Haiku di Indonesia: Sebuah Tinjauan Sekilas (6)

JEJAK percobaan atau penciptaan dalam bentuk haiku kita temukan juga pada karya Taufiq Ismail. Ada beberapa judul puisi dalam buku “Sajak Ladang Jagung’ (Pustaka Djaja, 1975) yang langsung bisa kita lihat sebagai haiku atau bentuk dan isi yang mendekati ke pola tersebut. Yang paling terasa adalah sajak “Bunga Alang-alang”. Sajak sepuluh bait itu ditulis 1963. Semua bait terdiri dari tiga larik pendek dengan pemenggalan yang terasa benar seperti haiku.

Bunga alang-alang
Di tebing kemarau
menggelombang

Mengantar
Bisik cemara
Dalam getar

Dan seribu kalong
Bergayut
Di puncak randu

Di bawh bungur
Kau pungut
Bunga rindu

Kemarau pun
berangkat
Dengan kaki tergesa

Dalam angin
Yang menerbangkan
Serbuk bunga.

(Bunga Alang-alang)

Apabila dalam sajak ini Taufiq Ismail setia bertahan dengan pembagian bait dalam tiga larik di sajak lain, sembilan tahun kemudian, tahun 1972, ada satu sajak lagi yang tulis dengan kekuatan pemadatan citraan yang semakin ia kuasai benar, apa yang tak hanya ia kerahkan dalam bentu haiku. Sajak itu berjudul “Bulan”. Barangkali justru ia mendapatkan atau berlatih menulis dengan ringkas, padat, dengan citraan visual yang kuat itu dari estetika haiku.

Bulan pun merah
Dan tersangkut
Pada rimba musim gugur

Sungai pun lelah
Dan mengangkut
Daun-daun bertabur

Lalu pada tiga bait berikutnya Taufiq Ismail menulis dalam empat larik.

Padang-padang jagung
serangga mendesing
Baling-baling
Berputar

Bulan merah
Tersangkut
Ke bawah rimba
Musim gugur.

Dengan menggabungkan larik ke-3 dan ke-4 pada bait ke-3 itu, dan larik ke-2 dan ke-3 pada bait terakhir, kita bisa merasakan bahwa bait-bait ini adalah haiku tiga baris.

Perhatian para penyair pada tahun-tahun 1960-an hingga 1970-an itu tampaknya tak secara khusus hanya pada haiku. Tapi jejak-jejak pesona haiku itu jelas ada. Apakah itu tren? Saya kira bukan. Mereka mencoba bentuk bentuk tetap apa saja, kuplet, terzet, kuatrin, juga pantun. Tak nampak lagi ada yang mencoba soneta, kecuali nanti sajak-sajak Wing Kardjo.

Masa-masa itu, bagi sebagian besar penyair seperti adalah masa mencari dan bereksperimen. Kelak, pada masing-masing penyair tampak kenyamanan pada bentuk tertentu. Umumnya mereka merangkul sajak bebas.(bersambung)

3 pemikiran pada “Haiku di Indonesia: Sebuah Tinjauan Sekilas (6)

  1. Kita juga sebenarnya bisa melihat pengaruh haiku dalam sajak-sajak Medy Loekito. Meskipun secara fisik sajak-sajaknya tidak mengikuti pola 5-7-5. Tapi kigo dan kirejinya masih dapat dirasakan dengan begitu kuat.

    Suka

  2. Kita juga bisa melihat pengaruh haiku dalam sajak-sajak Medy Loekito. Meskipun secara fisik sajak-sajak tersebut tidak berpola 5-7-5. Tetapi unsur kigo dan kireji di dalamnya begitu kuat.

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s