Rumah Kawanku Burhan, 2

BERAPA harga belajar menggambar
bersama Pak Tino Sidin?
Dua drum air pendingin mesin diesel
yang harus kami isi dengan air sumur
dari seberang jalan
sebelum genset dihidupkan
dan petang hari itu
televisi dinyalakan
di rumah kawanku Burhan.

Bagaimana aku dan Burhan
menandai persabahatan?
Kami menciptakan siulan
rahasia, semacam kode panggilan,
apabila salah seorang dari
kami mendengar seorang yang lain
menyiulkannya, itu artinya
ajakan untuk keluar rumah,
berangkat sekolah arab, atau
bermain pedang-pedangan,
perang-perangan di kuburan.

Apa yang selalu kudengar
di rumah Burhan?
Dentang tuangan es, deru kulkas,
termos-termos disiapkan, dan
celoteh ibunya memberi instruksi
ini dan itu kepada Nurhaliza,
Zuhaifah dan Aidil menyetor
hasil penjualan, dan suara
motor ayahnya dipanaskan
sebelum berangkat mengajar
di sekolah dasar Senipah.

Apa yang paling kuingat
dari rumah Burhan? Pakaian
pengantin, kursi pelaminan,
dan kembang-kembang hiasan
pemeriah persandingan.
Kelak aku pun dirias oleh
ibunya Burhan – ia yang
menciptakan kebahagiaan kami
menjadi lebih membahagiakan –
ia merias siapa saja yang
merayakan perkawinan
di kampung kami juga
kampung-kampung bertetangga.

Apa yang paling kurindukan
dari rumah Burhan? Aku
merindukan lebaran, sebab
ibunya akan membuat buras dari beras
berbungkus harum daun pisang muda
dengan kuah santan yang lembut
dan lezat ikan yang berlompatan
di lidah kami setelah
puasa selama sebulan.

(2021)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s