Rumah Kai Tarun

RUMAH Kai Tarun
harus dibangun dengan kuat
untuk menahan tawanya yang besar
rumah Kai Tarun karena itu dibangun
dengan tiang-tiang kayu ulin, dan
dindingnya papan meranti kering.

Kai Tarun orang yang
mudah sekali berbahagia
– selalu berbahagia –
dia pernah menjadi orang
yang banyak uangnya, ketika
menjadi pemasok atap
ke perusahaan minyak negara,
yang sedang membangun kantor
dan perumahan karyawan di kota,
negeri sedang giat membangun,
dan pejabat baru mulai
belajar mencuri.

Tapi Kai Tarun
terlalu baik orangnya
terlalu murah hatinya
ia bagikan rezeki dan
kebahagiaannya kepada
teman-teman seperjuangannya.

“Kaimu ini tak bisa jadi
orang kaya,” kata Tukiman Gondo,
ketua korps legiun veteran,
teman dan komandan gerilya
Kai Tarun, kepadaku pada suatu
hari, “tapi kaimu ini orang yang tak
akan kehabisan dukungan,
temannya banyak, di mana-mana ada.”

*

Rumah Kai Tarun
harus dibangun dengan luas
membentang dari sisi jalan raya
hingga tepi Selat Malaka
agar bisa menampung cerita hidupnya
yang panjang dan penuh kejutan.

“Aku pernah lolos
dari berondongan
bren pasukan Belanda,”
kata Kai Tarun memulai cerita.

Waktu itu ia sedang menyeludupkan
senjata – yan disamarkan di balik
buah pepaya, dipasok pasukan Australia
yang memihak Republik Indonesia

Usman Veteran, temannya,
menarik gelas dan menuangkan
kopi panas ke pipiringan,
dia tahu cerita Kai Tarun
tak akan habis sampai petang,
ia siapkan juga ceritanya
yang sama panjangnya.

Di Rumah Kai Tarun
ada warung kopi kecil
dan bengkel sepeda.

Warung kecil menjual kopi
dan rokok, dan kue bikinan sendiri
untuk menjamu teman-teman
veteran yang mampir bertamu,
bayar atau masuk catatan bon
itu urusan lain, perjuangan
memang tak boleh berhenti,
perjuangan harus dilanjutkan.

Bengkel sepeda untuk
menyambung dan menambal hidupnya
sebagai petani dan pensiunan veteran
sering tak berjalan lancar
yang sering putus rantainya,
sering bocor halus pada ban dalamnya.

Tapi di Rumah Kai Tarun
orang banyak selalu
suka singgah bertandang,
betah lama berbincang,
seakan memberi kesaksian
pada Bung Besar pada poster
di dinding rumahnya, bahwa
revolusi memang tak pernah berhenti,
dan dari Rumah Kai Tarun
kau akan selalu mendengar
tawa bahagianya, tawa besarnya,
tawanya bersama teman-temannya.

Aku sangat suka, ikut tertawa
bersama mereka.

(2021)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s