Kata Penutup oleh Louise Glück

Kata Penutup
Oleh Louise Glück

Kubaca yang baru kutulis, kini aku percaya
Aku berhenti serempak, hingga ceritaku tampak telah
sedikit terdistorsi, berakhir, seperti itu, tidak tiba-tiba
tapi dalam semacam kabut buatan
disemburkan ke panggung yang bikin pergantian jadi sulit.

Mengapa aku berhenti? Apakah naluri
bentuk yang jelas berbeda, seniman dalam diriku
intervensi menghentikan lalulintas, seperti itu?

Sebuah bentuk. Atau nasib, seperti disebut penyair,
intuisi dalam beberapa jam yang lalu –

Aku pasti pernah berpikir begitu.
Namun aku tidak menyukai istilah itu
Yang tampak bagiku kruk, sebuah fase,
pikiran anak baru besar, mungkin –

Tapi masih juga, itulah terma yang kupakai sendiri,
berkali-kali menjelaskan kegagalanku.
Takdir, nasib, yang rancangan dan peringatannya
sekarang tampak bagiku sederhana
simetri lokal, metonimis
pernak-pernik dalam kebingungan besar –

Kekacauan adalah apa yang kulihat.
kuasku membeku — aku tidak bisa melukisnya.

Kegelapan, keheningan: itulah perasaan.

Lalu kita menyebutnya apa?
“Krisis pandangan” keselarasan, aku percaya,
pada pohon yang menantang orang tuaku,

tapi meskipun mereka telah memaksa,
agar maju menerjang rintangan,
Aku mundur atau kabur menghambur –

Kabut menutupi panggung (hidupku).
Karakter datang dan pergi, kostum berganti,
kuas tanganku bergerak dari sisi ke sisi
jauh dari kanvas,
sisi ke sisi, seperti wiper kaca depan.

Tentu ini adalah gurun, malam yang gelap.
(Pada kenyataannya, jalan yang ramai di London,
para wisatawan melambaikan peta berwarna.)

Orang omong sepatah kata: Aku.
Keluar dari arus ini
wujud-wujud azamat –

Aku hirup napas dalam. Dan itu datang padaku
orang yang menarik napas itu
bukan orang dalam ceritaku, tangannya yang kekanak-kanakan
percaya diri memegang krayon –

Apakah aku orang itu? Seorang anak tetapi juga
Seorang penjelajah yang jalannya tiba-tiba jelas, bagi siapa
bab-bab vegetasi-

Dan seterusnya, tidak lagi disaring dari yang tampak, yang dimusnahkan
kesendirian Kant barangkali berpengalaman
dalam perjalanan ke jembatan-
(Ulang tahun kami sama.)

Di luar, jalan-jalan meriah
terjuntai, pada akhir Januari, dengan lampu Natal yang letih.
Seorang wanita bersandar di bahu kekasihnya
menyanyikan Jacques Brel dalam soprano yang tipis –

Bravo! Pintunya tertutup.
kini tiada yang terlepas, tak jua ada yang terdekap –

Aku belum pindah. Aku merasakan gurun
peregangan di depan, peregangan (sekarang tampaknya)
di semua sisi, bergeser saat aku berbicara,

sehingga aku berterusan
bertatap muka dengan kekosongan,
anak tiri dari keluhuran.

yang, ternyata,
telah menjadi keduanya: subjekku dan mediumku.

Apa yang akan dikatakan kembaranku, telahkah pikiranku
mencapai dia?

Mungkin dia akan katakan
dalam kasusku tak ada hambatan (demi argumen)
lalu setelah itu aku akan
berpegang pada agama, kuburan itu, di mana
pertanyaan soal iman dijawab.

Kabut telah dibersihkan. Kanvas kosong
berbalik menghadap ke dinding.

Kucing kecil itu sudah mati (maka berlalulah lagu).

Haruskah aku dibangkitkan dari kematian, roh bertanya.
Dan matahari mengatakan ya.
Dan gurun menjawab
Suaramu pasir terhambur di hembusan angin.

Sumber: Poetry (Januari 2012)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s