Cara Membunuh Tikus (3)

SUARA sapu lidi di halaman terhenti. Aku yang sejak lepas subuh tadi sudah tidur-tidur ayam saja menduga istriku melihat tikus di perangkap yang kupasang lagi semalam. Tapi aku tak berharap banyak soal itu.

Kemarin aku sudah berhasil membunuh seekor tikus besar. Itu sudah cukup memuaskan bagiku. Aku kira tikus kemarin itu jantan. Apabila semalam tadi terjebak lagi seeekor, mungkin betina istrinya, yang gelisah tak bisa tidur lalu lapar, lalu keluar sarang dan tergiur potongan ayam yang kutebar di dalam perangkap, aku tak terlalu herap. Tapi jantan atau betina, suami-istri atau bukan, sama saja brengseknya. Tikus adalah tikus adalah tikus.

Pintu kamar terbuka. “Ada tikus kena jebak,” kata istriku. Benar seperti yang tadi kuduga. Aku bingkas berdiri. Kali ini aku sudah tahu apa yang harus kulakukan. Hari ini hari Jumat, tukang angkut sampah prei. Berarti bangkai tikus yang kemarin mati kulelapkan di tong sampah masih di situ.

Perangkap tikus itu masih di tempatnya. Terpojok di sudut tembok dan kotak meteran air. Tertindih batu. Pagi di situ masih remang oleh rimbunan ranting belimbung. Beberapa ekor lalat hijau mendengung. Terbanglah mereka apabila terkejut oleh gerakan tikus di dalam perangap itu. Seekor tikus lagi. Seekor? Oh, tidak. Ternyata dua ekor. Berbeda ukurannya. Perangkap kawat yang sempat kuragukan ini telah menunjukkan kemampuannya. Aha!

Naluri membantaiku sepagi ini telah bangkit lagi. Dua ekor tikus! Dua musuh besarku. Aku panen besar. Aku seperti terjangkiti semangat pemburu yang berpose dengan senyum mantap, senjata di tangan, dan kaki menginjak tubuh hewan buruan yang terkapar.

Aku mengamati sejenak dua ekor tikus itu. Keduanya seperti menghindar untuk menatap langsung mataku. Mungkin mereka menyesal dan disiksa oleh rasa bersalah. Aku menatap ke tong sampah, tak jauh dari perangkap itu. Aku mau bilang pada dua tikus itu, “di situ, di dalam tong sampah itu, seekor kawan kalian menggelembung tanpa nyawa. Mati kedinginan dengan paru-paru penuh air. Saya tak punya alasan untuk melelaspan kalian. Saya tak sepemurah itu. Kalian akan bernasib sama!”

Aku memasang sarung tangan lalu mengangkat batu penindih. Sebelah tanganku menahan pintu masuk, sebelahnya memastikan dinding lain tak terlepas kaitnya. Tong sampah sudah kusiapkan. Perangkap itu kuletakkan perlahan di dasar tong. Perlawanan terakhir dua ekor tikus ini gila-gilaan juga. Terasa seperti hantaman-hantaman petinju ke telapak tanganku. Jeritan mereka juga memekakkan telinga. Aku tak pernah mendengar suara tikus dari jarak yang sedemikian dekat. Sangat menyayat, apalagi dalam hatiku menyeringai naluri jahat, “menjeritlah, sebentar lagi toh kalian akan mampus, tikus!”

Ayahku memang meyakinkanku dulu bahwa aku boleh membunuh tikus karena mereka hama. Sama seperti tupai. Atau kumbang penggerek batang kelapa. Tapi ayahku melarang aku menyiksa tikus, juga binatang lain.

“Bunuh dengan lekas, lalu buang. Biar dia menjadi santapan ular,’ kata ayahku, sambil mengumpulkan buah-buah kelapa dengan lubang pada tempurung dan daging habis disantap tikus, juga tupai.

Aku bisa membedakan mana buah kelapa yang dimakan tupai mana yang dimakan tikus. Apabila lubang dan lapisan serabutnya terpotong rapi berarti itu tikus. Tupai melubangi buah kelapa dengan kerja yang lebih amatiran. Serabutan. Tapi keduanya membuat lubang dengan lingkaran yang nyaris sempurna pada tempurung. Dari situ kalian bisa membayangkan betapa kuatnya gigi kedua hewan pengerat itu.

Maka kalian paham saja kalau kini aku memegang perangkap pakai sarung tangan, bukan? Berurusan dengan hal-hal kotor yang tak bisa kita hindarkan, juga mengancam, kita harus melindungi diri kita agar tetap bersih dan terhindar dari bahaya. Kita tak bisa meminta musuh kita untuk membersihkan diri dulu atau mengimbau mereka bermain bersih. Mereka, musuh-musuhmu akan tetap saja bermain kotor, karena mereka memang sebrengsek itu.

Dua tikus itu kali ini tak sekuat seekor sebelumnya. Mungkin karena sudah terperangkap sekian jam di situ. Aku mengucurkan air keran dengan dingin tanpa perasaan. Ya, aku sudah menjadi sesadis itu. Tapi, ini kan yang kalian mau, tikus? Tak sampai satu menit, kedua tikus itu mengapung tak bernyawa, dengan gigi-gigi menyeringai seperti memaki-maki dan mewartakan ancaman aksi balas dendam ke arah aku.

Jakarta, 6 November 2020.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s