Menerjemahkan, Bayar Utang, Berkhianat


Menerjemahkan puisi-puisi adalah bagian dari keasyikan saya menikmati puisi. Tentu saja saya menerjemahkan puisi dari bahasa yang saya bisa. Saya tak pernah menguasai benar bahasa kedua, atau ketiga saya itu.

Saya juga membaca sajak-sajak terjemahan. Seperti sajak-sajak asli ada terjemahan yang saya suka karena saya anggap bagus, ada juga yang saya merasa terjemahannya harusnya tidak begitu. Biasanya saya akan mencoba mencari sajak aslinya. Sekadar melayani rasa penasaran. Kadang sajak yang terjemahan bagus pun membuat saya mencari sajak aslinya.

Menerjemahkan puisi adalah langkah berikutnya dari membaca puisi. Ya, mula-mula dan yang utama adalah membaca. Membaca puisi dari bahasa apa saja. Seperti banyak orang, saya membaca puisi yang saya tertarik dan saya suka. Tertarik pada sajaknya tanpa tahu benar siapa penyairnya, atau bisa juga misalnya karena si penyair yang mendapatkan penghargaan atas karya-karyanya, atau karena sosok pribadinya yang menarik, meskipun ia tak pernah dapat penghargaan apapun, bahkan tak dikenal atau terlupakan.

Menerjemahkan puisi bagi saya mula-mula untuk kepentingan saya sendiri sebagai orang yang menulis puisi saya sendiri. Dari penerjemahan yang saya upayakan sendiri itu, saya biasanya mendapatkan banyak hal: belajar bagaimana sebuah tema digarap, bagaimana sebuah gagasan diucapkan, dan hal-hal lain yang hanya saya dapatkan, saya olah atau saya curi, apabila saya melibatkan diri dalam proses penerjemahan.

Horst Frenz (lahir 1912), guru besar sastra bandingan dan sastra Inggris di Indiana Univesity, mengutip korespondensinya dengan Andre Gide dalam esai “The Art of Translation”, mengatakan setiap penulis kreatif berutang kepada negerinya untuk menerjemahkan sedikitnya satu karya dari negeri asing, yaitu karya yang bersesuaian dengan bakat dan tempramennya, dan itu sekaligus untuk memperkaya perbendaharaan dan wawasan sastranya sendiri.

Saya terutama terpikat pada gagasan akhir dari kutipan dari Horst Frenz, menerjemahkan bagi saya adalah memperkaya perbendaharaan dan wawasan sastra saya sendiri.

Ketimbang prosa, menerjemahkan puisi adalah sebuah proses yang lebih dramatis kata Umberto Eco dalam esai “A Rose by Any Other Name” yang diterjemahkan dari Bahasa Italia ke Bahasa Inggris oleh William Weaver untuk Guardian Weekly, 16 Januari 1994. Puisi, kata Eco, adalah seni dimana gagasan diperjelaskan dengan kata-kata, maka ketika kita mengubah bahasanya, maka kita mengubah gagasannya.

Apakah penerjemah terbaik adalah pengarngnya sendiri? Atau pengarangnya harus terlibat dalam proses itu? Umberto Eco mengatakan belum ada contoh penerjamahan puisi yang cemerlang yang dihasilkan dari kerja sama pengarang dan penerjemahnya. Artinya, si pengarangnya sendiri, tidak serta adalah penerjemah yang terbaik dari puisinya, meskipun dia menguasai bahasa tujuan penerjemahan.

Tapi bukan berarti penerjemahan itu tak mungkin dan sia-sia dilakukan. Umberto Eco mengatakan mungkin bahasa sejati itu memang tak pernah ada, tetapi mencari kesesuaian antara satu bahasa dengan bahasa lain adalah sebuah petualangan yang mengasyikkan.

Umberto Eco mengatakan penerjemahan itu tak penting mesti benar. Ia mengutip ujar-ujar orang Italia bahwa seorang penerjemah senantiasa juga seorang pengkhianat. “Maka, siapkan tempat bagi si pengarangnya untuk ikut juga dalam pengkhianatan itu,” katanya.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s