Surat untuk Seseorang yang Bertanya tentang Puisi (7)

Salam sejahtera senantiasa untukmu,

Pertanyaan-pertanyaan mendasar yang engkau ajukan itu akhirnya memang penting juga untuk ditanyakan. Bagus juga engkau menanyakan itu setelah saya tahu bahwa engkau memang benar-benar telah mengerjakan puisi-puisimu. Saya tahu itu dari puisi-puisi yang kau sertakan dalam surat-suratmu. Nanti ya, akan kita bicarakan sajak-sajakmu itu. Saranku, kirimlah ke surat kabar, majalah, media daring yang banyak sekali sekarang, bukan? Itulah cara menguji kekuatan puisimu.

Engkau bertanya bagaimana saya memahami puisi. Di suratku yang pertama, rasanya saya bercerita padamu tentang bagaimana saya terpikat pada puisi. Semakin lama menggauli puisi, pesona puisi tak pudar di mataku.

Saya lalu mencari tahu sebanyak-banyaknya informasi tentang puisi. Banyak dan mudah sekali mendapakannya. Engkau pun bisa memperoleh informasi yang sama. Apa yang akan kusampaikan adalah rangkuman dari apa yang saya peroleh dan apa yang saya nyaman memahaminya.

Puisi, dari bahasa Yunani “poesis” -berarti “pembuatan” atau “penciptaan” adalah sebuah bentuk seni di mana sarana utamanya yaitu bahasa diberdayakan agar tercapai kualitas estetisnya dengan menambahkan, menggantikan, atau memaksimalkan makna nyatanya yang semula ada.

Ada beberapa kata kunci yang perlu engkau beri garis tebal di situ; bentuk seni, sarana bahasa, kualitas estetis, memaksimalkan makna. Bagiku itulah yang kita perhatikan ketika kita mengerjakan puisi. Pada hal-hal itulah engkau bekerja ketika engkau mengerjakan puisi-puisimu.

Kita bicara puisi secara global. Nanti kita bicara tentang puisi di tanah air kita. Rasanya di suratku sebelumnya sudah ada juga saya jelaskan padamu sedikit tentang itu, terutama dalam katan puisi dan Bahasa Indonesia.

Secara global, puisi telah menempuh sejarah yang panjang. Upaya-upaya awal untuk menjelaskan apakah puisi itu, seperti dilakukan oleh Aristoteles dalam risalahnya “Poetics”, terpusat pada ihwal pemanfaatan “daya bahasa” dalam retorika, drama, lagu atau komedi.

Pada zaman yang lebih kemudian, puisi mulai ditengok lebih khusus pada bagian-bagian khasnya seperti repetisi, rima, ritme, metrum, pilihan kata, dan mulai lebih ditekankan pula pada pertimbangan estetika bahasa puisi yang sudah mulai dipisahkan atau dibedakan dengan prosa.

Sejak pertengahan abad ke-20, puisi sudah mulai dipegang dengan longgar pengertiannya, definisi yang baku tidak lagi disakralkan. Sejak itu yang penting bagi puisi adalah ia telah didudukkan sebagai dasar dari kerja kreatif yang menggunakan bahasa sebagai ranahnya.

Puisi kerap menggunakan bentuk-bentuk khusus dan aturan-aturan tertentu untuk memperluas kemungkinan makna literal kata-kata, atau untuk merangsang bangkitnya tanggap rasa dan emosi.

Perangkat-perangkat perpuisian seperti, asonansi, aliterasi dan ritme digunakan untuk mencapai efek musikal dan efek jampi-jampi atau mantra.

Pada puisi terkandung ambiguitas, simbol-simbol, ironi, dan pada puisi diberdayakan juga unsur-unsur stilistika diksi puitik lainnya.

Akibatnya, makna puisi menjadi multitafsir, puisi membuka dirinya bagi pemaknaan yang berganda-ganda.

Dengan cara yang sama, metafora dan simile menciptakan gaunggambar yang bersahut-sahutan antara imaji-imaji yang tidak sama bahkan bertentangan — serentak tercipta pula pelapisan-pelapisan makna, terbentuk jalinan yang sebelumnya tidak terduga.

Beberapa bentuk puisi yang khas lahir dari kebudayaan tertentu, akibat kekhasan pada bahasa yang digunakan atau dikuasai oleh sang penyair. Dari Italia, kita mengenal soneta, dari Persia kita mengenal ghazal, dan bahasa Melayu yang menjadi cikal bakal bahasa Indonesia kita mengenal pantun, dari Jepang kita mengenal haiku. Bentuk-bentuk puisi itu kemudian melintasi bahasa-bahasa. Tradisi perpuisian dalam berbagai bahasa itu saling memberi dan mengambil pengaruh dan itu biasa saja, terjadi juga di ranah kebudayaan dan kesenian lain, bukan?

Sekarang, di zaman dunia yang terbuka, mengecil, dan menyatu, engkau sebagai penyair amat bebas menjelajah, tidak hanya mencari kemungkinan yang disediakan oleh bahasa utama yang engkau pakai. Sebagai penyair juga bebas meminjam gaya, teknik, dan bentuk dari budaya dan bahasa lain.

Saya ingin menjawab pertanyaanmu, karena saya punya jawaban seperti ini, intinya: bebaslah berpuisi, berimajinasi.

Batasan-batasan apapun memang perlu engkau ketahui agar engkau punya pijakan untuk melanggar batasan itu, tentu harus dengan alasan yang kuat, dengan konsep yang otentik, dengan kemahiran dan penguasaan atas bagaimana memberdayakan perangkat puitika dan jurus-jurus stilstika.

Terima kasih, dan mohon maaf jika jawabanku mungkin mengganggumu. Menggelisahkanmu, tapi itu saya pikir lebih baik darpada engkau merasa terlena dan terjebak dalam kenyamanan pemahaman yang jumud.

Sekian dulu suratku kali ini.

Salam,
Hasan Aspahani

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s