Haiku di Indonesia: Sebuah Tinjauan Sekilas (5)

HARTOJO ANDANGDJAJA menulis soal haiku di majalah Sastra, Mei 1963, dalam sebuah esai berjudul “Haiku” yang dengan sangat jelas menjelaskan sejarah dan filosofi , dan keunggulan dari apa yang ia sebut sebagai sajak alit dan sajak murni itu. Esai itu terangkum dalam bukunya “Dari Sunyi ke Bunyi” (Grafiti Pers, 1991)

Setelah memberi ilustrasi dan penjelasan panjang tentang konsep dan estetika shibumi dan contoh-contoh haiku ia menulis: Haiku, bentuk puisi paling alit dalam sastra Jepang, yang lahir dan berkembang pada masa antara abad-abad keenambelas dan tujuhbelas, merupakan kelanjutan dari perkembangan bentuk-bentuk puisi sebelumnya.

Artinya, haiku tidak muncul begitu saja, ada proses ratusan tahun dan ada kerja penyair yang melakukan interpretasi bentuk dan isi serta eksperimen-eksperimen pemurnian.

Hartojo menjelaskan, dalam Mansyoshu, antologi tertua puisi Jepang yang menghimpun sejumlah sajak dari masa-masa sebelum abad kedelapan, didapati 324 naga-uta (sajak panjang) dan 400 tanka (sajak pendek). Naga-uta, sajak panjang yang kadang-kadng ada yang mencapai 150 baris, sama sekali tidak timbul lagi sesudag abad kedelapan.

Sementara tanka, sajak pendek yang terdiri dari lima baris itu, berkembang di abad keenembelas dan delapanbelas, menjadi haiku, sajak yang terdiri dari 17 suku kata tersusun dalam tiga baris dan tak berima.

Apakah shibumi? Hartojo menjelaskannya sebagai “wujud keindahan yang menyimpan amanat alam, yaitu kesejatian sifat alam itu sendiri. Syibumi adalah citra keindahan di Jepang, dalam segala seni, malahan dalam segala bidang kehidupan sehari-hari, orang Jepang menjelmakan shibumi.

“Begitulah dalam puisi, para penyair berusaha pula menjelmakan shibumi. Dan betapa mereka berusaha menjelmakan shibumi itu, barangkali tidak ada yang lebih lembut menyaran seperti yang dilakukan haiku,” kata Hartojo.

Dalam esainya Hartojo menerjemahkan haiku dari Basho, Buson, dan Issa. Ketika memberi contoh bagaimana shibumi menjelma dalam haiku, ia memakai contoh haiku, apalagi kalau bukan, haiku Basho tentang sumur tua, kodok dan suara air itu. Bandingkan dengan terjemahan Amir Hamzah dalam seri tulisan ini sebelumnya:

Kolam tua
Katak terjun – suara
Plung – bergema

Inilah contoh haiku yang paling bisa menjelaskan apa dan bagaimana haiku dan bagaimana shibumi menjelma di situ. Sepi di seputar kolam tua, ujar Hartojo, baru menemukan kesejatian artinya, ketika bunyi cipratan air akibat katak terjun di kolam tua itu. Saat itulah tertangkap kesadaran penyair, betapai sepinya hari terasa.

“Demikianlah, antara kesepian dan bunyi plung terjalinb keselarasan perhubungan yang mesra: sebenarnya lantaran bunyi itulah kesepian mendapatkan intensitasnya dalam ruang kesadaran penyair,” ujar Hartojo.

Itulah shibumi, kata Hartojo, dan semua dinyatakan dalam bentuk pengucapan yang tidak lebih dari semacam saranan, dalam sebentuk puisi, yang justru karena jumlah baris dan suku katanya terbatas, tidak memberikan tempat bagi permainan retorika. Tidak juga memuat beban filsafat yang sering malah memberati puisi, sehingga kehilangan kemurnian sebagai puisi.

Saya kira, esai Hartojo adalah esai yang paling awal dan paling lengkap menjelaskan konsep dan estetika haiku pada publik pembaca sastra Indonesia. Ia tidak hanya mengajarkan apa itu haiku, tapi apa itu sajak murni, sajak yang tak dibebani permainan retorika dan beban muatan filsafat. (bersambung)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s