selisih
waktu yang tak jauh,
Aku anak kedua, dia anak pertama,
jadi aku yakin dia memang
meminta pada Tuhan
untuk diciptakan dan
dilahirkan ke dunia
bersamaan denganku
dan Tuhan menyetujuinya.

Aku dan sepupuku Jiu
diberi nama oleh Julak Satta,
Ada tiga nama yang dia sediakan
Lalu ayah kami mencabut undi
Aku dapat nama yang jadi namaku
Dia dapat nama yang jadi namanya
tersisa satu nama yang aku yakin
dia adalah seorang anak yang
juga ada saat kami mengundi nama.

Ketika aku dan sepupuku Jiu
masuk sekolah bersama-sama
kami dibelikan Kai Ahmad
sepatu boot yang sama
(aku jingga, dia biru)
dan karena kami tak pakai
kaus kaki, kaki kami
sama-sama melepuh di hari pertama.

“Sebenarnya apa gunanya
sepatu? Kenapa sekolah
mengharuskan kita memakainya?” kata Jiu
kami pulang sambil menenteng sepatu,
sepatu yang persis sama
dengan sepatu Adi Bing Slamet
di sampul album duetnya
bersama Chicha.

Aku dan sepupuku Jiu
selalu duduk sebangku, kami
menggabung bilah lidi
saat pelajaran berhitung,
kami saling meminjamkan
peraut pensil dan karet setip,
kami harus selalu yakin
tulisan kami benar dan bersih
sebab Kai Ahmad akan
memberi uang hadiah tambahan
apabila nilai kami bagus
dan tulisan kami rapi.

Aku dan sepupuku Jiu
tiap pagi sebelum berangkat sekolah
selalu singgah di rumah Kai Ahmad
yang pasti sedang asyik
menggosok batu cincin
dengan segelas kopi bergagang
hijau – dan dia akan lekas-lekas
merogoh kantong dan
memberi kami uang sangu 10 rupiah.

Aku dan sepupuku Jiu,
kami disunat bersamaan,
bertiga bersama Dani abangku,
Kai Ahmad memanggil Mantri Amir,
dan memberi kami masing-masing
selembar sarung Cap Mangga.

Jiu, sepupuku, pernah punya
sepeda trail merah, tiap kali
pulang sekolah dia mengajak
aku berboncengan, dia pegang setang
aku yang mengayuh pedalnya.
Saat itu kami merasa kami bisa pergi
ke mana saja yang kami mau
dengan sepeda trail merah itu.

(2021)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s