Payung Nini Aliyah

BAGAIMANA cara
menjaga tubuh
senantiasa semampai
seperti penari
setelah melahirkan
sembilan kali?

Orang-orang harus
menanyakan itu
kepada Nini Aliyah,
dia mamanya ayahku,
(anak keempat,
dari delapan
lelaki dan seorang
bungsu perempuan)

Orang-orang harus
banyak bertanya
kepada Nini Aliyah,
mamanya ayahku,
dia pasti punya
banyak jawaban bagus
untuk banyak pertanyaan
yang kau ajukan.

Misalnya, bagaimana
mengolah kue wajik
dengan warna hitam
yang mewah
dan manis yang
melekat di lidah?

Atau bagaimana
membuat roti gambung,
adonan tangan dan
dibakar sabut kelapa
dengan hasil seakan
keluaran pabrik,
lembut dan kembang,
matang sempurna?
(Aku kira mamaku
mencuri ilmu darinya)

Atau bagaimana
membuat secangkir kopi,
dari memetik buahnya,
mengeringkan,
menyangrai,
menumbuk dalam lesung besi,
menyaring dengan ayakan,
menghasilkan
bubuk halus,
lalu menyimpan dalam
toples kaca,
seperti serbuk emas yang
tiap takar ia tepatkan
dalam miligram?

Atau bagaimana
membuat gagaduh
dengan renyah kangkung liar
cacahan timun sesegar
percik fajar
kecambah yang seperti
bersantan setengah mentah
yang ia lambak sendiri
dan kuah kacang yang
bertahun-tahun kemudian
tak juga kutemukan
kata apa yang tepat
untuk menjelaskannya,
(mungkin harus
kugabungkan arti
seluruh makna lezat,
enak, sedap, nikmat,
gurih, dan sejenisnya)?

Wajik, roti gambung,
gado-gado dan kopi,
buatan sendiri, yang
dia jual sendiri
di warung kecil yang
dia kelola sendiri,
dengan pelanggan setia
para pejuang veteran
sepanjang hari duduk
bercerita mengenang masa
peralihan kolonialisme
Belanda ke Jepang, hingga
perjuangan dalam perang revolusi
mempertahankan kemerdekaan.

Tapi kepada Nini Aliyah
kau harus bertanya
bagaimana cara
menjaga tubuh
senantiasa semampai
seperti penari
setelah melahirkan
sembilan kali?

Lihatlah dia ketika
melangkah ke luar rumah
berjalan ke pengajian
atau ke puskesmas
mengambil vitamin IPI
dan pil-pil rutin yang
harus ada dalam wadah
persediaannya.

Ia yang berjalan anggun,
tegak sempurna dan
setiap langkah seakan
ia diperhitungkan,
dengan kerudung cerah,
surban berhias benang emas
meliput rambutnya,
dan lingkar langkar sarung batik
dan kembang payung
di tangannya itu – baginya
bukan sekadar penaung.

(2021)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s