Kacamata Guru Uun

: Khalish Abniswarin

GURU Uun adalah huruf
sebelum aksara pertama
dalam abjad yang ia ajarkan
di luar paket buku inpres
di luar lebar papan tulis

Guru Uun setiap hari membagikan
kacamata pada kami
memperbaiki cara kami
melihat dunia
yang lebih luas daripada
tagah halaman belakang sekolah
dan lapangan bola Handil Baru muara

*
Aku mengumpulkan
seluruh kacamata yang ia bagikan
yang dibuang oleh teman-temanku

Mursid bilang kacamata itu
bikin dia pusing
Bahtiar bilang tak bisa main bola
kalau harus memakai kacamata
Sarifullah bilang dia tak perlu
kacamata itu untuk menggambar Chip’s
atau melihat setajam jagoan
Six Millon Dollar Man
Rifai bilang dia lebih perlu sepatu
daripada kacamata
Ramli hanya memikirkan sepeda
apa usus cacing terbaik agar
bannya tak mudah kempes
dan ia tak harus
terus-menerus memompa

*

Guru Uun
masih mengajar kami
hingga kelas dua
dia lalu pindah setelah
kami divaksinasi cacar di lengan kanan

Tak ada acara perpisahan
tak ada sambutan atau pesan
sebelum ia tak lagi pernah berdiri di hadapan kami
mengabsen kami
dengan menyebut nama ayah kami

*

Terakhir kali Guru Uun meminta kami
menulis cerita, mengarang bebas
pelajaran yang paling kusuka.

“Aku akan bercerita saja, Pak,
aku tak bisa menuliskannya,”
kata Alimudin

“Aku akan menyanyikan ceritaku, Pak,”
kata Anita, dia penggemar acara
Selekta Pop dan Aneka Ria Safari di TVRI

“Aku akan menulis cerita tentang
kacamata, Pak,” kataku.

Aku diminta membacakan cerita
yang kutuliskan itu.

Begini ceritanya:

PADA suatu hari,
ada sebuah kacamata
yang ingin sekali
melihat dirinya sendiri,
tapi dia tak punya mata.

Kacamata itu adalah
kacamata yang berbahagia,
dia senang bisa membantu
si pemiliknya melihat jalan
yang dia lalu saat naik Vespa,
bila pergi mengajar ke
Sungai Mantri, dia membuat
pemiliknya bisa melihat
masa depan yang membanggakan
yang akan diraih anak lelakinya.

Tapi kacamata itu tak
bisa ikut menangis bersama
pemiliknya. Ia sedih, itu
kesedihan lain yang dirasakan
oleh si kacamata selain karena
ia tak bisa melihat dirinya
sendiri.

*

Dari seluruh kacamata
yang kukumpulkan
yang dibuang oleh teman-temanku
aku punya banyak sekali cerita

Tapi Guru Uun tak ada lagi
tak ada lagi yang meminta kami
bercerita, seperti dia
meminta kami menulis cerita.

(2021)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s