Vesper / Louise Glück

Vesper/ Louise Glück

Dalam absenmu yang semakin makin, kau bolehkan aku
mengolah bumi, mempertimbangkan
berapa laba atas investasi. Aku harus bikin laporan
kegagalan dalam tugasku, terutama
dalam budidaya tomat.
Aku kira aku seharusnya tidak tertarik untuk
menanam tomat. Atau, jika memang harus, kau harus
menahan lebat hujan, dingin malam yang datang
sangat sering ke sini, sedang belahan bumi lain
musim panas bisa dua belas minggu lamanya. Semua ini
milikmu: di sisi lain,
Aku menanam benih, melihat tunas pertama
seperti sayap merobek tanah, dan itulah hatiku
rusak karena hawar, bintik hitam yang menular
berlipatganda dalam barisan. Aku ragu
kau punya hati, seperti yang kami pahami
tentang istilah itu. Kau yang tidak membedakan
antara s mati dan si hidup, yang, sebagai akibatnya,
kebal terhadap bayangan, kau mungkin tak tahu
berapa besar teror yang kami tanggung, daun berbintik,
daun merah pohon mapel berjatuhan
bahkan di bulan Agustus, di awal kegelapan: aku bertanggung jawab
pada tanaman merambat ini.

Dari sajak “Vespers” Louise Glück, 1992, terjemahan oleh Hasan Aspahani, 2020.

Catatan: Sajak terjemahan ini semula saya kasih judul “Kebaktian Magrib”. Mario F Lawi mengingatkan judul itu kurang tepat mengingat konsep waktu yang dipakai dalam peribadatan Katolik adalah satuan jam, bukan kapan matahari terbenam. Terima kasih.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s