Cara Membunuh Tikus (2)

MEMANG benar, perang belum usai, dan saya kira tak pernah usai.

Saya hanya merasa menang ketika berhasil membunuh – sejauh ini – enam ekor tikus, tapi serangan tikus-tikus itu tak pernah berhenti. Siang dan malam. Terakhir pot-pot pembiakan episcia kami berjatuhan dari rak. Di bawah rak ada setumpuk tahi dan menguar bau pesing. Saya tahu benar itu tahi dan kencing tikus. Bau yang sama kau dapati apabila lewat di gang-gang sempit di kota, dengan got mampet, lembab, dan gelap. Dan tikus-tikus itu menciptakan suasana itu di teras rumah kami. Dasar tikus!

Aku berharap pada perangkap yang beberapa hari lalu kubeli bersama lem tikus di pasar Pospengumben. Beberapa hari, setelah memindahkan posisi perangkap itu beberapa kali, tak ada tikus yang terjebak.

Aku mulai merasa bodoh. Beberapa kali di depanku, ketika jebakan itu kuletakkan di bawah pohon belimbing, tempat biasa kami meletakkan sisa makanan untuk kucing, aku melihat dua ekor tikus mendekat, mengendus-endus, turun naik perangkap, berkeliling mencari cara masuk dan menyantap apa yang saya sajikan di dalam itu. Saya pura-pura tak memperhatikan. Lalu kedua tikus itu berlalu tenang ke dalam parit. Aku kira mereka sepasang. Suami istri yang harmonis. Berbagi tugas dengan adil. Dua tikus kecil yang terbunuh dengan lem beberapa hari lalu itu pasti anak mereka. Dua anak yang belajar mandiri dan masih terlalu polos untuk mengenal kejamnya dunia, juga jahatnya dendam seorang yang telah mengobarkan perang terhadap mereka. Tapi tikus adalah tikus adalah tikus adalah tikus adalah tikus.

Aku mulai ragu dengan perangkap tikus itu. Ukurannya terlalu besar dibandingkan perangkap yang biasa kutahu. Tapi toko di pasar hanya menjual satu model itu. Pagi itu, toko tersebut memajangnya di depan. Mencolok sekali. “Tinggal satu, Pak. Lagi beseler,” kata si penjaga. Kayaknya memang sedang ada perang besar melawan tikus di mana-mana.

Istriku menyarankan agar umpan di dalam perangkap itu diganti. Ikan cue kurang keras baunya. Lagi pula yang sepotong terkait menggantung di dalam itu memang sudah agak kering. Aku memasukkan dalam satu wadah kecil – cukup untuk diletakkan di dalam perangkap – sisa-sisa ayam, brutu, ujung sayap, lemak dan kulit. Semuanya direbus lebih dahulu. Lemaknya mencair. Tikus yang lapar pasti akan menetes air liurnya.

Perangkap sudah kami pasang lagi sejak pagi. Aku memberi pecahan lantai semen di atasnya buat berjaga. Aku perkirakan apabila satu atau dua tikus terjebak apabila tak diberi pemberat perangkap itu tak cukup kuat untuk menahan rontaan mereka.

Suara azan asar tadi seakan jadi pengantar kematian bagi musuhku. Seekor tikus besar terjebak. Dan itulah persoalannya. Sebesar apapun marah dan dendamku, aku tak terlalu tega membunuhnya. Begini situasnya: bayangkan musuh yang di hadapanmu menyerah, mengaku kalah. Tak lagi bisa melawan. Penjaga taman tetangga depan rumahku memberi saran begini: masukkan karung, buka pintu perangkap, biarkan tikusnya keluar dari perangkap, ikat karungnya, lalu banting si tikus dalam karung itu. “Saya gitu, dulu sampai lima belas ekor saya bunuh. Ya, begitu…”

Aduh, saya tidak tega. Tapi, bagaimanapun, toh aku harus membunuhnya. Demi pot-pot episcia, demi pisang yang sesisir utuh tak jadi kami bikin kue jemput-jemput. Aku berpikir sejenak. Memperhatikan tikus itu. Aku menatap matanya. Aku melihat perlawanan di mata itu. Dia tidak menyerah. Oke, baiklah. Dan kulihat umpan di dalam perangkap itu habis! Tandas. Itu artinya, dia menikmati benar apa yang terhidang di situ. Mungkin dengan hati tertawa-tawa mengejek kebodohanku, sebelum menyadari dia terperangkap. Oke, baiklah.

Aku akhirnya ingat juga bagaimana cara ayahku membunuh tikus yang terperangkap. Mudah sekali. Ia lemparkan saja ke got perangkap tikus itu. Si tikus mati lemas dengan perut kembung penuh air. Ah, kenapa baru teringat. Itu cara yang paling tidak sadis. Tapi bukankah tak ada got di sekitar komplek perumahan kami? Drainase semuanya tertutup dan kering belaka. Kali Pesanggaran mengalir jauh di luar komplek. Ketika mataku tertumbuk pada tong sampah, serta-merta aku berseru, “Aha, ini dia.”

Tong sampah dan perangkap itu kubawa ke pojok halaman dekat gulungan selang dan keran air. Tong sampah cukup besar untuk menampung perangkap. Tikus itu benar-benar melakukan perlawanan, habis-habisan. Aku sempat cemas apabila perangkap itu rapuh dan tak cukup kuat menahan rontaan si tikus. Perangkap itu akhirnya duduk dengan manis di dasar tong. Aku mengambil selang, mengarahkan ujungnya ke tong, membuka keran. Air menggenangi tong. Perlahan. Meninggi. Aku sudah memberi pemberat batu di atas perangkap itu. Tikus itu tahu ada yang mengancam nyawanya. Ia mempergencar perlawanan. Menyundul ke semua sudut secara acak. Menabrakkan diri sekuat tenaga. Aku lihat ujung hidungnya berdarah. Terluka parah.

Lalu air meninggi, terendamlah seluruh perangkap itu. Aku menutup keran. Si tikus masih berusaha melepaskan diri. Meronta. Rontaan terakhir. Lalu gerakannya semakin lemah. Tak sampai lima menit. Ia akhirnya terjepit dan mati di antara dinding samping perangkap dan pintu masuk jungkit-jungkit yang merupakan filosofi dari jebakan itu. Kau bisa masuk tapi tak bisa keluar, itulah hakikat dasar dari sebuah jebakan, bukan?

Jakarta, 5 November 2020.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s