Haiku di Indonesia: Sebuah Tinjauan Sekilas (7)

BISAKAH Sapardi Djoko Damono mengelak dari haiku? Bisa saja, tapi buat apa kita bertanya begitu? Kenapa pula penyair liris kita yang keras kepala dengan kelirsannya itu harus menghindar darinya?

Apabila peninjauan sekilas-sekilas ini mengandung muatan sejarah pula, maka itulah dan begitulah sejarah sastra harus dikerjakan. Sejarah sastra adalah catatan tentang pencapaian-pencapaian, pengaruh-pengaruh, dan percobaan-percobaan. Juga penafsiran.

Sejarah sastra bukan himpunan riwayat para sastrawan, meskipun keterangan tentang diri penyair ada gunanya untuk membantu memahami, meneluri jejak pengaruh dan pencapaian karyanya.

Tapi Sapardi saya kira harus dikecualikan. Riwayat hidupnya seakan sudah menjadi sejarah puisinya, juga sebagian sejarah puisi Indonesia. Hal penting ini akan kita bicarakan nanti dalam kesempatan yang lebih istimewa.

Kali ini kita lacak jejak haiku dalam sajak-sajak Sapardi. Buku pertamanya “Duka-Mu Abadi” (1969) jelas menunjukkan keyakinannya pada sajak liris-imajis. Ia membawa atau mengambil tradisi sajak Eropa, dengan kemantapannya pada bentuk-bentuk kuatrin dan soneta ala Shakespeare yang berbeda dengan penyair Pujangga Baru, juga tentu sajak sajak bebas.

Apakah Sapardi tak tergoda untuk menggarap haiku? Secara tak langsung Sapardi sudah merangkul haiku. Sajak imajis, sebagai mana dijelaskan oleh para penggagasnya berutang besar pada estetika haiku dan sajak klasik cina, juga pantun, apa yang dicatat oleh William Marsden sebagai puisi liris Melayu.

Kelak pada tahun 2000, dalam buku “Ayat-Ayat Api” baru kita temukan jejak haiku dalam portofolio kepenyairan dan perpuisian Sapardi. Ia menulis dua sajak “Ayat-Ayat Tokyo” dan “Ayat-Ayat Kyoto”. Keduanya adalah sajak imajis-liris yang mendasarkan pengucapannya pada estetika haiku, kepadatan, keringkasan, pemotongan kalimat – bukan sekadar pemabagian tiga larik pendek – dalam satu bait itu.

Mari kita baca beberapa petikannya:


/2/
ada kuntum melayang jatuh
air tergelincir dari payung itu
“kita bergegas,” katanya.

/3/
kita pandang daun bermunculan
kita pandang bunga berguguran
kita diam: berpandangan

/6/
menjelma burung gereja
menghirup langit dalam-dalam –
angin musim semi

(Ayat-Ayat Tokyo)

Sajak kedua, lebih pendek, hanya tiga bait, kita petik dua bait.

/2/
gerimis musim semi –
tengkorakku retak
kau pun menetes-menetes ke otak

/3/
kita sakura –
gugur sebelum musim selesai
tak terlacak pula

(Ayat-Ayat Kyoto)

Jejak estetika haiku atau kehaikuan sajak-sajak Sapardi di atas bukan karena judulnya yang memakai nama dua kota di Jepang. bukan pula hanya karena sajak itu ditulis dalam tiga baris pendek sebait. Tapi terutama pada kependekan, dan pemenggalan citraan pada kalimat-kalimat sajak yang mengingatkan kita pada kireji, unsur penting dalam haiku.

Coba perhatikan ini: 1. kita pandang daun bermunculan, 2. kita pandang bunga berguguran, 3. kita diam: berpandangan. Kita rasakan memang satu larik itu selesai, berhenti, lalu melompat kecil ke larik berikutnya. Itulah hakikat pemenggalan dalam haiku, kireji. Seperti kotak-kotak dalam komik. Yang penting selain apa citraan yang dihadirkan dalam kotak itu, adalah apa yang kosong , atau jeda di antara kotak-kotak imaji itu. Lantas makna terhidang dari suguhan ketiganya, citraan apa yang hadir dari persandingan, jukstaposisi, atau pertemuan serentak ketiganya.

Sapardi dengan demikian telah mengolah haiku, bukan sekadar memakai haiku, tapi menaklukkan bentuk itu, menurut atau melayani kepentingannya mengucap dalam sajak imajis-liris. Apabila kita katakan itu bukan haiku, ya, dia memang tak hendak menulis haiku. Sekali lagi dia telah dengan kreatif berangkat dari kehendak mengolah bentuk haiku. (bersambung)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s