Karmina dan Tradisi Puisi Pendek Kita (1)

KITA, komunitas-komunitas bangsa yang hidup di kawasan nusantara, yang sejak lama telah terhubung dalam bahasa Melayu, sudah lama pula akrab dengan sajak pendek.

Kita punya bentuk sajak tradisional yang bernama karmina. Budaya Jawa pun punya tradisi sajak lisan yang sangat mirip yaitu parikan, yang sangat populer di kalangan rakyat dan seniman rakyat.

Karmina adalah pantun kecil atau pantun kilat. Seperti separuh pantun dalam jumlah kata. Sebuah pantun ringkas, dalam delapan kata. Ciri-ciri pantun jelas terbawa lewat kehadiran sanjak atau rima, dan pembagian isi larik antara sampiran dan pesan.

Ini contohnya:

kura-kura dalam perahu
pura-pura tidak tahu

sudah gaharu cendana pula
sudah tahu bertanya pula

gendang gendut tali kecapi
kenyang perut senanglah hati

Pinggan retak nasi tak dingin
Tuan tak hendak kami tak ingin

Sebait Karmina bisa disusun dalam dua larik, atau empat larik. Penyusunan bait dalam empat larik itu tak mutlak. Sebagai mana syair dan pantun dalam naskah beraksara arab melayu, syair dan pantun ditulis dua baris. Dengan begitu rima di ujung baris langsung tersandingkan dan terasa hadir.

Seperti juga pantun, yang tumbuh dan berkembang dalam tradisi lisan, sesungguhnya tak penting atau tak dipikirkan benar bagaimana karmina harus dituliskan dalam perkembangn awalnya, yang penting adalah ya rima di ujung larik itu, yang membantu orang untuk menghapalkannya.

Karmina bukan gurindam. Jelas keduanya berbeda meskipun secara fisik serupa. Yang paling tepat ya itu tadi, pantun kilat itu. Mari kita bandingkan dengan petikan dari Gurindam Dua Belas gubahan Raja Ali Haji.

Barang siapa mengenal dunia,
Tahulah ia barang yang teperdaya.

Barang siapa mengenal akhirat,
Tahulah ia dunia mudarat.

Memang, ada rima juga di ujung larik gurindam, tapi lebih diutamakan kehadirannya di ujung larik itu saja. Sementara pada karmina, ada rima pada setengah larik, yang apabila itu dipenggal dan seluruh bait kemudian menjadi empat larik maka ia juga menjadi rima akhiran. Pada gurindam tidak tampak pertimbangan rima tengahan itu.

Yang paling membedakan, dan menjadi ciri khas gurindam adalah pembagian sampiran dan isi. Pada gurindam tak ada pembagian itu. Dua larik gurindam itu seakan membagian tugas antara pertanyaan dan jawaban. Atau pernyataan dan tanggapan.

Gurindam adalah juga sajak pendek. Tapi jenis dan bentuk puisi ini selalu ditulis dalam rangkaian panjang. Jarang atau bahkan tak pernah ditulis tunggal, sebait saja.

Maka, jika kita ingin melacak jejak tradisi puisi kecil kita, menurut saya karmina itulah wujudnya. Akarnya. Apakah keringkasan karmina adalah menuntut pemadatan? Tidak. Yang dihadirkan ya pengucapan yang lebih ringkas. Itu saja. Karmina, sebagai mana sudah disebutkan di atas adalah pantun kecil.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s