Cara Membunuh Tikus

IA lincah memanjat pipa AC. Saya memukulkan tongkat ke arahnya. Ia terlempar, mengeluarkan jerit nyaring, lalu terhempas di lantai. Kepalanya berdarah. Jeritnya nyaring lalu lindap. Terhenti. Dan mati.

Itu tikus kedua yang saya bunuh di rumah kami sejak pandemi merebak. Tikus yang pertama mati menderita terbalur lem tikus dalam posisi yang kusut dan kacau. Sungguh sebuah kematian yang buruk.

Yang ketiga lebih dramatis. Saya membangkitkan lagi kemampuan saya berburu di waktu kecil, mengingat dan melatih lagi kemahiran menombak sasaran. Dulu menombak itu permanan kami di kampung, di rawa-rawa lumpur pasang surut, sasarannya tempakul.

Tikus kedua dan ketiga yang saya bunuh itu bersarang di dalam AC. Ya, benar di dalam AC. Mereka masuk lewat lubang untuk pipa pembuangan air AC di dinding. Tiga hari, setelah membunuh tikus yang kedua, lubang itu saya tutup.

Rupanya masih ada seekor tikus di dalam dan pada hari kedua saja sudah terdeteksi keberadaannya. Dia pasti lapar dan risau. Jika saya biarkan dia di dalam itu toh saya tak bisa juga lekas membunuhnya.

Saya pun memulai perang. Saya buka sumbat pada lubang dan menunggu dia keluar dan pasti akan merambat pada pipa itu juga. Dan memang benar, beberapa saat kemudian dia memang keluar.

Saya menyabetkan tongkat bambu. Kali ini luput! Si tikus ketiga ini lincah berlari ke rak piring, ke rak bumbu-bumbu, ke bawah kompor gas – lalu ke atas lemari dinding. Di situ dia terpojok. Terengah-engah, lapar dan tampak letih. Saya mengambil sapu dan melepaskan tangkainya. Senjata baru. Di pojok atas lemari itu si tikus pasrah. Saya membidikkan tangkai sapu, mengambil jarak sedekat mungkin. Mempertajam naluri kapan harus melemparkan tombak saya itu pada detik sebelum si tikus lari. Tombak saya melesat dan menghantam kepala si tikus. Telak. Sama sekali tak ada jerit sakit dan ratapan kematian.

Perang terhadap tikus-tikus itu kami mulai sejak menemukan sisa-sisa ikan dan ayam menumpuk di bawah kompor gas. Saya langsung menebak itu pasti tikus. Apalagi ekornya tampak menjuntai santai ketika dia bersembunyi di situ. Dasar bodoh. Dan jumawa sekali. Ketika hari itu terpergok dia dengan ligat berlari lewat tangga dinding ke lantai atas, lewat satu-satunya pintu yang menuju ke sana. Memang hanya itulah kemungkinan jalan masuk tikus ke dapur kami. Hari itu skor 0-1 untuk kekalahan saya.

Kemanangan itu tampaknya membuat para tikus semakin percaya diri menyerang. Seekor di antaranya bahkan masuk ke dalam ruang keluarga. Jejaknya kami temukan sampai ke depan pintu kamar di lantai dua, dan yang paling membangkitkan kemarahan adalah dia menggerogoti pisang yang tadinya hendak kami buat kue jemput-jemput.

Saya membeli racun tikus. Tapi sajian maut itu tampaknya tak menarik minat mereka. Saya pikir benar juga, buat apa menyantap kudapan itu kalau ada santapan lain yang bisa dicuri yang lebih enak. Konon tikus memang tergolong hewan pengerat yang cerdas. Tapi secerdas-cerdasnya tikus ya tikus adalah tikus adalah tikus. Saya berpikir keras bagaimana menaklukkan mereka memanfaatkan kecerdasannya itu.

Lem tikus adalah upaya kedua. Saya juga membeli perangkap tikus dengan umpan ikan cue tongkol tapi sejauh ini belum ada hasil.

Si tikus penggerogot pisang sempat bersembunyi di antara kotak-kotak buku saya. Kami tahu dia ada di sana karena semua pintu keluar kami tutup. Seharian kami biarkan saja dia, mungkin tidur enak dengan perut penuh pisang. Malam harinya, saya pikir dia pasti keluar dari persembunyian.

Saya menunggu sampai pukul 12 malam. Beberapa menit menjelang tengah malam dia memang keluar. Melihat saya duduk di sofa bed, kelelahan setelah seharian mengikuti beberapa zoom meeting, dia terperanjat dan berlari ke belakang bangku kotak panjang yang kami letakkan dengan memberi sedikit ruang dari dinding. Kena! Dalam hati saya. Dengan santai saya menuju bangku panjang lalu dalam sekali dorong bangku itu jadi senjata pembunuh yang sadis. Si tikus penyet di antara dinding dan bangku tanpa sempat menyampaikan pesan terakhir.

Dapur kami sementara aman. Tapi beberapa pekan kemudian tikus-tikus muncul di halaman. Selama ini memang sisa-sisa makanan kami selalu kumpulkan dalam satu wadah di halaman untuk kucing-kucing liar di komplek. Invasi tikus ke halaman merampas jatah kucing-kucing itu.

Ada dua varian produk lem tikus. Yang dalam tabung dan yang sudah dalam wadah kertas dengan lem yang sudah terbalur. Saya tak merekomendasikan yang tabung itu. Karena daya rekat yang saya kira ratusan kali lem Glukol untuk kertas itu, jari-jarimu nyeri ketika memencetnya, untuk membalurkannya di papan atau kertas karton. Mending yang siap pakai, buka, tarok umpan, saya pakai ikan cue atas saran Encing Sahli,tukang parkir di Pasar Pospengumben.

Dua tikus terakhir terbunuh dengan lem tikus di halaman kami. Kemenangan besar buat saya. Dua lawan langsung teringkus dalam satu serangan balik. Tapi perang tampaknya belum berakhir. Seperti manusia brengsek, tikus selalu saja ada, tak akan pernah benar-benar habis terbasmi. Tikus – kata ayah saya dulu – boleh saya bunuh. Karena dia hama yang mengganggu, merusak tanaman kami, mencuri hasil panen kami.

Jakarta, 4 November 2020.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s